JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#25


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Faris sudah dikejutkan oleh suara bergetar dari ponselnya. Jam di ponsel telah menunjukkan pukul 7. Terlihat nama Rumaniati di ponsel. Faris segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum Nak Faris," terdengar suara berat di seberang sana. Faris tersenyum. Ternyata bukan Rumaniati. Itu pak Nasirin.


"Waalaikum salam Pak, gimana kabarnya sekeluarga Pak," jawab Faris.


"Baik,kamu sendiri bagaimana kabarnya Nak Faris,"


"Baik Pak, ada yang bisa saya bantu Pak," tanya Faris. Perlahan ia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar.


"Ini Nak Faris, si Ruman ini tiba-tiba nyuruh bapak hubungi Nak Faris, katanya ia mau liburan ke pantai pink 2. Bapak sudah tawari agar perginya nanti saja kalau bapak ada waktu, tapi ia gak mau, ia maunya pergi sendiri. Bapak khawatir Nak Faris kalau dia pergi sendiri. Jadi bapak minta bantuannya untuk menemani anak saya, mudah-mudahan Nak Faris punya waktu."


Faris terdiam, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Tidak ada rencana dan kegiatan apapun hari ini.


"Ya Pak, biar saya jemput kesana, saya mandi dulu Pak," jawaba Faris.


"Gak usah Nak Faris, nanti saja jemputnya kalau dia sudah dekat dari rumah Nak faris, dia akan menghubungi Nak Faris untuk dijemput,"


"Oh kalau begitu siap Pak, ijin, saya mau mandi dulu,"


"Baik Nak Faris, sekali lagi terimakasih atas bantuan Nak Faris. Assalamualaikum,"


"Walaikum salam," Faris menutup telpon. Ia kemudian bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.


*

__ADS_1


Faris segera mengeringkan dan merapikan rambutnya. Suara hp terdengar berdering di atas meja. Faris melangkah hendak mengangkatnya, tapi bunyi berderingnya berhenti. Faris membuka hp nya ketika terdengar lagi tone penanda pesan masuk.


"Maaf, saya sudah sampai di pertigaan sepapan. Masih jauhkah?


Ternyata pesan singkat itu dari Rumaniati. Faris segera bergegas menuju sepeda motornya yang terparkir di halaman rumah. Ia langsung menghidupkan sepeda motornya dan menggebernya dengan kencang. Ia takut Rumaniati terlalu lama menunggunya.


Tidak sampai satu menit, Faris sudah sampai di pertigaan jalan. Dilihatnya seorang perempuan berkaca mata tampak duduk terdiam di atas sepeda motornya. Faris mendekatkan sepeda motornya perlahan. Rumaniati tersenyum. Ia menyodorkan tangannya hendak bersalaman dan Faris menyambutnya. Faris menggaruk-garuk kepalanya malu saat Rumaniati mencium tangannya.


"Maaf Dik, kayaknya kita harus pakai satu motor saja, perjanannya sangat jauh, saya takut adik kelelahan," kata Faris mencoba memberi tawaran. Rumaniati tersenyum dan mengangguk. Faris kembali menaiki sepeda motornya. Ia melaju pelan diikuti Rumaniati di belakangnya. Sesampai di rumahnya, Faris memasukkan sepeda motor milik Rumaniati dan mempersilahkannya naik di belakangnya.


Tak banyak yang mereka bicarakan selama perjalanan. Selain tidak tahu apa yang harus ditanyakan, angin yang berhembus kencang menghalangi pendengaran mereka. Berduaan di atas sepeda motor bersama Faris dirasakan Rumaniati seperti terbang di atas padang ilalang yang luas. Dia merasakan ada yang berbeda ketika ada di dekat Faris. Punggung Faris yang tegap terlihat begitu nyaman sebagai tempat bersandar. Dia membayangkan, suatu hari nanti ia benar-benar bisa menyandarkan kepalanya di pundak itu.


Tak terasa, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, mereka akhirnya sampai di sebuah pantai. Beberapa kendaraan, baik roda empat maupun roda dua terparkir rapi di pesisir pantai. Beberapa gazebo yang disediakan pihak pengelola sudah penuh, sehingga untuk beberapa saat, Rumaniati dan Faris sibuk mencari tempat.


"Kayaknya di tempat itu nyaman juga Kak," kata Rumaniati menunjuk ke arah pohon dekat gerbang parkir. Walaupun di bawah pohon itu ada beberapa orang yang sedang berteduh, tapi keduanya sepakat untuk bergabung dengan orang-orang itu. Setelah Faris mengantar Rumaniati ke tempat itu, ia melangkah ke salah satu warung penjual minuman dan memesan minuman.


"Silahkan duduk, kami sebentar lagi mau pergi,"kata salah seorang dari mereka.


"Lho kok pergi Pak, apa saya mengganggu," kata Rumaniati ramah.


"Enggak, kami di sini sedang menunggu tamu-tamu kami yang sedang berenang. Tuh, lihat, mereka sudah mulai bersiap-siap," kata orang itu sambil menunjuk ke arah beberapa bule yang sedang mengganti pakaian mereka di tepi pantai. Rumaniati tersenyum dan ketika orang-orang tadi beranjak pergi, ia segera duduk.


Tak berapa lama kemudian, Faris tiba dan langsung duduk di dekat Rumaniati.


"Kak, tadi malam aku cek fb Kakak, tolong dikonfirmasi ya Kak," Rumaniati tersipu malu. Jantungnya berdebar, khawatir Faris tidak berkenan.

__ADS_1


"Oh ya, aku belum buka fb, insya Allah nanti malam aku cek," kata Faris. "Mmh, ngomong-ngomong, nama fb nya siapa?" Sambung Faris. Ia sebenarnya sudah tahu karna sempat membukanya saat menginap di rumah pak Nasirin.


"Ruman imut." Rumaniati tersipu malu. Faris tersenyum. Seorang perempuan mendekat membawa dua buah kelapa muda dan meletakkannya di depan keduanya. Faris memberikannya beberpa lembar uang kertas.


Untuk sesaat keduanya terdiam. Setelah percakapan pertamanya tadi, sepertinya mereka mulai kebingungan memulai pembicaraan.


"Kerja apa seka_," Keduanya tersipu malu ketika keduanya kompak menanyakan pertanyaan yang sama secara bersamaan. Mereka saling tatap sambil tersipu.


"Kakak dulu yang jawab," kata Rumaniati.


"Cuma begini saja. Masih cari pekerjaan yang pas dengan ijazahku,"kata Faris.


"Oh ya, memangnya Kakak lulusan apa," kata Rumaniati. Dia mulai menemukan momen karna ia merasakan suasana kembali mencair.


"Fakultas perikanan. Tinggal menunggu panggilan sih dari salah satu perusahaan tambak. Tapi aku masih mikir-mikir dulu, jauh, di dekat gunung rinjani," kata Faris. Rumaniati tersenyum. Ia masih menunggu Faris bertanya balik kepadanya.


"Kalau kamu," tanya Faris. Rumaniati menunduk sambil tersenyum. Ia mendesah panjang dan kini pandangannya jauh ke arah tengah laut.


"Aku baru selesai wisuda, fakultas pertanian,"


"Wah, kamu ahli tanam menanam dong," canda Faris.


"Tapi kenapa tertarik pilih pertanian," tanya Faris. Lagi-lagi Rumaniati tersenyum.


"Awalnya aku gak berminat kuliah karna ujung-ujungnya nanti setelah menikah, aku harus dituntut jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Jadi, karna bapak memaksaku terus, maka pertanian yang aku pilih. yah, karna aku hidup di desa, dan hanya itu yang aku sukai,"kata Rumaniati. Faris melirik ke arah Rumaniati dan secara bersamaan Rumaniati juga menoleh, dan kedua mata itu tertumbuk dan saling beradu. Jantung mereka seirama berdetak lebih kencang.

__ADS_1


Udara siang begitu terik, walaupun sedikit terusir dengan angin yang berhembus kencang. Percakapan demi percakapan, telah mengakrabkan keduanya. Percakapan yang panjang, yang pada akhirnya menautkan hati mereka berdua. Kebersamaan satu hari, yang membuat keduanya merasa sudah saling mengenal cukup lama.


__ADS_2