JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#51


__ADS_3

"Sudahlah, Dik, Nak Ruman, ayo kita pulang. Faris sudah tidak mengenal kita lagi. Jika kita terus memaksanya seperti ini, aku takut dia akan melukai dirinya sendiri. Biarkan dia malam ini di sini sambil kita mencarikan cara untuk mengeluarkannya. Aku akan mengutus beberapa orang untuk mengawasinya," kata pak Abbas. Ia mengusap punggung keduanya pelan. Rumaniati masih sesenggukan dalam tangisnya.


Bu Rahma mengusap air matanya dan mendekati Rumaniati. Dia setuju dengan saran pak Abbas. Sudah tidak ada gunanya lagi menyadarkan Faris. Dia sudah benar-benar tenggelam dalam dunia lain. Butuh waktu lama untuk menariknya kembali ke alam sadarnya.


"Ayolah, Nak, kita pulang dulu, besok kita akan bawa suamimu pulang," kata bu Rahma. Wajah Rumaniati yang penuh lumpur di usapnya pelan. Rumaniati menggeleng.


"Tidak, Bu, aku tidak akan pulang. Kasihan kak Faris sendirian di sini," kata Rumaniati. Bu Rahma mendesah pendek. Ia menatap ke arah pak Abbas.


"Nak, Ruman, percuma saja kita membujuk Faris. Dia sudah lupa semuanya. Sebaiknya kita pulang dulu," bujuk pak Abbas.


"Tidak, Pak, aku mau di sini menunggu kak Faris." Air mata Rumaniati kembali mengalir. Bu Rahma memeluknya erat. Tangisnya kembali pecah. Rumaniati tak mengalihkan pandangannya dari Faris yang benar-benar menghayati peran barunya. Ia terlihat sedang memeluk kuburan Hafiza.


"Nak, ibu mohon, jangan tambah lagi duka dalam hati ibu. Kamu satu-satunya pengganti Faris saat ibu telah merasa kehilangan Faris." Bu Rahma menyandarkan kepalanya di dada Rumaniati. Tangan kanannya memeluk leher Rumaniati.


"Ibu mengerti apa yang kamu rasakan saat ini, tapi ibu mohon, kasihani ibu, Nak, pulanglah bersama Ibu" kata bu Rahma terisak-isak. Rumaniati masih terdiam dalam isaknya sambil terus menatap Faris.


Tak terasa waktu terus berlalu. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an penanda akan tibanya waktu subuh, terdengar lamat-lamat dari kejauhan, menerebos hening malam.


Rumaniati melangkah maju ke arah Faris. Mata Faris awas. Ia membentangkan tangannya berusaha menghalangi Rumaniati untuk lebih dekat. Rimaniati berusaha tersenyum.


"Kak Faris, aku tidak akan mengganggu kekasih kak Faris, aku hanya ingin berdoa, semoga hubungan kak Faris dengan Hafiza baik-baik saja," kata Rumaniati dengan suara lembut. Faris menurunkan tangannya. Ia terdiam melihat Rumaniati mulai menengadahkan tangannya ke atas.


Setelah untuk beberapa saat Rumaniati terlihat khusyu' dalam doa panjangnya, ia bangkit perlahan. Ia menatap Faris sembari tersenyum. Perlahan ia mendekat. Faris tak bereaksi, bahkan saat Rumaniati mengusap kepalanya, ia hanya terdiam saja.


Rumaniati duduk dan menaburkan tanah di depannya ke atas kuburan Hafiza. Setelah itu ia kembali menatap Faris. Pak Abbas dan bu Rahma menatapnya cemas.

__ADS_1


"Kakak pulang yuk, makan dulu setelah itu kakak boleh kembali lagi ke sini," rayu Rumaniati. Tangannya perlahan meraba tangan Faris. Faris menarik tangannya dengan cepat saat tangan Rumaniati menyentuh tangannya.


"Hus! Hus!, pergi sana," usir Faris dengan mengibas-ngibaskan tangannya. Rumaniati menelan ludahnya dalam-dalam. Ia mendesah panjang dan menoleh ke arah bu Rahma. Bu Rahma mengangguk kecil mengajaknya pulang.


Menyadari Faris sudah tidak mengenalnya lagi, Rumaniati bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Faris.


"Ayo kita pulang, Bu,sebentar lagi subuh. Aku mau memasak untuk sarapan kak Faris," kata Rumaniati. Ia meraih tangan bu Rahma. Bu Rahma tersenyum.


Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Faris. Sesekali Rumaniati menoleh. Langkahnya begitu berat meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan, pristiwa penting dan kenangan bersama Faris mulai memenuhi ingatannya. Faris yang pendiam tapi menghibur, akan senantiasa jadi kenangan yang indah tapi menyakitkan ketika mengenang keadaannya kini.


* * *


"Ayo, joget, joget, joget lagi Kak," teriak anak-anak yang sedang bermain di tepi jalan. Melihat Faris yang sedang menari dan bernyanyi sambil berlarian di tepi jalan kuburan, mereka terlihat girang.


Faris yang merasa seperti sedang menari dengan Hafiza semakin menghayati suara teriakan dan tepuk tangan anak-anak itu.


Kaboooor...


* * *


Rumaniati dan bu Rahma menoleh saat melihat beberapa anak kecil berlarian keluar dari dalam pekuburan. Rumaniati menghentikan sepeda motornya ketika sampai di gerbang pekuburan.


Dengan perlahan mereka berdua berjalan ke arah di mana Faris membaringkan tubuhnya. Melihat kedatangan keduanya, Faris melonjak bangkit dan segera mengambil posisi siaga. Ia mulai menunjuk-nunjuk dengan tangannya dengan wajah ketakutan.


Bu Rahma dan Rumaniati berusaha menenangkan Faris dengan senyum. Rantang berisi makanan yang telah dipersiapkan Rumaniati untuk sarapan Faris, ia keluarkan satu persatu. Setelah membuka penutupnya, ia menyodorkannya ke depan Faris.

__ADS_1


"Silahkan pilih kak Faris, itu semua adalah makanan kesukaan kak Faris, ada ikan mas goreng, yang ini, merpati panggang dan ini abon sapi yang harus ada setiap kakak makan. Makanlah dan habiskan, nanti siang, aku akan bawakan kakak lagi," kata Rumaniati tersenyum sembari memperlihatkan makanan kepada Faris.


Faris terbangun dan menatap Rumaniati dan bu Rahma dengan tatapan penuh curiga. Ia menyandarkan tubuhnya di kubur Hafiza.


Melihat itu, bu Rahma mendekati Faris. Makanan yang ada di dalam rantang di ambilnya dan suapannya di sodorkan ke mulut Faris. Namun begitu terkejutnya bu Rahma saat Faris memukul tangannya hingga menyebabkan makanan yang ada di tangannya berserakan kemana-mana, bahkan sebagiannya mengenai wajahnya.


Bu Rahma mengusap wajahnya yang terkena makanan. Melihat itu, Rumaiati segera mengeluarkan sapu tangannya dan ikut mengusap wajah bu Rahma.


"Kak, kenapa kamu lakukan ini sama Ibu, gak boleh, Kak, dia ini ibumu," kata Rumaniati. Ia menatap ke arah Faris.


"Kalian ingin membunuhku?


Bu Rahma dan Rumaniati saling pandang.


"Siapa yang mau membunuhmu, Nak. Aku ini ibumu, mana mungkin aku mau membunuhmu,"


Ainul menggelengkan kepalanya.


"Lihat, lihat apa yang kalian bawa itu. Kalian akan memberikan aku makan dengan paku-paku itu?"


Bu Rahma dan Rumaniati kembali saling pandang. Setelah itu, serempak mereka menatap ke arah rantang berisi makanan di depan mereka.


"Ya, Allah, Kak, ini bukan paku, Kak, ini nasi dan makanan kesukaan Kakak,"


Faris menggenggam tanah di depannya lalu menghamburkannya ke dalam makanan di dalam rantang.

__ADS_1


Rumaniati terkejut. Ia tak sempat menarik makanan itu. Dia benar-benar tidak menyangka Faris akan melemparkannya tanah. Bu Rahma hanya menggeleng-geleng.


__ADS_2