
Sudah jam 22:30 saat Hafiza dan Raka sampai di rumah. Hafiza melilitkan ujung jilbabnya di wajahnya dan mempererat pelukannya di pinggang Raka, ketika melirik ke arah rumah bi Ijah. Orang-orang di teras rumah bi Ijah terlihat ramai. Mungkin sedang membicarakannya yang kabur tadi pagi. Itu terlihat dari tatapan-tatapan mereka yang semuanya tertuju ke arahnya saat berhenti di depan rumah. Nyata sekali ia melihat mereka saling berbisik satu sama lain dengan tatapan tak berpaling ke arahnya. Terutama bi Ijah yang terang-terangan memelototkan matanya tajam ke arahnya. Tapi ia sudah tidak mau lagi mengeruhkan pikirannya dengan memperhatikan omongan orang-orang, terutama bi Ijah. Setelah sekian lama ia mencoba bersabar dan bersikap baik, dengan harapan sikap mereka juga akan berubah, namun tak juga membuahkan hasil, ia memutuskan untuk melawan mereka dengan caranya sendiri. Ia sudah jenuh. Bi ijah dan teman-teman gosipnya, yang semuanya merupakan keluarga dekat Raka, telah terang-terangan menampakkan ketidaksenangan mereka sejak akad nikahnya. Rupanya mereka masih ingin melihat Raka tetap bersama Kazni. Mereka, khusunya bi Ijah masih menganggapnya sebagai pelakor dan penyebab perceraian antara Raka dan Kazni. Kali ini ia berusaha tak peduli dengan sikap mereka yang membuat pikirannya terbebani. Saat ini ia hanya ingin rumah tangganya baik-baik saja setelah Raka meminta maaf dan mengungkapkan penyesalannya. Ia berharap, setelah pertengkaran itu, baik dirinya dan Raka bisa intropeksi diri agar lebih bijak menyikapi masalah dalam rumah tangga mereka.
Raka menoleh ke arah Hafiza dan mempersilahkannya masuk setelah pintu dibukanya. Hafiza tersenyum. Ia perlahan melangkah naik memasuki rumah. Tapi begitu terkejutnya ia saat tiba-tiba Raka memegang tubuhnya dan membopongnya ke arah ranjang. Degup jantung Hafiza berdegup ketika dengan sangat lembut, Raka membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Untuk sejenak keduanya saling pandang dengan senyum yang terus tersungging dari bibir mereka. Degup dan debar di dada masing-masing seperti saling tarik menarik agar lebih mendekat satu sama lain. Bibir keduanya yang bergetar seperti sudah tak sabar untuk saling mengulum satu sama lain. Tangan Hafiza perlahan bergerak dan memegang lembut punggung leher Raka. Ia kemudian menariknya. Tak beberapa lama kemudian, suara ranjang yang berdret mengisyaratkan kepada malam bahwa ada saatnya segala permasalahan bisa diselesaikan di atas ranjang.
Malam selalu memberikan solusi terbaik bagi permasalahan siang. Tapi malam selalu menjadi tempat menangis bagi permasalahan siang yang tak teratasi. Hanya yang bijak yang bisa memaknainya. Hanya yang bijak yang akan keluar membawa suluh dalam kegelapan.
*
__ADS_1
*
Nun jauh di sana, Rumaniati masih memandang wajah Faris dalam photo profile facebook nya. Setelah beberapa jam lamanya ia memeriksa satu persatu nama yang serupa dengan nama Faris, akhirnya ia menemukan photo Faris. Rasa kesal karna selama berjam-jam tangannya berkutat menggeser profil demi profil di beranda facebooknya, hilang begitu saja. Matanya yang perih menjadi segar kembali. Bahkan salah satu photo Faris berkali-kali ia zoom untuk melihat detail wajahnya. Pertemuannya yang singkat memberinya kesan mendalam di hatinya. Entah kenapa tiba-tiba Ia ingin sekali malam ini Faris menelponnya. Hanya Faris yang menyimpan nomor telponnya. Dia merasa malu meminta Faris mengirimkannya nomor ponselnya. Dan malam ini, sudah beberapa kali ia memeriksa ponselnya, berharap Faris call balik ke nomornya. Tapi sayang, tak ada satupun panggilan tak terjawab yang masuk.
Rumaniati mendesah putus asa.
Mungkin Faris tidak tertarik kepadanya. Sikap malu Faris saat bertatapan dengannya , mungkin salah satu sikap tawaddhu' Faris. Bukan karna memiliki ketertarikan yang sama seperti yang ia rasakan. Padahal ia sangat berharap Faris tertarik kepadanya.
Ah, dunia tak selalu sejalan dengan apa yang manusia inginkan. Ketika butuh, ia akan menjauh dan tak dapat dikejar. Ketika tak butuh, ia seperti ada disetiap waktu dan tempat. Menyodorkan diri untuk diraih.
__ADS_1
Tapi, seperti itulah barang berharga. Semakin dalam mutiara bersembunyi di balik lapisan-lapisan tanah, maka semakin bernilailah ia. Dan untuk mendapatkannya, butuh perjuangan dan waktu yang lama. Dan dengan laki-laki baik seperti Faris, ia tak lagi mempermasalahkan jika ia yang harus berjuang lebih dulu untuk mendapatkannya. Usianya kini sudah matang dan waktunya untuk memikirkan calon suami yang akanmenikahinya. Pernikahan itu untuk seumur hidup. Dan untuk meraih gelar rumahku surgaku dalam rumah tangga dengan laki-laki yang ia yakini baik, ia rela jika harus mengungkapkan perasaannya lebih dahulu.
Kembali Rumaniati mendesah. Tubuhnya dibaringkannya pelan di atas tempat tidurnya. Tadi malam ia sempat membayangkan tembok di depannya tidak lagi kosong. Hanya ada photo Faris yang akan tergantung di sana. Ketika ia terbangun dari tidur, photo Faris lah yang akan ia lihat lebih dahulu.
Apakah ini karma karna perlakuannya pada laki-laki yang ia tolak? Apakah seperti ini rasanya mencintai sendiri? Mengenang dan mencintai seseorang yang sama sekali tidak punya rasa apapun pada kita? Tapi untuk sosok Faris, ia harus punya cara agar ia bisa bertemu lagi.
Rumaniati tersenyum. Setelah lama membolak-balikkan tubuhnya kesana kemari, sepertinya ia telah menemukan sebuah rencana. Rencana yang yang menggugah kembali semangatnya. Dia ingat jika bapaknya juga menyimpan nomor Faris. Ia akan meminta bapaknya agar menelpon Faris besok pagi.
"Bapak akan minta tolong Faris untuk menemaninya melihat pemandangan di pantai pink dua. Yes!" Kata Rumaniati sambil mengepalkan tangannya. Rumaniati kembali tersenyum. Kedua tangannya di rentangkan di atas kepalanya membentuk hati. "Cocok!" batinnya.
__ADS_1
*
Sementara di tempat lain, Faris masih tak mau beranjak dari tempat duduknya di teras rumah. Saat mengetahui Hafiza sedang bermasalah dengan rumah tangganya, sempat terbetik dalam hatinya sebuah harapan agar rumah tangga Hafiza benar-benar berakhir dengan Raka. Harapan yang kini dianggapnya sebagai kesalahan besar. Ia merasa sudah melakukan sesuatu yang memalukan walaupun itu hanya ada dalam pikirannya saja. Bukan itu yang namanya cinta, batinnya. Cinta yang sejati sejatinya adalah cinta yang banyak memakan pengorbanan. Cinta sejati itu adalah cinta, yang ketika kita tidak bisa saling memiliki, baik dan buruknya ia dalam rumah tangganya, maka ia juga akan ikut merasakannya. Jika hati bahagia melihat kekasih hati bahagia dengan kekasih pilihannya, maka itu sebenar-benar cinta. Seperti laron yang terbakar cahaya api.