
Adzan dhuhur terdengar berkumandang diantara deru kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Beberapa pejalan kaki memilih berteduh di emper-emper toko menghindari terik matahari bulan oktober.
Hafiza baru saja pulang dari toko emas. Setelah menjual kalung emas miliknya, ia membeli beberapa potong pakaian dan selimut, juga beberapa alat dapur. Walaupun Hajjah Sayuti menyuruhnya untuk memasak di dapur rumahnya, tapi ia merasa malu. Dia tak mau menjadi beban. Rencananya ia akan membayar sewa kos selama satu tahun, dan sisa uangnya akan dititip di rekening Hajjah Sayuti biar aman.
Dia sudah memikirkan banyak hal tadi malam. Terutama calon bayi yang mungkin saja sudah ada dalam rahimnya. Ia sudah tidak datang bulan sejak dua minggu lalu. Ia harus berterus terang kepada Hajjah Sayuti tentang apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia tidak ingin suatu hari nanti, Hajjah Sayuti tahu kebenarannya, walaupun kemungkinannya kecil sekali.
Hafiza melihat pintu gerbang terbuka. Hafiza masuk. Dilihatnya seorang perempuan muda keluar masuk mengeluarkan barang di salah satu kamar di samping kamarnya. Mungkin perempuan itu yang dimaksud oleh Hajjah Sayuti. Perempuan yang membawa masuk laki-laki ke dalam kamarnya.
Hafiza melangkah perlahan dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan barang beliannya di atas meja, ia kembali keluar.
"Assalamulaikum Kak," sapa Hafiza agak ragu di depan pintu. Perempuan itu menoleh sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ada yang bisa saya bantu," Hafiza mencoba menawarkan bantuan. Perempuan itu kembali menoleh. Kali ini ia menatap wajah Hafiza. Dahinya mengerut ketika melihat Hafiza tersenyum.
"Gak usah, dan tolong jangan berdiri terus di sana. Kamu menghalangi udara yang masuk," kata perempuan itu ketus. Hafiza mendesah. Merasa kehadirannya mengganggu perempuan itu, ia membalikkan tubuhnya dan memilih duduk di gazebo.
Perempuan itu menggeser tubuhnya lebih kedalam agar tidak terlihat dari pintu yang terbuka. Ia berdiri dan menyibak sedikit kelambu yang menutupi jendela depan. Di tatapnya wajah Hafiza dari balik jendela. Sesekali ia mendongak dengan memicingkan mata. Sepertinya ia tidak asing dengan wajah perempuan itu. Perempuan itu meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia mengarahkah ponselnya ke arah Hafiza dan diam-diam mengambil gambarnya. Ia yakin pernah melihat perempuan itu walaupun tidak begitu pasti.
"Eh, Nak Hafiza kok bengong sendiri." Terlihat Hajjah Sayuti berjalan mendekat dan duduk di dekat Hafiza. Hafiza tersenyum.
"Hafiza," batin perempuan di dalam kamar. Ia buru-buru kembali mengemas pakaiannya begitu melihat kedatangan Hajjah Sayuti.
__ADS_1
"Loh, kapan anak itu datang,"kata Hajjah Sayuti ketika sadar beberapa dus berisi barang-barang menumpuk di depan salah satu kamar kos.
"Gak tahu Bu, pulang belanja tadi sudah ada di sini," kata Hafiza. Hajjah Sayuti mendekat. Dilihatnya perempuan itu masih sibuk mengeluarkan pakaian dari dalam lemari. Ia sama sekali tak menoleh dengan kehadiran Hajjah Sayuti.
"Dasar gak punya sopan santun. Datang tiba-tiba tanpa memberitahu pemilik rumah. Mau kabur diam-diam ya," kata Hajjah Sayuti. Perempuan itu mendesah kasar. Ia meraih tas hitam di sampingnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalamnya. Tanpa menoleh, ia melemparkan uang itu ke arah Hajjah Sayuti yang masih berdiri. Lembaran uang itu berserakan kemana-mana.
"Kurang ajar kamu, tak punya sopan santun sama orang tua," kata Hajjah Sayuti dengan nada tinggi. Ia berkacak pinggang dengan wajah geram menatap perempuan yang seolah-olah tidak mempedulikannya.
"Ibu itu yang gak ada sopan santunnya, ngomong berdiri saat orang duduk. Percuma jadi Hajjah," kata perempuan itu. Hajjah Sayuti bertambah geram. Ia lebih mendekat.
"Jaga mulutmu Delisa! teriaknya marah. Perempuan yang ternyata adalah Delisa itu bangun dan kini berhadap-hadapan dengan Hajjah Sayuti.
"Bu Haji yang harus jaga mulut.Jangan kira aku tidak berani sama Bu Hajji," teriak Delisa menantang.
"Sudah Bu, Kak, Tenang," kata Hafiza. Delisa dan Hajjah Sayuti masih saling menatap tajam. Satu sama lain tak ada yang mau memalingkan mata masing-masing.
"Bu, kita di luar saja Bu, biarkan kakak ini membereskan dulu barang-barangnya," kata Hafiza sambil mengusap punggung Hajjah Sayuti. Hajjah Sayuti menghela nafas. Ia membalikkan tubuhnya walaupun tatapan matanya tetap tak mau berpaling dari mata Delisa. Hafiza terus mengarahkan tubuhnya sampai duduk kembali di gazebo. Setelah melihat Hajjah Sayuti agak tenang, Hafiza kembali ke kamar itu dan mulai mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang berceceran. Setelah itu ia kembali ke tempat Hajjah Sayuti duduk dan menyerahkannya kepada Hajjah Sayuti.
Tak beberapa lama kemudian, Delisa terlihat keluar dengan dua tas besar di tangannya. Dengan wajah kesal, ia berjalan cepat menuju sepeda motor matic yang ia parkir dekat gerbang. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Hajjah Sayuti dan Hafiza yang terus menatapnya. Setelah meletakkan tas itu ke dalam motornya, ia menyalakan sepeda motornya dan segera keluar meninggalkan tempat itu. Hajjah Sayuti hanya bisa menatap tajam hingga tubuh Delisa hilang di balik gerbang.
Hajjah Sayuti mendesah dan memalingkan pandangannya ke arah Hafiza.
__ADS_1
"Nak Hafiza sekarang sudah bisa pindah ke kamar sebelah," kata Hajjah Sayuti setelah beberapa saat mereka terdiam.
Hafiza tersenyum.
"Insya Allah, nanti sore saya pindah Bu," jawab Hafiza. "O ya Bu, berapa uang sewanya satu tahun," sambung Hafiza.
"Kalau normalnya dua juta, tapi kalau Nak Hafiza, cukup satu juta saja,"
Hafiza kembali tersenyum. Ia bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali. Setelah menghitung uang di tangannya, ia menyerahkannya pada Hajjah Sayuti.
"Terimakasih Bu," ucap Hafiza. Hajjah Sayuti tersenyum dan mengambil uang yang disodorkan Hafiza.
"Sama-sama Nak, ibu juga senang Hafiza di sini, baru kali ini ada anak kos ibu yang akrab sama ibu, rata-rata semuanya sibuk, dan lebih banyak berdiam di dalam kamar mereka," kata Hajjah Sayuti di sambut senyum Hafiza.
"Kalau begitu, saya pamit mau shalat dulu Bu, habis itu, saya mau pindahkan barang ke sebelah," kata Hafiza.
"O ya, silahkan Nak, ibu juga mau masuk." Hajjah Sayuti bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju pintu gerbang dan menutupnya.
*
*
__ADS_1
Rumaniati keluar dari dalam rumah dan duduk di teras. Dia mengibas-ngibaskan buku di tangannya. Panasnya cuaca hari ini membuatnya berkeringat. Ketika sampai di rumahnya Faris satu jam lalu, ia langsung beres-beres dan membenahi kamar barunya. Faris sendiri tak sempat masuk rumah. Ia langsung pergi untuk mencari Hafiza. Entah, kemana ia akan mencarinya. Ia berusaha memaklumi apa yang dilakukan Faris. Dia tak mau kebersamaannya dengan Faris terganggu gara-gara pikirannya hanya tertuju kepada sosok Hafiza.