
Matahari telah terbit di ufuk timur. Suara burung-burung kecil yang hinggap di ranting-ranting pohon terdengar ramai menyambut pagi. Suasana di jalan raya mulai terlihat ramai. Di trotoar jalan, ramai canda anak sekolah terdengar renyah di antara suara sepeda motor yang mulai mengisi jalanan.
Rumaniati mengusap lembut bibir Faris dengan tisu di tangannya usai sarapan bersama pagi itu. Secangkir kopi hangat masih tersaji di atas meja, di depan Faris duduk. Beberapa kali ia menyeruputnya cepat, berharap kopi itu cepat habis. Dia ingin segera pergi melanjutkan pencariannya hari ini.
Rumaniati merapikan kerah baju yang dipakai Faris. Ia tersenyum dan mencium tangan Faris ketika Faris bangkit dari duduknya.
"Nak Ruman, bisa tolong ibu sebentar," kata bu Rahma ketika keluar dari kamarnya. Rumaniati segera mendekat.
"Apa yang bisa saya bantu Bu," tanya Rumaniati. Bu Rahma tersenyum.
"Ibu minta tolong belikan teh celup di kios sebelah, tolong ya Nak," kata bu Rahma sambil memberikan Rumaniati selembar uang lima puluh ribu. Rumaniati tersenyum dan mengambil uang yang disodorkan bu Rahma.
"Kak, jangan pergi dulu sebelum adik kembali ya,"
Faris mengangguk.
"Sudah, ibu akan tahan suamimu sampai kamu kembali," kata bu Rahma. Rumaniati tersenyum dan segera berjalan keluar rumah. Bu Rahma menatapnya sampai tubuh Rumaniati hilang. Setelah memastikan Rumaniati telah pergi, bu Rahma menarik tangan Faris dan menyuruhnya duduk. Faris tampak heran melihat wajah ibunya yang memerah.
"Keterlaluan kamu Faris, coba lihat, ini baru jam berapa, jam tujuh, Faris. Kamu benar-benar tidak menghargai istrimu. Sisihkan waktumu hari ini untuk istrimu Faris, ibu tidak menyangka kamu akan sekejam ini," kata bu Rahma panjang lebar. Faris hanya menunduk dan terdiam mendengar kemarahan ibunya.
"Kamu kira Tuhan senang melihatmu sok pahlawan seperti ini, sementara istrimu yang saat ini sangat membutuhkan kehadiranmu kamu lalaikan. Banyak, banyak sekali orang yang mencari Hafiza saat ini. Biarkan polisi yang mencarinya. Terus-terang, lama-lama ibu muak melihatmu seperti ini," sambung bu Rahma penuh kekesalan.
Bu Rahma memalingkan pandangannya dan berpura-pura sibuk mengumpulkan piring-piring kotor sisa sarapan tadi. Rumaniati sudah berdiri di depan pintu. Ia merasa aneh dengan kebisuan yang terjadi antara Faris dan bu Rahma. Ia yakin, itu semua ada kaitannya dengan pencarian Hafiza. Sudah dua kali ini ia mendengar bu Rahma memarahi Faris gara-gara masalah itu.
Rumaniati mendehem dan melangkah pelan ke arah bu Rahma. Setelah memberikan pesanan bu Rahma, ia mendekati Faris.
"Kak, sudah hampir jam 8, cepatlah pergi agar Kakak cepat balik lagi," kata Rumaniati. Faris tersenyum. Ia kemudian bangkit dan mendekati bu Rahma. Ia lalu menyalami bu Rahma dan mencium tangannya. Ia kemudia merangkul tubuh Rumaniati dan melangkah bersama keluar rumah.
"Cepatlah pulang, Kak, kalau sempat, belikan adik bakso ya," kata Rumaniati sambil melepas kepergian Faris. Faris kemudian menyalakan motornya. Setelah mengucap salam pada Rumaniati, ia pun langsung menggeber sepeda motornya melesat di jalan.
* * *
__ADS_1
"Bu, ada yang ingin saya ceritakan sama ibu," kata Hafiza. Beberapa makanan dan sayuran yang baru saja ia beli di pasar, ia letakkan di dalam kulkas. Hajjah Sayuti yang masih sibuk menyetrika pakaiannya, menoleh ke arah Hafiza. Melihat Hafiza duduk di sofa, ia merapikan pakaian-pakaian di depannya. Ia melangkah mendekati Hafiza lalu duduk di sampingnya.
"Ada apa Nak, kok tumben serius begini, ceritakanlah," kata Hajjah Sayuti. Tangan Hafiza dipegangnya.
"Bu, saya tidak ingin ibu mendengarnya dari orang lain. Saya tidak ingin ibu menganggap saya ini perempuan tidak baik," kata Hafiza sambil menatap sendu ke arah Hajjah Sayuti. Hajjah Sayuti tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Hafiza.
"Ibu percaya Nak Hafiza orang baik, ibu hanya akan percaya sama Nak Hafiza,"
"Sebenarnya, saya ini kabur dari rumah Bu." Hafiza menghentikan kata-katanya. Ia terlihat menangis. Melihat itu, Hajjah Sayuti mengusap-isap pundaknya lembut. Untuk beberapa saat, ia biarkan saja Hafiza larut dalam tangisnya.
"Suami saya selingkuh, dan saya kabur dari rumah," sambung Hafiza sambil terisak dalam tangisnya. Hajjah Sayuti menghela nafas panjang. Ia menatap Hafiza sedih.
"Sabar, Nak, ibu ikut sedih mendengar ceritamu," kata Hajjah Sayuti.
"Sebenarnya, saya kesini tidak untuk mencari pekerjaan. Saya melakukannya agar suami saya tidak mencari saya. Saya sudah jenuh dengan perlakuannya selama ini,"
"Saya mengerti Nak, sekarang, kamu aman di sini. Ibu berharap, kamu bahagia di sini." Hajjah Sayuti bangkit dan mengambil dua botol minuman dingin dari dalam kulkas. Ia lalu memberikan sebotol pada Hafiza. Hafiza tersenyum. Dia tampak lega karna hal yang selama ini ingin ia sampaikan kepada Hajjah Sayuti akhirnya kesampaian.
* * *
"Halo, kamu dimana, aku sudah menunggu di depan toko elektronik Ali Baba Praya," kata bi Ijah setengah berteriak karna suara kendaraan yang bising. Kasni hanya berdiri memandang bi Ijah yang semakin menjauh mencari tempat yang lebih sepi. Potongan kardus yang ia temukan di depan toko, ia gunakan untuk mengusir keringat di tubuhnya. beberapa kali ia harus menutup wajahnya ketika angin yang berhembus menghempas debu-debu ke arahnya.
Bi Ijah terlihat kembali. Ia melambaikan tangannya ke arah Kasni agar mendekat. Kasni segera berjalan menuju bi Ijah.
"Kita di suruh menunggu di gang kecil itu," kata bi Ijah sambil mengarahkan pandangannya ke arah gang kecil di belakangnya.
"Terus, kapan orang itu akan datang," kata Kasni. Bi Ijah mengalihkan pandangannya ke arah jalan.
"Katanya, dia sudah berada di sekitar sini, ia mau cari makan dulu sambil menunggu pemilik rumah tidur," kata bi ijah. Kasni mengangguk. Bi ijah lalu mengajak Kasni menunggu di gang kecil di belakang mereka.
Seorang perempuan dengan mengendarai sepeda motor matic warna biru berhenti di depan mereka. Seorang perempuan yang ternyata adalah Delisa itu membuka kaca helmnya dan turun dari motornya.
__ADS_1
"Sutijah ijah?" tanya Delisa mencoba memastikan. Bi ijah mengangguk dan tersenyum.
"Perkenalkan, saya Delisa," kata Delisa sembari menyodorkan tangannya ke arah bi Ijah dan Kasni.
"Katakan, dimana posisi Hafiza," kata Kasni setelah melepaskan salaman Delisa.
Delisa menoleh dan menoleh ke arah depan.
"Kamu lihat di ujung sana?" kata Delisa sambil menunjuk ke arah ujung gang itu. Kembali bi Ijah mengangguk.
"Rumah terakhir itu adalah rumah tempat Hafiza ngontrak," Delisa memandang bi Ijah dan Kasni.
"Aku dulu pernah tinggal di rumah itu. Aku punya masalah dengan penghuni rumah. Mungkin aku tidak bisa menemani kalian," lanjut Delisa. Bi Ijah mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Kasni.
"Tapi, bagaimana kami tahu kalau di dalam sana ada Hafiza," kata Kasni ikut bicara.
"Aku sudah bertemu langsung dengannya, bahkan photo yang kemarin aku kirim, aku ambil di rumah itu," kata Delisa. Ia menatap bi Ijah.
"Inilah waktu yang tepat untuk masuk ke rumah itu, biasanya jam segini pemiliknya lagi tidur siang," kata Delisa.
"Tapi tunggu, ngomong-ngomong, kenapa hanya kalian berdua yang datang? Bagaimana kalian akan membawanya pulang," lanjut Delisa heran saat menyadari mereka hanya datang berdua.
"Itu masalah gampang, yang penting kami sudah menemukannya," kata bi Ijah.
"Terkait dengan bayaranku?" tanya Delisa. Bi Ijah tersenyum
"Ada, di dalam," kata bi Ijah sambil memperlihatkan tasnya.
"Tapi kami tidak bisa membeli kucing dalam karung. Kamu harus mengantar kami. Jika kami sudah melihat perempuan itu dengan mata kami sendiri, maka kami akan memberikan bayaranmu," sambung bi Ijah.
Delisa mendesah kesal.
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu di ujung jalan sana," kata Delisa. Ia lalu menyalakan sepeda motornya dan berlalu mendahului mereka.