JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#21


__ADS_3

Faris melonjak kaget. Keringat dingin mengalir di tubuhnya. Tambah terkejut ia karna ruangan tempatnya tidur kini, tidak seperti kamar tidurnya yang biasa. Setelah untuk beberapa saat ia mengamati sekelilingnya, ia baru sadar bahwa saat ini ia sedang menginap di rumah pak Nasirin.


"Astaghfirullah,"desahnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tatapannya mengarah ke dinding kamar di depannya. Resah. Ia mulai membunyikan jari-jari tangannya satu persatu.


Rupanya tadi ia mimpi buruk. Mimpi tentang Hafiza yang ia lihat sedang berlari mengejar kerudungnya dan terjatuh di jurang, jurang yang dasarnya dipenuhi kobaran api.


"Apa yang terjadi dengan Hafiza," batinnya gelisah. Nyata sekali ia melihat wajah Hafiza, senyata ketika melihatnya langsung. Apakah ia tidak bahagia dengan pernikahannya? Atau apakah malam ini telah terjadi sesuatu yang tidak baik kepadanya?


Pertanyaan demi pertanyaan mulai meresahkan Faris. Seandainya saja ia ada di rumah, tentu malam ini ia akan pergi untuk sekedar memastikan Hafiza baik-baik saja di rumah Raka.

__ADS_1


Faris kembali membaringkan tubuhnya. Tatapannya kini menerawang. Tetap gelisah memikirkan mimpi buruknya tentang Hafiza. Berbagai doa dipanjatkannya semoga Hafiza baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi kepadanya.


Faris bangkit dan melangkah ke kamar mandi yang ada dalam ruangan itu. Setelah membasuh wajahnya, ia kembali lagi dan duduk di sisi ranjang.


Ia masih memikirkan Hafiza. Mimpi yang baru saja dialaminya benar-benar terlihat nyata. Jam di kamar menunjukkan pukul 3. Ia membaringkan tubuhnya dengan kedua kakinya menjuntai ke lantai. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Saling menyusul dan mulai terdengar dimana-mana.


...****************...


Rumaniati tersenyum ketika Faris membuka pintu kamar. Faris terlihat grogi. Dia mengusap keningnya. Rumaniati menunduk. Tersenyum malu.

__ADS_1


"Dipanggil bapak di ruang tamu." Rumaniati memperbaiki letak kaca matanya, ketika pandangannya bertubrukan dengan Faris, ia ikut-ikutan grogi. Faris melangkah mengikuti Rumaniati. Begitu melihat Faris, pak Nasirin langsung mempersilahkannya duduk.


"Kita makan dulu Nak Faris biar ada tenaga selama di perjalanan," kata pak Nasirin sambil mengerakkan tubuhnya. Faris tersenyum. Beberapa ikan dan tempe goreng di sodorkan lebih dekat di sisi Faris. Melihat Rumaniati duduk di dekatnya, Faris mulai merasa serba salah. Ikan goreng ukuran besar diangkat pak Nasirin dan meletakkannya di piring Faris.


"Nak Faris, Kami sekeluarga bangga telah kedatangan tamu seperti Nak Faris. Jarang ada anak muda jujur seperti Nak Faris. Kami sangat berterimakasih karna Nak Faris telah mengembalikan barang berharga kami, padahal bisa saja Nak Faris mengambilnya sendiri buat belanja Nak Faris" pak Nasirin menghabiskan segelas air minum di depannya. Ia lalu membuka dompet yang dari tadi ia letakkan di atas meja, mengambil seluruh lembaran uang kertas yang ada di dalamnya dan menyerahkannya kepada Faris. Faris menolak dan menyerahkan kembali kepada pak Nasirin. Pak Nasirin menggeleng, tangan Faris di pegangnya dan memaksa tangannya untuk menggenggamnya.


"Saya mohon Pak, jangan putuskan silaturrahim kita hanya karna uang ini. Saya telah mengambil upah karna menemukan dompet milik Bapak, dan itu sudah impas. Kelak saya malu jika bertemu dan berkunjung ke rumah Bapak. Saya mohon, ambil kembali uang Bapak. Cukup bagi saya menganggap bapak dan keluarga bapak sebagai keluarga baru saya." Faris mengembalikan kembali uang tersebut pada pak Nasirin. Pak Nasirin menatapnya dalam. Rumaniati melirik, menatap wajah Faris kagum. Pak Nasirin mengangguk dan mempersilahkan Faris mulai menyantap makanannya.


"Pak, Bu_"menatap ke arah Rumaniati. Ia masih berat memanggil nama Rumaniati. Rumaniati tersenyum. "Saya mohon pamit, ibu di rumah pasti sudah menunggu saya. Sekali lagi terimakasih atas kebaikan Bapak memberikan saya tumpangan," Setelah beberapa menit mereka menyelesaikan sarapan pagi. Raka berdiri, begitupun pak Nasirin, bu Nasirin dan Rumaniati.

__ADS_1


"Sama-sama Nak Faris, salam sama keluarga Nak Faris ya."


Setelah menyalami ketiganya, Faris pun segera menyalakan sepeda motornya dan berlalu diikuti pandangan kagum dari ketiganya. Rumaniati tersenyum. Ia memeriksa beberapa nomor kontak di hp nya, ingin memastikan nomor Faris sudah tercatat di ponselnya. Kembali ia tersenyum. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan Faris suatu hari nanti.


__ADS_2