
Mendengar kata-kata Rumaniati, bu Rahma terdiam. Ia menoleh dan kembali melempar pandangannya ke depan.
"Biar Ruman yang akan menceritakan apa yang terjadi Bu, Ruman sudah siap menerima apapun yang akan terjadi," kata Rumaniati berusaha bersikap tegar. Setelah mengatakan itu, Rumaniati bangkit dan masuk ke dalam rumah.
* * *
Lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar mengalun merdu dari arah masjid desa menjelang maghrib tiba. Rumaniati masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Faris masih saja belum terbangun dari tidurnya. Dia belum berani membangunkannya. Dia begitu nyenyak dan sepertinya belum mau terbangun. Bu Rahma sudah sejak tadi meninggalkan rumah. Pak Abbas sudah berkali-kali menelponnya. Selepas maghrib ini, jenazah Hafiza akan segera dibawa ke pekuburan umum desa. Bu Rahma sudah menyerahkan kepada dirinya untuk memberitahukan Faris tentang kematian Hafiza. Dia sudah siap menceritakannya, hanya tinggal menunggu Faris bangun dari tidurnya.
Tubuh Faris terlihat bergerak. Rumaniati segera mendekat. Ia sengaja mendehem beberapa kali, berharap Faris mendengarnya dan segera terbangun.
Faris membuka matanya perlahan. Ia menutup wajahnya ketika cahaya lampu di atasnya menyilaukan matanya. Ia menoleh ke sampingnya. Dilihatnya Rumaniati tersenyum ke arahnya.
"Sudah jam berapa ini," tanya Faris dengan suara parau.
"Sudah jam enam kurang lima menit Kak,"
"Astagfirullah."
Faris melonjak kaget. Ia segera membuka bajunya. Rumaniati segera menuju meja di dekat ranjang dan mengambil handuk yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia lalu memberikannya kepada Faris.
Faris keluar dan segera menuju ke kamar mandi.
***
Rumaniati masih menunggu Faris selesai dari shalatnya di sisi ranjang. Wajahnya terlihat tegang. Berkali-kali ia menghempaskan nafasnya, berharap rasa cemas dan ketegangan dalam dirinya ikut terhempas jauh. Ia harus segera mengatakannya, jika tidak, Faris tidak bisa menghadiri pemakaman Hafiza.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan sebentar," Rumaniati berdiri dan menatap Faris ragu. Wajah Faris masih terlihat tak bersemangat.
Faris melangkah ke arah meja dan meletakkan kopiahnya. Ia lalu menghampiri Rumaniati dan duduk di sisi ranjang. Rumaniati menyusul duduk.
"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan,"kata Faris.
__ADS_1
"Sebelumnya aku mohon maaf karna telat mengatakannya. Aku takut mengganggu tidur Kakak," kata Rumaniati. Ia menundukkan kepala sembari menunggu respon Faris. Faris hanya terdiam. Walaupun Rumaniati terdiam beberapa lama, ia sama sekali tak tertarik untuk menanyakan apa maksud Rumaniati.
Rumaniati mendesah. Ia menatap Faris. Ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Kali ini ia tak mau lagi berlama-lama. Ia harus segera mengatakannya.
"Kak, aku tahu Kak Faris sangat mencintai Hafiza." Rumaniati menghentikan kata-katanya begitu Faris menoleh ke arahnya. Rumaniati masih menunggu tanggapan dari Faris, tapi Faris hanya terdiam.
"Akupun sangat mencintai kak Faris, tapi aku berusaha untuk mencintai pada batas sewajarnya antara suami dan istri. Aku tidak ingin terlalu mencintai, sebab aku tak ingin suatu hari nanti aku berduka karna kehilanganmu," Rumaniati menghentikan kata-katanya. Air mata yang mulai keluar di usapnya.
Faris menundukkan kepalanya. Rupanya Rumaniati sudah tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Rumaniati. Dan memang, seharusnya ia tahu. Gelagatnya dua hari ini sejak hilangnya Hafiza, sudah cukup membuktikan kedekatan hati antaranya dan Hafiza. ia sudah pasrah sambil menunggu keputusan yang akan diambil oleh Rumaniati.
"Demikian juga dengan Kak Faris. Seharusnya Kak Faris lebih mengerti, bahwa apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah. Jika sudah waktunya, Dia akan mengambilnya dari kita," sambung Rumaniati terdengar sesenggukan. Faris memegang tangan Rumaniati. Rumaniati memejamkan matanya. Tangisnya semakin berderai.
"Apa yang kamu bicarakan Dik," kata Faris. Kata-kata Rumaniati selanjutnya membuatnya tidak mengerti. Ia merasa, sesuatu yang dibicarakan Rumaniati bukan seperti yang ia pikirkan saat ini.
"Kak, bersikaplah sebagai seorang ksatria. Apa yang jadi milikmu saat ini, pertahankanlah. Jangan mencari sesuatu yang belum ada dalam genggaman Kakak. Kakak akan kehilangan segalanya jika ngotot ingin memiliki yang lain,"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Katakan saja dengan terus terang. Jangan buat aku menebak dan bingung," kata Faris.
Rumaniati menatap Faris lekat. Faris membalas tatapannya. Linangan air mata Rumaniati membuat Faris menundukkan wajahnya. Ia mendesah pendek.
Kini gantian Faris yang menangis terisak-isak sambil mencium tangan Rumaniati.
Rumaniati memejamkan matanya sembari menghela nafas panjang. Ia berusaha tegar. Ia tahu, saat Faris mendengar berita tentang kematian Hafiza, dia akan pergi meninggalkannya.
"Sudah Kak, lihat Aku," kata Rumaniati. Sambil terisak, Faris mengangkat wajahnya.
"Menangislah sampai air matamu kering. Aku akan memberitahukanmu kabar yang lebih menyedihkan buatmu," kata Rumaniati. Faris menatap Rumaniati. Ia menunggu kata-kata selanjutnya yang akan dikeluarkan oleh Rumaniati.
"Kekasih hatimu sudah mati, dia akan dikuburkan maghrib ini. Pergilah, dia menunggumu.
Rumaniati menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis.
__ADS_1
Mata Faris terbelalak. Nafasnya tertahan. Detak jantung berdetak lebih kencang. Kesadarannya seperti tercabut dan melayang entah kemana. Kata-kata Rumaniati benar-benar mengagetkannya. Faris memegang tubuh Rumaniati dan mulai mengguncang-guncangkannya.
"Jangan main-main kamu Ruman, ini bukan sesuatu yang boleh kamu jadikan bahan candaan,"kata Faris geram. Tangannya mencengkram keras lengan Rumaniati sehingga membuatnya meringis kesakitan.
"Benar kak, Hafiza sudah meninggal, pergilah, sebelum terlambat menguburkannya," kata Rumaniati. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Faris. Tapi Faris tak mau melepaskan cengkramannya. Rumaniati berteriak kesakitan.
"Tolong, lepaskan tanganku. Jangan lampiaskan kemarahanmu padaku, Kak, apa yang aku katakan adalah benar,"
Brak!
Suara pintu terdengar dihempas. Bu Rahma muncul dari balik pintu. Melihat Rumaniati meringis kesakitan, ia segera menarik dengan keras tangan Faris.
"Setan apa yang telah merasuki pikiranmu Faris. Lihat, apa yang telah kamu lakukan kepada istrimu," kata bu Rahma marah. Ia memperlihatkan tangan Rumaniati yang berdarah kepada Faris yang masih melongo. Ia seperti orang linglung. Menoleh kesana kemari.
"Dia membohongiku. Dia mengatakan bahwa Hafiza sudah mati. Dia tidak mati,"
"Dia memang sudah mati. Lihat!" kata bu Rahma geram memperlihatkan telapak tangannya yang kotor dengan tanah.
"Dia sudah mati Faris, dia sudah mati," kata-kata bu Rahma semakin melemah. Kali ini ia menangis. Rumaniati masih terisak berusaha memegang tubuhnya yang luruh di lantai.
"Dan memang seharusnya kita semua akan mati. Hanya masalah waktu saja Faris," kata bu Rahma sesenggukan.
Faris bangkit. Matanya tajam menatap kesana kemari. Nafasnya menderu, bibirnya menggeretak menakutkan Rumaniati.
"Kalian bohong, dia tidak mati!" teriak Faris. Ia langsung berlarian keluar kamar. Rumaniati berteriak memanggilnya dan berusaha mengejar Faris, tapi bu Rahma segera memegang tubuhnya. Tangis Rumaniati semakin menjadi-jadi.
"Sudahlah, Nak, ikhlaskan suamimu, doakan dia dari sini, semoga Allah mengembalikan kesadarannya," bu Rahma mencoba menenangkan Rumaniati dengan suara lirihnya. Ia memeluk tubuh Rumaniati erat. Keduanya larut dalam tangis masing-masing.
Suara Adzan isya terdengar mengalun, menambah kesedihan di hati keduanya. Apa yang dibayangkan keduanya terjadi sudah. Faris yang rapuh, Faris yang sudah mereka prediksi tidak akan menerima kenyataan yang terjadi, akhirnya pergi. Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Faris. Mereka berdua hanya bisa berharap, Faris kembali pulang dan menyadari semuanya.
"Nak, keputusan ada di tanganmu. Ibu mewakili Faris mengijinkanmu pulang ke rumah orang tuamu. Tenangkan dirimu dulu, jika Faris sudah sadar, Ibu akan mengajaknya untuk menjemputmu kembali ke rumah ini," kata bu Rahma setelah tangis keduanya mulai reda.
__ADS_1
Rumaniati menggeleng.
"Tidak Bu, apapun yang terjadi, aku akan tetap di sini. Selama kak Faris belum menceraikanku, aku akan tetap di sini menemani ibu. Kita akan sama-sama membantunya keluar dari masalah ini," kata Rumaniati. Ia menatap bu Rahma, berusaha memperlihatkan ketegaran dari sorot matanya. Bu Rahma meraih tubuh Rumaniati dan kembali memeluknya.