
Salah satu petugas puskesmas keluar dari ruangan sambil membuka sarung tangannya. Suara sepatunya membuat pak Nasirin menoleh. Melihat petugas itu mendekat ke arahnya, pak Nasirin segera menyongsongnya was-was.
"Bagaimana keadaan anak saya, Pak," kata pak Nasirin. Jari-jari tangan yang ia selangi satu sama lain menandakan saat ini ia sangat cemas.
Perawat itu membuka maskernya. Ia mendesah dan menatap pak Nasirin.
"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kita semua adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya." Perawat itu memegang pundak pak Nasirin dan berlalu meninggalkannya. Pak Nasirin tertegun. Air matanya mengalir. Dengn sesenggukan, ia melangkah pelan ke dalam ruangan. Beberapa perawat yang masih ada di dalam segera menyibak tirai penutup ranjang tempat Rumaniati di baringkan. Salah seorang perawat mendekati pak Nasirin. Diusapnya pelan punggung pak Nasirin.
Pak Nasirin membuka kain penutup wajah Rumaniati. Pak Nasirin memejamkan matanya. Tangisnya semakin deras keluar dari matanya. Perlahan ia memegang kepala Rumaniti dan menciumnya.
"Anakku Rumaniati." terdengar teriakan disertai tangis dari luar ruang. Bu Nasirin dan bu Rahma yang baru sadar dari pingsannya dan langsung meluncur ke puskesmas, segera berhamburan masuk ke dalam ruangan.
Suara tangis pecah memenuhi ruangan ketika bu Rahma dan Bu Nasirin melihat tubuh kaku Rumaniati terbujur di atas ranjang. Mereka menjerit memanggil nama Rumaniati. Jeritan dan tangis mereka mengundang perhatian para pengunjung puskesmas. Mereka terlihat bergerombol di depan pintu ruang gawat darurat hingga salah seorang petugas jaga meminta mereka membubarkan diri. Suara sirine mobil ambulance terdengar berbunyi dari arah parkiran puskesmas. Pak Nasirin menoleh saat salah seorang petugas puskesmas menyentuh pundaknya.
"Pak, kalau bapak memang sudah siap, kami akan membawa jenazah almarhumah anak bapak ke rumah."
Pak Nasirin menganggukkan kepalanya. Ia mengusap air mata dan sisa ingus di hidungnya. Ia kemudian memegang pundak bu Nasirin. Bu Nasirin yang menundukkan kepalanya mencium wajah Rumaniati menoleh.
"Bu, ayo, kita bawa Ruman pulang. Ikhlaskan agar dia tenang di sisi penciptanya," kata pak Nasirin masih dengan isaknya. Ia menempelkan wajahnya di kepala bu Nasirin. Bu Rahma yang terlihat mulai tenang, berusaha ikut menenangkan bu Nasirin.
* * *
__ADS_1
Suara sirine mobil ambulan itu meraung-raung membelah ramai jalan raya. Di dalam mobil, tampak bu Rahma dan bu Nasirin masih lekat menatap wajah kaku Rumaniati yang terlihat tenang. Seperti orang yang sedang terbuai dalam mimpi indahnya. Sesekali masih terdengar isak tangis dari keduanya. Hingga setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mobil ambulan itu sampai di rumah pak Nasirin. Orang-orang tampak sudah berkerumun di jalan-jalan dekat rumah pak Nasirin. Mereka menunggu kedatangan jenazah Rumaniati.
Suara tangis kembali terdengar pecah dari kerabat dekat pak Nasirin yang menunggu di teras rumah. Beberapa orang juga terlihat mulai sibuk mempersiapkan keranda jenazah. Para tetangga mulai berdatangan melayat. Suasana duka menyelimuti rumah pak Nasirin.
* * *
Suara adzan ashar terdengar dari speaker masjid desa. Saat janazah Rumaniati selesai dikebumikan, Faris bangun dari berbaring panjangnya. Ia menatap satu rantang yang ditinggalkan Rumaniati pagi tadi. Rantang itu sudah penuh dikerubungi semut. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasa heran ketika mendapati dirinya berbaring di dekat kuburan. Ditambah lagi dengan keadaannya yang mengenaskan tak bertenaga. Itu terjadi usai adzan subuh tadi. Ia perlahan mulai ingat Rumaniati.
"Ibu," kata Faris dengan nada lemah. Ia ingin bangun, tapi tubuhnya yang hanya tinggal tulang belulang dan terbungkus kulit tipis dan hitam membuatnya tak mampu walaupun hanya sekedar bergerak. Bola matanya bergerak lemah ke sana kemari menyaksikan pemandangan sekitarnya.
Tatapan Faris tertumbuk ke arah gundukan tanah di sampingnya. Ia mendesah lemah. Apa gerangan yang telah ia lakukan sehingga tiba-tiba ia berada di tempat itu. Dan kemana orang-orang? Kenapa tak ada satupun yang ia lihat. Apa gerangan yang terjadi sehingga Rumaniati dan Ibunya membiarkannya tergeletak dan terlantar di tempat itu.
Terdengar beberapa langkah kaki seperti mendekat ke arahnya. Faris menoleh pelan. Beberapa orang terlihat berdiri di dekatnya. Satunya lagi, seorang perempuan paruh baya, duduk di dekat kepalanya.
"Ibu," panggil Faris pelan. Perempuan yang ternyata adalah bu Rahma itu tersenyum dan menitikkan air mata. Ia mengangguk dan mengusap wajah Faris.
"Ibu akan membawamu pulang, Nak. Ibu sudah lama sendirian tanpa kamu. Kamu pulang ya, Nak," kata bu Rahma dengan isak tangisnya. Ia mengusap kepala Faris pelan. Faris mengangguk kecil dan tersenyum. Bu Rahma menoleh ke arah tiga orang laki-laki di belakangnya. Ia memberi isyarat agar ketiganya mengangkat tubuh Faris dan membawanya ke mobil pik up yang terparkir di luar tembok pekuburan.
* * * * *
Mobil pick up warna putih itu melanjut pelan di jalan kecil yang belum di aspal. Bu Rahma memegang erat tubuh Faris ketika gerak mobil ke sana kemari mengindari jalan berlubang. Bu Rahma mendesah panjang. Untuk sesaat ia bisa melupakan kesedihannya kehilangan Rumaniati. Ia punya harapan besar Faris bisa sembuh dan kembali menemaninya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Faris meraba tangan bu Rahma. Melihat itu, bu Rahma segera menyambut tangannya. Bibir Faris terlihat bergerak. Seperti ada yang ingin dikatakannya.
Bu Rahma mendekatkan telinganya dan berusaha menyimak suara yang keluar dari mulut Faris.
"Ru...ma...ni...ati."
Bu Rahma mendesah pelan. Wajahya kembali terlihat murung. Ia belum berpikir jika Faris akan menanyakan Rumaniati secepat itu. Untuk sesaat tadi ia berharap Faris tidak lagi mengingat Rumaniati. Namun kini ia harus berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat.
"Ada, Nak. Istrimu ada di rumah. Dia tidak ikut menjemputmu karna ibu menyuruhnya belanja ke pasar untuk makan malam kita nanti," kata bu Rahma sambil tersenyum. Nada kebohongannya tertangkap lewat kata-katanya yang terputus-putus dan tatapan yang tak mau dilihat Faris.
Setelah beberapa menit di dalam perjalanan. Mobil pick up warna putih itu akhirnya sampai di depan rumah bu Rahma. Tubuh ringkih Faris langsung di bawa masuk ke dalam rumah. Beberapa tetangga yang melihat kejadian itu langsung mendekat untuk melihat keadaan Faris.
"Alhamdulillah, Bu. Akhirnya nak Faris mau pulang juga," kata salah seorang perempuan menyapa bu Rahma. Bu Rahma tersenyum.
"Alhamdulillah, Bu. Saya minta doa dari ibu-ibu, semoga anak saya diberi kesembuhan," jawab bu Rahma sembari menatap satu persatu beberapa perempuan tetangganya yang datang menjenguk.
* * * * *
Bu Rahma menatap Faris yang tergolek lemah di dalam selubungan selimut tebalnya. Tubuhnya yang kurus hampir rata dengan ranjang tempatnya berbaring. Jika tidak ada bantal guling yang mengapit tubuhnya di samping kiri dan kanannya, tentu orang tidak akan melihat bahwa ada orang yang berbaring di atasnya.
Bu Rahma yang duduk menekur di sisi ranjang nampak mengusap air matanya yang mulai mengalir. Faris seperti tidak nyaman dalam tidurnya. Beberapa kali ia terdengar mengigau dan kaget dengan mata terbelalak. Bibirnya seringkali dilihat bu Rahma bergerak seperti sedang berbicara. Ketika bu Rahma hendak mendekat, Faris sudah memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
Bu Rahma mengangkat tubuhnya berat ketika terdengar adzan isya berkumandang. Sajadah yang tergantung di depan lemari ia ambil. Sejenak memandang dan menciumnya. Aroma melati minyak wangi khas yang sering dipakai Rumaniati, masih tercium di sajadah. Bu Rahma kembali menitikkan air matanya. Hari-harinya yang penuh keceriaan karna ditemani menantunya yang sangat menyayanginya kini sudah hilang. Ia kembali merasa sepi. Lebih-lebih dengan keadaan Faris yang seperti itu.
Bu Rahma kemudian menggelar sajadah itu di atas lantai, di samping ranjang tempat Faris berbaring. Setelah memandang wajah Faris beberapa saat, ia keluar untuk mengambil air wudhu'.