
Faris tersenyum. Ia seperti melihat Rumaniati berdiri di depan pintu. Faris melambaikan tangannya menyuruhnya mendekat. Tapi Rumaniati menggelengkan kepalanya. Melihat Rumaniati hanya diam tak berkata apa-apa, Faris bangkit dan dengan sekuat tenaga mencoba mendekat ke arah pintu dimana Rumaniati berdiri diam.
"Hei, mau kemana kamu, Ruman.Tunggu aku, "teriak Faris ketika melihat Rumaniati membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari pintu. Faris terus berjalan. Ia harus membantu tubuh lemahnya untuk tegak berdiri dengan berpegangan di dinding kamar. Tapi pada akhirnya, tubuhnya yang lemah membuatnya tersungkur jatuh di lantai. Tepat di depan pintu. Nafas Faris terlihat tak stabil dan berhembus lebih kencang. Ia tak kuat lagi walau sekedar menggerakkan tubuhnya. Ia pasrah tergeletak lemah di lantai.
Rumaniati terlihat melambaikan tangannya. Faris yang tergeletak di atas lantai hanya bisa menatap dengan tatapan memelas. Tapi tak beberapa lama kemudian, ia tersenyum ketika ia melihat Rumaniati akhirnya mendekat ke arahnya.
"Ayo, bantu aku berdiri, Ruman. Bawa aku kemanapun kamu pergi," kata Faris.
"Ini ibu, Nak." kata Bu Rahma. Ia begitu kaget ketika melihat Faris tiba-tiba tergeletak di lantai sekembalinya dari mengambil air wudhu. Ia mengangkat tubuh kurus Faris dan membawanya kembali ke atas ranjang.
Faris menatap bu Rahma.
"Kemana Rumaniati. Bukankah tadi ia di sini?" tanya Faris. Bu Rahma mengusap wajah Faris. Air matanya terlihat menitik dan jatuh di kening Faris.
"Istrimu tidak ada di sini, Nak. Dia sedang pulang ke rumah pak Nasirin," kata bu Rahma. Faris menggeleng.
"Tidak, Bu. Dia tadi ada di sini. Ayo, cari dia, Bu. Dia pasti bersembunyi di belakang pintu itu,"
Bu Rahma memundurkan tubuhnya ke belakang dan ia bersandar di dinding kamar. Ia mendesah panjang sembari memejamkan matanya. Begitu berat ujian yang diberikan Tuhan kepadanya dan kepada anaknya. setelah tadi sore ia seperti menemukan kembali harapan hidupnya ketika Faris sudah mulai sadar dan mengenalinya, kini ia harus menghadapi masalah lagi. Memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada Rumaniati di saat Faris mulai menanyakannya. Ia tidak mungkin memberitahukan Faris jika Rumaniati sudah meninggal dunia. Faris mungkin kembali akan kehilangan kesadarannya.
"Bu, kenapa ibu diam saja. Aku mau ketemu Ruman." Bu Salma kembali mendekati Faris. Ia mencium kening Faris.
"Besok saja ya, Nak. Sekarang sudah malam. Lebih baik kamu makan dulu biar kamu punya tenaga untuk mencari Rumaniati besok. Kamu makan ya. Biar ibu suapin," kata bu Rahma. Lagi-lagi Faris menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Rumaniati ada di luar. Ayo, Bu. Bantu aku berdiri. Aku akan menunjukkan pada ibu bahwa Rumaniati benar-benar ada di luar," kata Faris.
"Ya, Allah. Bantu hamba keluar dari masalah ini, Ya, Allah," desah bu Rahma. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan kepada Faris. Dia benar-benar bingung.
"Nak, Rumaniati sudah meninggal. Rumaniati sudah mendahului kita, Nak." Bu Rahma sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa. Dia terpaksa mengatakan yang sebenarnya kepada Faris.
Faris tiba-tiba tertawa.
"Ibu ketahuan bohong. Tadi ibu bilang dia pulang ke rumah pak Nasirin, sekarang ibu bilang Rumaniati sudah meninggal. Kenapa ibu mempermainkanku. Aku sudah bilang, Rumaniati ada di luar , Bu. Tolong, Bu. Bantu aku berdiri. Kita harus cari Rumaniati," kata Faris.
Karna terus di desak Faris dan merasa Faris seperti tak mau mengerti dengan penjelasan yang diberikannya, bu Rahma pasrah. Ia turun dari ranjang dan melangkah mengambil mukena. Ia tak menghiraukan lagi permintaan tolong Faris yang menginginkannya mencarikan Rumaniati. Hingga ketika ia memulai shalatnya, Faris terus saja terdengar berbicara sendiri. Dalam shalatnya, bu Rahma kembali menangis terisak-isak.
* * * * *
Faris seperti mendapatkan tenaga baru ketika melihat dua orang yang ia cintai begitu cantiknya tersenyum melambaikan tangan mereka ke arahnya.
Faris tersenyum dan menggoyang-goyangkan kepalanya saat melihat Rumaniati dan Hafiza menari-nari di depannya. Faris sudah tidak sabar lagi hendak mendekat ke arah mereka. Ia berusaha bangkit dan berdiri. Perlahan ia menyusuri sisi ranjang sebagai penopang tubuhnya menuju dinding kamar.
* * * * *
Faris kini sudah berdiri di depan teras rumah. Lambaian tangan Hafiza dan Rumaniati membuatnya semakin bersemangat. Dia seperti sedang berada di tempat lain. Seperti di padang savana yang luas menghijau. Beraneka bunga berwarna warni tumbuh mengeluarkan wanginya yang semerbak. Dia tiba-tiba menemukan kembali tenaganya sekalipun masih bertopang pada dinding rumah dan apa saja yang ia jumpai.
* * * * *
__ADS_1
Bu Rahma menoleh ke arah belakang setelah ia menyelesaikan salam keduanya. Dia begitu terkejut ketika tidak menemukan Faris di atas ranjang. Ia membuka mukenanya dan segera berlari keluar rumah.
Dada bu Rahma berdebar. Jantungnya berdegup kencang. Tatapan matanya lincah kesana kemari mencari-cari Faris. Tidak ada orang yang ia lihat di halaman rumah. Mungkin Faris masih ada di dalam rumah. Bu Rahma kembali bergegas masuk dan mulai mencari Faris ke setiap sudut rumah sambil memanggil nama Faris.
Bu Rahma terlihat cemas. Setiap sudut rumah sudah ia telusuri, bahkan hingga ke kamar mandi, tapi ia tetap tak menemukan Faris. Ia kembali memeriksa kamar berharap Faris kembali ke kamarnya. Tapi di atas ranjangpun tetap kosong.
Faris, di mana kamu, Nak," panggil bu Rahma cemas. Ia kembali mondar-mandir ke sana kemari di dalam rumah mencari Faris. Ia tidak pernah berpikir Faris akan keluar rumah. Terlalu jauh untuk kondisi tubuhnya yang lemah. Faris tidak mungkin bisa berjalan jauh.
Bu Rahma mengerutkan keningnya. Ia menoleh ke arah pintu. Dia tadi menemukan pintu rumah dalam keadaan terbuka, padahal ia sudah menutupnya.
Bu Rahma melangkah menuju pintu. Ia mulai bertanya-tanya tentang kemungkinan Faris keluar dari rumah. Bu Rahma menutup pintu dan buru-buru keluar rumah.
"Faris, dimana kamu, Nak," panggil bu Rahma sambil terus menyusuri halaman rumah. Tak ada jawaban. Pintu gerbang rumah masih terbuka. Ia ragu apakah benar-benar sudah menutup pintu gerbang itu atau belum. Bu Rahma mendesah resah dan segera berjalan menuju pintu gerbang. Dadanya berdebar hebat. Sekeluarnya dari halaman rumah dan kini berdiri di tepi jalan, ia masih belum melihat Faris. Suasana di jalan nampak lengang. Beberapa lampu di tepi jalan tidak menyala, dan dia kesulitan untuk melihat ke ujung sana. Dia berdiri terpaku. Gak mungkin Faris ada di luar rumah. Dengan kondisi tubuhnya yang lemah dan nyaris tanpa tenaga, ia tidak begitu yakin Faris telah meninggalkan rumah. Ia pasti masih ada di dalam rumah. Mungkin di...
Bu Rahma kembali masuk. Tadi ia belum sempat memeriksa kamar mandi dan dapur. Mungkin saja Faris ada di sana.
Bu Rahma segera masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamar mandi. Di kamar mandi ia tak menemukan Faris. Ia segera bergegas menuju dapur, namun lagi-lagi Faris tak ada di sana.
"Ya, Allah, kemana kamu, Nak." Bu Rahma benar-benar cemas bercampur takut. Setiap sudut rumah sudah ia cari, dan ia merasa tak tahu lagi harus mencarinya kemana.
"Faris, Faris!"
Teriak bu Rahma. Tikus-tikus yang berlarian di plavon rumah mengagetkannya. Suasana sepi. Bu Rahma terdiam sejenak. Ia mencoba mendengarkan setiap gerakan yang tertangkap oleh telinganya.
__ADS_1