
Raka melempar tas yang dibawanya di atas ranjang. Melihat suasana rumah yang gelap dan sepi, ia hanya bisa duduk termenung di sisi ranjangnya. Pintu rumah di biarkannya terbuka. Angin dingin disepertiga malam yang berhembus, mengibas-ngibas tirai jendela rumah.
Raka membaringkan setengah tubuhnya di atas ranjang dengan kedua kaki menjuntai di lantai. Kedua tangannya di rentangkan di antara kepalanya. Ia menggeliat merenggangkan tubuhnya yang capek dan kaku. Dia sudah mencari Hafiza di setiap sudut rumah. Dia sudah pergi meninggalkan rumah itu. Rumah tangganya sudah hancur, dan ia tidak mungkin lagi menyusul Hafiza ke rumah orang tuanya. Hafiza sudah terlanjur marah dan sepertinya tidak akan memaafkannya.
Raka menguap. Tubuhnya yang terasa pegal dan lelah, membuat matanya tak bisa lagi untuk diajaknya tetap terjaga. Tanpa sadar, ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Malam semakin hening. Suara jangkrik yang mengerik ramai sesekali berpadu dengan suara kodok di sekitar rumah.
Tiga sosok tubuh terlihat mengendap-endap di samping rumah dalam kegelapan. Setelah beberapa saat ketiga sosok misterius itu terlihat sedang berbincang-bincang di sudut rumah, ketiganya tampak mulai berpencar.
Salah seorang dari mereka terlihat mundur ketika melihat pintu rumah terbuka. Ia memberi isyarat kepada kedua temannya untuk mendekat. Salah satu dari mereka mengendap masuk. Parang yang dipegangnya berkilauan tertimpa cahaya lampu. Kedua orang temannya berjaga di sisi kiri kanan pintu. Salah satu dari keduanya tampak sedang membuka tutup jerigen. Tak beberapa lama kemudian, orang yang ada di dalam memberi isyarat untuk masuk.
Raka masih terlihat pulas dalam tidurnya. Ketiga orang itu kini sudah berdiri mengelilinginya dengan parang terhunus di tangan mereka. Salah seorang dari mereka mengambil bantal guling di samping Raka dan dengan cepat ia membekap mulut Raka. Dua orang temannya lagi, masing-masing memegang tangan dan kaki Raka.
Tubuh Raka menggeliat mencoba melepaskan pegangan orang-orang di tubuhnya. Tapi tenaga orang-orang itu begitu kuat menindih tubuhnya. Semakin lama, gerakan tubuh Raka semakin melemah, hingga akhirnya ia tak bergerak sama sekali. Orang yang ada di atas kepala Raka perlahan melepaskan bantal yang membekap wajah Raka. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di atas hidung Raka. Ia menatap wajah kedua temannya dan mengangguk.
Salah satu dari mereka kemudian mengarahkan ujung parangnya ke perut Raka dan menusuknya. Darah segar muncrat dari perut Raka. Satu gerakan spontan dari tubuh Raka saat laki-laki itu mencabut parangnya, menandakan akhir hidupnya.
__ADS_1
Setelah memastikan Raka sudah tidak bernyawa lagi. Ketiganya bangkit. Salah seorang segera mengambil jerigen berisi minyak gas dan mulai menyiramnya di setiap sudut rumah. Sebelum keluar, salah satu dari mereka menyalakan korek api dan melemparnya. Ketiganya segera berlari menembus gelap malam.
Api mulai menjalar melalap apa saja yang ditemuinya di dalam rumah. Seketika api berkobar-kobar dengan suara menderunya yang menakutkan.
"Api! Kebakaran, kebakaran," Seorang terlihat keluar dan berteriak kesana kemari membangunkan orang-orang. Dalam sekejap, orang-orang berhamburan keluar rumah. Teriakan dan tangisan para perempuan terdengar menyayat, beradu dengan teriakan orang-orang yang mulai sibuk memadamkan api. Rumah yang terbakar perlahan ambruk. Karna air yang digunakan untuk memadamkan api tidak memadai, dengan sekejap, api sudah membakar habis rumah itu.
Bu Raka, bi Ijah dan beberapa kerabat Raka terlihat menangis di depan api yang masih menyala. Beberapa kali terdengar bu Raka memanggil-manggil nama Hafiza.
"Kak, kenapa yang Kakak panggil hanya Hafiza. Kenapa Kakak sama sekali tak mengingat Raka," kata bi Ijah sambil memeluk tubuh bu Raka.
"Hanya Hafiza yang di dalam rumah Dik, Raka belum pulang dari kemarin." Bi Ijah mengernyitkan dahinya. Perlahan ia melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya. Ia merasa malu karna menganggap dirinya salah menangisi orang. Ia tersenyum.
Perlahan matahari sudah terlihat dari arah timur. Sisa-sisa asap yang mengepul masih terlihat di langit desa. Berita tentang pristiwa kebakaran itu mulai menyebar ke desa-desa tetangga. Dalam sekejap, lokasi kebakaran tersebut sudah dipenuhi orang-orang yang hendak melihat.
*
Hafiza masih diam di balik sebuah pohon are di tepi parit dekat sawah. Subuh tadi, ia sudah mendengar suara teriakan dari arah selatan. Disusul bunyi sirene mobil pemadam kebakaran dan mobil dari kepolisian. Dia masih melihat banyak sepeda motor yang lalu lalang di jalan.
__ADS_1
Rupanya, tiga orang yang bersamanya tadi malam benar-benar telah membakar rumah Raka. Sayang sekali, ia tidak punya pulsa untuk memastikan keberadaan Raka saat ini. Mungkin saat ini, ibu Raka dan tetangga-tetangganya akan menyangkanya telah terbakar di dalam rumah. Hafiza mendesah. Biarkan saja orang-orang menganggapnya terbakar dan mati dalam kobaran api. Itu semua sudah tidak penting lagi baginya. Ia harus segera meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihatnya.
*
Pak Abbas nampak termangu melihat pemandangan di depannya. Salah satu kerabat Raka menjemputnya dan memberitahukan apa yang terjadi hari ini. Bu Abbas sendiri sudah dibopong warga dan diungsikan ke rumah bu Raka. Sesampainya di lokasi, ia langsung pingsan.
Orang-orang masih berkerumun di dekat kejadian. Beberapa orang lagi terlihat membantu petugas dari pemadam kebakaran membersihkan puing-puing bangunanan. Mereka dengan sangat hati-hati membongkar puing-puing untuk mencari tubuh Hafiza. Beberapa petugas kepolisian juga mulai memasang police line di sekitar kejadian perkara.
Sepengetahuan bu Raka dan tetangga yang paling dekat rumahnya dengan Raka, hanya Hafiza yang ia lihat ashar tadi sedang duduk di halaman rumah. Raka memang tidak pernah pulang sejak dua hari yang lalu. Bu Raka yakin, hanya Hafiza yang berada di dalam rumah.
Terlihat seorang petugas pemadam kebakaran memanggil seorang petugas kepolisian yang berdiri di luar police line. Orang-orang yang penasaran mulai merengsek maju. Semakin penasaran ketika petugas mengeluarkan plastik kantung mayat. Petugas yang melihat segera mencegah mereka.
"Mohon pengertian Bapak dan Ibu sekalian, biarkan kami bekerja dulu," kata salah seorang petugas kepolisian meminta orang-orang mundur. Dia lalu melangkah mendekati pak Abbas dan bu Raka yang hanya menatap dari kejauhan.
"Pak, Bu, mari ikut saya sebentar," kata petugas itu. Dia lalu mengajak keduanya untuk melihat apa yang ditemukan petugas di balik puing-puing.
Sesosok tubuh hangus terlihat dari balik puing-puing. Sudah tak ada yang bisa dikenali, selain sisa celana levis dibagian bawah tubuh, dan sebuah jam tangan di lengan tangan yang hanya menyisakan tulang saja.
__ADS_1
Dada bu Raka terasa sesak. Ia tiba-tiba merasakan sakit dan memegang dadanya kuat. Pak Abbas segera menangkap tubuhnya ketika bu Raka hendak terjatuh. Dua orang petugas kemudian menggotong tubuhnya dan membawa bu Raka ke rumahnya.