JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#36


__ADS_3

"Bagamana dengan anak saya Pak, apakah dia selamat?" Kata pak Abbas menghampiri salah seorang petugas kepolisian yang sedang istirahat di bawah sebuah pohon. Bi Ijah memperhatikan dari jauh. Perlahan ia mendatangi keduanya.


Petugas itu manatap pak Abbas.


"Maksud Bapak?" tanya petugas.


"Kalau memang jasad yang Bapak temukan tadi berjenis kelamin laki-laki, maka ada satu jasad lagi yang belum ditemukan," kata pak Abbas.


Petugas itu mendesah. Ia menyeka peluh di wajahnya. ia menatap wajah pak Abbas yang tampak sedih.


"Kami kira, tidak ada lagi korban lain Pak. Kami sudah menyisir semuanya. Tapi untuk lebih jelasnya lagi, kita masih harus menunggu hasil pemeriksaan lengkap,"


Pak Abbas menghela nafas panjang. Ia menundukkan kepalanya lemah.


"Pak, anaknya bapak ini adalah istri dari keponakan saya yang terbakar. Tidak diragukan lagi, dialah pelaku pembakaran ini," kata bi Ijah tiba-tiba menyela dari belakang. Pak Abbas menoleh. Ia menatap bi Ijah dengan tatapan tidak senang.


"Jangan terlalu cepat menuduh Bu, semua harus dibuktikan dulu. Hati-hatilah kalau berbicara, saya bisa menuntut ibu," kata pak Abbas. Ia langsung berbalik dan meninggalkan tempat itu.


Petugas itu menatap pak Abbas yang berlalu tanpa pamit.


"Betul yang dikatakan bapak tadi. Segala sesuatunya harus melewati penyelidikan dulu Bu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi."Petugas itu bangun. Dia lalu menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan,meninggalkan bi Ijah sendiri dengan tatapan sinisnya.


Orang-orang masih terlihat berkerumun. Semuanya mulai sibuk dengan opini masing-masing, menerka pelaku dan motif pembunuhan.


Di saat orang-orang sibuk dengan pembicaraan masing-masing, tiba-tiba sebuah tangisan keras mengagetkan mereka. Kasni langsung turun dari motor yang ditumpanginya dan berhamburan ke arah puing-puing rumah yang terbakar.


"Raka...," teriaknya. Melihat itu, bi Ijah langsung berlari mendekatinya. Ia memeluk tubuh Kasni. Kasni terus menangis dan berteriak memanggil nama Raka.

__ADS_1


"Aku yakin, Hafiza lah yang melakukan semua ini. Dia dan Raka akhir-akhir sedang ada masalah," bisik bi Ijah ketika melihat Kasni sudah tidak lagi menangis. Kasni mengusap ingus yang keluar dari hidungnya. Dia menatap bi Ijah heran.


"Maksud Bibi?, Hafiza tidak ikut terbakar?" tanya Kasni keheranan dengan kening mengerut. Bi Ijah menggeleng kecil.


"Petugas hanya menemukan jasad Raka. Kita harus menunggu hasil autopsi pihak kepolisian. Tapi aku yakin, Hafizah lah pelakunya," kata bi Ijah meyakinkan Kasni.


Rona wajah Kasni berubah merah. Tatapannya tajam dan nafasnya turun naik dengan cepat.


"Kurang ajar, dia sudah merebut Raka dariku, kini ia membunuh bapak anakku," kata Kasni geram.


Bi ijah bangkit dan meraih tangan Kasni. Dia kemudian mengajak Kasni ke rumahnya.


*


Suasana di sebuah rumah besar bercat biru terlihat ramai siang ini. Beberapa hiasan dari janur terlihat berjejer sepanjang jalan depan rumah. Beberapa anak muda terlihat sibuk memasang terop, sebagian lagi tampak sedang menghias panggung tempat akad nikah.


Di teras rumah, nampak Rumaniati sedang sibuk membantu ibu-ibu yang sedang mempersiapkan beberapa hidangan untuk persiapan akad nikahnya nanti malam. Ia tak henti-henti tersenyum ke arah orang-orang yang sesekali menggodanya.


"Ada apa Dik,"


"Bapak nanya, kapan ibu dan rombongan berangkat dari rumah. Kalau memang terkendala kendaraan, biar pak Haris yang akan jemput," kata Rumaniati sesaat setelah duduk di tepi ranjang.


"Tadi aku sudah telpon ibu, tapi katanya lagi nunggu pak Abbas," jawab Faris. "Tapi insya Allah, sebentar lagi berangkat."


"O ya Kak, terkait yang nanti malam, bapak juga nanya, setelah akad, mau langsung pulang atau tetap di sini," kata Rumaniati setelah beberapa saat mereka terdiam. Ia tersipu malu.


Faris tak langsung menjawab. Ia masih berpikir.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti Dik, kalau memang tidak terlalu malam, kita bisa langsung pulang. Kasihan ibu, sudah beberapa hari ini sendirian di rumah," jawab Faris. Rumaniati tersenyum. Mereka kembali terdiam lama. Rumaniati melirik. Faris masih saja tak mengerti dengan isyarat tangan yang ia dekatkan ke tangan Faris. Rumaniati mau, setidak-tidaknya Faris memegang tangannya.


Karna Faris tak juga mengerti, Rumaniati bangkit.


"Kalau begitu, aku keluar dulu Kak, mau bantu-bantu di teras," kata Rumaniati pamit. Faris meraih tangan Rumaniati lalu menciumnya lembut. Rumaniati tersenyum malu. Ia menganggukkan kepalanya mohon pamit.


*


Bu Rahma masih berdiri di depan rumahnya. Dia memutuskan untuk menunda keberangkatannya beberapa jam lagi. Seseorang yang ia utus untuk menjemput pak Abbas menyampaikan kabar duka tentang terbakarnya rumah Raka serta menghilangnya Hafiza. Berita itu sangat mengagetkannya. Dia khawatir, berita itu akhirnya sampai juga di telinga Faris dan Faris bisa saja mengacaukan acara akad nikahnya nanti malam. Bu Rahma tidak mau itu terjadi. Dia sudah mewanti-wanti rombongan yang bersamanya agar tidak membahas masalah itu di depan Faris nanti.


Terdengar suara tone hp berbunyi. Bu Rahma membuka tasnya dan segera menerima panggilan masuk. Pak Abbas menelpon.


"Ya Kak,"


"Kakak minta maaf Dik, kayaknya saya gak bisa ikut, ibunya Hafiza pingsan terus. Jangan ceritakan dulu sama Faris tentang pristiwa ini, jangan sampai ia ikut memikirkan adiknya yang hilang," kata pak Abbas dari seberang. Bu Rahma mengangguk.


"Titip salam buat dia, sekaligus permintaan maaf saya karna tidak bisa menghadiri akad nikahnya. Bilang kalau saya lagi sakit," sambung pak Abbas. Suaranya terdengar parau.


"Iya Kak, insya Allah. Semoga Nak Hafiza cepat ketemu Kak,"


"Amin, Cepatlah berangkat Dik, takut nanti Farisnya lelah menunggu,"


"Baik Kak, assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


Bu Rahma menutup telponnya. Ia mendesah panjang. Di satu sisi, ia ingin sekali melihat keadaan pak Abbas, namun di sisi lain, ia tak mau membuat Faris resah dan akhirnya akan mencari tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Setelah sejenak terdiam, bu Rahma membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobil terparkir. Ia melambaikan tangannya kepada rombongan untuk segera masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama kemudian, mobil yang ditumpanginya segera melaju di jalan beraspal.


Sepanjang perjalanan, bu Rahma hanya terdiam. Ia hanya mendengar saja perbincangan orang-orang di dalam mobil tentang kejadian yang menimpa Hafiza. Bagaimanapun juga, Hafiza adalah anak saudara tertuanya, pak Abbas. Kekhawatirannya tentang menghilangnya Hafiza, ditambah lagi jika Faris sampai tahu hal itu, membuat dadanya terasa sesak.


__ADS_2