
Mobil kijang warna hijau itu melaju pelan di jalan beraspal. Di dalamnya, pak Abbas yang duduk di kursi depan bersama sopir. Di kursi tengah dan belakang, ada Faris, bu Rahma, dan dua lainnya, pak Kadus dan salah satu kerabat bu Rahma. Setelah shalat dhuhur tadi, mereka berangkat dari rumah bu Rahma menuju ke rumah pak Nasirin. Sesuai yang telah disepakati Faris dan bu Rahma, hari ini adalah hari yang mereka anggap tepat untuk membicarakan pernikahan Faris dan Rumaniati. Pak Abbas termasuk yang diajak bu Rahma, karna dia adalah sepupu dekat bu Rahma.
Bu Rahma mendengus. Ia memerintahkan Faris untuk menurunkan kaca jendela mobil. Asap rokok yang disulut pak Abbas, mulai menyebar ke seluruh area dalam mobil. Pak Abbas terlhat tersenyum dari balik kaca spion ketika melihat bu Rahma mengibas-ngibaskan asap dengan ujung kerudungnya.
"Apa ya gak bisa bapakmu nunda ngerokoknya sebentar saja, ibu sampai gak bisa nafas," kata bu Rahma menggerutu. Pak Abbas dan seluruh penumpang tersenyum. Pak Abbas mengeluarkan tangannya setengah dan menjentik-jentikkan abu rokoknya keluar.
"Ini adalah salah satu cara biar groginya nanti hilang Dik," kata pak Abbas. Sesekali ia terdengar batuk.
"Bukan groginya yang hilang, tapi batuknya yang keluar," timpal bu Rahma.
"O ya, Faris, Hafiza nya sudah kamu kasih tahu belum." Pak Abbas terlihat mencari wajah Faris lewat kaca spion. Faris terdiam. Bu Rahma menghela nafas panjang namun seperti ditahan-tahan. Ia menatap wajah Faris yang mulai berubah.
"Nanti saja kasih tahunya Kak, kalau Faris sudah resmi nikah," jawab bu Rahma. Tatapannya masih tak berpaling dari wajah Faris. Pak Abbas kembali menghisap rokoknya. Terlihat ia masih mencari-cari wajah Faris di kaca spion.
"Sudah lama juga anak itu gak pulang ke rumah. Sudah hidup enak kali sama suaminya," kata pak Abbas mendengus. Bu Rahma tersenyum.
"Ya syukurlah kalau anaknya bahagia, mungkin Hafizanya mau buat kejutan. Mau kasih suprise seorang cucu untuk bapaknya," kata bu Rahma. Pak Abbas terlihat tersenyum.
"Bagaimana menurutmu ini Kak, Faris kok mau ditanggung semua biaya nikahnya sama calon mertuanya," sambung bu Rahma mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau pak Abbas membicarakan lagi tentang Hafiza. Ia khawatir suasana hati Faris menjadi kacau.
"Bagus itu, kan enak gak keluarin biaya," jawab pak Abbas singkat.
"Ini mungkin politiknya pak Nasirin Pak, mau tambah suara buat jadi DPR provinsi," canda pak kadus di kursi belakang. Pak Abbas dan bu Rahma tersenyum.
"Tapi tetep harus ada biaya dari kita, apa kata orang nanti" Pak Abbas kembali menghisap rokoknya. "Kamu pakai apa sih Ris, kok bisa nikahnya ditanggung calon mertua," sambung pak Abbas. Faris hanya tersenyum. Nampak ia mulai terlihat tak bersemangat. Nama Hafiza yang sudah terlanjur disebut pak Abbas membuatnya mulai memikirkannya.
"Jadi beli minumannya Bu," kata Faris ketika melihat tulisan alfa mart di depannya. Bu Rahma mengangguk dan menyuruh sopir berhenti. Bu Rahma mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan dari tasnya dan memberikannya pada Faris.
"Bos tanah baru terima uang banyak," canda pak Abbas. Bu Rahma tersenyum ketus. Pak Abbas yang duduk santai dibuatnya kaget setelah mencolek perutnya. Setelah menunggu beberapa saat, Faris kembali dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
*
__ADS_1
Matahari bersinar terik. Cuaca hari ini begitu panas, memaksa orang-orang memilih berdiam diri di dalam rumah mereka. Sesekali angin yang menghempas, membawa terbang debu-debu dan sampah yang berserakan.
Hafiza memegang dadanya ketika hendak bangun dari tempat berbaringnya. Rasa sakit di dadanya akibat hempasan kuat tangan Raka tidak juga kunjung hilang, walaupun kejadian itu sudah lima hari berlalu. Dadanya akan terasa lebih sakit lagi ketika ia batuk atau bergerak. Ia mulai merasa lapar, setelah tadi pagi ia belum makan sama sekali. Kali ini ia harus ke dapur dan memasak sesuatu untuk dimakan.
Raka sudah tidak terlihat sejak dua hari yang lalu. Entah, dia sudah tidak mau tahu kemana Raka pergi. Dia juga sudah tak mau berpura-pura lagi ketika ibunya Raka menanyakan tentang anaknya. Dan sepertinya, perempuan tua itu juga sudah tahu jika rumah tangganya dengan Raka sedang tidak baik-baik. Hanya saja, terkait kondisinya saat ini, ia mencoba menyembunyikannya dari ibu Raka. Ia kasihan kepada perempuan itu. Ia terlalu baik dan tak ingin menambah beban pikirannya.
Dengan berpegangan pada dinding rumah, Hafiza melangkah menuju dapur. Tak ada apapun yang ia temukan di dapur untuk ia makan. Beras di dalam kendi tinggal sedikit. Selebihnya, hanya tersisa garam dan beberapa cabe kering yang sudah rusak. Dia malu jika harus meminta terus sama mertuanya. Dia sendiri harus pontang-panting mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Tak ada yang bisa perempuan tua itu harapkan dari seorang Raka.
Hafiza meraih sebuah kursi bambu di dekat meja makan dan perlahan berusaha duduk. Beras yang sudah ia bersihkan sudah ia masukkan ke dalam magic com. Ia harus menunggu nasi yang ia masak sampai benar-benar bisa dimakannya. Dia sudah tidak mampu lagi berjalan ke sana kemari karna rasa sakit di dadanya.
Hafiza mendesah pelan. Ia sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya seperti telah habis oleh tangis panjangnya beberapa malam lalu. Raka sama sekali tak memperdulikannya lagi. Dia semakin menghilang dan tak punya kesabaran untuk berusaha membuatnya memaafkannya.
Ia ingin pulang ke rumah orang tuanya, tapi ia kini merasa malu. Ditambah sakit yang dideritanya kini, semakin membuatnya harus rela menghabiskan waktunya di rumah itu. Rumah yang telah berubah menjadi neraka dalam sekejap.
Hafiza memegang perutnya. Dia perlahan bangkit. Piring di rak diambilnya. Ia harus makan walaupun nasi yang dimasaknya belum matang sempurna. Dia sudah terlalu lapar dan lemah untuk menunggu lebih lama. Hafiza meraih botol plastik kecil tempat ia menyimpan garam, dan membawanya ke meja makan. Setelah memercikkan beberapa butir garam di atas nasinya, ia pun mulai menyantapnya.
Terdengar suara sepeda motor semakin mendekat ke arah rumah. Hafiza bangkit. Ia kenal suara motor itu. Itu milik Raka. Hafiza tak menghiraukan rasa sakitnya, ia meraih pisau di rak dan kembali ke tempatnya makan. Pisau itu dipegangnya erat di tangan kirinya. Sambil terus menyantap makanannya, ia tetap waspada mendengar dengan seksama suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Pintu terdengar dibuka. Suara sepatu menghentak membuyarkan keheningan. Hafiza melirik. Raka berdiri di belakangnya.
Raka berbalik dan melangkah menuju kamar. Setelah membuka sepatu dan kaos kakinya, ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Terdengar suara hp berbunyi di dalam tas. Masih dalam keadaan berbaring, Raka meraih tas itu dan mengeluarkan hp dari dalam. Raka tersenyum.
"Kamu kok gak sabaran sih, tenang, ini lagi nunggu dia selesai makan. Kamu santai saja," Raka terlihat mengangguk-angguk.
"Kamu tenang saja Sayang, kalau sudah selesai pasti aku kabari,"
Raka menutup telponnya setelah untuk beberapa saat terlibat pembicaraan dengan seseorang di seberang sana. Suaranya agak dikeraskan, seperti ingin Hafiza mendengarnya.
Hafiza menoleh . Ekspresinya datar-datar saja. Hanya bibir yang menyeringai yang sesekali terlihat, saat rasa sakit di dadanya kambuh.
__ADS_1
Setelah mencuci tangannya, Hafiza melangkah ke kamar. Pisau kecil ia selipkan di balik bajunya. Ia memilih duduk di kursi depan cermin.
Melihat kedatangan Hafiza, Raka bangun. Ia hendak mendekati Hafiza, namun Hafiza memberi isyarat untuk tetap di tempatnya.
"Aku sudah coba berdamai denganmu, tapi kamu tetap tidak mau memaafkanku," kata Raka.
"Maafmu sudah terlambat. Kamu hanya minta maaf jika kamu menginginkan sesuatu. Kamu ingin berdamai, karna hasrat liarmu di luar sana yang tak tersalurkan dan aku kamu jadikan pelampiasan terakhirmu," timpal Hafiza. Ia menahan dadanya dengan telapak tangannya.
Raka tersenyum sinis.
"Memang begitu seharusnya istri. Istri harus siap melayani suaminya agar tidak terjerumus dalam perzinahan. Kamu telah berdosa besar Hafiza,"
"Sumpal mulutmu Raka. Bahkan dalam keadaanku yang sedang sakit akibat ulahmu pun, kamu tetap memaksaku melayanimu. Tanpa kamu ajari aku, aku sudah tahu kewajibanku sebagai seorang istri. Tapi sikapmu yang beringas, membuatku berpikir, kamu hanya datang jika kamu butuh. Kamu membiarkanku sakit tanpa pernah kau tanya sedikitpun,"
Raka mendesah kasar. Kepalanya yang digerakkan kesana kemari mengikuti hentakan kakinya, seakan-akan ingin memperlihatkan pada Hafiza, bahwa ia tak mendengar kata-kata panjangnya tadi.
"Kalau begitu kita cerai,"
Hafiza tersenyum.
"Sebelum kamu katakan itu, aku sudah menceraikanmu terlebih dahulu," kata Hafiza sengit.
"Kalau begitu, kenapa kamu masih di sini, cepatlah pergi, calon istri baruku akan segera menggantikanmu,"
Hafiza bangkit dan membuka satu persatu kancing bajunya.
"Lihatlah apa yang telah kamu lakukan kepadaku," kata Hafiza sambil memperlihatkan lebam di bagian dadanya.
"Setelah apa yang kamu lakukan ini, kamu mau mengusirku dari rumahmu?"
"Itu bukan kesengajaan Hafiza, jangan kamu ungkit masalah sepele itu," kata Raka enteng.
__ADS_1
"Kamu memang bangsat, kesengajaan atau tidak, yang jelas saat ini aku sedang kesakitan. Aku bisa saja menuntut dan memenjarakanmu,"
"