JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#50


__ADS_3

Malam telah beranjak larut. Rumaniati masih sendiri di dalam kamarnya. Matanya terlihat sembab. Sesenggukannya masih terdengar sesekali menghentak hening kamar. Bu Rahma sendiri masih duduk gelisah di teras rumah. Dia masih menyesali kata-katanya yang mungkin saja menambah luka di hati Faris. Tapi di lain sisi, ia tak tega melihat Rumaniati yang berusaha untuk tetap bersikap tegar. Sebagai sesama perempuan, ia mengerti betul apa yang dirasakan Rumaniati saat ini. Masa bahagia pernikahannya yang baru beberapa hari, dan dia harus menerima kenyataan, Faris pergi meninggalkannya untuk wanita yang sudah meninggal dunia.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah. Bu Rahma menoleh. Ia melihat Rumaniati sudah berdiri bersandar lemah di depan pintu. Wajahnya terlihat sayu dengan sesenggukan yang sesekali terdengar.


Bu Rahma segera bangkit dan melangkah mendekati Rumaniati. Ia meraih tubuh Rumaniati dan memeluknya.


"Apa yang harus ibu lakukan Nak," kata bu Rahma lirih. Rumaniati menatapnya lemah. Tatapannya menerawang ke arah kegelapan jalan. Dengan pelan, bu Rahma mengajaknya duduk di kursi teras rumah.


"Bu, apa sudah ada kabar dimana kak Faris," tanya Rumaniati lemah. Pandangannya tetap menerawang ke arah jalan.


Bu Rahma menatap sedih. Ia mendesah panjang. Ia terdiam sejenak mengikuti arah pandangan mata Rumaniati.


Bu Rahma berdiri dan melangkah ke dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali dengan membawa ponsel di tangannya. Bu Rahma kembali duduk.


"Sudah jam 1, tapi mudah-mudahan saja bapakmu masih belum tidur," desah bu Rahma sambil mulai mengusap layar ponselnya.


"Halo, kak, masih belum tidur?" Bu Rahma tersenyum saat terdengar suara dari seberang sana. Rumaniati menoleh.


"Maaf ganggu, Kak. Saya hanya mau tanya, apakah Faris ada di sana," kata bu Rahma. Ia membesarkan volume ponselnya. Ia ingin Rumaniati mendengar sendiri jawaban pak Abbas dari seberang.


"Tadi dia memang sudah kesini, dik, tapi hanya sebentar. Dua orang yang aku utus untuk mengikutinya, memberitahukan kalau saat ini Faris sedang berada di pemakaman umum." Bu Rahma menatap Rumaniati. Suara pak Abbas dari seberang sana terdengar bergetar.


"Dik, sepertinya kita harus segera memeriksa nak Faris, keadaannya sangat mengkhawatirkan," kata pak Abbas. Suaranya lirih seperti sedang menahan tangis.


Bu Rahma mendesah dan kembali menatap Rumaniati. Rumaniati menunduk lemah.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa, Kak, ini memang sudah menjadi jalan hidupnya," kata bu Rahma lemah.


"Kita harus mencarinya, Bu, kita harus membawanya pulang. Kasihan, kak Faris sendirian di sana," kata Rumaniati menyela.Ia memegang tangan bu Rahma. Tatapannya penuh harap.


"Ya sudah, kak, mungkin aku akan ke sana bersama Rumaniati. Aku akan menjemput Faris pulang,"


"Kamu mampir dulu ke rumah. Kita akan sama-sama ke sana, mudah-mudahan Faris segera sadar dan mau pulang."


Bu Rahma menutup paggilannya. Ia memegang tangan Rumaniati sambil mengangguk kecil. Keduanya kemudian bangkit.


* * *


Angin malam berhembus dingin. Suasana hening di pekuburan, sesekali di buyarkan oleh nyanyi sumbang Faris yang masih terbaring di samping kubur Hafiza. Ia tersenyum dan terkadang tertawa ketika bayang Hafiza seakan-akan muncul di hadapannya. Layaknya orang yang sedang berduaan, Faris benar-benar menikmati dunianya yang baru. Dunia yang tak akan dimengerti oleh orang-orang waras.


"Apa, kamu malu diihat orang? Ha...ha..ha...," tawa Faris kembali pecah. Ia mendekatkan bibirnya dan mulai terlihat seperti berbisik.


Faris tersenyum. Ia terlihat begitu girang dengan apa yang telah dilakukannya. Berkali-kali ia menoleh sambil berteriak seolah-olah Hafiza ada di sampingnya.


"Lihat tempat tidurku ini, Hafiza. Lihat, ini tempat ternyaman yang pernah aku tempati."


Faris membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan salah satu tangannya dan memeluk kubur Hafiza. Ia memejamkan mata sambil terus tersenyum.


Ayo, kamu juga tidur ya, jangan melihatku terus seperti itu. Tidurlah yang nyenyak, tapi ingat, jangan lupa membangunkan aku dengan aroma kopimu besok pagi, selamat malam kekasihku, mmmuach...,"


* * *

__ADS_1


Terlihat nyala senter dan dua buah obor dari kejauhan. Semakin dekat hingga tampak memasuki area kuburan.


Faris yang sedang terlena memeluk gundukan tanah membuka matanya. Terdengar semak-semak dan ranting-ranting kering yang patah bersamaan dengan langkah-langkah yang semakin dekat ke arahnya.


"Jangan takut Hafiza, aku akan menjagamu.Tetaplah tenang. Aku akan mengusir mereka jika berniat mengganggu kita," bisik Faris sambil menepuk-nepuk pelan gundukan tanah di depannya. Perlahan ia membalikkan tubuhnya. Matanya awas memperhatikan beberapa orang yang mendekat ke arahnya.


Kilatan sinar senter mengenai wajah Faris. Faris menutup wajahnya.


Rumaniati, bu Rahma, pak Abbas dan dua orang laki-laki yang bersama mereka segera berhamburan mendekati Faris.


"Matikan senternya," perintah pak Abbas pada salah satu laki-laki di belakangnya.


Tangis Rumaniati dan bu Rahma pecah melihat keadaan Faris. Pakaian dan tubuhnya penuh dengan lumpur.


Faris membuka perlahan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Sinar senter yang tadi mengenai matanya masih membuatnya kesulitan melihat sekelilingnya. Ia memeras matanya kuat.


"Kak Faris, kenapa bisa jadi begini, Kak, sadar, sadarlah, Kak," raung Rumaniati di depan Faris. Ia berusaha menjangkau tubuh Faris, tapi Faris yang telah kembali penglihatan awasnya mundur ke belakang dan jatuh di atas gundukan tanah kubur Hafiza. Tapi ia segera menarik tubuhnya dan bangkit. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Rumaniati dan orang-orang didepannya sambil menangis.


"Lihatlah, kalian lihat, aku jatuh dan menimpa tubuh kekasihku gara-gara kalian. Aku sudah berjanji menjaganya, tapi kalian membuat aku menindih tubuhnya. Pergi, pergilah kalian," teriak Faris. Tangis Rumaniati semakin menjadi-jadi. Kedua tangannya dijulurkan ke arah Faris, tapi Faris berusaha mengindar. Malah berkali-kali ia menghamburkan tanah yang digenggamnya ke arah Rumaniati.


"Nak, sadarlah, aku ini ibumu, Nak, dan ini adalah istrimu, Rumaniati," kata bu Rahma dari tempat berdirinya. Faris menggeleng dan terus memberi isyarat dengan kedua tangannya agar mereka menjauh.


"Ibu? Istri?, jangan mengada-ada. Ibuku sudah mati," teriak Faris. Ia tersenyum dan menunjuk ke kubur Hafiza. "Dan istriku...?, lihatlah, kalian telah membangunkannya dari tidur nyenyaknya." Faris duduk dan mengusap-usap nisan Hafiza.


Rumaniati menggeleng tak percaya dengan yang kini dilihatnya. Ia mendongak dan menatap jauh ke atas, seakan-akan ingin meminta bantuan kepada pemilik langit.

__ADS_1


Pak Abbas yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan dengan tatapan sedih, mendekati Rumaniati dan bu Rahma. Ia mengangkat tubuh keduanya pelan.


__ADS_2