
"Hafiza, keluarlah Nak, kamu sudah ditunggu sama suamimu," panggil pak Abbas dari arah teras. Hafiza masih terdiam menatap Raka dari balik kelambu jendela kamarnya. Dia sudah mendengar suara salam Raka beberapa menit lalu saat ia selesai menunaikan shalat isya', tapi ia masih enggan keluar. Bergantian ayah dan ibunya memanggil dan menyuruhnya segera keluar menemui Raka, tapi ia takut jika harus berbaikan dan Raka membawanya kembali pulang ke rumahnya. Ia sudah terlalu trauma dengan sikap kasar Raka. Ia ragu kejadian serupa akan dilakukan lagi oleh Raka.
Terdengar lagi ketukan di pintu kamarnya. Hafiza mendesah. Malas. Dilemparkannya bantal guling di pangkuannya dan beranjak bangkit. Ia masih berdiri di depan pintu, menunggu ketukan kedua kalinya.
"Nak, keluar Nak, bicarakan baik-baik dengan suamimu," terdengar suara pak Abbas dari luar kamar. Hafiza menyandarkan tubuhnya di dekat pintu kamar. Ia memejamkan matanya sambil memijat-mijat keningnya. Lama-lama ia mulai kesal dengan sikap ayahnya yang terus menyuruhnya keluar menemui Raka. Hafiza mendesah pendek.
"Tak ada yang perlu dibicarakan Pak. Jika sifatnya seperti itu terus, Hafiza gak mau," kata Hafiza dengan suara sedikit keras. Ia ingin pak Abbas tahu, ia benar-benar sudah tak ingin menemui Raka.
"Makanya keluar dulu, Nak. Apa yang harus kamu putuskan, bicarakan di luar. Baik dan buruknya kita, tergantung pembicaraan kita. Ayo, keluarlah, Bapak menunggumu,"
Hafiza kembali memijit-mijit keningnya keras. Ia belum bisa memberikan jawaban. Beberapa kali ia mendesah. Ia masih mengingat bagaimana perlakuan kasar Raka kepadanya.
"Hafiza, ayo Nak, jangan permalukan Bapak," suara pak Abbas masih terdengar di luar setelah beberapa saat terdiam.
Dengan wajah kesal, Hafiza membuka pintu. Ia sengaja melangkah sempoyongan ke arah teras, agar Raka maupun pak Abbas tahu bahwa ia sudah mulai bosan. Ia berdiri bersedekap dengan kepala dipalingkannya ke samping. Seperti enggan menatap wajah Raka.
"Gak boleh seperti ini, Nak. Dia itu masih suamimu. Ayo, demi ayah, duduklah," rayu pak Abbas sambil berbisik di telinga Hafiza.
Dengan berat hati, Hafiza menghempaskan tubuhnya di dekat pak Abbas. Pandangannya diarahkan ke samping. Enggan menatap Raka.
"Apapun permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga kita, hendaknya kita bicarakan secara baik-baik,"kata pak Abbas mencoba membuka pembicaraan. Raka masih tertunduk, sedangkan Hafiza masih tetap tak menoleh.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dibicarakan baik-baik Pak, pulang malam pergi pagi. Hafiza sudah mencoba bersikap baik, tapi dia benar-benar tidak menghiraukan Hafiza,"kata Hafiza sinis. Pak Abbas menepuk paha Hafiza pelan.
"Raka, maaf, bapak tidak bermaksud menggurui dan menghakimimu. Sekarang ini Hafiza sudah sah menjadi istrimu, kamu hanya punya kewajiban menafkahi anakmu. Tidak ada orang yang melarangmu berhubungan baik dengan mantan istrimu, selama masih dalam batas kewajaran. Bukan berarti ia bisa masuk seenaknya ke ruang privasimu bersama Hafiza," kata pak Abbas panjang lebar.
Hafiza mendengus.
"Kalau memang masih cinta sama mantan, kenapa tidak kembali saja."kembali pak Abbas menepuk paha Hafiza.
"Satu lagi Nak Raka, jika memang terpaksa harus memukul, pukullah pada tempat yang tidak menimbulkan_,"
"Maaf Pak, terkait pemukulan, saya benar-benar tidak sengaja. Saya terlalu ngantuk sehingga tak sadar melemparkan sajadah ke arah dik Hafiza. Saya kaget ketika dik Hafiza menyalakan lampu,"kata Raka memotong pembicaraan pak Abbas, berusaha membela diri.
"Aku sudah semalaman menunggumu pulang, berhias yang cantik dan aku ingin tetap tampil menarik di depan kakak, tapi setiap kakak pulang, kakak pasti membuatku kecewa,"kata Hafiza kesal.
"Saya minta maaf, Pak, Dik, saya mengaku salah, saya khilaf. Saya seperti terhipnotis setiap kali Kasni datang. Sekali lagi saya mohon maaf, jika selama ini telah menyakiti hati Dik Hafiza,"
pak Abbas menghela nafas panjang. Ia menatap Hafiza dan meraih tangannya.
"Semua masalah hendaklah dibicarakan terlebih dahulu sebelum masalah kalian didengar orang lain, sehingga apapun yang terjadi, orang-orang yang tidak senang, tidak bisa mengolahnya menjadi bola api." Pak Abbas menyulut rokoknya dan bangkit.
"Bapak tinggal dulu, bapak yakin kalian bisa menyelesaikan masalah kalian berdua. Ingat, pecahkan masalah dengan kepala dingin. Buang ego kalian, dan saling memaafkanlah."
__ADS_1
Pak Abbas kemudian meninggalkan mereka berdua.
Sejenak suasana menjadi hening setelah kepergian pak Abbas. Mereka berdua seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Masing-masing ragu untuk memulai pembicaraan.
Raka lebih mendekat dan memberanikan diri memegang tangan Hafiza. Hafiza menolak, tapi Raka terus meraih tangan Hafiza dan menciumnya. Dengan memelas, ia menatap Hafiza penuh harap.
"Ku mohon maafkan aku Dik, aku benar-benar seperti telah diguna-guna oleh Kasni. Apapun yang ia perintahkan, selalu aku turuti. Aku tak sadar ketika seringkali membuatmu sakit hati. Kumohon maafkan aku." kembali Raka mencium tangan Hafiza. Hafiza tetap tak bergeming. Hanya air mata yang terlihat mulai mengalir di pipinya.
"Beri aku kesempatan sekali ini saja untuk berubah. Aku janji akan membuatmu bahagia. kumohon, ikutlah pulang," Raka memelas. Hafiza mengusap air matanya.
"Pegang janji Kakak. Jangan buat hati adik menangis lagi. Adik ingin diperlakukan layaknya seorang istri. Adik ingin lebih diperhatikan dari siapapun, termasuk mantan istri Kakak." Raka memegang tangan Hafiza dan menciumnya.
"Sekarang berbenahlah, sudah malam, kita harus segera pulang," kata Raka. Hafiza menoleh ke arah pintu rumah.
"Pak, bu, Hafiza mau pulang,"panggil Hafiza. Pak Abbas dan istrinya keluar.
"Lho, enggak nginep di sini saja dulu. ini kan sudah malam, pulangnya subuh-subuh saja nanti,"kata bu Abbas begitu melihat keduanya sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Lain kali saja Bu, kasihan nanti ibu di rumah khawatir menunggu,"jawab Raka. Ia lalu melangkah mencium tangan pak Abbas dan bu Abbas, diikuti Hafiza di belakangnya.
"Hendaknya masalah yang terjadi dijadikan pelajaran agar rumah tangga kalian lebih baik lagi,"kata pak Abbas memberi pesan terakhirnya. Keduanya mengangguk. Keduanya lalu berpamitan dan pergi meninggalkan pak Abbas dan bu Abbas yang terus menatap kepergian mereka hingga hilang di belokan jalan.
__ADS_1
Faris keluar dari persembunyiannya di depan sebuah kios di belokan jalan menuju rumah pak Abbas. Dia baru saja melihat Hafiza dan Raka lewat di depannya.
Dia memang sengaja datang setelah isya tadi. Bukan untuk menemui Hafiza, tapi hanya sekedar untuk melihat kondisinya malam ini. Tapi ketika melihat Raka di teras rumah pak Abbas, ia mengurungkan niatnya untuk lebih mendekat. Ia sedikit lebih tenang dan berharap, mereka memulai lagi awal yang baik untuk pernikahan mereka. Kesempatan kedua yang baik bagi Raka ketika dilihatnya Hafiza menyandarkan manis kepalanya di bahu Raka.