
Hafiza masih duduk bersila di atas ranjangnya. Tangan kirinya dinaikkannya dan ia gunakan sebagai sandaran dagunya. Sudah siang, namun Raka belum juga pulang setelah lemburnya tadi malam. Dari lima pesan singkat yang ia kirim, hanya satu yang dibalas Raka. Seperti biasa, terlalu banyak pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya sehingga ia tidak bisa pulang ke rumah. Ketika ia menanyakan kapan pastinya akan pulang, sampai sekarang Raka belum juga membalasnya. Ayam goreng pedas dan telur dadar kesukaannya yang telah ia siapkan sejak tadi pagi untuk makan siangnya nanti, masih tersimpan utuh di atas meja makan. Hafiza sendiri masih menahan laparnya. Berharap ia bisa makan siang bersama Raka.
Hafiza mendesah panjang. Ia perlahan bangkit dan melangkah keluar rumah. Matahari bersinar terik. Tak ada satupun orang terlihat di luar sana.
Hafiza menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. Saat-saat sendirian seperti itu, ingin sekali ia pulang ke rumah orang tuanya walau hanya sampai setengah hari saja. Ia juga sudah meminta ijin Raka melalui pesan singkat, tapi seperti pesan-pesan yang lain, belum ada jawaban dari Raka. Hafiza turun perlahan dari rumahnya. Menengok ke tetangga sebelah, semua pintu rumah mereka tertutup karna mereka masih bekerja di sawah-sawah mereka. Kembali Hafiza mendesah panjang. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengisi waktunya. Hari yang benar-benar membosankan.
Hafiza berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah. Karna perutnya sudah sangat lapar, ia langsung saja menuju dapur dan mulai menyantap makanan di depannya. Masih ada sisa ayam yang ia simpan di kulkas, ia akan menggorengnya nanti jika Raka benar-benar sudah pulang.
Udara siang ini terasa panas, tapi kipas angin besar yang berputar di atas langit-langit sebuah kafe, kira-kira seratus meter dari kantor tempat Raka bekerja, membuat suasana sedikit lebih sejuk.
Raka masih menikmati minuman yang ia pesan Bersama Delisa. Sepulang dari kantor tadi, ia memberanikan diri mengajak Delisa jalan-jalan sambil melepas penat. Jalan-jalannya di dekat kantor saja. Dan ketika melewati sebuah kafe, Delisa mengajaknya masuk dan memesan minuman.
Sejak pertemuannya tadi malam, Raka merasa tak akan sulit mendekati Delisa. Setiap kali bertemu, Delisa selalu lebih dulu menyapanya, tentunya dengan gayanya yang manja dan cenderung memikat.
Seharusnya siang ini ia pulang, mengingat semalaman ia lembur sampai larut malam. Tapi ketika ia hendak berbenah, Delisa datang dan mengajaknya jalan-jalan. Katanya sih sebentar, namun hingga hampir jam tiga siang, Delisa masih saja terlihat bersemangat. Bahkan ia kembali memesankan untuknya kopi dan mengajaknya karaoke dan berduet. Dia belum membalas beberapa pesan singkat yang dikirim Hafiza. Jangankan membalas. Membacanyapun ia belum sempat. Ia merasa Delisa terlalu cantik untuk diabaikan. Masalah Hafiza, ia masih punya alasan training jika nanti ia menanyakan keterlambatannya pulang.
“Kakak pulangnya besok aja ya, nanggung, sebentar lagi malam, lagian kalau Kakak pulang, Delisa gak punya teman di sini,” kata Delisa. Dagunya diletakkannya menempel di atas meja sembari menatap Raka manja. Raka mengurut-urut keningnya dengan jari tangan kanannya. Melihat wajah manja Delisa, ia jadi tak tega menolaknya.
“Emmmh…, bagaimana ya,”kata Raka pelan. Delisa menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Bibir tipisnya di gigitnya sebelah dan tatapan mata menantangnya tak berkedip menatap Raka. Dada Raka berdebar. Gairah laki-lakinya bangkit. Ia membalas menatap mata Delisa penuh gairah.
“Tapi, masalahnya aku gak bisa tidur di kantor terus, malu, punya rumah dan istri kok tidur di kantor,” kata Raka setelah untuk beberapa saat saling pandang dengan Delisa.
“Punya istri tapi gak bisa nyenengin kamu, ya percuma saja,” kata Delisa genit, seperti mengingatkan cerita Raka tadi pagi di kantor. Raka terpaksa berbohong tidak mendapatkan pelayanan batin yang memuaskan dari Hafiza, agar ia bisa mendekati Delisa dengan mudah.
“Iya, tapi masalahnya aku malu kalau harus tidur di kantor lagi,” kata Raka mengulangi kata-katanya.
“Gampang, di kos-kosan ku saja,” kata Delisa dengan berbisik. Raka menoleh ke sekelilingnya, takut ada yang mendengar.
“Ah, kamu becanda, masa aku nginep di kos kamu, dilihat orang, kita bisa digerebek,” tukas Raka setengah berbisik.
Delisa menoleh. Setelah yakin tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraannya, ia memajukan wajahnya lebih dekat ke Raka.
__ADS_1
“Aman kok, kamu bisa masuk lewat belakang. Di belakang kosku ada kebun, jadi, aman dan gak ada orang yang akan melihat. Kan Cuma numpang tidur,”
Raka terdiam. Tingkah Delisa, cara bicaranya, tatapan matanya dan bibirnya yang tipis menggoda, mengalahkan akal sehatnya. Duduknya mulai tak nyaman. Tingkah genit Delisa benar-benar telah mengalahkannya.
“Sekarang, kamu balik dulu ke kantor, ambil tasnya. Setelah maghrib nanti kamu aku tunggu di sini lagi,” kata Delisa membuyarkan lamunan Raka. Raka mendesah, tersenyum dan mengangguk kecil.
*
*
Adzan maghrib terdengar berkumandang. Hafiza yang sejak jam lima sore tadi menghabiskan waktu menunggu Raka di rumah mertuanya, akhirnya pamit. Beberapa kali ia menoleh ke arah jalan ketika sesekali sepeda motor lewat. Berharap salah satu dari sepeda motor itu adalah milik Raka, tapi ia hanya bisa mendesah. Tidak ada tanda-tanda Raka akan pulang. Baterai hp nya mungkin sudah penuh setelah seharian tadi ia menghabiskan waktu menunggunya dengan bermain game sehingga baterai hp nya habis.
Hafiza mencabut charger dari hp nya setibanya di dalam rumah. Ia mulai memeriksa nomor dalam kontak hp nya.
Hafiza mendesah kesal. Raka belum juga mengangkat hp nya setelah dua kali percobaannya. Raka semakin membuatnya gelisah setelah tadi beberapa sms yang dikirimnya tak dibalasnya juga. Entah apa yang terjadi dan dilakukan Raka sehingga untuk membalas sms nya pun ia tak sempat.
Hafiza mencoba menelpon lagi. Kali ini Raka mengangkat hp nya, tapi tak ada suara yang terdengar setelah beberapa kali ia mengatakan, halo.
“Kakak dimana sih, pertama kali kerja kok selama ini, kapan Kakak pulang,” Hafiza terdiam. Ia melihat mertuanya berdiri di luar rumah lewat kaca jendela rumahnya. Rupanya mertuanya juga cemas Raka tidak mengabarkan kepulangannya.
“Ibu juga mencari Kakak, dari tadi ia bertanya terus,” sambung Hafiza.
“Goblok!” Hafiza terkejut. Kata-kata itu seperti menghunjam ke jantungnya.
“Maksud Kakak?” tanya Hafiza. Ia mencoba memperjelas. Mungkin kata-kata itu tidak ditujukan untuknya. Mungkin ada teman sekantornya yang mengerjainya.
“Kamu yang goblok.” Nafas Hafiza seperti terhenti. Dadanya terasa sesak. Kata-kata itu memang ditujukan untuknya.
“Bilang saja aku ini masih kerja. Memang seperti ini kalau kerja di perkantoran, harus training dulu. Mau kamu kalau aku gak dapat pekerjaan,” teriak Raka dari seberang. Nafas Hafiza semakin berat. Detak jantungnya lebih cepat. Baru kali ini ia mendengar Raka mengatai-ngatainya goblok dan dengan nada keras seperti itu. Ia merasa tak sanggup lagi melanjutkan pembicaraannya.
“Sudah sana, tidur, dan bilang sama ibu aku lagi kerja, besok aku pulang.” Terdengar Raka menutup telponnya. Hafiza masih tertegun. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Perubahan yang cepat setelah satu malam menghilang dari rumah. Apa yang terjadi di sana, sehingga Raka sekasar itu?
__ADS_1
Hafiza menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Air matanya mulai terlihat mengalir di pipinya.
Treeet…tet!
Terdengar pintu di buka. Bu Raka mendekati Hafiza yang masih menangis. Ia lalu duduk di dekat Hafiza.
“Kenapa kamu menangis Nak, kenapa dengan Raka.” Bu Raka terlihat cemas. Semakin cemas ketika melihat Hafiza semakin sesenggukan dalam tangisnya.
“Jangan buat ibu takut Nak, katakana apa yang terjadi sama suamimu,”kembali bu Raka bertanya sambal memegang pundak Hafiza. Hafiza mengusap air matanya dan menatap bu Raka.
“Kak Raka baik-baik saja Bu, katanya ia masih training, harus lembur lagi,” kata Hafiza masih sesenggukan.
“Tapi kenapa kamu menangis Nak, Raka bilang apa sampai-sampai kamu menangis seperti ini,” tanya bu Raka penasaran dengan kening mengerut. Hafiza menggeleng.
“Tidak ada apa-apa Bu, Hafiza hanya kangen Kak Raka, lama gak pulang,” jawab Hafiza berusaha menenangkan hati bu Raka sambil tersenyum. Bu Raka menatap wajah Hafiza. Ada kepura-puraan yang ia tangkap dari senyum hambar Hafiza. Pasti ada sesuatu yang menyakitkan yang dikatakan Raka sehingga Hafiza dibuatnya menangis seperti itu. Hal yang sering juga ia temukan saat dulu Raka masih Bersama Kasni. Tempramen anaknya yang keras, seringkali membuat Kasni menangis. Tapi ia tidak mau menanyakan lebih lanjut kepada Hafiza. Ia mencium rambut Hafiza lalu bangkit dan pergi meninggalkan Hafiza.
Hafiza menatap lemah ke arah punggung perempuan tua itu. Diamnya saat pergi meninggalkannya, cukup sebagai isyarat bahwa ia tahu apa yang telah terjadi.
Tangis Hafiza kembali pecah saat mengingat kata-kata Raka tadi. Suasana di dalam rumah berubah tak nyaman. Panas. Lebih-lebih saat ia tidak tahu harus mengadu kemana.
*
Malam semakin beranjak larut. Hafiza membaringkan tubuhnya setelah dari maghrib dari tadi ia resah dengan suasana hatinya yang tak menentu. Matanya sembab karna tangis beruntun setiap mengingat perubahan sikap Raka. Tapi Hafiza mencoba menenangkan hatinya dan memvonis dirinya sebagai biang kekasaran Raka. Raka pasti sangat capek dengan pekerjaan lemburnya tadi malam. Ia pasti sudah mengganggu istirahat suaminya sehingga spontan mengeluarkan kata-kata menyakitkan kepadanya.
Hafiza meraih hp nya dan mulai terlihat mulai menulis.
Sementara itu. Saat Hafiza berusaha menenangkan hatinya, Delisa Nampak tertidur manja di pangkuan Raka. Setelah untuk beberapa saat tadi keasyikan mereka diganggu oleh panggilan telpon Hafiza, kini mereka mulai tak sungkan satu sama lain. Layaknya orang yang sudah menjalin hubungan cukup lama, mereka sudah tidak canggung membalas ciuman masing-masing. Awalnya hanya di kening, lama-lama berpindah ke bibir. Setelah itu, mereka mulai membukakan pakaian satu sama lainnya.
Ponsel terdengar bergetar di atas meja. Delisa yang sudah setengah telanjang segera bangkit dan membuka hp.
“Kak, maafkan adik ya, maaf kalau adik mengganggu istirahat Kakak tadi. Kakak hanya kangen Kakak.” Delisa membaca pesan singkat dari Hafiza dengan bibir digerakkan ke sana kemari, membuat Raka tersenyum. Setelah membacanya, Delisa memencet tombol off dan meletakkan hp itu kembali di atas meja.
__ADS_1
“Begini kana man, gak ada yang ganggu lagi,” kata Delisa. Ia lalu meloncat ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas tubuh Raka. Raka menoleh. Stop kontak yang ada di atas kepalanya di jangkaunya dengan tangan dan seketika suasana di dalam kamar menjadi gelap.