JODOH DI SURGA

JODOH DI SURGA
#39


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Faris sudah duduk didampingi Rumaniati di teras rumah. Dengan secangkir kopi di atas meja sampingnya duduk, Faris sibuk membolak-balikkan surat kabar di tangannya. Rumaniati tampak tersenyum sambil menulis beberapa komentar di facebooknya. Sesekali ia menoleh ke arah Faris.


"Itu koran lama Kak," tegur Rumaniati ketika Faris tak menoleh ke arahnya. Faris tersenyum. Ia menoleh ke arah Rumaniati.


"Aku senang baca berita sepak bola walaupun sudah beberapa bulan," jawab Faris. "O ya, Dik, aku mau ke kota sebentar, baterai hp kakak kayaknya sudah gak bisa digunakan lagi, mau beli yang baru," sambung Faris.


"Adik ikut, boleh," pinta Rumaniati. Faris tersenyum sembari menganggukkan kepala. Rumaniati membalas tersenyum. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah ponselnya. Tangannya yang putih sibuk menggeser layar ponselnya. Dahinya tampak mengerut. Ia mengangkat ponselnya hingga lebih dekat ke wajahnya.


'Seorang istri di jerowaru lombok timur membakar hidup-hidup suaminya, sang istri masih buron."


"Kak, kayaknya ada warga Kakak masuk berita nih." Rumaniati menoleh ke arah Faris setelah membaca tautan baru di beranda facebooknya.


"Jerowaru luas Dik," kata Faris tanpa menoleh.


"Ini ada lagi...," Rumaniati memperbesar tampilan di layar ponselnya. "Wajah istri pembakar suami..., Kak coba lihat deh, mungkin saja Kakak kenal orang ini," lanjut Rumaniati. Dia kembali memperbesar tampilan photo dalam ponselnya. Ia lalu memperlihatkannya kepada Faris. Dengan masih memegang koran di tangannya, ia menoleh. Kening Faris mengerut. Koran di tangannya di buangnya dan segera mengambil ponsel di tangan Rumaniati. Faris memijit matanya keras. Jari jempol dan telunjuk tangan kanannya bergantian memperbesar dan memperkecil gambar dalam ponsel. Wajahnya seketika berubah pucat. Rumaniati yang menangkap perubahan tiba-tiba Faris itu segera memegang tubuh Faris. Ia terlihat cemas.


"Kak, ada apa Kaka," kata Rumaniati sambil menggerak-gerakkan tubuh Faris. Ponsel di tangan Faris terlepas dan jatuh di lantai. Ia terdiam dengan tatapan hampa. Rumaniati semakin cemas dan kebingungan.

__ADS_1


"Kak, katakan, apa yang terjadi Kak," Rumaniati kembali menggoyang-goyangkan tubuh Faris yang tak bergeming seperti patung. Rumaniati menangis. Melihat Faris tak meresponnya, ia bangkit dan segera masuk ke dalam rumah. Tak ada siapapun di dalam rumah. Ayah dan ibunya sudah pergi ke rumah salah satu kerabatnya sehabis sarapan tadi. Rumaniati benar-benar bingung. Ia kembali menemui Faris. Kali ini ia duduk bersimpuh di depan Faris. Ia kembali menggerak-gerakkan kedua tangan Faris untuk menyadarkannya.


Faris tersadar dan gelagapan. Ia menoleh kesana kemari seperti orang kebingungan.


"Hafiza, aku harus mencarinya." Faris bangkit. Rumaniati yang masih bersimpuh hanya bisa menatapnya tercenung. Ia melongo ketika Faris meninggalkannya masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama kemudian, dilihatnya Faris keluar dengan kunci motor di tangannya.


Rumaniati segera bangkit dan mengejar Faris. Ia merangkul tubuh Faris dari belakang. Faris terdiam.


"Jangan buat aku cemas Kak, ceritakan aku, apa yang terjadi." Pelukan Rumaniati semakin erat.


Faris menundukkan kepalanya. Ia baru sadar telah membuat bingung Rumaiati. Perlahan ia melepaskan tangan Rumaniati dan berbalik. Ia menghapus air mata di wajah Rumaniati. Rumaniati mendongak menatapnya.


"Biarkan aku mencarinya Ruman," sambung Faris. Rumaniati melepaskan pegangan tangan Faris. Melihat tatapan Faris penuh harap, Rumaniati menghapus air matanya dan mengangguk. Faris terlihat begitu cemas. Ia tak mungkin menahan Faris. Walaupun ia masih haus kebersamaan dengannya, ia harus mengijinkannya.


"Pulanglah cepat, Kakak menemukannya atau tidak, aku ingin Kakak sudah ada di rumah sebelum malam," kata Rumaniati. Ia menundukkan kepalanya lemah. Faris tersenyum. Ia mencium kedua punggung telapak tangan Rumaniati kemudian bergegas menaiki sepeda motornya.


Rumaniati menatap lemah kepergian Faris. Dia harus mengalah dan memaklumi bahwa Faris memang seharusnya pergi mencarinya sepupunya, karna wanita itu termasuk salah satu keluarganya. Rumaniati melangkah lemah menuju kamarnya. Setelah untuk beberapa saat ia hanya berdiri melihat ranjang di depannya, perlahan ia menjatuhkan tubuhnya dan terbaring dalam posisi telungkup. Hari ini ia akan merasa kesepian. Kesempatan untuk berdua hari ini di rumah hilang sudah. Mengingat apa yang ia rasakan tadi malam, ia ingin mengulanginya lagi hari ini. Tapi sudahlah, toh Faris akan pulang lagi sebelum gelap. Semoga saja Faris memperhatikan ucapannya tadi.

__ADS_1


*


Faris terus menggeber sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Rasa cemas dan marah bercampur menjadi satu. Ia cemas karna kejadian itu sudah berlalu dua hari yang lalu. Ia marah, karna tak ada seorangpun yang memberitahukannya kejadian itu. Pantas saja pak Abbas tidak menghadiri akad nikahnya. Acara penting yang tak seorangpun dari keluarga dekatnya ia inginkan tidak hadir. Setidak-tidaknya, ia bisa menunda pernikahannya dengan Rumaniati beberapa hari dan fokus mencari Hafiza. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Hafiza saat ini. Kemana dia dan dimana ia bersembunyi.


Faris memelankan laju sepeda motornya. Beberapa gambar yang ia lihat selama perjalanan di tempel di batang-batang pohon mahoni di tepi jalan.


Faris menepikan sepeda motorya di depan pohon mahoni. Ia menatap lembaran kertas berisi gambar seorang wanita berjilbab ungu yang ditempel di pohon itu. Air mata Faris menetes. Itu memang gambar Hafiza. Dia sudah jadi buronan, dan tentu orang-orang kini sedang berusaha mencarinya. Dia tidak akan aman. Jika Selebaran itu tertempel begitu banyaknya di tepi jalan, begitu juga di media sosial, orang-orang akan mudah mengenalinya. Yang ia khawatirkan adalah keluarga Raka. Mereka pasti menyimpan dendam dan akan membunuh Hafiza secara diam-diam.


Faris mencabut kertas itu lalu kembali menaiki sepeda motornya. Setiap menemukan gambar Hafiza yang tertempel, ia akan mencabutnya. Itu yang dilakukan sepanjang perjalanannya. Dia menyusuri setiap pohon untuk memastikan tidak ada lagi gambar Hafiza yang menempel. Faris marah karna di bawah gambar Hafiza tertulis; pembunuh berdarah dingin.


*


Faris telah sampai di depan rumahnya. Suasana di dalam rumahnya terlihat sepi. Pintu gerbang rumahnya terkunci ketika ia mencoba membukanya.


Faris sejenak terdiam. Ia belum tahu hendak kemana ia akan pergi mencari Hafiza. Faris mendongak lemah ke langit. Panas matahari terasa menyengat. Sudah jam 11 siang.


Faris kembali menaiki sepeda motornya. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk pergi ke rumah pak Abbas.

__ADS_1


*


Sementara itu. Di rumah pak Abbas, nampak pak Abbas, bu Abbas, bu Rahma dan beberapa kerabat dekat mereka sedang berkumpul di teras rumah. Mereka masih memikirkan cara untuk menemukan Hafiza. Beberapa selebaran yang di tempel sepanjang jalan, membuat mereka resah. Pihak kepolisian yang pak Abbas protes terkait selebaran itu telah mengkonfirmasi bahwa bukan mereka yang melakukannya.


__ADS_2