
"Nih aku sudah pinjam sepeda motor Bapak. Ayo kita pacaran? " ajak Imran kepada Salwa.
"Hah, pacaran nya pakai sepeda motor? " Salwa masih bingung dengan niat suaminya. Namun tetap ia turuti kemauannya.
"Loh, kalian mau kemana? " Tanya Salma.
"Jalan-jalan sebentar Kak, Mas Imran mau melihat sekeliling kampung. "
"Oh Iya, hati-hati. " Salma melambaikan tangannya.
"Kami berangkat, Assalamualaikum, " Ucap Imran.
"Ayo naik, pegangan, peluk dipinggang Mas. Ayo. " tangan Imran menarik tangan Salwa untuk memeluknya.
"Malu ah. " Salwa ragu untuk meletakkan tanggannya ke pinggang Imran. Yang ada ia letakkan di pegangan besi sepeda motor saja.
"Ngapain malu, ini aku suami mu sendiri. Ayo, nanti jatuh lo. " tangan Imran memaksa tangan Salwa untuk memeluknya erat kembali.
Imran senyam senyum dari kejauhan karena ia memaksa Salwa untuk berpegangan ke tubuhnya.
"Mereka itu kenapa sih? " Salwa bingung melihat mereka dari kejauhan.
"Biasalah, pengantin baru. Malu-malu kucing. Kaya kamu dulu ituuu... " Goda Zainal kepada Salwa.
"Apaan sih. Yang ada kamu tuh yang terlalu hiper aktif dulu tu. Tapi kita kan pacaran ya dulu, mereka kan dijodohkan. Hehe, lucu juga. "
"Hayoo. Mikir apaan? "
"Apaan sih. Awu ah gelap. "
"Kita pacaran juga yu yang? " ledek Zainal kepada Salwa yang sudah lebih dahulu meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
Sepeda motor sudah melaju pelan, debur angin menghembus ke wajah mereka. Mengelilingi kampung dan pergi melintasi pasar. Kadang sesekali Imran menginjak rem mendadak. Membuat Salwa terkejut dan mencengkram ke paha Imran. Imran menyukai sensasi itu.
"Ayo sayang peluk dengan erat. Aku mau melaju dengan cepat. "
"Jangan cepat Mas. Takut. "
Semakin Salwa merasa takut. Semakin ia gas, maka semakim erat pula pelukan Salwa. Imran melihat wajah Salwa dari balik kaca spion. Ia terkekeh melihat istrinya ketakutan.
"Wes, aku sudah pelan. Tapi tetap yaa pelukannya yang erat. " Pinta Imran karena ia betah dipeluk mesra dari belakang oleh istrinya.
Nikmat pacaran sembari berboncengan pakai sepeda motor itu sangat mesra dibanding naik mobil. Semakin di rem mendadak semakin mesra pelukannya.
"Loh, kita kemana Mas. Ini sudah jauh lo dari kampung. " Salwa kebingungan saat melihat jalanan yang dilewati sudah melewati batas kampungnya.
__ADS_1
"Ga papa kan kita jalannya agak lebih jauh. Gini nih namanya pacaran. Kamu suka gak? "
"Hehe, suka Mas. Jadi pacaran itu jalan-jalan ya. "
"Ga juga sih, kadang sayang sayangan gitu. "
"Hah! Apa Mas? "
"Sayang-sayangan! "
"Hah? Ga kedengaran. Alang? Apa itu alang?"
Debur angin membuat suara Imran tidak terdengar.
Imran menghentikan sepeda motornya ke sebuah tempat wisata, Danau Biru.
"Lihat, indah bukan. Kamu pernah kesini? "
"Belum Mas. Wow birunya danaunya. "
"Karena itulah disebut Danau Biru. Ayo kita nyeberang dengan perahu. "
"Aku takut, " Salwa memundurkan badannya, ia tidak ingin menaiki perahu kecil itu.
"Jangan takut, ada Mas kok. "
"Tenang, ga bakal jatuh. Kalo pun jatuh, aku yang akan menolong mu. "
Imran pun memesan dua tiket untuk penyebrangan dengan perahu kecil. Mereka naik dengan perlahan dan menyusuri danau yang bening sebening kaca. Bahkan terlihat rumput di dalam air dan ikan-ikan berenang.
"Ini kemana arahnya Pak? " Tanya Imran.
"Oh ini Mas nya ke pulau sebelah. Disana banyak wahananya, ada kolam renang, ada perahu angsa, dan macam-macam. Gratis Mas, nanti pulangnya aja lagi bayar buat naik perahu. Disana ada toilet, mushola, villa dan jualan makanan juga. Komplit Mas. "
"Wah keren ya. " Imran kagum dan memberi semangat kepada Salwa untuk berani menyebranginya. Akhirnya Salwa manut dengan kegigihan rayuan Imran. Mereka menyebrang.
20 menit di perahu mereka pun sampai ke pulau seberang, ternyata betul apa yang dikatakan Bapak tadi. Banyak orang yang mencoba segala macam wahana.
"Kamu mau makan apa? Atau berenang? "
"Ga bawa baju, makan aja ya! itu ada jagung bakar sama kentang goreng dan es krim. "
"Boleh, ayo kita beli. Setelah itu kita ke sana. " Imran menunjuk sebuah gazebo kecil dibalik pohon.
Setelah mendapatkan jagung bakar, kentang goreng dan 2 pop ice serta es krim. Mereka pun pergi ke gazebo.
__ADS_1
"Jadi gini ya pacaran! "
"Ya kurang lebih nya begini. Asyikkan. "
"Iya asyik. Salwa suka Mas. Sering-sering ya kita pacarannya. " Dengan polosnya Salwa meminta itu kepada Imran. Imran hanya senyum-senyum saja melihat tingkah polos istrinya.
Mereka duduk berdua dan memandang hamparan danau biru. Es krim mereka makan.
"Itu Sal, ada es krim di bibir mu." Imran menunjuk ke arah bibir Salwa.
Salwa membersihkan di area bibir yang berbeda.
"Sini aku bersihkan, " Ucap Imran mendekati Salwa. Bukan jari Imran yang membersihkan bibir Salwa. Tetapi kecupan mesra dibibir Salwa yang Imran berikan. Sontak membuag Salwa tersipu malu.
"Kenapa? " tanya Imran melihag istrinya menjadi malu.
"Malu dilihat orang. " Salwa memandang ke sekeliling mereka.
"Ayo mana? Ga ada kan orangnya. Gazebo ini sepi. Sini duduk di pangkuan Mas," Ajak Imran sembari menarik tangan Salwa. Salwa pun menuruti kemauan Imran.
"Kamu mau gak es krem rasa stoberi? "
"Boleh. Mana? " pinta Salwa mau mengambil es krem Imran.
"Eeitssss... Tunggu dulu. Aku akan memberikan mu dengan cara yang paling enak. Pejamkan dulu mata mu. " Imran mengambil Es krem Salwa dan meletakkannya.
"Hemmm." Salwa sudah memejamkan matanya.
Imran langsung mengecap es krem stoberinya dan menyimpannya di dalam mulutnya lalu ia kecup dan lumatkan ke bibir Salwa. Ia berikan es krem stoberi itu dari mulut ke mulut. Sontak awalnya Salwa terkejut merasakan dingin yang langsung masuk ke dalam mulutnya dan ditambah ******* mesra Imran. Salwa mengimbanginya.
DUAARR... Guntur menggelegar mengejutkan mereka yang tengah terbua, hujan tiba-tiba datang dengan deras. Dan mereka terjebak di gazebo.
"Gimana Mas kita pulang? "
"Tenang saja, nanti juga bakal teduh. Kita ga sendiri kok disini. "
DAAARRRR...
Kilatan dan guntur menggelegar membuat Salwa terkejut dan ia merunduk ketakutan.
Imran langsung memeluk bahu Salwa. "Tenang, ada Mas. "
Hawa semakin dingin, hembusan angin mendebur-debur. Namun Imran merasakan belum menuntaskan ciuman mesranga. Dia melihat wajah ketakutan Salwa seakan cantik natural. Dia memandang nya dan langsung menge_cup bibir Salwa di tengah deras air hujan. Sekaligus mengalihkan ketakutan Salwa dengan ketenangan yang ingin dia berikan.
Gazebo mereka terlindung oleh pohon. Sehingga para pengunjung lain tidak melihat mereka. Dan lagi pula pengunjung lain sibuk mencari tempat berteduh.
__ADS_1
Mereka berdua larut dalam buai kemesraan, tidak ada lagi takut pada Salwa, yang ada debar jantungnya karena Imran melakukan buaian mesra nya di tempat umum.