Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 18 Kapal Tanpa Nahkoda


__ADS_3

Salwa mencoba membuka kelopak matanya, pandangannya nanar mengelilingi ruangan yang serba putih. Ia tidak mengenali dimana ia berada.


"Dimana.., " ucap Salwa lirih.


"Kau sudah bangun Salwa? Ini aku, Firman. Kamu berada di ruang kesehatan. Ini ada teman mu juga."


Firman menjelaskan dengan sangat rinci. Salwa mencoba mengingat kembali kenapa ia sampai terbaring disini.


"Aah aku berjalan mau memasuki kampus. Setelah itu aku tidak ingat lagi. Jadi, aku pingsan? " Tanya Salwa pelan.


"Iya, untung ada Kak Firman. Aku sampai histeris saat melihat kamu jatuh, kamu kenapa Sal? Kamu lupa sarapan? Atau kenapa sih kamu? " Mirna yang selalu menjadi teman Salwa di kampus langsung memborbardir Salwa dengan pertanyaannya.


"Aku ga papa Mir. Makasih ya. Kamu juga, terimakasih ya sudah menolong ku yang ke dua kali. " Salwa melirik ke arah Firman yang berdiri tidak jauh dari Mirna.


"Dua kali? Jadi kalian. "


"Hanya kebetulan saja, " Sahut Firman menimpali. Ia tidak ingin Mirna mengetahui lebih jelas. Jika Mirna tidak ada, ia sudah pasti akan meminta penjelasan tentang anak kecil yang memanggilnya Ibu.


"Apa kau sudah merasa baikan? " Tanya Firman kembali.


"Lumayan." Salwa mencoba bangun dari rebahannya.


"Aku harus segera pulang, banyak yang ingin aku kerjakan. "


"Apaan sih kamu, badan sakit begini mau kerja apa to kalo pulangm istirahat saja dulu. " Mirna mencegah Salwa.


"Tapi aku harus mencari Mas Imran. Dia menghilang. " Salwa mencoba menjelaskan kepada Mirna.


"Tapi kan kamu lemah. Bagaimana bisa mencarinya. Lagian buat apa mencari ojek mu itu. " Mirna yang tidak tahu kalau Imran adalah suami Salwa menyebut nya Ojek langganan Salwa.


Mendengar sebutan ojek langganan Firman terkejut. Dia bingung dengan nama Imran ojek atau Imran suami Salwa.


"Tunggu Sal, Mas Imran itu siapa kamu sih? " Firman dengan penasaran langsung menanyakannya. Karena ia sudah tidak sanggup menahan rasa keponya dia. Apalagi ini menyangkut hatinya. Malam tadi dia sudah tidak karuan tidur akibat sebutan "Ibu" yang dilontarkan oleh Ammar.


Mirna dengan bengong melirik ke arah Firman, lalu ia sadar. Imran si ojek itu pasti spesial di mata Salwa.


"Iya! Siapa Mas Imran ojek mu itu, sampai-sampai kamu bela-belain begini? "

__ADS_1


Salwa terdiam dan menunduk malu. Ada perasaan malu jika ia mengakui Imran adalah suaminya. Bukan lantaran siapa Imran, tapi status menikah nya itu. Sedangkan teman-teman kampusnya yang lain. Semua masih single. Ada perasaan minder di hati Salwa karena ia menikah terbilang sangat dini. Ia takut gosip menyebar.


"Ayo jawab. " Firman sudah tidak sabar menunggu jawaban Salwa.


"Dia suami ku, " Sahut Salwa pelan.


Seketika mendengar itu, Firman terduduk kecewa di sofa. Dan Mirna menangkupkan kedua tangannya ke mulutnya yang terbuka lebar.


"Jadi, dia suami mu. Maaf Sal. Aku bilang dia ojek kamu. " Mirna merendahkan suaranya tanda menyesali perkataannya.


"Tidak apa-apa. " Salwa melepas infus di tangannya.


"Apa kau yakin? Memangnya kemana suami mu Imran? Sampai-sampai kau panik, " tanya Firman penasaran.


"Entahlah, dia tidak ada kabar dari kemaren. Ponselnya tidak dapat hubungi. Aku takut dia kenapa-kenapa. Tapi... " Salwa menjadi ragu.


"Takut kenapa? "


"Aku hanya ingin memastikan. Jadi aku ingin pergi ke rumah Kakak ipar ku. "


"Baik, jika kamu bolos kuliah. Aku juga, aku tidak bisa melihat mu seperti ini. Kamu aku bonceng. " Mirna dengan semangat yang tulus menolong Salwa.


Salwa dan Mirna memandang Firman dengan penuh keheranan. Karena dipandangi 2 perempuan Firman menjadi salah tingkah.


"Memangnya kenapa? Tidak boleh?! "


"Tidak. Boleh saja. Oke lah. " Mirna menjawab sambil berpaling ke arah Salwa dan mengedipkan matanya kepada Salwa.


Salwa dibonceng Mirna, dan Firman mengikuti mereka. Sekaligus berjaga jaga jika Salwa terasa masih pusing. Dia mengawasinya dari belakang. Meski hatinya hancur di hari kelabu ini. Tapi ia tidak bisa meninggalkan begitu saja wanita yang baru pingsan sedang mencari suaminya.


"Hemm. Suami nya hilang, auto janda. Boleh lah ku tunggu janda mu, " Batin Firman senyum senyum saat melihat kibaran jilbab Salwa diterpa angin motor. Lumayan cepat laju motor dibawa Mirna. Kibaran jilbabnya seakan melambai-lambai menggoda Firman.


"Coba dia jadi istriku, pastinya ia akan aku bonceng setiap hati. Dasar Imran aneh itu kok bisa-bisanya meninggalkan istri yang cantik seperti Salwa. Pengen ku layangkan pukulan baja ku ini. " Gemeretak gigi Firman menahan kesalnya.


Setengah jam, jarak tempuh yang mereka lalui menuju rumah Ipar Salwa dari kampus.


"Loh kenapa Salwa? Kenapa kamu pucat? " Fatma datang langsung menyambut tangan Salwa dan memapahnya.

__ADS_1


"Ayo, ayo masuk. Kalian temannya kuliah ya. "


Mereka duduk di teras, Fatma langsung masuk dan membuatkan teh hangat dan menyuguhkan nya kepada mereka. Terutama pada Salwa yang wajahnya kuning seperti mayat hidup.


"Kamu kenapa Sal? "


"Loh Salwa, Kamu sakit ya? Imran belum pulang? " Amir datang dan melihat wajah adik iparnya yang pucat pasi.


"Habis pingsan tadi. Tapi dia bersikeras mau bertemu kakak. " Mirna menjelaskan sembari mendorong cangkir teh panas kepada Salwa agar ia meminumnya.


"Anu Kak, Boleh bicara empat mata saja. "


Amir mengangguk dan membawa Salwa ke dalam rumah bersama Fatma. Mereka bicara bertiga.


"Apa ya yang mereka bicarakan Mir? " Tanga Firman penasaran. Karena Salwa lumayan lama berbicara, apalagi terdengar samar samar ada isak tangis.


..."Ga tau juga Kak. Apa mereka... " Mirna memberi kode dengan jari telunjuk di silang seperti simbol lagu anang....


"Opo maksud mu? Ga ngerti aku Mir."


"Waduh, anak gaul masa ga tahu Kak. " Wajah Mirna sedikit nyinyir dengam mulut di majukan beberapa inchi.


"CERAI, " sambung Mirna kembali dengan memelankan suaranya. Ia tidak ingin kata itu terdengar. Apalagi ini tentang hubungan keluarga temannya sendiri.


Di dalam rumah. Salwa, Amir dan Fatma terlihat sangat serius. Sesekali Salwa terisak. Dengan sekuat raga Salwa sudah menahan agar tidak meneteskan air mata dan isakannya agar tidak muncul. Namun apalah daya, hakikatnya jiwa perempuan. Pastilah tidak jauh dari air mata. Karena perempuan adalah makhluk yang sangat lembut.


"Kamu yang sabar. Kita tidak tahu apa yang di alami Imran. Jujur, setahu ku. Adik ku tidak seperti itu Sal. Baru kali ini seperti ini. Tentang masalah hutang itu. Jika mereka menagihnya. Aku bisa membantu sedikit saja. Ya, uang tabungan kami pun tidak banyak. "


"Jika besok Imran belum kembali, baiknya kita laporkan ke pihak berwajib saja, " Usul Fatma.


"Iya, ada baiknya seperti itu. Aku takut adik ku dalam bahaya. " Amir terlihat merubah wajahnya yang datar sekarang tampak khawatir.


Bersambung


...☘️☘️☘️...


Jangan lupa like, subcribe dan beri bintang 5.

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya kisah Salwa dan Imran.


__ADS_2