
Mereka berdua mematung. Seakan waktu terhenti. Mereka berdua masih dalam posisi berpelukan. Semuanya bak terhenti, layaknya tombol pause di tekan di sebuah remote.
Orang lain di Bus tidak memperhatikan, sibuk dengan masing-masing dunia dan bergelut dalam sumpeknya berjejal satu sama lain.
Detak jantung mereka beradu irama, mereka saling terkesima dalam pelukan itu.
Tuuutttttttt.... Telolet... Teloleettt. Teteloleett...
Bunyi klakson sangat nyaring khas dengan suara yang dimodifikasi sedemikian rupa. Karena klakson itu mereka tersadar, namun Fir terlalu betah memeluk pujaan hatinya.
"Fir..., " ucap Salwa pelan. Mendorong pelan tubuh Fir agar melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku. Aku, aku tidak sengaja. Tadi itu... "
Salwa tidak menyahut, dia hanya bisa memalingkan wajahnya memandang toko yang dilewati dari balik kaca bus. Wajahnya memanas menahan rasa malu, pipinya memerah.
Firman melihat wajah Salwa di pantulan kaca Bus. Firman tersenyum melihat reaksi Salwa yang seperti malu-malu kucing.
"Tunggu! " Salwa berbalik dengan cepat bertepatan Firman menunduk.
Cup!
Bibir Salwa mendarat manis di pipi Fir. Sontak Fir terdiam, sedangkan Salwa langsung berbalik dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Wah, terimakasih Tuhan. Mimpi durian runtuh kah malam tadi, kalo rezeki mah ga kemana. Adaaaa aja. Waduh, lembutnya bibir mu Sal. Kenapa sebentar sekali sih. " Batin Fir seakan tidak rela moment itu hanya sekejap saja.
Fir mengelus pipinya dengan senyuman yang full. Dia seakan memenang kan lotre. Cukup lama mereka saling terdiam tak bersuara. Mereka menjadi kikuk satu sama lain. Sampai Bus berhenti ketempat tujuan mereka, kampus.
Dengan segera mereka keluar dari Bus. Salwa lebih dulu berjalan dengan anggun. Sedangkan Fir mengiringi setiap langkahnya. Ia seakan belum move on dari moment dimana si merah delima mendarat di pipinya.
"Salwa... Tunggu. " Fir menarik tangan Salwa, sehingga ia terhenti dan berbalik. Mereka saling berhadap hadapan.
"Aku ingin bicara. "
"Tentang apa? " Salwa tidak dapat memandang sorot mata Fir. Matanya seakan menusuk tubuh Salwa, ia langsung tertunduk malu. Ada getaran yang tidak biasa di hati Salwa.
"Aku suka pada mu, aku mencintaimu Sal, Mau kah kau menjadi pacar ku? " ucap Fir memandang Salwa dengan lekat. Tak ingin sedikit pun ia lepaskan pandangannya dari Salwa.
Salwa tersenyum.
"Aku Janda Fir, aku tidak ingin berpacaran lagi. Lagi pula aku masih dalam masa iddah. Jika kau serius! tunggu aku, lalu sah kan aku jadi milikmu. "
Salwa berlalu pergi setelah mengucapkan itu. Meninggalkan Fir yang terdiam meresapi apa yang dikatakan oleh Salwa.
"Ternyata dia memang berbeda. Dia memang anti pacaran, " gumam Fir.
Fir berlari menyusul Salwa.
"Berapa bulan masa iddah mu? "
__ADS_1
"Sisa 2 bulan! " Jawab Salwa mantap lalu pergi meninggalkan Fir.
"Hemm 2 bulan. Jika aku mempersuntingnya, kira-kira aku akan kasih makan apa anak orang. Aku kan belum bekerja. Kuliah ku saja tinggal 1 semester lagi. "
...■□■□■□■□■...
Di kelas.
"Sal, hari ini kita jadwal dosen baru. Pengganti Pak Guntur. "
"Benarkah? Perempuan apa laki-laki? "
"Laki-laki Sal. Tadi aku sekilas melihatnya di kantor, Oh My God, kelas lain udah ketemu. Kita first time nih, adduuuhhh deg deg an gue... "
"Apaan sih kamu Mir! "
"Tampan bangeeeetttt. Alim, Pintar, Cerdas, Rapi, Tipe aku banget Sal. "
"Ya ampun lebay banget kamu itu. Jangan terlalu memuja, nanti malah apa gitu. Hati-hati sudah punya orang. "
"Iya sih, katanya dia sudah punya istri. Tapi ga papa kan meng idolakan. Apalagi katanya mereka belum punya anak, aku mau dong jadi istri ke duanya. "
"Husss kamu! Ga boleh gitu. " Salwa mencubit bahu Mirna.
"Aaauuu... Ga papa kan. Kalo istrinya ridho. " Mirna cekikikan menggoda Salwa.
Gosip tentang dosen baru itu cepat tersebar di mulut para mahasiswi. Apalagi dosennya tampan, maka semakin kilat pula gosip itu tersebar. Hanya Salwa yang baru tahu ada dosen pengganti.
"Assalamualaikum." Suara gagah itu memberikan salam.
Salwa hanya menunduk sambil menjawab salam dosen baru itu. Bukan tidak penasaran, cuman sedikit malas saja Salwa setelah mengalami berbagai macam perlakuan buruk oleh pria.
"Baik hari ini kita belajar mata kuliah saya, oh iya. Perkenalan dulu. Saya dosen pengganti sementara. Nama saya Muhammad Hilman. Kalian bisa memanggil saya Bapak Hilman. "
Sontak butir mata Salwa terbelalak dan langsung memandang sosok pria di depan kelas. Hilman, Nama yang tidak asing baginya. Nama yang pernah terukir di hatinya. Nama yang pernah menghiasi mimpi mimpinya, Nama yang pernah ia sebut dalam doanya, Nama yang pernah membuatnya berangan tentang indahnya masa depan.
HILMAN.
Tangan Salwa gemetar, matanya langsung berbinar melihat sosok pria dihadapannya benar adalah Hilman yang pernah dijodohkan dengannya. Anak Kiayi Ahmad.
Dengan segera ia langsung menundukkan wajahnya, ia tidak berani menampilkan wajahnya.
"Mir, kamu punya masker? "
"Lah, ngapain kamu nyari masker. Covid sudah sirna Say... "
"Aku, aku pilek Mir. Minta dong. "
Mendengar itu Mirna langsung mencari masker di dalam tasnya dan langsung memberikan kepada Salwa.
__ADS_1
"Rentan amat lo sakit Sal? Apa ga minum vitamin biar ga mudah sakit. "
"Iya, nanti Mir. Makasih ya. Aku pakai nih. "
Salwa langsung memakai masker pemberian Mirna dan tidak lupa menyeka bulir air mata yang sempat menetes.
Selama jam pelajaran Hilman, Salwa hanya menunduk saja. Ia merasa tidak karuan, jantungnya penuh dag dig dug tak beraturan. Sulit untuk menjelaskan perasaannya. Dan syukurnya Hilman tidak menyadari sosok Salwa di dalam kelas itu.
"Baik kuliah kita selesai, tugas ini akan di bagi 4 kelompok. Kalian akan mempresentasikannya di depan kelas minggu depan. Ketua kelas, bagi kelompok sesuai absen ya. Jika ada kendala, silahkan hubungi saya. Bapak pamit. Assalamualaikum. " Hilman masih membereskan buku-bukunya di meja.
Para mahasiswa dan mahasiswi pun keluar, begitupula Salwa. Ia dengan segera keluar agar menghindari bertatap wajah dengan Hilman.
"Siapa dia? Aku merasa kenal sosok wanita itu, " Batin Hilman saat memandang sosok wanita yang telah keluar kelas kuliahnya.
"Ah sudahlah, aku harus segera pulang. "
Drrrttttt... ddddrrrttt. Sebuah telpon masuk di handphone Hilman.
"Hallo, "
"Mas sudah kelar kan ngajar kuliahnya? "
"Sudah , ini baru selesai. Kenapa?"
"Pesanannya jangan lupa belikan kurma sama apelnya ya, Abi sama Umi pesan itu. "
"Iya, ga bakal lupa. Wong kamu telpon sama sms juga. "
"Hehe. Iya deh. Jangan lama-lama ya. "
"Iya, Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam. "
Hilman pun keluar kampus dan menuju pusat perbelanjaan. Dia tidak ingin kena omel istrinya di rumah. Dia dengan segera masuk ke market dan langsung menuju tempat penjualan buah.
Dengan cepat Hilman meraih buah kurma dan ia tidak sengaja mengambil kotak kurma yang sudah dipegang oleh tangan lain.
"Ini punya ku! " Protes suara perempuan itu kepada Hilman.
Hilman mematung saat matanya memandang sosok wanita dihadapannya.
"Kamu! " ucap Hilman seakan mengenal sosok dihadapan nya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like, vote dan kasih gift.
Serta tinggalkan jejak kalian di koment🥰
__ADS_1