
Fir memarkirkan sepeda motornya diluar pagar kost.
"Syukurlah. Baru setengah 10. Hehe. Anu Sal. "
Fir terbata, lidahnya seakan terkunci untuk mengatakan maksud hatinya.
"Anu kenapa? Makasih ya sudah di antar. Hati-hati di jalan. " Senyum tulus Salwa kepada Fir.
"Tunggu dulu... ada yang ingin ku katakan. " Fir meraih panggar agar Salwa tidak menutupnya.
"Ayo katakan. Sebentar lagi pagar bakal dikunci. Aku tidak enak dilihat ibu kost. " desak Salwa kepada Fir yang terlihat bimbang dalam mengutarakan maksud hatinya.
"Aku... Aku... Suka. Aku... "
"Cieee yang pacaran. Malam say... Pagar mau ditutup, " Ucap Jessy melewati mereka.
Salwa hanya tersenyum, "Ayo Fir... Aku menunggu! "
"Emmm tidak jadi Sal. Tidur nyenyak ya. Mimpi indah. " Fir mengurungkan niatnya. Dia merasa tidak pantas untuk menyatakan cinta tanpa persiapan apapun.
Fir hanya menunggu Salwa masuk ke dalam kost. Dia melambaikan tangannya. Fir seakan tidak mau berpisah. Sorot matanya selalu memandang Salwa sampai tubuhnya menghilang dari pandangannya.
"Siapa Sal? Pacar baru? " Jessy sengaja bersandar di dinding seakan mengintrogasi Salwa.
"Bukan Kak, kakak tingkat kuliah ku. "
"Ooh, tapi aku lihat dia ada rasa dengan mu. "
"Masa sih ka. Dia hanya menolong ku tadi, karena aku pingsan di kampus. "
"Pingsan? Kamu kurang darah ya. "
"Haha, Vampire kali ka. Aku masuk dulu ya Kak. Badan ku rasa nya lelah sekali. " Salwa sengaja mengalihkan pembicaraannya
...■□■□■□■□■...
Jam 03.00 subuh.
Tok tok tok...
"Sal... Sal... Salwa! " suara perempuan setengah berbisik di balik pintu kost memanggil Salwa.
"Hemmm... jam 3 subuh. Iya, tunggu. Siapa ya? "
Salwa bangun dari tidurnya dan perlahan membuka pintu meski tubuhnya sempoyongan karena bangun tidur yang terpaksa.
"Ka Jes. Kenapa? "
"Ayo sini, aku mendengar suara tangisan di kamar Dinda. Lalu terdengar suara gedebuk gitu. Ku panggil-panggil dia, dia ga nyahut. Bantu aku dobrak pintunya. "
__ADS_1
"Hah, subuh-subuh begini. Apa ga lapor aja sama Ibu Kost. "
"Kelamaan. Aku takut dia kenapa-kenapa. "
Dengan segenap tenaga, dia mencoba mendobrak dengan bahunya bak di film-film. Tetap tidak bisa. Sekuat apa sih cewek.
"Tunggu kak. " Salwa berlari ke depan dan mengambil sebuah batu lalu ia pukulkan ke gagang pintu sampai rusak.
Dengan cepat Jessy mendorong pintu dan menerobos masuk. Benar saja, terlihat Dinda sudah sedang menggantungkan leher nya dengan seutas tali yang di kaitkan di kayu atas. Jessy langsunf memeluk kaki nya agar tidak menggantung.
"Cepat Sal. Aku tidak kuat lagi. Dia berat. "
Dengan cepat Salwa mendirikan kursi yang terjatuh dan berdiri di atasnya untuk memotong tali itu.
BRAKKK...
Tubuh Dinda dan Jessy ambruk ke lantai.
"Dinda... Dinda... Ini aku Jessy. " Jessy sembari memukul wajah Dinda dan membuka matanya serta melepas ikatan tali di lehernya.
"Denyutnya masih ada kak! " Salwa memegang nadi di tangan Dinda.
Dengan cepat Jessy melakukan CRP. Baru saja 1 kali dilakukan.
"Uhuk... Uhuk... " Dinda terbatuk-batuk.
Mendengar batuk Dinda, Jessy langsung terduduk dan tersandar di depan lemari.
"Kau tidak apa-apa? "
"Huuuuu... Kenapa kalian menyelamatkan ku. Aku ingin mati! "
PLAKKKK.
Jessy menampar Dinda tanpa ba bi bu. Dinda terpaku menahan sakit di pipinya.
"Kau gila hah! Bunuh diri di kost ini. Kalau mau mati jangan nyusahin orang. Kalo mati ya mati aja, tapi jangan bundir. Lagian apa sih alasan lo jadi bundir? "
Bukan jawaban, Dinda hanya menangis terisak isak memeluk lututnya.
"Ya udah nangis aja. Ga papa. Tapi besok sudah semangat lagi ya hidup mu. " Salwa mencoba menenangkan dengan pelukannya.
Jessy membuka kotak rokoknya dan mengambil sebilah rokok serta menyalakan nya, ia berjalan keluar kamar dan duduk di depan pintu. Jam 03.30 asap rokok mengepul.
"Kau tahu Din, banyak orang diluar sana yang berjuang untuk hidup. Bahkan mencari sesuap nasi saja susah. Kau dengan gampangnya ingin mengakhiri hidup mu. Masalah apa sih yang membuat mu berfikiran sempit. Apa kau tidak memikirkan keluarga mu yang di tinggalkan. Apa kau tenang disana? Tidak Dinda. Justru kesedihan. Terutama orang tua mu. Kau ingin melihat orang yang berjuang untuk meminta 1 hari hidup? Pergilah ke rumah sakit. Mereka berjuang dengan berbagai upaya. Bahkan menghabiskan harta mereka demi kesempatan hidup besok hari. "
Mendengar nasehat Jessy, Dinda semakin menangis. Benar apa yang dikatakan Jessy. Meski dia dengan tampilan cewek nakal. Kata-kata yang dilontarkannya penuh kebijakan.
"Benar kata Kak Jessy. Jika ada masalah cerita lah dengan kami. Meski aku anak baru. " Jessy duduk di samping Dinda yang masih menangis.
__ADS_1
Dengan perlahan Dinda menyerahkan sebuah benda ke tangan Salwa. Salwa memperhatikan benda itu, jelas ia sangat paham betul benda tersebut.
"Apakah ini alasan mu? " Salwa mengacungkan benda itu.
Dinda mengangguk pelan.
"Lalu, Siapa ? Apa dia mau bertanggung jawab? " Jessy berbalik arah.
"Kurang ajar! " Jessy langsung melemparkan rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Ia sangat geram saat melihat gelengan kepala Dinda.
...■□■□■□■□■...
Pagi Hari.
Jam 08.00.
Fir sudah hadir di pintu pagar. Dia mengirim pesan Wa kepada Salwa agar segera keluar kost.
"Kan aku tidak minta jemput. Aku bisa naik angkot atau bis sendiri. " Salwa berjalan melewati Fir yang masih menunggang motornya.
Salwa tanpa menghiraukan Fir, Gelagapan Fir memutuskan sesuatu. Salwa tidak menggubrisnya. Dia langsung menuju halte bis. Dia meninggalkan Fir yang masih bingung di depan pagar kost.
Bis berhenti. Dengan segera Salwa menaikinya. Sayangnya Salwa tidak mendapatkan kursi sehingga ia hanya bisa berdiri saja dengan jejal nya para penumpang lain.
Tidak masalah bagi Salwa, ia mencari pegangan agar tidak terjatuh jika sesekali bis berhenti. Bisa berjalan, ia melupakan Fir yang ia tinggalkan. Salwa ditengah-tengah para pria, dia terpepet. Salwa merasakan ada yang meraba bongkahan kenyalnya. Ia fikir itu hanya lah sentuhan tidak sengaja. Namun semakin lama ia merasakan remasan yang beraturan.
"Ahh... ! " Salwa terpekik saat remasan itu semakin meraja lela.
"Aaauuu...., " teriak pria berumur 40 tahunan. Seketika Salwa langsung memalingkan wajahnya. Fir telah menekuk tangan pria itu.
"Tangan mesum. Berani sekali kau mencari kesempatan! " teriaknya sehingga semua penumpang memandangnya. Dengan segera pria itu melepaskan cengkraman Fir dan menekan tombol pintu berhenti. Dan dia kabur.
"Fir.. Kau! " ucap Salwa terkejut melihat Fir yang hadir bak pahlawan di hadapannya.
"Kan sudah ku bilang, kau tidak akan aman tanpa ku, " Ucapnya tersenyum.
Dia langsung berdiri menghadap Salwa dan melindunginya dari desakan orang lain. Mata Salwa berbinar menatap bola mata Fir. Ada rasa bahagia memucah di jiwa Salwa.
Ciiiiiitttttttt.... Suara rem Bis mendadak. Tubuh Salwa terdorong, dan Fir langsung sigap memeluknya. Mereka berpelukan tanpa sengaja, wajah mereka sempat bertubrukan dan menyisakan hanya 2 inchi saja.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung mereka berdetak seirama.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan giftnya agar memberikan dukungan. Dukungan kalian sangar berarti. 🥰