Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 23 Percekcokan


__ADS_3

Rosmiati langsung masuk ke dalam ruang perawatan anak nya Salwa. Dia sengaja tanpa mengetuk terlebih dahulu karena ia benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.


Setelah masuk dan mendapati anaknya terbaring di kasur dengan wajah yang kuning memucat, bibir kering, pipi yang menirus dan cekungan mata serta sembab sehabis menangis. Jelas membuat dada Rosmiati menyesak. Sedangkan ipar Fatma nya duduk mengutak atik smart ponselnya.


"Astaghfirullah Salwa. Kenapa kamu tidak bilang kamu di rawat di rumah sakit."


"Ibu... Kok gak bilang mau datang! " ucapnya lirih dan terkejut saat orang yang paling ia rindu telah berada di hadapannya.


Fatma terkejut dan langsung berdiri menyambut, terlihat jelas kepanikannya. Ponselnya langsung ia lepas dan mencoba salim kepada Ibu Rosmiati.


"Bilang, bilang. Kamu yang gak bilang sama Ibu kamu seperti ini. Kamu juga iparnya, kenapa tidak bilang kepada ku Adik ipar mu sakit. "


"Anu bu... Takut ibu khawatir. "


"Justru begini aku jadinya khawatir. Mana Imran? " mata Rosmiati memicingkan matanya seakan menusuk Fatma ke dalam tubuhnya. Tentu saja Fatma bergidik dan menunduk tidak dapat menatap Rosmiati karena jelas merasa bersalah.


Salma langsung mengelus-elus bahu Ibu nya agar memberi kesabaran serta meredakan kemarahan Ibu nya.


"Mana Imran, Fatma! Aku mau jawaban jujur, jangan kau berbohong dan berkelit kepada ku, " teriak Ibu Rosmiati kepada Fatma.


"Bu, jangan berisik. Ini di rumah sakit. " Salma memegang tangan Ibu nya. Baru kali ini dia melihat Ibu nya sangat marah, seumur hidup dia baru melihat kemarahan tertinggi seorang Ibu yang melihat anaknya menderita.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu menjelaskan Fatma! "


Fatma terpojok, dia bingung ingin berbicara sejujurnya atau tidak. Namun ia merasa meskipun menutupi bau bangkai sebaik apapun pasti suatu saat akan tercium juga. Dan ia sudah pasrah.


"Imran pergi Bu. "


"Pergi apa nya, kemana? Ayo jawab se detail mungkin. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku bertindak diluar nalar mu, " ancam Ibu Rosmiati.


"Im... Imran kabur Bu. Dia membawa lari duit orang. kami sudah berusaha mencarinya. Bahkan dia tidak tahu kalau Salwa sedang hamil. "


Bagai tersambar petir menggelegar di dalam ruangan perawatan Salwa. Salwa hanya menangis melihat Ibu nya marah-marah dengan teriakannya. Bukan dari mulutnya membuka rahasia, tapi dari Fatma sendiri yang membongkarnya.

__ADS_1


"Gila kamu ya. Adik Ipar mu menderita begini. Kau tidak memberi kabar kepada kami. Apa ini perintah Hayati Hah. "


"Tidak Bu. Itu, itu hanya pemikiran kami saja. Karena Imran belum ditemukan. Kak Amir masih mencari nya. Tapi Ibu tenang saja. Hutang Imran, kami akan cari kan solusinya. "


"Solusi! Kata mu Solusi. Anak ku menderita FATMA! Cepat telpon Hayati ibu mertua mu itu. Bilang aku sudah berada disini. "


"Bu sabar... "


" Kau juga Salwa menutupi keburukan Imran. Kabur membawa duit orang. Ya Ampun. Coba Bapak mu ikut. Bakal hancur ini ruangan. Begini saja. Salwa kamu ikut aku pulang, "Perintah Ibu Rosmiati dengan tegas. Dia terduduk di lantai mencoba mengambil nafas yang terlahap emosinya.


" Tapi Bu... "


"Aku tidak mau mendengar kata Tapi mu itu. Ini perintah! Salma, bungkus baju adik mu. Zainal, urus biaya rumah sakit ini. Kita pulang, dan perawatan disana saja. Di sana juga ada rumah sakit. "


Zainal dan Salma sibuk dengan perintah Ibu Rosmiati. Salwa pun tidak bisa berkata apapun. Sedangkan Fatma mencoba menelpon Ibu dan Bapak Mertuanya.


Ibu Rosmiati duduk di samping Salwa. Dia juga mencoba menenangkan diri nya yang masih tersulut api emosi.


"Assalamuaalaikum." Suara pria berat datang. Tidak lain adalah Ayah Imran dan Amir datang. Di belakang mereka ada Ibu mertua Salwa Hayati.


"Ibu Besan, saya harap Ibu dapat mengerti keadaan Imran. Kami pun belum mengetahui keberadaannya. Tapi dapat kami pastikan, saya akan menanggung hutang Imran. Salwa tidak akan di ikut sertakan dalam hal hutang piutang. "


"Tentu. Itu jelas, anak sampeyan yang bermasalah. Lihat anak saya Pak. Dia terbaring tak berdaya. Jadi sekarang saya mau bawa Salwa pulang biar full pengawasan saya. Dan sedangkan urusan Imran saya serahkan kepada besan, untuk selanjutnya Pak Mahmud bicara langsung kepada suami Saya. Suami saya belum tahu tentang ini. Saya tidak tahu apa tanggapan suami saya nanti. "


"Tentu Ibu Rosmiati. Nanti biar saya sendiri yang menjelaskan kepada Pak Somad. "


"Asal kami tahu ya, anak aku itu jadi terlilit hutang karena anak mu juga kuliah, " omel Hayati di belakang.


"Jangan macam-macam ya Bu Hayati. Anak mu sendiri yang menjanjikan, kami tidak ada memintanya. Pokok masalahnya ini dia kabur, hutang piutang nya saja dia tidak jelas buat apa. Kenapa kau menuduh karena anak ku. " Balas Rosmiati dengan ketus.


"Yo jelas. Mereka hidup bersama, mana tahu anak mu yang banyak menuntut. Anak zaman sekarang kan banyak maunya. Skincare dan lain-lain lah."


"Sudah-sudah... Hayati, Diam! " Mahmud langsung membentak Hayati sebelum Hayati meneruskan omelannya yang teramat panjang. Tentu saja membuat Hayati terdiam kelu.

__ADS_1


"Ibu, tapi aku kan masih kuliah. "


"Gimana mau kuliah juga jika begini keadaan mu. Kau kira aku tega melihat mu begini. "


"Ini Bu hasil nya, kata dokter Salwa bisa dipulangkan. Dan ini surat rujukannya untuk masuk ke Rumah sakit di kota kita. " Zainal menyerahkan surat rujukan, sekantong obat dan nota hasil pembayaran.


Rosmiati langsung memasukkannya ke dalam tasnya. "Ayo Salma bantu Salwa bangkit. "


"Bu Ros, nanti saya kabari jika Imran sudah datang."


"Kamu kok begitu Pah, kaya anak kita melakukan KDRT saja. Dia lo sakit lantaran ga mau makan saat hamil. "


"Hey Hayati... Imran itu sebagai suami harusnya melindungi. Bukan kabur. Jangan kau anggap remeh masalah ini. "


Ibu Rosmiati berlalu pergi dengan membawa buntalan baju Salwa. Sedangkan Salwa sudah dibawa Zainal dengan kursi roda.


"Sampai hati mertua mu itu Salwa. Kau begini tidak bilang ke Ibu. Biasanya kau selalu cerita. Ini kenapa kamu diam saja. Kau di di ancam mereka ya jadi kaya patung membisu? Tidak terima aku. "


"Sudah Bu... Sudah... Kita kan sudah mau pulang ini. Jangan bebani fikiran Salwa lagi, " bujuk Salma.


Mereka sudah pulang dengan jalan perlahan menuju ke tempat kelahiran Salwa. Meski hati yang tertinggal dan terluka Salwa tidak bisa berkutik lagi karena ia memang merasa bersalah telah merahasiakan semuanya dari keluarganya sendiri. Memang, tempat mengadu dan kembali yang terbaik adalah keluarga.


Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Begitu juga dengan harta yang melimpah. Kalau punya harta banyak tapi tidak punya keluarga, hidup juga akan terasa hampa.


Drrrrrtttt...


Bunyi sms masuk ke ponsel Salwa. Salwa membuka sms itu.


(Aku akan pulang)


Sebuah pesan masuk dari nomor asing.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya buat novel aku, karena kalau sampe novel ini gak lolos. Terpaksa aku bawa pindah, dukungan kalian berharga banget buat aku 😘😘


kalau mau novel ini stay di sini, kasih dukungan dengan like, komentar dan juga gift serta vote . Terimakasih


__ADS_2