Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 32 Kuah Sate Cinta


__ADS_3

"Apaan sih. Lepaskan, aku yang pertama meraih kurma ini. "


Dengan cepat Hilman melepas pegangannya. Dia sangat memperhatikan sosok wanita itu. Ia sangat acuh bahkan tidak mau memandangnya. Lalu ia memanggilnya dan berbincang.


Di rak sebelah rupanya ada Salwa dan Mirna. Salwa tidak sengaja melihat Hilman dan perempuan itu berbincang serius.


"Rupanya, dia menikah dengan nya, " Batin Salwa saat memandang mereka.


"Ayo Sal. Kita ke kasir. "


Setelah mereka selesai membayar, dengan segera Salwa dan Mirna keluar dari market tersebut. Di depan, Mirna dan Salwa berpisah. Karena Mirna sudah dijemput pacarnya.


Salwa berjalan di trotoar unthk menuju halte Bus. Belum sempat berjalan jauh ada seseorang yang memanggil nama Salwa.


"Salwa! Salwa tunggu aku, " Teriaknya dari kejauhan.


Salwa pun menghentikan langkahnya lalu ia memandang siapa yang memanggilnya. Tampak jelas siapa pemilik suara itu, sangat ia kenali itu meski sudah bertahun tidan bertemu.


Bergegas Salwa berbalik arah dan dengan cepat berjalan meninggalkan suara yang masih memanggilnya.


"Tunggu Sal! " Raihnya dipergelangan tangan Salwa.


Dengan segera Salwa menepis agar tangannya bebas dari pegangan perempuan itu. Ia tidak mau berurusan dengannya, Salwa berlari kecil meninggalkannya.


Brummmm... Brummmm...


"Sal, ayo naik! "


Tanpa berfikir panjang, Salwa segera mengikuti titah Firman.


"Salwa! " teriak perempuan itu.


Firman dan Salwa meninggalkannya tanpa perduli. Setengah perjalanan, Fir memelankan laju motornya.


"Siapa dia? Kenapa kau berlari darinya? Apa dia meneror mu? "


"Bukan siapa-siapa! " ucap Salwa pelan.


Fir merasa jawaban dari Salwa yang tidak memuaskan beserta gonggongan cacing dalam perutnya yang tidak berhenti, lalu ia menghentikan motornya di sebuah taman. Mereka duduk di sebuah kursi taman. Dia lalu memesan jajanan yang mangkal di taman itu.


"Aku tahu kamu sedih, bercerita lah jika kamu ingin. Jika tidak, ya tidak masalah juga sih. Tapi, apa kamu ga bosan memendam di hati terus. Kita makan dulu ya, aku lapar. " dia memberikan satu gelas teh es yang segar.


"Terimakasih. Hehe, gimana ya... dia bukan meneror aku kok. Sebenarnya dia teman ku. Namanya Zahrana. "


"Tapi kok kamu lari? kamu berhutang dengannya? Kalo hutang sini aku bayarin. "


"Hahaha, enak saja kamu. Kamu kira aku orang seperti itu. "


"Hehe ya enggak lah, habis kamu kaya gitu. Mana ada lari kabur ketemu teman. " Fir memberikan sepiring sate ke hadapan Salwa. Salwa pun menyambutnya dengan senyum kecut karena menahan sebak di dadanya karena teringat perlakuan Zahrana.


"Loh, kenapa mata mu merah? Kamu sedih, nangis? Ayo cerita kepada ku. "


"Enggak kok. Aku kelilipan. "

__ADS_1


"Mana, sini aku tiupkan, " sahut Fir langsung berjongkok dihadapan Salwa dan mencoba menatap matanya.


Tindakan spontan Fir malah membuat tangis Salwa semakin menjadi. Air matanya jatuh ke atas sate.


"Hiks... Maaf Fir. " Salwa langsung menyeka air matanya dengan jilbabnya.


"Nih... " Fir menyodorkan sapu tangannya kehadapan Salwa.


Salwa langsung menyekanya. Fir duduk kembali di samping Salwa dan memakan satenya. Dia tidak ingin memaksa Salwa kembali untuk bercerita. Ada sesuatu yang menghalanginya.


"Sebenarnya, dia sahabat ku Fir. Tapi, dia memfitnah ku sehingga aku dikeluarkan dari pondok. Bahkan aku harus mengulang sekolah ku ke paket C. Jika tidak aku tidak bisa kuliah. "


"Jahat sekali. Alasannya apa? Iri? "


"Dia menyukai seorang ustadz yang juga Anak Kiayi dan sudah dijodohkan dengan ku. "


"Lalu, "


"Ya tentu saja perjodohan itu batal. Dan aku dinikahkan dengan mantan suami ku dengan proses perjodohan kilat. Tapi sayangnya aku menjadi janda begini. Aku malu Fir. "


"Buat apa malu? Bukan kamu yang bersalah. Harusnya dia yang menjadi malu bertatap wajah dengan mu karena memfitnah mu hanya untuk cinta. "


"Tadi aku lihat dia di market, sepertinya dia memang menikah dengan ustadz itu. "


Salwa masih belum bisa menghentikan aliran air matanya. Dia menceritakan hidupnya yang pedih kepada Fir.


"Kamu masih ada perasaan dengan ustadz itu? "Tanya Fir dengan sedikit gugup. Ia takut jawaban dari Salwa menyakiti hatinya.


"Harusnya tadi, kau jangan lari. Kamu tendang kakinya tadi. Dan acak-acak wajahnya. " Fir mengomel sembari memperagakan tangannya sedang mengacak-acak di angin.


"Hahaha. Kamu ini, gaya emak-emak banget sih. "


"Yeee akhirnya kamu tertawa. Gitu dong, jangan nangis lagi ya. Kalo nangis, menangis lah di dada Abang Fir. " Fir menyodorkan dadanya kehadapan Salwa.


"Ogah ah, "


"Jangan begitu. Dada ku begini bidang lo, berotot. "


"Masa sih, ku lihat yang dari bajumu kayanya bukan six pack deh. One pack kalee, " ejek Salwa.


"Eehhh tidak percaya dia. Paman, dia ga percaya aku Six Pack. Nih mau lihat nih. " Fir langsung berdiri, dia merasa tertantang untuk membuktikannya. Apalagi Salwa meragukannya dihadapan Paman Sate.


Setelah berdiri, dengan cepat dia menarik baju kaosnya yang masuk kedalam celana jeansnya. "Aku buka nih demi kamu! " seolah mau menarik bajunya.


"Jangan... Jangan! Ya ya ya. Aku percaya. Kamu ini apa ga malu membuka baju di tempat umum, " bisik Salwa.


"Aku harus membuktikannya dengan mu. Kalo begitu sentuh saja. " Fir menarik tangan Salwa dan menyentuhkannya ke perutnya yang memang berotot.


Salwa bisa merasakan otot keras yang membuat hati Salwa bergetar, ia langsung menarik tangannya dan berpaling. Wajahnya bersemu merah, tentu saja dia malu merasakan otot yang kokoh itu telah terabanya meski dibalik kaos.


Fir menengok ke wajah Salwa, "Sekarang kau percaya? Hehe, kau sudah tersenyum. Aku suka senyuman mu Salwa. Pertahankan itu. "


"Apaan sih kamu. " Salwa langsung berdiri.

__ADS_1


BRAAAKKKK


"AAAUUUU! " Fir berteriak.


Salwa langsung melirik ke belakang, Fir sudah terduduk di tanah dengan penuh kuah sambel kacang dan piring sate di kepalanya. Fir terjungkal ke tanah karena bangku yang tidak seimbang karena Salwa bangkit tiba-tiba.


"Upsszzzz... Hahahahaha.. Maafkan aku Fir. Maaf, " Salwa tertawa melihat Fir yang sedang menderita, tubuhnya dan wajahnya penuh dengan sambel kacang sate.


"Waduuhhh Mas, jadi mandi sambel kacang dong. Hahaha, emang banyak yang makan korban akibat tu bangku, " ucap paman satenya mentertawakan.


"Salwaaaa... ! " suara Fir lirih memanggil Salwa.


Dengan sigap Salwa mengangkat piring di kepala Fir dan mengeluarkan tissu untuk melap wajah Fir. Perlahan demi perlahan Salwa melapnya. Fir merasakan sentuhan Salwa di wajahnya. Fir memandang wajah Salwa dengan sangat dekat.


"Cantik sekali kamu Sal, aku semakin ingin memiliki mu seutuhnya. Pantaskan aku Tuhan untuk Salwa. Jadikan dia ibu dari anak-anak ku kelak. " Batin Fir saat memperhatikan Salwa, dia sangat terpesona dengan makhluk yang cantik di hadapannya. Tanpa sadar, tangan Fir yang kotor dengan sambel kacang meraih wajah Salwa dan mengelus pipi lembutnya.


"Apaan sih kamu Fir, kan aku juga jadi kotor. Kamu nakal! " Salwa terperanjat dan menepis tangan Fir yang sudah terlanjur menyentuh pipi Salwa.


"Maaf, aku.. Aku. "


"Nih bersihkan sendiri! " Salwa memberikan tisu ke dada Fir dan menjauh.


"Cieee, yang di mabuk cinta! " ejek Paman Sate.


"Apaan sih Paman, kaya ga bisa aja jatuh cinta. "


"Cakep mas pacarnya, langsung gaspol jadikan bini. Susah tu carinya, dia perhatian kok sama Mas nya. Tapi malu. "


"Malu tapi mau ya! " ucap Fir melanjutkan godaan Paman sate.


"Ho'oh... Sana cepat bersihkan diri, itu ada toilet umum. " Paman sate menunjuk sebuah bangunan.


"Sal, aku ke sana dulu ya membersihkan baju ku. Tunggu disini ya. Jangan kemana-mana, ingat!"


"Iya."


Fir pun langsung bergegas berlari ke toilet. Ia tidak ingin berlama-lama membersihkan dirinya dan membuang waktu tanpa Salwa. Tidak lama ia di toilet umum. Lalu ia keluar. Namun dari kejauhan, ia sudah tidak melihat lagi Salwa di dekat Paman Sate.


"Loh, kemana dia? " Fir berlari menghampiri Paman Sate.


"Paman, Teman cewek ku yang tadi, mana? "


"Laah, ga tahu Mas. Aku sibuk ngelayanin pembeli. "


Fir celingukan mencari sosok orang yang ia cintai. Namun tidak terlihat. Matanya mengelilingi semua keseluruh penjuru taman, namun tidak ada sosok wanita pujaannya.


Deg...


BERSAMBUNG


Jangan lupa like, vote dan giftnya.


Dan tinggalkan jejak kalian dikomentar. 😍

__ADS_1


__ADS_2