Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 36 Benarkah Cemburu Tanda Cinta


__ADS_3

"Kamu ngapain di Rumah Sakit? Siapa yang sakit Fir? " Tanya Elena khawatir.


"Oh teman nya Salwa. Aku hanya bantuin, eeh... Tunggu. Mana Salwa tadi. Perasaan tadi di belakang ku saja. "


"Lah, kehilangan kamu Fir. Hahaha. Cewek kamu ya. Tadi ku lihat wajahnya langsung bad mood gitu deh. "


"Masa sih. "


"Iih kamu cowok kurang peka banget deh. Susul geh, apa jangan-jangan dia cemburu. "


"Hah, dia cemburu! " Wajah Fir langsung merona.


"Hey, kamu kenapa? Jangan-jangan dia belum jadi pacar kamu? " tebak Elena.


"Nanti aku ceritakan. "


"Woy, Fir! Ingat, malam ini ada acara di rumah ku. Ajak dia. "


Fir yang berlari menyusul Salwa. Ia hanya mengangkat jempolnya tanda setuju kepada Elena. Dia berlari menuju depan ruang UGD. Namun Salwa tidak terlihat disana.


"Pak, boleh nanya. Tadi pasien yang cewek berdarah, keguguran dimana ya? "


"Oh cewek muda tadi. Dia sudah menuju ruang operasi Pak. Lewat sana, lalu belok. Ada tulisan alur nya. Silahkan ikuti saja. "


"Oh iya. Terimakasih Pak. " Fir langsung pergi mengikuti arah. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


"Masa sih cemburu. Elena ini mengada-ada saja. Lagian aku ngapain tadi. Perasaan ga ngapa-ngapain deh. Cuman say hi saja kepada Elena. "


Fir berulang kali memikirkan hal dan sikap apa saja yang membuat Salwa menjadi meninggalkannya tadi. Emang dasar cowok otak gak peka, dia tidak sadar sama sekali hal kesalahannya.


Terlihat ruang operasi, disana sudah ada berdiri Salwa dan Jessy.


"Hi... Sal kenapa tadi kamu duluan? "


"Tadi sudah telpon Kak Jessy perlu bukti administrasinya. Ya udah, makasih Fir. Kalo kamu sibuk. Kamu bisa pulang kok. "


"Kok gitu Sal? "


"Kok gitu gimana. "


"Ya, ayo pulang sama aku juga. " Fir duduk di samping Salwa.


"Iya Sal, kamu bisa istirahat dulu, lagian kamu baru datang kuliah kan. Besok bisa gantikan aku, "Sahut Jessy.


" Nanti Kak. Setelah Dinda sudah keluar ruang operasi. "


"Udah, ga papa kok. Fir antar Salwa pulang ya, " Pinta Jessy sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


"Ya udah, ayo Sal. Nanti Jessy bisa kok telpon kamu lagi jika perlu. Dan kamu kalo kenapa-kenapa bilang aja sama aku. "


Namun Salwa hanya duduk terdiam. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Jessy dan Fir saling berpandangan.


Dengan memberanikan diri, Fir berinisiatif untuk mengambil tangan Salwa. Ia raih dan ia genggam.


"Kami pulang Jes. " Fir langsung menarik Salwa pergi.


Salwa tidak juga meronta dia hanya diam di tarik oleh Fir. Jessy yang melihat tingkah 2 orang itu hanya geleng-geleng saja.


"Hehe, dasar... Begitu tuh kalo malu mengutarakan cinta, " gumam Jessy.


Tangan Salwa di tarik Fir sepanjang jalan koridor rumah sakit. Ia genggam kuat, tak perduli Salwa yang ingin melepaskannya. Kalo orang lain melihat, bak ala-ala film india di sinetron tv. Hanya kurang musik nya saja. Yang satu manyun, yang satu senyum-senyum.


Sampai di tempat parkiran.


"Lepas Fir! "


"Oke. Nih aku lepas. Ayo masuk. "


Salwa pun masuk ke dalam mobil. Namun lagi-lagi hanya diam dan memandang kaca jendela mobil saja. Ia tidak mau memandang wajah Fir.


"Sal, kamu kenapa sih? Aku ada salah ya sama kamu? "


".... "


"Emm ga ada ya. Terus, kenapa jadi diam begini. Kamu laper? "


".... "


Tetap tidak ada sahutan.


"Waduh, bingung aku Sal. Ya udah, kita diam-diaman aja dah. Kita duduk disini aja. Aku juga ga jadi nyetir. "


"Ya udah, " sahut Salwa cuek.


"Alhamdulillah sudah ada suaranya. Kira tadi suara kamu hilang digondol kucing. Bilang dong kenapa? "


Mendengar celoteh Fir, sempat ada senyum sedikit dibibir Salwa namun ia tahan. Rasa sebak cemburu di dada nya lebih hebat dari lelucon kecil Fir.


"Tuh tadi senyum. Kamu tahu tidak, aku tadi nyariin kamu. Nanya-nanya sama petugas mas perawatnya. Katanya ngikutin aja jalur yang sesuai arah. Kamu tahu tidak, aku tadi nyasar. Masuk ke ruang... " Fir sengaja menjeda kalimatnya.


"Nyasar kemana? " tanya Salwa, ternyata meski dia agak ngambek. Dia tetap mendengarkan cerita Fir. Fir pun tersenyum melihat reaksi Salwa meski wajahnya masih berpaling darinya.


"Aku nyasar ke kamar..."


"MAYAT, WAAAAA! " Teriak Fir sambil mengagetkan Salwa dengan ke dua tangannya seperti ingin mencakar Salwa.

__ADS_1


Jelas Salwa kaget, namun ia tahan. Salwa sangat jengkel dengan Fir. Tak sadar ia memukul tangan dan dada Fir dengan manja.


"Iihhhhh ga lucu! " teriak Salwa sembari memukul ringan Fir.


Fir langsung menangkap kedua tangan Salwa dan memegangnya di hadapannya. Lalu ia tatap mata Salwa dengan jarak dekat.


"Tapi berkat cerita aku, kamu sudah mau berpaling kehadapanku. Maafkan aku Salwa, aku tidak peka. "


Salwa meronta, " Lepas Fir, " ucapnya sembari mencoba menundukkan wajahnya dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Fir.


"Aku cinta kamu Salwa. Tidak ada siapa pun di hatiku selain kamu. "


"Lalu, Elena!? "


"Dia? Dia sepupu ku, " ucap Fir serta merta melepaskan tangan Salwa.


"Aduuuhhhh bodohnya aku. Kenapa aku terlalu mengikuti kata hatiku., pasti aku terlihat bodoh dan norak di hadapan Fir, " Batin Salwa meringis dan mencoba membenarkan letak jilbabnya yang tidak ada salahnya. Hanya saja sekedar menghilangkan rasa malunya.


Fir menunduk dan mengambil sesuatu. Lalu dia meraih tangan Salwa.


"Jadi, dari tadi kau cuek kepada ku karena Elena? "


"Enggak. Biasa aja. Ayo cepat kita pulang. " Salwa masih tidak ingin melihat Fir, tapi alasannya sekarang berbeda. Karena ia sangat merasa malu akan tindakan bodohnya.


Fir tiba-tiba meraih tangan Salwa dan dia genggam lembut.


"Salwa, " ucapnya lembut dan menunggu reaksi Salwa untuk menatapnya.


Salwa perlahan menatap Fir dengan lembut. Dua pasang mata itu saling bertatapan.


"Salwa, terimakasih hari ini kau menunjukkan sikap ini kepada ku. Sehingga aku semakin yakin untuk mencintaimu dengan lebih. "


"Maksudmu!? "


"Aku sangat mencintai mu. Aku sudah mempersiapkan diri untuk melamar mu. Bersedia kah kau, aku menjadi Imam mu Salwa Hanifah? " tanya Fir serta menyodorkan sebuah kotak perhiasan yang sudah terbuka. Yaitu sebuah cincin berlian.


Fir melepas Cincin itu dari kotaknya dan bersiap untuk memasangkan ke jari manis Salwa. Fir menunggu reaksi Salwa untuk menerimanya atau tidak. Dia gugup sekali, namun ada harapan yang tersimpan di hati Fir agar Salwa bisa menerima cincin ditangannya.


Salwa langsung menggenggam tangannya pelan. Melihat itu hati Fir langsung berdetak dengan sangat cepat. Apakah Salwa tidak menyukainya, lalu sikap cemburu yang ia perlihatkan bukan tanda cinta?


"Terimalah Cinta ku Salwa, Bukankah tadi bukti cemburu mu adalah cinta. Ku mohon Salwa! " teriak Fir dalam hati, ia masih menunggu sepatah kata dari mulut Salwa.


BERSAMBUNG.


Apakah lamaran Fir diterima Salwa?


Ikuti terus kisahnya, subcribe, like dan vote.

__ADS_1



__ADS_2