
"Apa Maksud Pak Somad? "
"Melihat mereka berdua. Kami, memutuskan untuk menerima lamaran kalian. Dan segera lah menikah malam ini juga. "
"Ayah, " ucap Salwa malu-malu. Ia tidak menyangka akan semudah itu orang tuanya menyetujui dan merestui cinta mereka.
Pak Hans langsung tertawa. Dan dia langsung setuju akan ide calon besannya.
"Dengan senang hati. Buat apa kita tunda. Lebih cepat maka lebih baik. Jujur Pak Somad dan Bu Ros saya sudah tidak sabar menimang cucu. Hahaha. "
"Jadi Fir ini anak semata wayang bapak? "
"Iya Pak Somad. Makanya sudah sering saya suruh Fir ini mencari calon istri. Namun tidak kunjung juga mendapatkan. Saya semakin khawatir, apalagi saya sudah tidak muda. Ketika Saya melihat Salwa. Saya yakin mereka akan bahagia. "
"Aamiin. Saya juga berterimakasih Pak Hans. Karena keluarga Bapak sudah menerima status Salwa yang Janda ini. "
Hans terkejut mendengar kata Janda disebut Pak Somad. "Maaf Pak. Bisa anda ulangi? Status Salwa apa? "
Ibu Rosmiati mulai panik. Delik matanya memandang Salwa dan Fir. Ia tidak tahu jika Fir belum memberi tahu Ayahnya tentang keadaan Salwa yang sebenarnya. Apalagi mendengar kata Janda. Sedangkan Fir seorang Perjaka ting ting. Mungkin sebagian orang tua tidak akan setuju dengan titel Janda atau Duda yang melekat pada calon menantu. Kenapa? jelas karena ada masa lalu, apalagi jika status itu ditambah dengan membawa seorang anak. Banyak sekali pertimbangannya.
"Maaf Ayah. Aku belum menceritakan ini semua. Salwa seorang Janda. Tapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untuk ku Ayah. "
Ibu Rosmiati melangkah mendekati anaknya Salwa yang duduk dikursi samping ranjang Fir. Rosmiati memegang bahu anaknya dan mengelus-elus pelan agar membuat hati anaknya tenang dan lebih kuat jika memang ini semua tidak berjalan dengan baik. Memang berat menyandang status Janda. Banyak pandangan negatif dari berbagai sisi.
Salwa hanya tertunduk diam. Air matanya hampir jatuh. Namun ia tahan, ia tidak berani menjatuhkannya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan dan mengemis cinta seolah ia lah yang menagih atau meminta cinta Fir. Ia tidak ingin harga dirinya hancur.
"Ayah." Fir memanggil ayahnya untuk kedua kalinya.
Hans yang terdiam sesaat lalu memandang kepada Pak Somad dan Ibu Rosmiati. Ia perlahan melangkah ke arah Fir dan meraih tangan Fir dan Salwa dan langsung menyatukan tangan mereka berdua.
"Kenapa kalian tampak tegang, Fir, jika kau benar sangat mencintai Salwa. Ku harap kau jangan pernah menyakiti hati perempuan seperti Salwa. Camkan itu. Dan untuk mu Anak ku Salwa. Aku harap kau bisa bersabar dengan sikap Fir yang masih nol dalam agama. Tapi aku sebagai Ayahnya akan menjanjikan dia untuk belajar menjadi Imam mu yang baik dan aku berharap kalian berumah tangga dengsn tujuan sampai ke jannah. Mari Pak Somad kita langsung kan pernikahan anak kita! " ucapnya pasti dengan penuh senyum lebar.
Salwa langsung menangis mendengar kalimat demi kalimat yang dituturkan oleh Pak Hans. Somad langsung memeluk Hans.
"Besan... " Somad dan Hans langsung berpelukan bahagia. Dua keluarga akan menyatu jadi satu pada hari ini.
Ibu Rosmiati langsung memeluk Salwa bahagia. Mereka menangis bahagia karena keluarga mereka telah menemukan ikatan sehingga menjadi keluarga besar.
"Ibu... " lirih Salwa tertahan.
"Semoga kau bahagia Nak, " ucap Rosmiati lirih sembari mencium kening dan kedua pipi anaknya Salwa.
Melihat itu Salma menyapu ujung matanya dengan jilbabnya karena buliran air mata tidak dapat terbendung menyaksikan bahagia yang di raih adiknya yang sangat menderita selama ini.
__ADS_1
Dengan segera Pak Hans, dan Zainal langsung mencari penghulu terdekat. Mereka akan di nikahkan langsung secara agama di rumah sakit. Dan untuk urusan berkas resmi untuk pendaftaran di negara akan diurus setelah Fir sembuh total.
...✧༺♥༻✧...
Meski Fir masih setengah berbaring. Ia sudah tampil dengan peci putih dan baju muslim yang bersih dan wangi. Begitupula Salwa yang dibalut Jubah putih nan cantik. Sederhana tapi sangat Sakral.
"Saya terima Nikah dan Kawinnya Salwa Hanifah Binti Abdul Somad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 30 gram emas di bayar tunai. "
"Bagaimana Saksi? " ucap Pak penghulu memandang kesekitar ruangan perawatan.
"SAAAHHHH." Mereka serempak mengucapkannya. Para perawat juga senang melihat ada acara akad nikah di rumah sakit. Pemandangan berbeda kata mereka yang sering bertarung dengan urusan nyawa seseorang. Biasanya tegang, hari ini mereka akan terkenang ada yang menikah di rumah sakit.
"Alhamdulillah. Sekarang aku sudah sah menjadi istri Fir. Meski hanya nikah siri dulu. " Salwa senyum sembari membayangkan hidup bersama Fir nanti.
"Karena sudah selesai acara akadnya. Mari kita ke rumah makan Pak Penghulu. Mari... " Hans mengajak semuanya untuk keluar makan sebagai selamatan karena acara berjalan lancar.
"Mari, " Somad juga memberikan kode dengan istrinya beserta Zainal dan Salma.
"Ibu, Salwa menemani Mas Fir saja. "
"Oke Sal. Nanti untuk kalian dan para perawat kami bungkus kan, " Sahut Salma yang menggandeng Ibu nya keluar kamar perawatan.
Terdengar suara tawa terkekeh dari Fir, Salwa langsung melirik Fir yang tertawa tertahan. "Kenapa jadi ketawa? Ada yang lucu? "
"Iiiiihhhh apaan sih. Kan udah, Sah. Jadi bilangnya gitu. Ya udah, kalo ga mau. " Salwa memalingkan badannya dari Fir.
"Yee ngambek. Baru juga Sah. Aku jangan kamu panggil Mas gitu. Aku mau kamu manggilnya Honey, Sayang atau Cintaku. "
"Itu mah namanya minta lebih!" Salwa berdiri ingin mengambil sesuatu, namun tertahan karena tangannya dipegang oleh Fir.
"Aku mau ngambil air minum. Ga kemana-mana. " Salwa menjelaskan, tapi Fir malah menariknya sehingga tubuh Salwa goyah dan...
"Aaaaahhhhh... " tubuh Salwa melayang.
"Huuffffhhhtt." Tangkap Fir.
Salwa jatuh dalam pelukan Fir yang setengah duduk di ranjang. Salwa tepat jatuh dalam asuhan dan pelukan Fir. Ia segera memeluk Salwa erat dan wajah mereka sangat dekat. Pipi Salwa langsung memerah menahan malu, ia langsung mencoba bangkit. Namun tidak bisa.
"Fir. Ayo lepaskan. Nanti dilihat perawat. "
"Mmmm."
Geleng Fir sembari melihat wajah Salwa yang sudah sah menjadi istrinya. Meski untuk saat ini hanya menikah secara siri dan belum sah karena belum bisa diurus ke KUA. Ya karena Fir juga masih dalam masa pemulihan.
__ADS_1
"Memang ga boleh aku memandang wajah istri cantik ku ini. " rayu Fir.
Semakin memerah wajah Salwa mendengar rayuan Fir.
"Udah ah, malu. " Salwa perlahan menarik tangannya yang sudah terparkir di dada bidang Fir. Ia mengelus baju putih Fir. Merasakan itu, Fir langsung tersenyum memahami istrinya sedang malu setengah mati.
"Aku akan melepaskan pelukan ku dengan dua syarat. "
"Apa? " tanya Salwa lembut.
"Panggil aku sehari-hari seperti yang aku minta. " Tatapnya lekat, semakin ia tatap wajah istrinya semakin enggan ia melepaskan pelukannya. Akhirnya yang ia impian selama ini sudah dalam pelukannya.
"Sayang ku Fir, my honey Fir. Boleh lepas pelukannya? " ucap Salwa lembut.
Bergetar perasaan Fir mendengar suara Salwa yang lembut tepat dihadapannya apalagi di dalam pelukannya. Sayang masih di rumah sakit. Fir belum bisa honey moon.
"Satu lagi. Suunnn... " pinta Fir sembari memoncongkan bibirnya. Fikir Fir setidaknya dapat hal kecil dulu sebelum malam pertama.
Melihat itu, Salwa pun langsung faham dan memberikan suuun kilat dibibir Fir.
CUPPP.....
Dalam hitungan detik saja perpautan itu. Super kilat.
"Sudah, " sahut Salwa dengan kecepatan kilat. Dia langsung menunduk malu.
"Hah, apa? Tidak terasa begitu. Mana ada, ulang ulang. " protes Fir tidak terima. Ia tidak merasakannya.
"Ga bisa. Malu ah sayang. Takut para. "
Cuppp, Fir mengulang ciuman itu dan lebih lama jedanya. Ia kecup dengan perlahan bibir yang ia dambakan selama ini.
"Begini rasanya bibir istriku. Lembut, kenyal. Apalagi sudah sah begini. Nikmatnya, " batinnya Fir sembari melancarkan aksi serangannya. Entah berapa lama ia lancarkan. Ia begitu larut dalam buaian mesra yang memabukkan. Kecupan demi kecupan ia lancarkan sehingga Salwa juga terbuai.
BRAAAKKKK.
Suara tubuh Fir terdorong ke bangsal. Matanya melotot terkejut. Badannya terhenyak ke kasur empuk.
"Oouuuhhh." keluhh Fir kesakitan. Tiba-tiba tubuh Salwa sudah tidak berada di dalam dekapannya.
"Loh, istri ku mana? " tangannya yang ia rasakan sudah kosong, hanya memeluk angin.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment dan Subcribe.