
"Hey.....!!!! " teriak Pak Dwi menegur pelaku itu.
Karena teriakan itu, Mahasiswa yang melakukan itu kabur ke tengah lautan mahasiswa agar menghilang dari pandangan Pak Dwi.
"Huh dasar, mahasiswa apaan kerjaannya menghancurkan apa yang ada disekitar begitu. Kita yang tidak tahu apa-apa juga kena imbasnya. Boleh lah demo tapi sesuai jalur. " Pak Dwi mengomel setelah selesai berteriak ke anak muda tersebut.
"Ga papa Pak mobilnya? "
"Ga tahu Non, nanti setelah keluar dari lautan massa ini baru bisa dilihat. Sebentar lagi sampai, kayanya kampus Non lagi asa kasus korupsi ya. "
"Kayanya Pak. Aku juga tidak tahu. "
"Alhamdulillah, sudah sampai Non. Bapak nungguin Non disini ya, paling di warung itu. "
"Loh, kenapa ga pulang aja Pak. Kan lama kuliahnya, yang ada Bapak bakal bosan nunggu. "
"Enggak kok Non. Den Fir tadi pesan gitu. Pokoknya ga boleh meninggalkan Nona. " Senyum Pak Dwi membukakan pintu mobil.
"Baiklah, Salwa pamit ya Pak. Assalamualaikum. "
"Waalaikum salam wr wb. "
Salwa masuk ke bangunan kampusnya yang memang agak paling ujung dari setiap jurusan.
"Hey Salwa, kamu harus tahu ada berita panas pagi ini, " teriak Mirna kepada Salwa.
"Aku juga punya kabar terkini juga buat kamu. " Balas Salwa tidak mau kalah dengan temannya.
Mereka lalu pergi ke bangku di bawah pohon, Salwa meletakkan buku dan leptopnya, ia on kan power leptopnya. Sembari membuka buku dan leptopnya untuk menambah bahan proposalnya.
"Ayo ceritakan kabar panas mu? " celutuk Salwa melirik Mirna dengan wajah penasarannya.
"Ogah ah. Kamu duluan, kamu bikin aku penasaran. Ada berita apa sih? "
"Yeee. Ya udah, kamu bakal jadi tante! "
"Hah, tante. Maksudnya... "
"Iya bakal jadi tante. " Salwa sambil mengelus perutnya dan memberikan isyarat kepada Mirna yang wajahnya terkejut dengan mata melotot.
"Masyaallah kamu hamil Sal. Alhamdulillah. Ternyata, top markotop bablas top cer ya. " Mirna kegirangan dan berdiri dengan sesekali meloncat-loncat. Semua mata orang-orang memandang mereka dengan keheranan.
Salwa menarik tangan Mirna agar menyudahi itu karena ia malu di lirik banyak pasang mata, "Sudah... Sssttttt sudah Mir... Malu tau dilihat orang. "
__ADS_1
"Biarin."
"Sekarang kamu cerita dong, berita panas kamu tadi itu apa? "
"Oke... Ya Allah, aku deg deg an. Aku bahagia banget Sal kamu hamil. Gini, kamu kan lihat yang di depan itu pada banyak teman-teman kita pada demo. "
"Iya,. Trus... "
"Nah, menurut mereka. Uang beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi itu pada hilang. Dan mereka terancam tidak menerima beasiswa itu lagi. Padahal itu adalah bantuan beasiswa dari yayasan apa gitu... Aku lupa. Nah, yang lebih mengejutkannya lagi. Bendahara nya itu adalah... "
Ting tong...
"Bentar Mir, ada pesan masuk. " Salwa langsung membuka pesan dari nomor tidak dikenal.
[Pagi. Assalamualaikum.
Ini Maryam istri Hilman.
Ini Nomor Salwa kan?
Aku ingin bicara dengan kamu tentang Hilman. Karena sejak menghadiri pesta pernikahan kamu, Mas Hilman selalu menyebut nama kamu terus. ]
"Dari siapa sih Sal? " Tanya Mirna karena ia penasaran saat melihat reaksi wajah Salwa saat menerima pesan tersebut.
"Tapi kok wajahnya kaget begitu, kamu bohong ya. "
"Enggak kok Mir, kaget itu karena ini nomor mau kasih mobil hammer. Hahaha. "
"Yeee... Jelas banget nipunya. "
"Siapa tadi Mir yang jadi bendaharanya? " tanya Salwa mengulang cerita Mirna.
"Nanti saja, itu Dosen kita sudah mau masuk ke kelas. Ayo cepat! " Mirna menarik tangan Salwa agar cepat masuk ke kelas karena dosen yang akan masuk di mata kuliah awal adalah dosen yang terkenal killer kepada mahasiswanya, telat sedikit bakal tidak diperbolehkan lagi masuk ke ruang belajar.
...■□■□■□■□■...
Pukul 15.00, matahari masih tinggi dan memancarkan sinarnya yang sangat terik. Karena memang hari ini ada perubahan alam yaitu badai matahari El Nino.
Sehabis selesai materi kuliah Salwa menuju mobil untuk pulang. Ia menyipitkan matanya dan mengangkat tangannya untuk melindungi sinar matahari menusuk mata. Matahari yang begitu terik, panas yang sungguh menyengat.
"Aauuu.... , Lepas, tolong... Tolong! " Salwa berontak dan berteriak saat ada tangan yang menariknya ke sebuah ruangan yang terbengkalai, ruangan yang layak disebut gudang karena banyak barang bekas yang tidak terpakai.
"Sssttt... Tenang Sal. Ini aku Hilman! " Hilman mencoba membekap mulut Salwa.
__ADS_1
"Mas Hilman.... Ap.. apa mau... mu? " tanya Salwa gugup. Jaraknya sangat dekat.
Menyadari begitu dekatnya bahkan telapak tangannya memegang erat bahu Salwa, langsung ia lepaskan.
"Maaf, maaf Sal. Aku tidak... Tidak ber maksud seperti ini... Tapi, tapi... Semenjak melihat mu dipelaminan, aku... Aku selalu terbayang dengan mu. Harusnya aku... Aku yang duduk disamping mu Sal. "
Bergetar tubuh Salwa mendengar ungkapan Hilman dan membuat nya bergidik. Ia setengah mati ketakutan melihat pria ini begity tergila-gilanya.
"Astaghfirullah Mas, ini tidak benar. Mas harusnya sadar. Aku sudah menikah, mas juga sudah menikah. Kita memang tidak di takdirkan bersama. "
"Tapi hati ku sakit Sal, aku sakit melihat mu bersama orang lain. " Hilman duduk sembari mencengkram rambutnya.
"Istighfar Mas, memang kita tidak bisa mengatur cinta kita kepada siapa. Tapi Mas punya kendali untuk melanjutkan atau mundur. Dan sekarang, seharusnya Mas mundur dan mensyukuri apa yang Mas miliki. "
"Tidak, aku ingin kamu Sal! "
"Aku hamil Mas, Ini anak suami ku. Mas Firman. Kenyataan yang harus Mas Hilman terima sekarang. Meski itu menyakitkan. Terimakasih Mas sudah mencintai ku. " Salwa melangkah perlahan untuk meninggalkan Hilman.
"Tunggu Sal. 1 pertanyaan terakhir ku untuk mu, mungkin setelah kau jawab. Aku tidak akan mengganggu mu lagi. "
Salwa berbalik memandang Hilman. Ia menunggu pertanyaan dibibir Hilman yang kaku.
"Apakah kau mencintai ku? "
Tatap mata Hilman kepada Salwa yang terdiam mendengar pertanyaan itu. Salwa tersenyum kecut. Ia mengingat kembali kenangan itu, dimana dia penuh kasmaran membayangkan hidup indah bersama Hilman anak seorang kiayi.
"Ya aku memang mencintai mu! " ucap Salwa dengan mantap.
Jawaban itu membuat bibir Hilman terangkat ke atas.
"Tapi itu dulu... " Salwa langsung pergi meninggalkan Hilman yang terdiam.
Di balik gedung itu ada sepasang mata yang memeprhatikan kejadian itu bahkan ia juga mempotret kejadian yang mungkin hanya dilihag foto makan akan terjadi kesalahan fahaman yang besar.
"Mampus kau *njing l*nte."
Lalu foto itu ia kirimkan ke nomor tujuan tidak dikenal. Dia tersenyum sinis membayangkan hasil kerja nya untuk menghancurkan hidup seseorang.
"Tidak sabar menunggu hasilnya. Lihat saja besok. Akan ada pertunjukan yang meng hebohkan, " gumamnya pelan.
BERSAMBUNG
Jangan lupa Like, koment, subcribe dan vote.
__ADS_1
Terimakasih