
Drrttttt....
Drrrrtttt....
Suara getar handphone Salwa di saku jubahnya. Dengan segera ia melepas cucian piringnya dan mengusap air matanya dengan lengan bajunya. Dengan segera ia melihat layar handphonenya.
Nomor tidak dikenal. Dia langsung mengangkat telpon dari orang asing tersebut.
"Selamat Sore. Benar dengan Ibu Salwa? " tanya suara pria dari seberang.
"Betul Bapak, siapa anda dan ada keperluan apa? "
"Ah syukurlah. Ibu, saya dari pihak kepolisian. Nomor ibu tertera di handphone bapak Firman. Apakah Ibu bisa hadir ke Puskesmas ###. Kami menunggu pihak keluarga bapak. "
"Apa maksudnya ini Pak? "
"Beliau beserta keluarga mengalami kecelakaan. "
"Astaghfirullah... " Salwa terduduk lemas.
Ibu dan Salma langsung berlari menuju Salwa. "Ada apa Salwa? "
"Ibu..., " teriak Salwa menangis memeluk Ibunya.
"Iya Nak, kenapa Nak? "
"Firman kecelakaan Bu. Mereka berada di Puskesmas ####."
Mendengar itu, Rosmiati langsung berteriak histeris memanggil suaminya. Calon menantu nya yang dinanti ternyata mengalami kecelakaan.
...■□■□■□■□■...
Di Puskesmas.
Dengan perasaan tidak karuan, Bapak Abdul Somad beserta istri, Salwa, Salma dan Zainal datang ke Puskesmas. Mereka langsung menuju ruang UGD.
"Permisi, pasien atas nama Firman dan keluarganya? "
"Keluarga Pasien ya? Mari Pak, " Sahut seorang perawat dan ia langsung menunjukkan perawatan pasien.
Salwa langsung terdiam saat melihat badan Fir yang terbaring di bangsal dan masih belum sadarkan diri. Salwa menggenggam lengan baju Fir dengan erat.
__ADS_1
"Fir... Ayo sadar Fir. Firman. Ini aku sudah datang," ucapnya lirih. Ia tahan air mata agar tidak keluar membanjiri pipinya. Ia edarkan pandangannya ke seluruh ruangan UGD.
Terlihat Pak Hans duduk di kursi dengan wajah penuh lecet dan tangan yang di balut perban sedang berbincang dengan 2 orang polisi sedangkan sopir mereka masih belum sadarkan diri juga.
Salwa pandangi wajah Fir yang penuh lecet dan ia memakai perban di kepalanya. "Suster, bagaimana keadaan Fir?
" Ia mengalami benturan keras di kepalanya. Jadi sekarang kita menunggu mobil ambulance dan perlengkapan lainnya untuk dirujuk ke rumah sakit. "
"Apa ini parah? "
"Tujuan dirujuk adalah pemeriksaan mendalam, di Rumah Sakit tersedia CT Scan sehingga dapat mengetahui apa ada cidera di dalam. "
Deg. Jantung Salwa seakan di hantam gada besar. Ia tetap setia menunggu di samping Fir. Tak lepas matanya dari memandangi wajah lecet Fir.
"Maafkan kami Salwa. Kami tidak tahu acara penting kalian akan jadi begini. Fir dari awal masih belum sadarkan diri. Dia mengalami benturan yang keras dikepalanya. Aku akan membawanya ke rumah sakit yang lebih besar. " Hans datang menghampiri Salwa. Terdengar tegar namun sebenarnya Hans terasa hancur karena anak semata wayangnya sekarang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Kenapa jadi sampai begini Pak? " tanya Salwa.
"Kami di begal Nak. Ini bukan hanya kecelakaan biasa. Awalnya memang kecelakaan karena menghindari pohon di tengah jalan. Sopir kami dengan lihai melewatinya. Namun ia tidak bisa mengendalikan stir dan kami menabrak pohon. Awalanya hanya kecelakaan, lalu aku telpon ambulance dan polisi. Nah, saat menunggu penjemputan itu. Jeda waktu itu dimanfaatkan oleh para begal. Mereka menawan aku dan Fir memberikan perlawanan sehingga dia mendapatkan pukulan di kepalanya. "
"Astgahfirullah. Pak... "
"Syukurnya, Ambulance datang cepat sehingga mereka tidak lebih lagi menyakiti kami. "
"Tidak ada Pak. Namun Polisi curiga ini bukan hanya perbegalan tapi sebuah tindakan terencana. Kita tunggu penyelidikan pihak berwajib. "
Seorang perawat datang. "Permisi. Pihak rujukan sudah siap. Mohon pihak keluarga agar keluar. Karena pasien akan kita bawa. Silahkan keluarga yang akan menemani ikut ke dalam ambulance. "
"Baik Suster, " ucap Hans.
"Salwa ikut Ambulan Fir. Ayah, Ibu izinkan Saya ikut. "
"Baik Salwa. Kami nanti juga akan menyusul. " Somad mengiyakan permintaan Salwa. Dengan segera Salwa juga menemani Fir. Tidak ada tanda-tanda kesadaran Fir.
Salwa terus memandangi wajah Fir yang tergoncang saat diperjalanan. Salwa berzikir dan berdoa meminta kesembuhan untuk Fir. Air matanya sudah kering. Hanya terlihat sebuah kepasrahan.
Ambulance pergi beriringan, suara sirine memekakkan telinga. Oksigen yang terpasang dihidung Fir membuat rasa ngeri. Botol infus yang bergoyang karena kecepatan full mobil ambulance. Salwa merasa takut akan keadaan Fir dan juga takut akan kecepatan ambulance. Ia berpegangan sangat kuat dan sesekali melirik perawat yang stand by di samping Fir. Sesekali dia melihat alat-alat yang menampilkan angka-angka indikator.
Perawat itu tersenyum kepada Salwa. Ia tahu Salwa sedang panik.
"Tenang ya Mba. Insyaallah pasien akan diperiksa secara detail dan akan mendapatkan penanganan yang tepat bersama dokter-dokter spesialis. Semoga keluarga Mba cepat sadar dan sembuh. "
__ADS_1
Salwa tidak dapat menjawabnya. Ia hanya mengangguk pasti.
Di Kamar perawatan. Salwa masih setia duduk menemani Firman yang belum sadar. Firman sudah dilakukan penanganan dan CT Scan. Salwa memandangi wajah Fir yang tampak tenang.
...■□■□■□■□■...
Firman berada di taman. Ia berpakaian rapi jas berwarna putih. Banyak orang lain yang duduj di hadapannya. Semua tampak indah dengan nuansa putih begitu pula warna bunganya putih dan merah muda. Wanginya sangat harum. Masuklah seorang wanita bergaun putih dengan anggun dan pelan. Di giringi oleh para dayang-dayang.
"Salwa..., " ucap Fir bahagia melihat Salwa bergaun pengantin.
Dia sangat cantik dan anggun. Wajahnya bercahaya penuh dengan pesona, senyumnya menawan hati Fir. "Akhirnya aku menikah dengan Salwa. "
Dengan mantap Fir memberikan tangannya untuk menyambut tangan Salwa. Baru saja Salwa ingin meraih tangan Fir. Tiba-tiba tubuh dan baju putih Salwa berubah berlumur darah. Dan ia seolah di tarik dan semakin menjauh dari Fir.
"SALWAAAA... "
"Sal... Waaaaaa, " teriak Fir dengan kuat.
Tiba-tiba ia sudah berada di sebuah kamar. Ia edarkan pandangannya. Putih bersih. Ia ingin meraba wajahnya namun ia tidak bisa mengangkat tangannya. Lalu ia tengok.
Ada perempuan yang sedang tertelungkup menindih tangannya.
"Salwa? Salwa..., " ucap Fir lirih.
"Firman, kau sudah sadar? Alhamdulillah. " Salwa langsung berdiri dan menatap Firman dan berlari keluar memberi tahu kepada Pak Hans dan Ayahnya Salwa.
Mereka segera berkumpul mengelilingi Fir yang masih terbaring lemah. Fir mencoba bangkit dan setengah duduk.
"Alhamdulillah syukurlah kau sadar Nak Firman, " ucap Somad.
"Bapak, maaf kan saya karena hari yang saya janjikan tertunda jadi begini. "
"Tidak masalah Nak Fir. Malang tidak dapat di duga. Manusia hanya berencana. Kami bersyukur kalian sudah selamar semua. Bahkan Pak Sopir juga sudah sadar dan semuanya baik-baik saja. "
"Iya Pak Somad. Terimakasih banyak atas pengertian Bapak. Saya sangat salut, pantas saja anak Bapak Salwa begitu baik terjaga ternyata mempunyai Ayah yang sangat pengertian. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pantas saja Fir tegila-gila dengan anak Bapak, " Hans memuji Somad dan Salwa.
"Hahaha bisa saja Pak Hans ini. Jika begitu... Bagaimana.... " Somad terbersit sebuah ide.
"Bagaimana apanya Pak Somad? " tanya Hans penasaran.
Ibu Rosmiati dan Bapak Somad saling berpandangan seakan sudah sepakat dan seia sekata.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
Jangan lupa Like, Subcribe dan Coment