Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 29 Cinta Seperti Kentut


__ADS_3

Hans mencoba masuk ke dalam kamar Anaknya, namun Fir langsung menghalangi Ayahnya. Ia tidak ingin Salwa terganggu dengan kehadiran Ayahnya.


"Kenapa Ayah harus datang kesini? Bukankah Ayah sibuk dengan Tante Melinda? "


"Fir! Apa maksud mu? Dari dulu kamu selalu mempermasalahkan Tante Melinda. Dia itu rekan kerja Ayah. "


"Rekan kerja apa simpanan Ayah sehingga membuat Ibu melarikan diri dari rumah, " Ucap Fir ketus sembari masih menghalangi pintu kamar dengan kedua tangannya.


"Apa kau tidak bosan membahas ini terus bertahun-tahun? Aku hanya ingin bertemu perempuan yang kau bawa ke rumah ku. "


Hans mencoba menepis kuat tangan Fir. Namun begitu kuat pula Fir menahan kekuatan Ayahnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Maaf, saya mendengar keributan. Mungkin saya sudah agak mendingan, Perkenalkan Saya Salwa Hanifah, teman Kak Firman di kampus, apakah anda Ayah Firman? " Tanya Salwa saat sesudah membuka pintu kamar. Terlihat 2 orang yang wajahnya jelas sedang berseteru. Tidak ingin itu terjadi, dengan cepat Salwa langsung melontarkan pertanyaan itu.


Seketika wajah mereka berubah tatkala dipergoki oleh Salwa. "Salwa! Aku kan sudah bilang jangan bangkit dulu, kamu kan pasti masih pusing. " Dengan sigap Fir meraih bahu Salwa dan membimbingnya kembali ke kasur.


Sedangkan Hans, mengikutinya di belakang. Sesampainya Salwa sudah terbaring. Barulah Hans mendekatinya.


"Perkenalkan aku Hans. Hans Digantara. Ayah Firman. Beristirahatlah. Kau sangat pucat, " Ucap nya tersenyum lembut. Lalu ia meninggalkan anaknya bersama Salwa.


Hans tidak banyak berkomentar, dia langsung keluar. Tanpa ia sadari Fir mengikutinya di belakang.


Hans berbalik dan memandang Fir, "Kau jaga anak orang, jangan macam-macam! " Hans lalu pergi ke ruang kerja.


"Harusnya dia nasehati dirinya sendiri. Buat apa menasehati ku, " Gumam Fir kesal dengan tingkah Ayahnya.


Jam 08. 00 Malam.


Salwa sudah merasa baikan, cairan infus mulai siang tadi sudah mendekati habis. Ia pun melepasnya begitu saja. Jelas, ia tidak ingin bermalam di rumah Fir. Apa yang akan dikatakan oleh Ibu Kost jika ia tidak pulang tepat waktu. Kost akan ditutup pada jam 10 malam. Sisa 2 jam saja ia harus kembali tepat waktu.


Dengan perlahan ia duduk di tepi kasur, dan mencoba berdiri.


"Syukurlah, Alhamdulillah. Aku sudah tidak pusing lagi. Aku sudah terasa fit kembali berkat cairan infus itu. " Salwa melirik infus yang masih menggantung, lalu ia berjalan menuju pintu. Baru saja tangannya meraih gagang pintu, pintu itu sudah terbuka saja. Sosok Fir berdiri dihadapannya dengan mata sendu yang menatap lembut Salwa.


"Kau sudah merasa kuat? " tanya nya tanpa berpindah tempat.

__ADS_1


Salwa mengangguk. "Aku ingin pulang. Kost ku akan tutup jam 10 malam. Apa aku boleh minta tolong antarkan aku? " tanya Salwa pelan, ia malu meminta tolong Fir. Tapi mau bagaimana lagi, ia takut pulang sendiri di malam hari. Apalagi jika harus naik taxi atau angkutan umum di kota besar ini.


"Baik lah jika itu mau mu. Tapi, kita makan malam dulu ya. " Tanpa menunggu jawaban Salwa, Fir memegang pergelangan tangan Salwa dan menariknya pelan menuju ruang makan.


Hans sudah menunggu di kursi kepala keluarga. Dengan senyuman ia menyambut Salwa.


"Mari Salwa, duduk lah disini. " Hans mempersilahkan Salwa.


Salwa pun menuruti jamuan kepala rumah. Ia duduk dengan bantuan Fir. Fir bak pelayan yang handak menarik bangku Salwa dan membukakan piring serta memberikan serbet kepada Salwa. Tidak lupa ia menuangkan air di gelas Salwa.


Melihat itu, Hans tersenyum. Dari tingkah anaknya dia sudah sangat menyadari. Bahwa Salwa sudah memikat hati anaknya.


"Apa kau tidak menuangkan air kepada Ayah mu? " Tanya Hans kepada Fir. Namun Fir langsung memicingkan matanya ke arah Ayahnya. Tapi pada saat itu Salwa melirik Fir.


Fir langsung berpindah tempat dan menuangkan air ke gelas Hans. Hans pun tersenyum menang, dia merasa senang karena Fir mau terlihat berbaikan dengannya saat dihadapan Salwa.


Salwa yang tidak tahu apa-apa hanya memandang mereka Ayah dan Anak pada umumnya. Padahal kenyataannya telah terjadi perang dingin selama bertahun-tahun. Selama ini sahutan demi sahutan di rumah ini selalu terdengar ketus diantara mereka, sampai pembantu di rumah sangat hafal sifat mereka berdua. Sudah banyak silih berganti pembantu yang tidak betah bekerja.


Meski bukan mereka yang dimarahi. Tapi mana nyaman hidup dimana ada 2 insan yang sedang berperang dingin. Hanya Bibi Minah yang menjadi pembantu setia dan awet di rumah Digantara ini.


"Ayo dimakan yang lahap ya Salwa, jangan sungkan. Aku suka kau datang ke rumah yang sepi ini. Ada kamu menjadi warna baru. "


"Aah jangan panggil Pak. Panggil saja Ayah Hans. Siapa tahu kamu keterusan manggil aku seperti itu. " Goda Hans sembari melirik anaknya yang sudah saja keselek mendengar godaan Ayahnya.


"Kak Fir tidak apa-apa? " Tanya Salwa sembari menyodorkan gelas berisi air putih ke hadapan Fir. Dengan segera Fir langsung mengambil gelas itu.


"Kalian pasangan serasi. Ayah suka. "


"Oh tidak Pak, ah.. Ayah Hans. Kami hanya berteman. " Salwa langsung bekelit dengan mengangkat kedua tangannya.


"Oohh... " Hans hanya membentuk mulutnya menjadi bulat. Ia sadar, cinta anaknya bertepuk sebelah tangan. Ia tersenyum dan masih melanjutkan suapan makannya.


"Kau sudah selesai makan? Ayo aku antar kamu ke kost. Ini sudah mendekati jam 9." Fir memperingatkan Salwa.


Dengan segera Salwa langsung menghentikan makannya meski ia masih menginginkannya. Lapar euy! Habis pingsan.

__ADS_1


"Salwa pamit Ayah Hans. Terimakasih banyak. "


"Ayo! " Fir langsung berdiri ingin pergi. Namun yang ia dapati, bukan Salwa yang mengikuti malah ia terkesima saat Salwa malah pergi ke arah Ayahnya dan salim seperti layaknya anak muda ke orang tua.


"Fir... " Hans memanggil dengan nada lembut seraya menyodorkan tangannya dan tersenyum.


Dengan berat hati dia datang dan salim ke tangan Ayahnya. Dia harus berpura-pura karena Salwa sedang memandanginya. Dia tidak ingin dong di cap anak durhaka atau tidak patuh. Sedangkan Fir ingin citra nya terkesan baik di mata Salwa. Meski dia tidak memungkiri bahwa ia anak Genk Motor. Tapi jelas bagi Salwa, hal seperti itu fatal. Dan Fir tidak mau di blacklist dari antrean di hati Salwa.


"Hati-hati Fir bawa anak orang. Jaga dia baik-baik! " Hans mewanti-wanti Fir.


Namun Fir tidak menghiraukannya. "Pakai jaket ini dan pakai helm! " Fir menyerahkan jaket dan helm.


"Aku bisa sen-" belum sempat menolak, Fir sudah saja memasangkan helmnya ke kepala Salwa bak sepasang kekasih.


"Ayo, kau harus pegangan. Kau tidak ingin dikunci pagar kan. " Fir menarik kedua tangan Salwa dan membimbingnya untuk memeluk tubuh nya.


Yaah tahulah sebenarnya hanya alasan Fir. Dia mengantar pakai mobil juga bisa. Dia nya saja ingin mengantar Salwa dengan motornya.


"Jangan ngebut banget ya Kak Fir. "


"Kamu itu selalu memanggil ku Kak, Kak... Memang aku kakak mu. Panggil Fir, atau Sayang kek. " Fir mengatakan dengan nada serius.


"Aauu.., " Fir berteriak saat cubitan terasa di perutnya, sakit sih iya banget. Namun hatinya berbunga mendapatkan cubitan Salwa.


"Iya iya, okeh. Kita gas pol. Meluncur mengantar putri. "


Brummm. Brummmmmm


Bunyi Sepeda motor melaju membawa Salwa menembus gelap malam menuju Kost Salwa yang baru.


"Aku harus mengatakan cinta ku. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Aku rasa malam ini lah waktu yang tepat. Aku sudah merasa tidak tahan, " Batin Firman menimbang-nimbang untuk menyatakan cinta.


Cinta. Seperti Kentut, di tahan membuat sakit perut, dilepas bikin bunyi put put puttt dan membuat ribut.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Apakah Fir bisa menyatakan cintanya. Apa jawaban Salwa?


Nantikan kelanjutan kisahnya besok hari. Jangan lupa dukung author like, koment, vote dan gift. Dukungan kalian sangat berharga meski author tidak terima honor karena tidak lolos. Setidaknya kalian lah penyemangat aku melanjutkan kisah ini. 🥰


__ADS_2