Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 34 Tidak bisa lagi menghindar


__ADS_3

"Salwa! "


Suara pria terdengar menegur Salwa dari belakang. Spontan Salwa berbalik untuk melihat siapa yang menegurnya.


Wajah Salwa tidak dapat didustakan, raut wajah yang terkejut. Orang yang ia ingin hindari dalam bertemu. Akhirnya tidak bisa ia hindari juga.


"Siapa Sal? " tanya Fir waspada. Ia tidak ingin kekasih hatinya di embat. Apalagi dihadapannya berdiri seorang pria yang tidak kalah saing dengannya dari segi ketampanannya.


"Oh Apa kabar? " tanya Salwa kikuk.


"Baik. Kenalkan aku Hilman. " Hilman langsung menawarkan jabatan tangannya ke Fir. Dan Fir pun langsung menyambutnya dengan sedikit bertenaga.


Mereka saling beradu pandang. Seperti saling memancarkan kilatan listrik dan beradu.


"Fir, Firman. Calon Salwa, " ucapnya keras. Agar terdengar ditelinga pria dihadapannya, belum apa-apa ia sudah merasa tertantang.


"Oh, calon kamu Sal. Salam kenal. "


Salwa hanya tersenyum saja, tidak meiyakan dan tidak juga mengindahkan pernyataan Firman.


"Kalian kenal dari mana? " tanya Fir kepo. Tingkat ke kepoannya melebihi intel kepolisian.


"Ouh, kami pernah satu pondok pesantren. "


"Mmm... Oiya Sal. Kamu pernah bilang kalo pernah mondok ya, " gumam Fir.


"Baiklah. Kami pamit dulu. Mariii... " Salwa menarik lengan baju Fir agar mengikutinya untuk menjauhi Hilman.


"Dia memandangi kamu terus Sal, siapa sih dia? Dia kuliah lagi kah? Tunggu, kamu kenapa tidak betah begitu berhadapan dengannya. Apa jangan-jangan dia adalah yang ustadz kau ceritakan waktu itu? "


"Iiihhh. Jangan perhatikan dia. Dia itu Dosen disini! "


"Apa!! Dosen kamu, "


"Iya, dia pengganti Pak Guntur. Dan dia juga benar orang yang ku ceritakan itu. "


"Hemmm... Pantas hati ku rasanya panas seperti terbakar. " Fir mencengkram dada kirinya dengan tangan kanan. Dia berlari ke hadapan Salwa dengan wajah meringis seolah kesakitan.


"Apaan sih kamu? " tanya Salwa kebingungan.


"Hati ku Sal, Hati ku terbakar api cemburu. "


".... "


Salwa hanya diam, namun bibirnya selalu tersenyum jika dekat dengan Fir. Dia berlalu pergi dan masuk ke dalam kelas.


Fir berjalan pulang meninggalkan Salwa yang sudah masuk ke dalam kelas.


"Fir! " teriak Salwa dari balik pintu kelas.


Langkah Fir terhenti dan berbalik ketika namanya disebut oleh bibir manis Salwa. Tampak kebingungan wajah Fir menunggu reaksi Salwa. Ia takut jika Salwa membutuhkan suatu hal penting darinya.

__ADS_1


"Apa? "


"Hati-hati dijalan, " ucap Salwa pelan.


Fir memberikan kecupan bibir dan lambaian tangannya, dia semakin terang-terangan memberikan kode cintanya kepada Salwa.


"Ouhh.... " Semakin luluh hati Fir mendengar perhatian kecil dari Salwa.


"Kenapa Sal? Kamu jadian ya sama Kak Firman? " tanya Mirna sangat penasaran.


"Yee. Mana ada. Aku hanya bilang hati-hati dijalan kok. "


"Tapi ku rasa ada cinta yang bersemi... " Mirna melantunkan kalimatnya dengan nada acaknya.


Salwa langsung membekap mulut Mirna. "Ihhh kamu apa- apaan sih. Jangan bikin gosip menyebar dech. "


"Iya, iya..., " Sahut Mirna cekikikan.


...■□■□■□■□■...


Mata kuliah Salwa sudah selesai. Hari sudah menunjukkan pukul 02.00 siang.


"Sal, aku duluan ya. " Mirna melambaikan tangannya.


"Iya Mir. Hati-hati! "


"Kamu dijemput Kak Fir kan? "


Mendengar itu Mirna pun lega dan langsung meninggalkan Salwa. Terdengar langkah seseorang di belakang Salwa mengiringinya. Salwa langsung memelankan langkahnya. Lalu Salwa langsung mempercepat jalan kakinya. Ia terlalu trauma dengan kejadian Pak Guntur dahulu.


Tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang cleaning servis yang membawa bak sampah besar di tikungan.


"Aaahhhh!! " teriak Salwa saat kakinya ingin berhenti namun ia tergelincir. Badannya berputar di angin dan tubuhnya akan terpelanting.


"Huft! " dengan cepat tangan kekar seorang pria menahannya dalam pelukan. Salwa aman dalam pelukan pria itu.


Mata Salwa yang terpejam dengan dahi berkerut karena takut menahan sakitnya jatuh. Sedangkan pria itu memandang lekat wajah cantik Salwa. Ia tidak juga melepaskan pelukannya yang betah. Waktu seakan terhenti. Pria itu terpesona dengan kecantikan Salwa yang alami.


Sadar ia tidak jatuh dan tidak merasakan sakti. Salwa membuka matanya perlahan. Ternyata dihadapan wajahnya, sudah ada wajah tampan dibalut senyuman yang menawan yang sangat dekat jaraknya dengannya.


"Aahh... Maaf... Terimakasih sudah menolong ku, " Ucap Salwa mencoba membenarkan posisinya seraya mendorong tubuh pria itu untuk melepaskan tubuh Salwa dari pelukannya.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin menolong mu Salwa," ucapnya pelan dan lembut.


"Terimakasih, " Sahut Salwa yang tengah sibuk mengambil buku dan berkas nya yang bertebaran akibat dia hampir jatuh.


"Salwa. Aku mohon maafkan aku! " Pinta Pria itu yang tidak lain adalah Hilman. Ia menyerahkan buku dan berkas milik Salwa yang ia pungut di tanah.


Salwa mengambil buku dari tangan Hilman. "Aku sudah memaafkan mu. Yang lalu biarlah berlalu. "


"Salwa, bisa kah kita berbincang dahulu. " Hilman menarik tangan Salwa agar menghentikan langkah nya yang sudah ingin pergi.

__ADS_1


"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan Hilman. "


"Aku masih mencintaimu Salwa Hanifah! "


Deg...


Kata-kata itu membuat detak jantung Salwa berdetak lebih cepat.


Dag Dig Dug...


Tangan Salwa masih berada digenggaman Hilman. Hilman memegang erat tangan Salwa seakan rindu lama yang terpendam.


"Lepaskan Hilman. Apa kau tidak malu, aku tahu kamu sudah punya istri. "


"Aku masih mencintai mu Salwa. Berikan aku kesempatan lagi. Aku akan membahagiakan mu. "


"Hah, apa maksud mu? "


"Mau kah kau menjadi istri kedua ku. Aku akan menjamin kebahagiaan kita, seperti yang kita ancang-ancang dahulu. Kehidupan kita bersama Sal. "


"Lepas Hilman. "


"Please, jawab lah. Setelah itu aku akan melepaskan tangan mu! " Pinta Hilman dengan memelas.


"LEPASKAN TANGANNYA! " Fir berteriak dan merampas tangan Salwa dari tangan Hilman.


"Ayo pergi dari sini! " titah Fir kepada Salwa. Fir tidak segan menarik tangan Salwa.


Salwa pun hanya mengikuti langkah Fir. Mereka meninggalkan Hilman yang kecewa.


"Aku tunggu jawaban mu Salwa! " teriak Hilman.


"Dasar dosen otak kawin. Kamu juga, baru telat sedikit saja sudah diincar orang lain. Mau nya apa sih itu orang. Bikin hati ku dongkol saja, " omelan Fir sangat jelas sepanjang jalan sembari menarik tangan Salwa. Dia memarahi Salwa yang tidak bersalah, hanya saja Fir bingung melampiaskan rasa cemburunya yang membludak.


"Aahh kamu apaan sih juga. Datang-datang ngomel. Lepas kan tangan mu. Kalian berdua sama saja. Kamu seenaknya juga mengaku diriku menjadi milikmu. " Salwa balik marah dan melepaskan tangan Fir. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan Fir.


"Waduh... Dasar cewek ya. Kok aku sekarang yang jadi kena marah dia. Hehe, tapi dia marahnya lucu. Sangat menggemaskan. Oh Salwa ku... "


"Salwa, Tunggu aku! " teriak Fir sembari tersenyum. Fir berlari menyusul Salwa yang sedang ngambek.


"Sorry Salwa. Maafin aku ya,... Aku hanya tidak suka jika pria tadi mengganggu mu. Dari awal aku sudah ada feeling dia bakal begitu. Maafin aku ya... Please. " Fir memohon dan memegang tangan Salwa.


"Ya udah, aku maafin. "


Di sisi lain Hilman rupanya mengejar mereka juga dan menyaksikan kejadiaan itu dan mendengar jelas bahwa Firman ternyata bukanlah Calon Salwa.


"Rupanya masih ada jalan agar aku memiliki mu. Sebelum janur kuning melambai, aku masih bisa memperjuangkan mu Salwa. Aku harus mendapatkannya, " Gumam Hilman memandangi Salwa yang sudah mau pergi dengan Fir.


BERSAMBUNG


Jangan lupa Like, vote dan subcribe agar tidak ketinggalan update ceritanya.

__ADS_1


Thanks, Syukria, Sukron, Cie-cie, 🥰


__ADS_2