Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 17 Seperti Hari Biasa


__ADS_3

Seperti hari biasanya meski Imran belum ada kabar. Salwa tetap mengantar Ammar sekolah TK dengan ojek. Ia menerima Pesan Sms yang ia harapkan dari Wahyu dan Kakak Amir, ternyata mereka juga tidak mengetahui keberadaan Imran. Bagai ditelan bumi.


Sebelum ia berangkaf kuliah, ia sempatkan pergi ke sekolah tempat kerja Imran. Satu-satunya informasi yang ia dapatkan hanya ada disekolah. Bukankah pamit terakhir karena ia ada rapat akreditasi di sekolah. Memang agak sedikit janggal, rapat sampai malam itu sangatlah diluar nalar. Oleh karena itu, Salwa ingin memastikan apakah alasan Imran itu benar atau dia telah berdusta.


"Pak, tunggu saya disini. Saya sebentar saja masuk sekolah itu. " Salwa mengingatkan tukang ojek yang selalu mangkal di depan gangnya agar tidak meninggalkannya.


"Iya Neng. "


Salwa berjalan perlahan memasuki sekolah, mata para anak sekolah dasar memandangnya penuh keheranan. Jelas saja, ada orang luar yang datang. Salwa langsung menuju ruang guru.


"Assalamualaikum. Permisi. " ketuk Salwa di pintu yang sudah terbuka.


"Waalaikum salam. Ada apa ibu? Sampeyan nyari siapa? " Jawab salah satu guru yang terbilang sudah senior, dapat dilihat dari wajah beliau yang sudah dimakan usia.


"Perkenalkan Ibu, saya Salwa, istri Pak Imran. Saya mau bertemu Pak Imran. Ada Pak Imrannya? "


"Loh... Kami baru mau kerumah Pak Imran. Beliau sudah tidak masuk bekerja dari 2 hari yang lalu. Kami kira beliau sakit Bu Salwa. Coba saya antar ke kepsek ya Bu. " Ibu guru itu mempersilahkan Salwa menuju ruang kepala sekolah yang berbeda lokasi.


"Masa bu, Astaghfirullah. " Jantung Salwa langsung berdetak cepat, ia sadar ada sesuatu yang terjadi. Kemana suaminya Imran. Ada kebohongan yang diciptakan oleh Imran. Setelah menikah, baru ini Salwa mendapati sikap Imran yang sangat janggal dan aneh.


"Assalamualaikum Pak Kepsek. Ini Ibu Salwa istri Pak Imran. "


"Wah kebetulan. Masuk Ibu. Silahkan duduk. "


Dengan jantung berdebar, sedikit panik. Sebenarnya benar sangat panik tapi Salwa berusaha menutupi nya.


"Ada apa ya Pak, Saya fikir suami saya disini tidak pulang dari kemaren. Kata nya rapat akreditasi. Ini sms nya kemaren dengan saya. "


Kepala sekolah tersenyum hambar. "Maaf Ibu Salwa. Sebenarnya, Akreditasi Sekolah sudah dilaksanakan bulan lalu. Jadi kita tidak ada istilahnya lembur untuk mempersiapkan itu. Dan maaf sekali lagi. Sebenarnya, Suami Ibu Pak Imran sudah tidak masuk ke sekolah sudah 2 hari. Betul Bu Yatmi? 2 hari ya. "

__ADS_1


Kepala sekolah menanyakan ulang kepada Ibu senior tadi untuk memastikannya.


"Ya Allah Pak, jadi suami saya ini kemana? " Salwa mulai panik tidak jelas. Ia tidak dapat menguasai keadaan hatinya. Tangannya gemetar.


"Kami kira beliau sakit, jadi tadi kami berencana sehabis jam pelajaran mau mengunjunginya. Tapi karena ibu ada disini. Kami jadi ikut bingung Bu. Keluarga Pak Imran gimana? "


"Sudah Pak, sudah saya hubungi. Tapi tidak ada hasil. "


"Jangan berfikiran yang aneh ya Bu Salwa. Mungkin Pak Imran lagi kena masalah. " Ibu Yatmi mencoba menenangkan Salwa dengan menghampiri duduk disebelahnya dan mengelus tangan Salwa dengan lembut.


"Apa maksud Ibu kena masalah? " Salwa semakin bingung dengan pernyataan Ibu Yatmi.


"Sebenarnya, Apa perlu cerita Pak Kepsek? " Bu Yatmi meminta izin kepada Kepsek. Dan Kepsek pun menganggukkan kepalanya.


Salwa langsung mengusap air matanya dipipi. Ia mencoba menegakkan badannya yang duduk disofa itu. Ia menyiapkan diri untuk menerima informasi, yang pasti informasi ini bukan lah hal baik.


"Begini, sebelumnya 2 hari yang lalu. Pak Imran terlihat sangat cemas. Dan Dia meminta berhutanh uang kepada Pak Kepsek senilai 20 juta. Tapi Pak Kepsek memberinya 5 juta. "


Bu Yatmi menghela nafas. "Lalu, ia juga berhutang kepada aku 2 juta rupiah, dan kepada Pak joko penjaskes sekitar 3 juta. Dan kepada Ibu Sintia 5 juta. Dan Ibu Khatmi 5 juta dan Bu Lilis Cleaning Service kita 2 juya. Dan setelah 2 hari, kami baru mengetahui jika semua guru dan CS sama-sama menghutangi Pak Imran dalam waktu yang bersamaan dengan alasan yang berbeda-beda seperti keluarga nya sakit, Istri sakit, bahkan dia yang sakit. "


"Astaghfirullah... Ya Allah Bu. Pak... " Salwa menangis mendengar apa yang dilakukan Imran di tempat kerjanya. Apa yang harus Salwa lakukan. Ia tidak tahu dan bagaimana cara melunasi hutannya Mas Imran yang bahkan ia tidak tahu uang sebanyak itu buat apa.


"Tapi ga pa-pa Bu, kami akan menunggu Pak Imran untuk membayarnya. Semoga Pak Imran cepat ditemukan. Ibu Salwa mungkin syok juga mendengar kabar ini. " Bu Yatmi mencoba menghibur Salwa yang wajahnya sudah pucat. Sesekali ia mengelus punggung Salwa. Memang Ibu Yatmi senior di sekolah itu sangat bijak.


"Baiklah Ibu, Bapak. Saya akan menghubungi Bapak dan Ibu jika suami saya sudah kembali. Dan saya pastik akan bujuk dia untuk membayar hutangnya, Saya pamit dahulu Pak, terimakasih informasinya. Dan jika Bapak Ibu lebih dahulu mengetahui keberadaan suaminya tolong kabari saya juga. "


"Itu pasti Ibu Salwa. "


Salwa pergi dari sekolah dengan perasaan getir. Ia tidak bisa berfikir lagi, hutang sangat banyak jika ditotal lebih 20 juta. Apa yang dilakukan Imran tidak ia ketahui.

__ADS_1


Salwa naik ojek ke kampus. Ia sudah berpesan kepada Guru TK untuk mengantar Ammar ke kostnya bersam Bu Midah. Jadi dia merasa tenang. Sesampainya di Kampus, sekali lagi ia hubungi nomor ponsel Imran. Tapi tetap tidak tersambung.


Salwa berjalan dengan pelan, sedangkan fikirannya melayang memikirkan hutang Imran. Dikejauhan, Firman memperhatikan Salwa.


"Tuh lihat cewek hijab mu Fir. Samperin dong, yakin nih dia sudah kamu taklukkan?" Kawan Firman menyenggol siku Firman.


Firman mengalihkan pandangannya ke arah Salwa. Sekalian ia ingin meminta penjelasan tentang sebutan Ibu yang dilontarkan anak bernama Ammar kemaren.


Dengan cepat Moge Firman menderu dan menghampiri Salwa yang berjalan melamun.


"Sal... Sal... Salwa! " Firman berteriak teriak. Tapi Salwa benar-benar tidak mendengar, karena fikirannya tidak berada di dalam raganya. Ia terlalu syok.


Firman menghentikan Mogenya dan ia berlari ke belakang Salwa. Terlihat jelas langkah Salwa sedikit tidak imbang, tubuhnya sangat lesu.


"Salwa! " Firman meraih bahu Salwa. Namun seketika tubuh Salwa ambruk. Syukurnya Firman langsung menangkapnya dalam pelukan kekar nya.


"Broo.. tolong bro! " Teriak Firman kepada tekan Moge nya.


💙Bersambung💙


💛Terimakasih Sudah membaca novelku


❤Jangan lupa like, komen dan vote


💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya


💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya


Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗😁

__ADS_1


__ADS_2