
Salwa baru saja pamit dengan Imran di gerbang kampus. Ia pun berjalan sendirian menuju ruang jurusannya. Jilbab nya yang panjang bergoyang diterpa angin menambah keanggunan Salwa. Tidak dipungkiri keanggunan dan keteduhan wajah Salwa semakin menambah aura kecantikannya sangat terpancar.
Suara sepeda motor mengiringi langkahnya, otomatis Salwa merubah posisinya ke samping agar tidak menghalangi jalan sepeda motor. Namun ternyata, sepeda motor itu tidak melewatinya. Tetap saja berjalan pelan di belakangnya seperti mengikutinya. Salwa pun menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
"Kamu! "
"Iya aku. Kau masih ingat? "Tanya Firman kepada Salwa. Ia turun dari moge nya dan menuntunnya untuk mengimbangi jalan Salwa.
Salwa hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Firman. Dia hanya lurus saja berjalan menuju lokasi jurusannya. Jelas itu membuat perih hati Firman, ia seakan di anggap tidak ada disana. Baru kali ini Firman diperlakukan oleh cewek secuek ini. Dan justru itu, membuat darah lelakinya merasa tertantang dan tidak terima.
" Kau tidak mau berbicara dengan ku. Apa aku senajis itu bagi mu? " setengah berteriak kepada Salwa.
Mendengar kata najis disebut oleh Firman membuat Salwa menghentikan langkahnya. "Bukan seperti itu, tapi kita bukan muhrim. Tidak baik berbicara hanya berdua. Lagian tidak ada kepentingan yang mendesak untuk mengharuskan kita berbicara bukan? "
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Firman. Salwa meneruskan kembali menuju kelas nya karena jam sudah menunjukkan jam mata kuliah pertama di mulai.
Firman hanya terdiam dengan motornya, dia terdiam karena mendengar jawaban Salwa yang menohoknya. Tidak pernah ada wanita di kampus ini yang ia dekati menolak. Bahkan perasaannya yang kebal dan terbiasa menyakiti hati perempuan, hari ini, hatinya terasa sakit saat dimana Salwa mengatakan 'tidak ada kepentingan yang harus dibicarakan kepada nya'.
"Baru kali ini ada wanita yang tidak terpengaruh pesona ku. Kau harus aku dapatkan, hingga kau tidak bisa berkata seperti itu lagi kepada ku. "
"Hey Bro. Gimana? Hari ke dua lo hari ini. Waktu tinggal 5 hari. " Kawan Firman menggandeng nya dam mengingatkan sisa hari taruhan.
"Awu ah gelap. Aku mau ke perpustakaan dulu. "
"Wuiihh tumben ke perpus. Apa sekarang kau mau serius belajar. Ayo ku temani. "
"Ga usah. Aku bisa sendiri. " Dengan cepat Firman pergi meninggalkan temannya yang kebingungan.
Firman merasa tidak sudi diperlakukan Salwa, ia harus mencari segala cara untuk menarik simpati Salwa. Ia mencari-cari buku diperpustakan tentang muslimah, tentang buku tema cinta islami sampai akhirnya ia membuka buku tata cara sholat.
Di mesjid kampus, berkumpul lah para mahasiswa dan mahasiswi dalam sebuah perkumpulan islami untuk memperdalam ilmu agama. Mereka saling berdiskusi dan membuat acata keagamaan.
Firman masuk ke mesjid dengan celana robek dan baju kaos yang sangat gaul. Sangat kontras dengan tampilan dengan penghuni disana yang terlihat damai. Seorang pria berpeci hitam menyapa Firman.
"Assalamualikum. Ada yang bisa saya bantu? "
"Waalaikum salam. Emm begini, aku ingin berlajar sholat. " Firman menenteng sebuah buku tuntunan sholat sambil melirik ke arah para akhwat yang tidak lain ada disana duduk Salwa.
"Oh boleh, mari ikut dengan saya. Perkenalkan, saya Mahmud ketua organisasi ini. "
__ADS_1
Akhirnya Firman masuk ke wilayah yang paling dia anti, tapi karena Salwa ia akhirnya bekecimpung didalam organisasi ini. Niat hati Firman bukanlah belajar sholat atau mengaji melainkan ingin mengambil simpati Salwa.
Salwa melihat Firman masuk ke dalam Mesjid dan belajar bersa Mahmud. Hanya sekilas dia memperhatikan lalu dia asyik kembali dengan dunia nya.
"Sal, kau sudah lihat disana? " tanya teman Salwa sembari menunjuk arah Firman yang lagi belajar sholat.
"Kenapa? "
"Dia kan orang yang. "
"Husss... Jangan dihiraukan. Dia lagi belajar, nanti menganggunya atau membuatnya malu. "
"Oke."
"Hari ini aku dijemput oleh Mas Imran, jadi aku ga naik Bis. "
"Oh ya. Oke kalo begitu. "
Salwa menunggu Imran di depan kampus. Ia berdiri di bawah sembari sesekali melirik jam tangannya. 5 menit sudah Salwa berdiri menunggu Imran. Namun batanh hidung suaminya belum saja terlihat.
"Menunggu jemputan ya? " Firman datang menghampiri dengan moge nya.
"Tumben ga naik Bus, kalo kelamaan mending ikut aku saja. "
"Tidak, terimakasih. Menunggu saja. "
Bukannya berlalu pergi, Firman malah memarkirkan moge nya di samping jalan. Dan ia berdiri menemani Salwa.
"Kamu kenapa ikut disini, pergi saja duluan. Aku tidak masalah disini. "
"Ya ikut saja. Siapa tahu kamu butuh aku, yaa takutnya yang jemput kamu ga jadi gitu. "
"Jangan berkata yang bukan-bukan deh. "
Sayangnya cuaca tidak mendukung. Mendung mulai datang, Imran belum saja datang. Salwa langsung menelpon Imran. Namun tidak diangkatnya.
"Mendung Sal, sebentat lagi gerimis. Kau yakin masih mau menunggu. Ini sudah sore sekali. Kampus sudah sepi, ayo aku antar. " Tawaran Firman memang benar menggoyahkan Salwa. Apalagi cuaca mendukung ditambah telpon tidak diangkat oleh Imran.
" Apa Mas Imran baik-baik saja, " gumam Salwa.
__ADS_1
Tiba-tiba Firman menarik tangan Salwa mendekati moge nya yang terparkir. Ia langsung menaiki moge nya.
"Ayo cepat naik. Sebentar lagi hujan. " Firman memberikan helmnya kepada Salwa.
Tanpa berfikir panjang lagi, Salwa langsung naik ke moge Firman. Jelas saja sedikit susah, biasanya hanya menaiki motor bebek. Ini naik ke motor gede. Apalagi memakai jubah.
"Ya Allah. Maafkan hamba, maafkan aku Mas Imran, " Batin Salwa.
Akhirnya Firman berhasil membonceng Salwa dan ia bepapasan dengan kawan taruhannya. Dia hanya tersenyum sinis seakan sudah memenangkan taruhannya.
"Gila, kita kalah taruhan guys. Lihat Firman, dia sudah berhasil memboncengnya. Pasti baginya mudah untuk selanjutnya. " Kawan Firman berdecak kesal.
Rintik hujan semakin menghujam tubuh Firman, dengan gagah Firman dengan sengaja tidak memakai helmnya. Rambut panjangnya berkibar dihempas hembusan angin.
Hujan semakin lebat. Firman menghentikan mogenya di sebuah warung bakso yang tutup.
"Kita berhenti disini saja dulu. "
"Iya. " Salwa langsung turun dan duduk dibangku warung. Ia langsung mengambil ponselnya dan ia mendapati sebuah sms dari Mas Imran.
"Maaf Salwa, aku tidak bisa menjemput mu. Aku lembur karena ada akreditasi sekolah. Ammar sudah dititipkan dengan Bu Midah. "
Pesan itu membuat Salwa kecewa. Kenapa Imran baru saja memberi tahunya. Setidaknya ia bisa naik Bus dan tidak sampai seperti ini.
"Kenapa Sal? " Tanya Firman saat melihat wajah Wanita cantik dihadapannya terlihat kecewa.
💙Bersambung💙
💛Terimakasih Sudah membaca novelku
❤Jangan lupa like, komen dan vote
💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya
💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya
Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗
__ADS_1