Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 38 Apa yang salah dengan status Janda?


__ADS_3

Rumah Sakit. Salwa sengaja tidak langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Dinda. Dia menarik tangan Jessy keluar.


"Gimana keadaan Dinda Kak Jes?" Bisiknya kepada Jessy pelan


"Sudah mendingan, siang ini sudah di perbolehkan pulang."


"Apa tidak apa-apa kita merahasiakan ini dari keluarganya? "


"Mau bagaimana lagi. Dia meminta itu. keputusan ada ditangannya. Apa kau ingin dia tambah hancur? Saat ini saja mentalnya sudah hancur, ditambah hujatan yang akan dia terima nanti. Apa dia akan bertahan,"


Memang ada benarnya apa yang dikatakann Jessy terkait mental Dinda. Namun ada juga salahnya karena ini tidak melibatkan keluarga.


"Mungkin memang awalnya seperti itu, tapi keluarga tetap lah keluarga. Dan buat si pria, dia pasti akan mengulangi kesalahannya dan lari dari tanggung jawabnya. "


"Kita buat dia bertanggung jawab. "


"Bagaimana? Ini tidak akan ditangani polisi. Karena ini bukan kasus pemerkosaan. Ini atas dasar suka sama suka, " ucap Salwa sedikit meninggi.


"Sssttttt... Aku ada cara! " Jessy menutup mulut Salwa. Dan menariknya masuk.


Salwa masuk ke ruang perawatan Dinda. Dia sudah mulai pemulihan.


...■□■□■□■□■...


Hari minggu tepat tanggal 7 di kediaman Bapak Abdul Somad. Salwa dengan gelisah menunggu kedatangan orang yang ia nanti. Banyak hidangan yang disiapkan oleh keluarga Pak Somad. Tradisi menjamu tamu adalah prinsip keluarga Somad.


"Sudah sampai mana? " tanya Ibu kepada Salwa.


"Belum dibalas Bu. Masih centang satu. Mungkin karena perjalanan jadi tidak aktif. "


"Ya sudah jika begitu. Mending kamu bantuin Salma di dapur. "


Salwa pergi ke dapur, ada sedikit kekhawatiran di wajahnya. Salma melihat adiknya yang masuk ke dapur dengan wajah yang tampak gelisah.


"Santay saja Sal, lagi di jalan. Nanti juga datang kok. " Hibur Salma sembari menata kue.


"Iya Kak. "


"Ceritakan dong gimana pertemuan kalian. "


"Dia teman kuliah kok kak. Kaka tingkat sih. Aku hanya bersyukur dia tidak mempermasalahkan dengan janda ku. Padahal dia bujangan. "

__ADS_1


Bu Rosmiati masuk ke dapur tergopoh-gopoh. Dia menghela nafas sebentar untuk mengambil udara agar masuk ke dalam paru-parunya.


"Kenapa Ibu? " tanya Salma menghentikan kegiatan potong memotongnya di meja makan.


"Mobilnya sudah datang. Itu di luar. " Wajah Ibu Rosmiati yang masih mengatur nafas tersenyum lembut dan ia mengelus kepala Salwa.


"Semoga kau bahagia Nak, kau sudah banyak melewati rintangan yang teramat luar biasa. "


Salwa langsung memeluk Ibu nya haru. " Ibu... Terimakasih doanya. " Mereka saling berpelukan. Salma yang melihat nya langsung bangkit dari duduknya dan memeluk mereka berdua.


"Kak, awas meluknya, tangan kakak kan lengket bekas kue. "


"Hahaha iya iya... Tapi aku juga ingin dipeluk. "


"Hahahaha, " tawa mereka serempak.


Mereka larut dalam haru biru kasih sayang seorang Ibu yang sangat mengharapkan kebahagiaan anak-anaknya.


"Ayo Salwa kita ke depan untuk menyambutnya. " Ajak Ibu Rosmiati menarik tangan Salwa.


"Aku ikut. Aku penasaran calon Salwa. Bagaimana sih rupa calon adik ipar ku itu. Se handshome apa sih..." tangan Salma seakan ingin mencubit ke pipi adiknya untuk menggodanya.


"Kakak...! " teriaknya menghindar dan bersembunyi di balik tubuh Ibunya.


"Weee! " Salwa menjulurkan lidahnya membalas godaan Kakaknya.


Setelah semua siap, mereka berjalan beriiringan menuju halaman. Terlihat sebuah mobil Pajero putih masuk ke dalam halaman. Lalu beberapa pria keluar dari mobil itu. Namun sayang, yang keluar tidak ada Firman dan Ayahnya. Orang-orang tersebut bukan dari keluarga Hans.


"Ibu, mereka bukan dari keluarga Fir. " wajah Salwa langsung berubah dan menatap wajah ibunya. Ibu nya memandang lekat Salwa dengan wajah bingung.


"Apa maksud mu? "


"Mereka bukan keluarga Fir Ibu. " jantung Salwa mulai berdetak keras. Ia takut. Ia bingung.


Lalu tiba-tiba seorang pria yang familiar keluar paling akhir. Dia berjas sangat rapi, dia tersenyum dengan sangat menawan. Dia langsung bersalaman di tangan Ayah Salwa.


Salwa langsung mundur masuk ke dalam rumah dan melangkah cepat ke dapur. Wajahnya panik dan tampak gelisah. Dengan segera Salwa membuka handphonenya dan memanggil nomor Firman. Namun sayang tidak aktif.


"Salwa, kenapa jadi Hilman yang datang? " tanya Salma kepada adiknya yang sudah berada di dapur sibuk memegang handphone.


Salwa menggelengkan wajahnya. Wajahnya murung dan panik. "Kak, kemana Fir? Dia belum saja datang. Apa dia berubah fikiran. Jangan-jangan dia mengurungkan niatnya karena aku janda. Atau keluarga besarnya tidak setuju. Atau Ayahnya tidak merestui. "

__ADS_1


Dengan cepat Salma menutup mulut Adiknya yang berandai-andai.


"Ssstttttt.... " telunjuk Salma menutup bibir Salwa.


"Dik. Tetap berfikir positif. Jika kau berjodoh dengan Fir. Lautan api tidak akan jadi penghalang. Wajar, dia masih di jalan. Apalagi dia dari kota berbeda. Istighfar ya Salwa. Berdoa kepala Allah Sang Pemilik Skenario Baik. " Salma menekan bahu Salwa yang tampak gemetar agar menguatkannya menghadapi apa yang baru saja terjadi. Lalu ia memeluknya.


Ibu Rosmiati masuk. "Salma, Salwa ayo suguhkan kue nya. "


"Biarkan aku saja Bu," Salma menggantikannya.


Ibu Rosmiati langsung memeluk Salwa. Dia tahu hati anaknya sedang kalut. "Ibu, buat apa Hilman datang ke rumah kita? "


Rosmiati melepas pelukannya dan memandang mata anaknya yang berbinar. Menyembunyikan air mata yang mau tumpah.


" Dia ingin melamar mu. "


"Astaghfirullah... Dia sudah punya istri Bu. Aku tidak mau menjadi orang ketiga. Aku menunggu Fir. Kenapa Hilman yang datang. "


"Jangan khawatir, keputusan ada di tangan mu. " Rosmiati mencoba menenangkan hati anaknya.


"Aku tahu Bu, tapi aku khawatir Bu tentang Fir. Aku tidak, tidak ingin menduga duga yang buruk. Apa karena aku janda bu? Apakah status janda ini begitu menjijikkannya? "


"Tidak sayang. Tidak... Kau tidak boleh berfikir seperti itu. "


"Tenang lah Salwa, hadapi ini dahulu. Nanti kita akan mencari tahu kabar Fir. " Elus Rosmiati ke kepala Anaknya. Ia ingin memberikan kekuatan kepada anaknya. Ia tidak ingin anaknya mendapatkan hal buruk kembali.


"Ya Allah, lancarkan segalanya untuk anak hamba Salwa Hanifah. Jika memang ia berjodoh dengan Firman. Jika tidak, tunjukkanlah yang terbaik untuknya. Aku berserah kepada Mu Ya Allah. Kau lah Segala Nya yang Maha Pengatur. Aamiin. " Doa Rosmiati dalam hati dan tangannya tidak lepas dari pelukannya ke tubuh Salwa.


Hilman dan keluarganya bertamu dengan niat untuk melamar Salwa menjadi istri kedua nya. Tentu saja Salwa langsung menolaknya dengan halus. Meski dahulu pernah nama Hilman mengisi hatinya, Namun Salwa pantang untuk mengisi kursi ketiga dalam rumah tangga yang sudah ada ratunya.


Apa yang akan dikatakan orang kampung si Salwa anak Pak Somad jadi bini ke dua. Pasti nanti dikira dia awalnya adalah seorang pelakor. Di Negara ini istri kedua pasti di pandang hina dan disebut pelakor meski diambil dengan baik. Ada saja pandangan buruknya.


Pukul 05.00 sore. Tidak ada juga kabar dari Fir. Handphone Salwa sunyi, tidak ada notifkasi pesan atau panggilan yang masuk. Salwa sangat murung, dia membersihkan piring-piring bekas tamu yang tidak ia harapkan. Bulir air matanya jatuh. Sudah lama ia menahan tangisnya. Dia menangis sambil mencuci piring.


"Ya Allah, ujian kah ini untuk ku. Kau hadirkan dia dengan begitu cepatnya. Lalu hari ini hati ku terasa dihancurkan dengan batu sampai remuk tak berbekas. Ampuni dosa ku Ya Allah. Ridhoi aku Ya Allah. "


Doa Salwa di hati nya sembari mengusap-usap spone pencuci piring ke piring yang sudah bersih.


Salma yang melihat adiknya seperti itu ingin meraih bahunya untuk memeluk dan menggantikan cucian piringnya. Namun Ibu Rosmiati menarik tangan Salma dan menggelengkan kepalanya. Salma menuruti perintah Ibunya untuk memberikan waktu kepada Salwa.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Jangan lupa Subcribe, Like dan tinggalkan jejak kalian dikoment😍


__ADS_2