
"Salwa! " teriak suara pria memanggil nama Salwa.
Salwa langsung menengok ke belakang, betapa terkejutnya dia. Orang yang memanggilnya tampak lusuh, memakai celana jeans, baju kaos abu-abu dengan jaket kain hijau yang sudah pudar. Rambut nya yang tidak rapi, wajahnya tertutup jambang yang lumayan lebat. Namun sorot mata nya sendu dan terlihat jelas bulir air mata terkandung di matanya.
"......" Salwa memperhatikan pria itu. Dari ujung kaki sampai ke kepala. Terasa familiar. Ia coba dekati perlahan meski ada ragu. Ia takut jika dihadapannya hanyalah seorang penipu.
"Mas Im.... ran? " ucapnya terbata. Cukup sulit mengenalinya, Namun Salwa akhirnya bisa mengenalinya juga.
Ia tersenyum saat Salwa memanggil namanya. Wajahnya yang tegang berangsur ceria.
"Dari mana Mas Imran tau Salwa disini? Mas Imran sudah bebas? "
"Iya Dik Salwa. Mas udah bebas, tapi Mas belum pulang ke rumah. Mas takut sama Bapak, " ucapnya getir. Ada rasa kekalutan yang teramat banyak di hati nya.
"Tapi Mas harus tetap pulang kan. Bapak tidak akan tegas dengan Mas. Mas tetap anak Bapak. " Salwa mencoba menenangkannya.
"Maaf ya Sal, aku tadi mengikuti mu dari kampus. Karena kan kamu sudah pindah dari kontrakan kita dulu. Kamu masih belum menikah Sal? "
"Sudah Mas, aku sudah menikah. "
Mendengar itu Imran terasa hatinya dicabik-cabik. Namun ia mencoba tegar.
"Alhamdulillah, dengan siapa Sal? Apa dengan ustadz dulu? "
"Bukan Mas. Nanti jika ada waktu pasti aku kenalkan Mas. Ini Mas buat ongkos. Maaf hanya bisa segini. Hati-hati dijalan. Salam buat Bapak ya Mas. "
Salwa langsung masuk ke mobil dan ia berpamitan dengan Imran. Wajah Imran terdiam lesu melihat Salwa pergi, senyumnya yang ia tampilkan di hadapan Salwa seakan palsu. Memang salahnya sendiri, nasi sudah menjadi bubur. Salwa yang ia cintai pun telah dimiliki orang lain.
"Siapa tadi Non? "
"Oh, dia itu mantan suami aku Pak, " jawab Salwa ringan, dia tidak perduli apa tanggapan Pak Dwi.
"Ooohh... " pak dwi hanya mengeluarkan huruf O dengan panjang. Lalu dia diam membisu. Seakan pertanyaan tadi adalah hal yang sangat salah dilontarkan.
" Pak, tolong rahasiakan ini ya Pak dari Mas Fir, aku takut dia banyak fikiran. "
"Siap Non. Hee... Maaf ya Non kalo boleh tahu, kok Non sama Mas yang tadi tu jadi pisah? "
"Enggak, enggak apa-apa Pak Dwi. Tidak cocok Pak, dia mementing dirinya sendiri sampai lupa punya istri. Pokoknya sudah ga ada kecocokan saja. " Salwa sengaja tidak menceritakan dengan sebenarnya. Karena meski dia sudah menjadi mantap, tetap lah aibnya. Dan ia tidak mau menyebarkan aib mantan suaminya.
"Semoga Non Salwa Sama Den Fir langgeng ya Non, bahagia sampai maut memisahkan. " doa Pak Dwi sambil matanya tetap fokus ke jalan depan.
"Pak Dwi sudah menikah? "
__ADS_1
"Sudah Non. Tapi istri saya di kampung. Jadi kadang sama Pak Hans. Saya izin pulang 1 bulan sekali. " Pak Dwi tersenyum mengingat kebaikan Pak Hans.
"Pak Dwi sudah lama kerja sama keluarga Fir? "
"Oh lama Non, dari waktu Den Fir masih SMP. "
"Wah lama juga ya Pak, jadi Pak Dwi ketemu dong sama Ibu nya Mas Fir? "
Wajah Pak Dwi terlihat berkerut dan menunjukkan rasa tidak nyaman membahas ibu Fir.
"Sebenarnya, pernah bertemu 1 kali. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Pantang Non di rumah mah ngebahas tentang Nyonya. "
"Loh kenapa? "
"Anu, Tuan dan Nyonya kan pisah karena ada orang ke tiga. Terus, Den Firman yang jadi korban. Makanya dia masih kaya kekanak-kanakan Non. Karena kurang sosok seorang Ibu. "
"Fir tidak pernah menceritakan itu, Pantas saja terasa ada yang mengganjal jika Pak Hans bersama Fir. Seakan 2 kutub magnet berbeda, saling berlawanan. "
"Iya Non. Karena ada Non saja sekarang jadi adem anyem gini di rumah. Dulu mah capek dengar perkelahian mereka saja. Bahkan kita-kita yang ga tahu apa-apa juga kadang terbawa-bawa. "
"Waah, gawat juga ya. Memang permasalahan nya apa Pak Dwi? Orang ketiga yang bagaimana maksudnya ? " telisik Salwa lebih dalam kepada Pak Dwi . Salwa ingin mengetahui lebih dalam tentang keluarga paham , Ia berpikir Jika ia mengetahui permasalahannya . Kemungkinan bisa diselesaikan dengan secara baik-baik .
" Anu Non Salwa , Intinya kalau tidak salah cerita di si Minah, ada orang ketiga dalam keluarga Pak Hans . Tapi orang ketiga itu kami tidak tahu apakah itu dari paham atau dari nyonya ."
" iya Non , tapi ya Non jangan dibahas kalau di rumah . Pantang sekali non kalau membahas ini di rumah !"
" Iya Pak Dwi tenang, aman ! "
" Non kita sudah sampai , masuk saja dulu. Nanti barang-barang saya yang bereskan . "
" Terima kasih ya Pak !" Salwa masuk dan menuju ke kamar pengantin.
Salwa masuk ke rumah keluarga Hans dengan predikat Seorang Istri dari Fir . Ia tatap keseluruhan rumah. Di dalam ruang keluarga duduk Fir.
"Loh, kok disini? Memang sudah baikan? "
"Aku bosan di kamar terus. Jadi aku nekat kesini. Sepi...ga ada kamu. "
Salwa duduk di samping Fir. "Tentu sepi. Bapak sama aku pergi. Oiya, setelah sayang sembuh dan mengurus Buku Nikah juga selesai. Kita piknik yuk sama Bapak ke pantai. Gimana? "
Mendengar itu, Fir manyun.
"Kok Manyun gitu... Ga bagus ya rencananya? "
__ADS_1
"Aku mau nya itu.... Honey moon ke bali. "
Salwa langsung menepuk kan kedua tangannya sampai membuat Fir kaget. "Nah kan pas ke pantai. Namanya honey moon tapi dengan Bapak juga. "
"Enggak. Mana ada orang honey moon bawa orang tua. Ga ada sejarahnya. Males aku. "
"Yaa, kita buat sejarah kita sendiri. Undang keluarga aku juga. Kaya family gathering gitu. "
"Nanti malah ga bebas. Aku itu mau nya hanya ada kamu dan aku Salwaaaaa imut caem swetyyy aku... " Fir mencubit kedua pipi Salwa karena ia greget sekali dengan Salwa.
" Aaahh lepas, pipi Salwa sakit.... Kan kalo berdua saja sepi... Kan ada waktu nya juga. Hanya kita berdua dan bersama keluarga. " Salwa menjelaskan dengan pelan sembari mengelus kedua pipinya yang memerah akibat di cubit Fir.
"Hahaha, iya iya honey bunny sweety ku sayang. Kita family time nya gitu. "
"Ide bagus Salwa. Aku setuju! Undang Ayah Ibu mu dan Keluarga kakak mu. Aku akan menyewa pesawat jet pribadi serta penginapan yang private hanya untuk keluarga kita. " ucap Hans datang dari luar. Rupanya Hans sengaja menguping pembicaraan Anak dan menantunya.
"Haaahhh. Masyaallah. Bapak, " ucap Salwa terkejut dengan ide gila ayah mertuanya.
"Tapiiii ada 2 syarat untuk kalian! "
"Hah, syarat apa lagi! Ayah terlalu banyak syarat, " ucap Fir sedikit kesal. Emosi Fir seperti selembar tisu itu sangat mudah tersulut jika berhubungan dengan Ayahnya.
"Apa itu? " Tanya Salwa menunggu.
"Yang pertama, untuk kamu Salwa menantu ku. Jangan panggil aku Bapak. Tapi panggi aku Ayah. "
Salwa pun tersenyum manis, " Tentu Ayah, itu sangat mudah. Lalu yang ke dua? "
"Emmm yang ke dua nanti di rahasiakan. Belum saatnya. " Hans mengedipkan matanya dan mengancungkan telunjuknya.
"Oke Ayah, Aku juga punya 1 syarat untuk Ayah dan Fir. " Salwa memasang wajah serius.
"Loh aku kok diikut sertakan sih Sal. Aku ga suka ah terlalu banyak syarat.... "
"Eeiitsss tidak ada tapi-tapian. Kalo ga mau, aku ga jadi ikut. " Salwa langsung berkacak pinggang menghadap Fir.
"Yeeee. Itu namanya bukan honey moon, Bad moon kalo ga ada kamu. "
"Hahahaha... " Hans dan Salwa tertawa mendengar dan melihat reaksi Fir yang sangat jengkel.
BERSAMBUNG
Jangan lupa, like, vote, komen dan subcribe
__ADS_1