Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 51 Sifat iri yang mendarah daging


__ADS_3

"Ssttt.... Biar kan saja. Mana ada jam segini ngetuk pintu. "


Tok.... Tok... Tok...


"Den... Den... " teriak suara diluar.


"Mas, sepertinya suara Minah. Ayo cepat, siapa tahu penting. "


Dengan bergegas Fir langsung mengambil pakaian piyama nya begitu pula Salwa. Setelah dirasa selesai. Dia membuka pintu dan berpura-pura menguap di depan Minah.


"Aaahhhh, ada sih Minah, malam-malam begini. Aku masih ngantuk. "


"Anu Den. Bapak... Bapak. "


"Bapak kenapa? " Terkesiap delik mata Fir saat mendengar ada kegugupan di nada bicara Minah.


"Bapak... Den. " Minah menarik tangan Fir dengan cepat dan mencoba membimbingnya ke ruang tengah.


"Aaayaahhhh! " teriak Fir saat melihat tubuh Ayahnya bersimbah darah dan sedang memeluk tubuh wanita yang tergeletak di lantai dengan luka di kepalanya. Terlihat Tante Melinda berdiri dengan beberapa bercak darah di tangannya. Mata Fir menangkap sebuah botol minuman di dekat kakinya.


Dengan segera ia berlari ke bawah dan mencoba mengguncang tubuh Ayahnya agar terdasar.


"Fir, Ibu mu!" ucapnya lirih dengan mata nya yang berbinar menahan tumpahan air mata.


Dengan cepat, Fir mencoba meraba tangan ibunya yang sudah lemas tak berdaya karena dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Cepat panggil ambulans. Cepat! Ujang, Pak Dwi... " teriak Fir tidak karuan. Meski Ibu yang ia benci, tapi tetap lah dia seorang Ibu kandung satu-satunya ia miliki. Ia tidak rela ini terjadi.


"Astaghfirullah. Ayah! " teriak Salwa melihat dari atas.


"Salwa, tetap lah di atas sayang! " Titah Fir kepada Salwa.. Ia tidak mau Salwa semakin jelas melihat genangan darah merah di lantai ini. Ia tidak ingin semakin kelam kenangan malam ini. "


...■□■□■□■□■...


Ambulan datang dan sudah membawa Yola Ibunya Fir serta Hans menuju rumah sakit. Bersamaan itu, polisi sudah memborgol tangan Tante Melinda.


"Tunggu Pak Polisi. Boleh saya berbicara dengan Tante Melinda? "


"Baiklah, 1 menit saja. "


"Tante, apa maksudnya ini semua? Apa yang terjadi ? " tanya Fir pelan.

__ADS_1


"Ini semua karena Ayahmu terlalu plin plan Fir. Aku sudah tidak sabar lagi mengemis cinta darinya. "


"Lalu, kenapa jadi sampai Kau melakukan hal ini. "


"Aku sudah lelah, Ayah mu sebenarnya tidak bersalah. Hanya karena aku yang terlalu serakah, aku hasud Ayah dan Kakekmu untuk membenci Ibu mu. Tapi setelah kepergian ibumu, bukannya memiliki Ayahmu. Tapi aku malah terombang ambing dalam ketidak pastian rasa Ayah mu.


Tapi, setelah kedatangan Ibu mu hari ini. Aku dapat memastikan. Yang seharusnya ku singkirkan adalah Hans. Tapi sayang, Yola melindunginya. Dan ia celaka. Hahaha, tapi aku puas bisa membuat Hans menderita. Semoga ibu mu mati saja! Jadi tidak ada yang akan hidup bahagia, baik itu aku, Hans atau Yola." Teriak Melinda dengan wajah tegangnya akibat menahan frustasinya.


"Cepat, ayo jalan! " bentak Polisi itu menyeret tubuh Melinda memasuki mobil mereka. Dengan segera mereka pun pergi meninggalkan kediaman Keluarga Hans.


"Fir Kamu tidak apa- apa sayang? " Tanya Salwa yang sudah turun dari lantai atas. Ia peluk Firman dengan erat, ia raba dadanya untuk menenangkan suara degup jantung yang berdetak keras.


"Ayo kita bersiap menyusul ke rumah sakit. "


...■□■□■□■□■...


"Ayah, bagaimana keadaan Ibu? " Fir menghampiri Ayahnya yang terduduk lesu di depan ruang operasi.


Hans menggelengkan kepalanya, karena memang ia belum mengetahui pasti keadaan Yola. Fir meraba bahu Ayahnya. Mencoba menenangkan kekalutan hati Ayahnya yang masih dalam keadaan syok dan tidak percaya apa yang telah ia alami.


"Aku,... Aku tidak tahu. Seharusnya aku saja yang luka. Bukan Ibu mu. Jika terjadi apa-apa. Aku tidak akan memaafkan diri ku. " Rengek Hans seraya menarik narik rambutnya sendiri. Dia benar-benar merasakan kebodohannya selama ini.


"Fir, jangan ulangi kesalahan Ayah Nak. Aku tidak mempercayai Istriku. Aku terlalu percaya orang lain. "


Salwa meraih tangan Fir dan menggenggamnya kuat, Ia tatap wajah Fir dengan lekatm butir lensa mereka saling bertaut untuk saling menguatkan satu sama lain.


"Permisi, Keluarga Ibu Yolanda? "


"Betul, Saya suaminya, bagaimana dengan istri saya? " Hans langsung berdiri di hadapan Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


Tangan Dokter memegang bahu Hans, dia menguatkan secara emosinal kepada Hans.


"Tenang Pak, Istri Anda sudah keluar dari masa kritisnya. Ada 17 jahitan dikepala nya akibat benturan itu. Dan kami pun sudah mengeluarkan beling-beling yang tertancap di dalam kepala istri Anda.


Jadi, untuk berjaga-jaga. Istri anda masih berada dalam ruang ICU. Kita lihat keadaannya besok. Jika memungkinkan baru Istri Anda akan dipindahkan ke ruangan perawatan. Baru lah Anda bisa menemaninya dalam masa penyembuhannya. " Dokter itu senyum setelah memberikan penjelasan panjang lebar dan beranjak pergi dari hadapan Hans dan Fir.


"Alhamdulillah. Terimakasih dokter. " Hans terduduk. Ia langsung bersujud syukur memanjatkan syukurnya.


"Syukurlah Ayah. "


"Alhamdulillah. Setelah kejadian ini semua. Masalah masa lalu terbuka lebar. Kejadian dahulu ternyata rekayasa Melinda saja. Padahal, Ibu mu tidak salah apapun. Ditambah, Kakekmu dahulu termakan hasutan Melinda. Dia sangat menyukai Melinda dan ingin menjadikan istri Ayah.

__ADS_1


Ayah fikir, dahulu ibu mu lebih mementingkan uang dan pergi meninggalkan aku demi pria lain. Ternyata itu semua hanya akal akalan Melinda. Betapa bodohnya aku, kenapa aku tidak mencari tahu sendiri, malah mempercayai orang. Bodoh, bodoh..."


"Sudahlah Ayah, jangan sesali masa lalu. Pasti ada hikmah yang terjadi. Alhamdulillah semua nya sudah terbuka lebar. "


"Maafkan aku yang memisahkan dirimu dengan ibumu Fir. "


Fir memeluk Ayahnya dengan lekat. Salwa melihat itu pun menangis, ia terharu bahwa anak dan Ayah sudah berbaikan meski banyak yang mereka lewati pada malam ini.


"Baiknya kalian pulang saja. Beristirahatlah. Besok masih harus menerima tamu. Aku akan berjaga menemani Ibu mu. " Tatap Hans kepada Salwa dan Fir. Dia memberikan senyum yang sudah kuat dan tabah.


"Baiklah Yah, beri kabar jika Ayah memerlukan bantuan kami. "


Firman dan Salwa pun pulang menuju rumah untuk beristirahat dan menyiapkan pesta untuk besok.


Pagi Hari.


Semua sudah siap menerima tamu undangan, satu persatu undangan datang dan mereka lebih banyak dari teman kampus Firman dan Salwa. Termasuk dosen dan juga Zahrana dan Hilman.


"Lihatlah, wajah Salwa tersenyum. Aku muak melihatnya. Kak Firman direbutnya, tahu-tahu dia menikah dengan nya. Apa memang pelet dia sangat manjur. "


"Husss kamu ini, datang ke pesta pernikahan orang. Malah jadi kepo bin julid. "


"Ternyata benar ya dia menikahi si janda itu. " Timpal Zahrana ketus. Kebahagiaan Salwa adalah derita baginya.


"Jadi Ibu Zahrana juga tidak suka dengan Salwa itu!? Lalu buat apa hadir kepernikahan ini? " Tanya perempuan itu yang juga tidak suka dengan Salwa karena kalah dalam merebut hati Fir.


"Aku hanya ingin memastikan saja. "


"Hei, Ibu Zahrana sudah datang dan kalian juga. Nikmati hidangannya ya. Terimakasih sudah datang, " Ucap Salwa dengan wajah yang berbunga-bunga dan sembari menyilangkan tangannya di balik tangan Fir. Ia sengaja bersikap sedikit manja untuk memanas manasi mereka.


"Terimakasih sudah hadir. Ayo sayang kita kesebelah sana lagi. Mari. " Sahut Fir seraya mengelus tangan Salwa.


Melihat Fir dan Salwa yang penuh kemesraan, wajah mereka langsung berubah menjadi sinis dan kecut karena keiri an mereka.


"Awas saja kau Salwa! " Gelas di tangannya ia genggam dengan kuat.


"Tunggu Sal! " panggilnya dengan berlari kecil.


BYUURRRRR...


Gelas itu tumpah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2