
"Kamu pulang duluan saja ya Salwa. Aku masih sibuk melayani pelanggan. "
"Baik Mas. Aku duluan ya sama Ammar. Yuk Ammar kita pulang. "
Hanya cukup berjalan kaki saja, Salwa pulang bersama Ammar. Dia perlahan menuntun Ammar yang asyik dengan balon nya yang baru di beli di samping toko. Karena bertepatan toko Imran di depannya ada sekolahan. Sehingga banyak penjual keliling yang nangkring.
Yaa namanya juga anak-anak. Melihat mainan pasti akan tertarik untuk membelinya.
"Apa kamu suka Ammar balon doraemonnya? " Tanya Salwa sembari mengayunkan tangan Ammar.
"Suka sekali. Besok beli lagi ya. "
"Kenapa? Kan 1 aja ga habis balonnya. "
"Mau balon yang beda gambar lagi. "
"Oh iya. Nanti minta uangnya sama Ayah ya. "
Ammar pun dengan senang membawa balonnya yang kadang terayun ayun di bawa angin. Dia melangkahkan kakinya dengan sesekali bersenandung lagu anak-anak.
Ada ibu-ibu berkumpul, mereka berbisik-bisik. Salwa hanya senyum dan menyapa.
"Permisi Bu. "
"Iya, " Sahut mereka serempak. Dan lanjut lagi dengan bisik-bisik mereka.
Sedikit risih dengan sikap mereka, tapi tidak ada urusan bagi Salwa. Apalagi dia pendatang baru. Jadi tidak perlu mau tahu ataupun cari tahu. Apalagi Salwa bukan tipe penggosip. Ia tetap melangkahkan kakinya menuntun Ammar.
"Dik, dik... Tunggu dik! " Sapa seorang laki-laki.
"Saya Pak? " Tanya Salwa bingung. Salwa memperhatikan laki-laki itu. Dia memakai baju batik dengan peci hitam. Rapi dan dilihat bukan tampang orang breng-sek. Dia membawa map dan satu buah handphone.
"Kenalkan saya Samsul ketua RT gang ini. Kamu orang baru ya, dimana kamu tinggal? "
"Oh, Salam kenal Pak. Saya Salwa istri Imran. Yang tinggal di kontrakan pintu 1." sengaja Salwa memperjelas bahwa ia adalah istri Imran.
"Oh, istri Imran. Kalo gitu, nanti bilang sama Imran ya. Berkas kartu nikahnya dan ktp kamu diserahkan ke RT. Kan harus mengurus kepindahan penduduk dan pendataan sekalian. "
"Oh inggih Pak. Nanti saya sampaikan. "
"Kok bisa dik Salwa ini menikah sama Imran. Kenal dari mana? Asli orang mana kamu Dik?"
__ADS_1
"Dari kampung Pak G*****. Hehe dijodohkan Pak, "
"Loh, zaman sekarang kok bisa ya masih ada dijodohkan. Hahaha. Tapi beruntung sih Imran dapat kamu. Kalo aku dijodohkan sama kamu, aku mah mau juga. "
"Hehe. Bapak bisa aja. " Salwa sudah menangkap hal yang tidak jelas dari gelagat pak RT ini. Matanya itu jelalatan. Dia memandang Salwa dari ujung kaki keujung kepala.
"Pak RT. Ngapain Pak? " teriak salah satu warga.
"Anu , pendataan iki lo. Penduduk baru. Mari dik Salwa. Aku kesana dulu. "
"Inggih Pak. " Salwa pun bergegas pergi. Sedangkan Pak RT itu pun pergi menghampiri warganya yang memanggil.
"Ngeri ya. Kok dikota ini orangnya agak rada-rada gimana gitu," gumam Salwa.
"Kaka jalannya jangan cepat. Ammar capek, " Rengek Ammar karena kecapean mengikuti langkah Salwa yang laju. Ia kelupaan bahwa ada Ammar yang ia tuntun.
"Astaghfirullah. Maaf kan Kaka ya Ammar. Ya udah. Sekarang Kaka pelan jalannya. "
"Kan jadinya haus. "
"Iya, tahan sebentar. Sebentar lagi sampai kok. "
Baru saja mau sampai ke kontrakan, ada suara ribut-ribut. Salwa melangkah perlahan, karena semakin ia menuju kontrakannya maka keributan itu semakin terdengar.
PRANKKKK... Suara panci terbang dan jatuh ke tanah.
PRAANKKKK... Sebuah piring kaca terbang kembali.
"Sabar bu Sri. Sayang barang-barang mu, " Teriak Bu Midah menahan Bu Sri yang sedang mengamuk kepada suaminya Pak Gusnandar.
Sedangkan Gusnandar menjauh dan berlindung ke balik pohon nangka.
"Awas kamu ya. Lebih baik aku dan kamu mati sekalian. " Bu Sri masuk ke dalam rumah dan mengambil derigen berisi bensin. Ia siramkan ke tubuh Gusnandar di balik pohon.
Bu Midah berteriak-teriak histeris. "Tolong... Tolong... Pak RT. Ayo tolong... " bu mudah melambai-lambai kepada Pak RT.
Pak Samsul Selaku Pak RT dan beberapa lelaki langsung berlari setelah anak tertua Bu Midah melaporkannya. Pak Samsul dan beberapa laki-laki menerjang dan menangkap Bu Sri yang kalap mau memantik korek api. Sedangkan Pak Gusnandar di bawa menjauh oleh warga yang lain.
"Wah ga bener ini, Ammar. Ayo kita balik lagi ke toko. " Salwa langsung memeluk Ammar. Ia takut anak kecil harus melihat kejadian perkelahian orang dewasa.
"Aduh Kak. Aku capek. "
__ADS_1
"Ya sudah, aku gendong kamu. " dengan cepat Salwa menggendong Ammar yang lumayan berat. Dia ngos-ngosan menggendong dan sedikit berlari.
"Ya Allah, baru 1 hari tinggal di kota ini. Sudah ada banyak yang aku saksikan. Tidak seperti dikampung suasananya adem tentram. "
"Loh, kamu kenapa balik? " tanya Imran yang sudah menghentikan sepeda motornya saat melihat Salwa menggendong Ammar berlari panik.
"Anu Mas. Ga usah balik dulu kerumah. "
"Lo, memangnya kenapa? "
"Pak Gusnandar sama Bu Sri berkelahi. Mereka mau bakar-bakar diri sendiri. Itu lagi dilerai oleh Pak RT. Aku takut Mas. Apalagi tidak baik Ammar menonton hal seperti itu. "
"Oh ya udah. Ayo naik. Kita putar balik aja. Kita jalan-jalan saja. "
Salwa pun naik ke motor Imran. Dan Imran pun langsung memutar haluannya keluar gang.
"Horeee jalan-jalan! " teriak Ammar yang duduk di depan Imran. Akhirnya mereka bertiga tidak jadi pulang ke kontrakan. Mereka jalan-jalan keliling kota S*******.
Gelak tawa Ammar membuat hati Imran dan Salwa senang, karena hirup pikuk dan banyak hiburan dikota. Akhirnya Salwa melupakan kejadian tadi yang membuat jantungnya panik. Tidak pernah dia menyaksikan sebuah pertengkaran rumah tangga. Bahkan Ibu dan Ayahnya tidak pernab terlihat berkelahi. Begitupula Kak Salma dan Kak Zainal. Mereka semua seakan baik-baik saja.
"Semoga saja rumah tangga ku dengan Mas Imran baik-baik saja. Sakinah mawaddah wa rahmah. Aamiin. " Doa Salwa dalam hati. Ia tidak tahu apa yang akan dia hadapi di masa depan. Namun doa selalu ia panjatkan. Sang Maha Kehidupan pasti membuat skenario yang terbaik untuk setiap hambanya.
Itu yang Salwa yakini, tinggal manusianya menerima dengan ikhlas atau tidak. Mampu atau tidak dalam melewati setiap ujian dan cobaan.
"Semoga Bu Sri dan Pak Gus berbaikan kembali. " Doa Salwa kembali.
"Mas, udah mau maghrib. Ayo pulang. "
"Ayo, Ammar juga sudah tertidur ini. "
Mereka pun pulang menuju rumah kontrakan mereka yang kecil.
💙Bersambung💙
💛Terimakasih Sudah membaca novelku
❤Jangan lupa like, komen dan vote
💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya
💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya
__ADS_1
Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗