Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 12 Kontrakan


__ADS_3

"Assalamualaikum Dik..., " ucap Imran sembari mengetuk pintu kontrakan.


"Tunggu Mas, " dengan segera Salwa memakai kerudungnya dan berjalan cepat membukakan pintu.


"Alhamdulillah sudah sampai," jawab Salwa, ia sangat bersyukur Imran sudah datang. Ada tangan anak kecil di gandeng oleh Imran.


"Ammar, ayo bilang apa sama Ibu. Ini Ibu Salwa sayang. "


"Ibu... " tatap netra polosnya ke wajah Salwa. Dan ia langsung berpaling dan bersembunyi di balik kaki Imran. Tentu saja ia takut dan malu dengan wajah orang asing yang baru. Meski wajah itu sangat lembut dan teduh.


"Ayo, ayo cepat masuk. Kok lama Mas, aku kan jadi khawatir. Jauh ya? "


"Engga kok, tapi tadi di tahan Amir dulu. Nih mereka ngasih ini. Jadi kita ga perlu masak untuk makan malam ini. " 1 buah kantong plastik hitam besar di serahkan Imran. Rupanya itu adalah nasi beserta lauk lengkap.


"Alhamdulillah. Ayo Ammar sini sama Ibu. " Salwa mencoba merebut hati Ammar agar ia dekat dengan anak angkat Imran.


Ammar hanya duduk di samping Imran, dia belum mau mendekati Salwa. Ia masih memperhatikan Salwa. Umur Ammar sekarang sudah 3 tahun. Artinya cukup lama Imran merawatnya sendiri. Pantas saja Ammar tidak terbiasa dengan orang asing.


"Besok aku akan ke toko. Kau mau ikut? "


"Iya, tentu. Aku tidak ingin tinggal di kontrakan. Mas... " Jelas terpampang nyata gurat kekhawatiran di wajah Salwa.


"Emm... Kenapa? "


"Tidak jadi. " Salwa tidak jadi mengatakan apa yang ia alami siang tadi. Saat bertemu pria yang bernama Gusnandar itu. Ia takut hanya perasaannya saja. Sama saja kan dia su'uzon pada orang lain.


Melihat Istrinya yang tidak jadi bercerita, Imran tidak memaksanya. Ia ingin istrinya membicarakannya dengan perasaan tulus tanpa terpaksa.


...▼△▼△▼△▼△...


Pagi Hari.


Salwa sudah menyiapkan makanan berupa telur dadar dan memakai kecap untuk menemani nasi yang panas. Menu paling sederhana yang bisa dibuat Salwa.


"Maaf Mas hanya ini dulu yang Salwa bisa. "


"Tidak apa, kan memang punya ini saja dirumah. Nanti kita kepasar buat beli sembako dan sayur. "


"Ayo Ammar aku suapin ya. "


"Kaka, " ucapnya pelan.


"Ammar panggilnya Ibu ya. Ibu Salwa. "

__ADS_1


"Enggak. Kakak, " teriaknya marah ke Imran.


"Iya, iya. Kakak Salwa juga ga papa ya. Tapi, harus makan dulu. Disuapin atau makan sendiri? ayo pilih mana? "


Dengan perlahan Ammar mengambil sendok dan makan sendiri. Dia malu mendekati Salwa yang masih dia anggapnya orang asing. Bahkan duduk selalu mendekati Imran.


"Ya sudahlah, aku tidak bisa memaksakannya. Nanti juga perlahan dia akan terbiasa dengan ku. "


Fikir Salwa.


Hari ini mereka bertiga berangkat ke toko di depan gang yang memang disewa oleh Imran sebagai tempat berjualan roti fresh. Di dalam toko itu ada beberapa kompor dan 2 open untuk memanggang roti. 1 set meja kursi untuk bersantai dan sedikit hiasan. Cukup nyaman.


Terpampang di spanduk beberapa menu roti yang best seller. Tugas hari ini Imran membuat roti, Salwa membersihkan toko yang lumayan lama tidak di buka. Kurang lebih 2 minggu. Selama acara pernikahan Salwa dan Imran.


"Assalamualaikum." Seorang pria datang, umurnya kurang lebih seperti Salwa.


"Waalaikum salam. Ada apa ya? "


"Oh, kamu pasti istri Imran kan. Kenalkan aku, Wahyu. Aku pekerja disini. "


"Salam kenal, Salwa. Imran ada di dalam. "


Wahyu tidak menjawab, dia langsung menyelonong begitu saja ke dalam untuk bertemu Imran. Mereka bicara dan selang beberapa lama ia sudah keluar dengan baju berbeda. Lalu ia membantu membereskan apa yang dikerjakan Salwa dan setelah itu membuka tulis closed menjadi open.


Salwa dan Ammar duduk di sofa kecil sembari menunggu pelanggan. Sangat membosankan, Wahyu pun memutar lagunya yang mengalun merdu.


Imran keluar dengan roti yang ia angkut dengan nampan besar dan diletakkan di etalase.


"Wahyu, apa kamu bisa bantu Salwa. Dia mau mendaftar paket C seperti kamu. Apa kamu bisa urus itu? " tawar Imran dengan logat santainya.


"Emm bisa bos, " Jawabnya sembari membentuk jarinya ala korea "sarangheyo" alias "cuan".


" Gampang, " jawab Imran senyum.


"Sepertinya kita seumuran saja, besok aku kenalkan dengan tim sekolah paket C nya. Persiapkan saja persyaratannya. "


Salwa mengangguk, dia tidak ingin terlalu berbicara banyak karena matanya masih mengawasi Ammar yang sedang bermain kesana kemari.


TRINGGGGG...


Pintu terbuka, pelanggan pertama masuk.


"Alhamdulillah. Ada juga yang datang. " Batin Salwa bersyukur karena jualan suaminya sudah ada yang membelinya.

__ADS_1


Ting Tong...


Masuk Whatsapp dari Salma. Lalu Salwa mengirimkan sebuah jepretan dirinya berada di toko roti Imran.


Ting tong...


Masuk lagi pesan, Salwa membacanya perlahan. "Bapak senang kamu sudah mulai tersenyum. Baik-baik di sana. Jangan menyusahkan Imran. Dan sering memberi kabar. "


Membaca pesan teks itu, Salwa tersenyum. Ya, dia akan mencoba meyakini pilihan jodoh keluarga lebih baik meski benar-benar kilat. Setidaknya Imran sudah berjanji akan memasukkan dia paket C.


"Kenapa melamun? " Imran datang dan menyapanya.


"Engga, tadi Bapak kirim Wa. Salwa kirim foto disini. Jadi bapak senang. "


"Alhamdulillah. Bilangin, kapan-kapan kesini. "


Salwa pun mengangguk tanda setuju. Ya untuk sekarang semuanya berjalan dengan baik dari pada hari-hari dimana tragedi dipondok itu. Tragedi itu selalu menghantuinya. Wajah-wajah persahabatan seketika menjadi permusuhan.


Karena itulah, Salwa sekarang tidak terlalu membuat status WA atau pun kabar dirinya di laman facebook. Semua foto di privasi. Dia seakan menghilang dan tidak ingin ditemukan di dunia. Dan terlebih lagi dia merasakan kurang percayanya kepada siapapun kecuali keluarganya.


Jika ada kata bunuh diri di kamus hidupnya, pasti lah itu yang akan di ambilnya. Sayangnya Islam melarang keras dan hukumannya jelas masuk neraka. Dan itu lebih menakutkan.


"Yah, tidak apa Salwa. Hanya sebentar. Mereka pasti akan lupa. Lagi pula aku difitnah. Tapi sayangnya mereka tidak percaya. Tega sekali Zahrana. Apa salah ku kepadanya? Apa aku pernah menyinggungnya. "


"Jangan melamun, nanti ke sambet baru tau rasa! " Ucap Wahyu saat lewat di depan Salwa.


"Hehe, kamu ambil Paket C juga ya? "


"Iya, keluarga ku tidak mampu. Makanya aku kerja sambil ambil paket C. Ini kan program pemerintah. Jadi biayanya ga mahal. "


"Apa bisa kuliah dengan ijasah paket C. "


"Bisa dong! " jawabnya singkat. Dia pun sibuk kembali melayani pembeli.


💙Bersambung💙


💛Terimakasih Sudah membaca novelku


❤Jangan lupa like, komen dan vote


💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya


💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya

__ADS_1


Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗


__ADS_2