Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 19 Surat Dari Imran


__ADS_3

Para ibu ibu gang di tempat kost an Salwa pada berkumpul sambil memilah milah sayur mayur di gerobak Mang Ujang.


"Eh asal kau tahu, itu tuh yang tinggal dikost pintu 1 itu. Suaminya hilang sudah 2 hari. Malah meninggalkan hutang beranak pinak, " Ucap salah satu ibu di depan gerobak Mang Ujang.


"Kata siapa kamu, yakin info kamu akurat? Tapi emang sudah lama sih ga lihat si Imran. "


"Ya tahu lah Bu Yanur, kan anak aku sekolahnya di SD tempat Imran bekerja. Semua teman kerjanya kena deh. Semua duit mereka dia pinjam pinjamin. "


"Ya ampun. Kok bisa ya. Apa karena judi online ya, atau pinjol? Apa istrinya tahu?"


Bu Midah datang untuk membeli sayur. "Woy kalian ini beli sayur apa ngerumpi sih. Lama sekali milihnya. "


"Iya nih Bu Midah, sayur saya pada layu mereka pegang-pegang. " Mang Ujang sewot karena kelamaan menunggu ibu-ibu yang mau berbelanja nyata nya mereka ngerumpi.


"Yaa Mang Ujang, Sayur Mang Ujang layu karena kena terik matahari. Kalau tangan kita yang megang, yang ada malah tegang. Hihihi. " Cekikikan mereka membuat manyun Mang Ujang.


"Alah Ibu ibu ni. Ayo cepat, beli kagak nih. Aku mau pergi ke gang sebelah lagi. Keburu layu kalo kesiangan. "


"Ya beli dong, Tapi aku kasbon. "


"Waduh Bu... Bangkrut aku bu bu, ogah ah... "


Salwa datang diantar oleh Mirna dan Firman. Wajah pucat Salwa jadi bahan berguncingan mereka dan ditambah penampilan Firman yang seperti anak nakal alias geng motor. Apalagi dengan jaket kulit berlambang geng motor serta celana jeans robek robek.


"Tuh lihat Salwa diantar temannya, modelannya begitu lagi. Macam anak geng motor. Kok bisa ya si Salwa itu temanan sama modelan begitu. Pergaulan sekarang ya. Hemmm..." julid salah satu ibu gang saat melihat Salwa di antar.


Setelah mengantar Salwa, Firman dan Mirna pulang. Ketika melewati kumpulan para ibu gang, Firman menyapa sekedar ramah tamah. Meski tampilan seperti geng motor, tata krama dan sopan santun tetap tidak hilang dan menjadi nomor 1 bagi keluarga Firman.


"Permisi ibu ibu. " Tidak lupa Firman memberikan senyuman mautnya yang khas. Lalu ia langsung tancap gas pergi dari sana. Disusul oleh Mirna.


"Iya ! " ucap ibu ibu gang serempak. Tidak lupa memperhatikan tampang Firman.


"Sstt.... Ternyata Anak motor itu tampan sekali ya. Mirip-mirip artis india. "


"Siapa? "


"Itu shahrul khan. "


"Alah... Gaya nya mau mirip miripan artis india. Nyebut nama aja salah. Shahrukh khan ibuuuuu. " Mang Ujang mengkoreksi ucapan ibu gang.

__ADS_1


"Hahaha, ibu ini bisa saja. Kalo shahrul mah suaminya ijah. Ya kan Bu ijah. "


Bu Ijah hanya bisa senyam senyum saja. Ketampanan Firman di akui oleh ibu-ibu gang. Sekali lirik saja, mereka sudah terpincut. Memang tidak bisa dipungkiri. Meski mata emak-emak, mereka paling nomor wahid jika ada pria tampan.


Terlihat di kejauhan Pak RT Samsul datang mengetok pintu Kost Salwa. Dan Salwa keluar dan berbincang dengan Pak RT. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua yang sangat serius. Ol


"Iihh Pak RT mah ganjen, tau aja kalo suaminya ga ada. Pepet terus. Iya sih pakaian Rohani, kelakuan Roh halus... Ga bisa lihat cewek bening sedikit. Mau di embat saja. "


"Bisa aja Bu Yanur ini kalau berkata-kata. Jujur sekali. "


"Ya udah deh. Nih Mang Ujang uangnya. " Bu Midah kembali ke kost an dan menyapa Salwa.


"Kamu kenapa pucat sekali Sal? Ada masalah? "


Salwa tersenyum meski bibirnya pucat pasi. Dia seakan tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan Bu Midah. Melihat keadaan Salwa yang terlihat sangat pucat Bu midah pun meletakkan sayurannya di teras lalu ia dengan segera memapah Salwa untuk masuk ke dalam, " Salwa, Kamu kenapa sih? Salwa, kamu sakit? Ayo bilang biar Ibu Midah bisa menolongmu." Bu midah memapah Salwa untuk duduk di lantai dia pun bersimpuh dan sambil memijit-mijit bahu dan tangan Salwa. Bu midah mengoleskan minyak kayu putih kepada Salwa.


"Tenang saja. Ammar pintar kok, dia di rumah ku. Kami wes tenang saja. Imran belum pulang Sal? " tangannya sibuk meluluri minyak kayu putih ke belakang leher Salwa. Salwa hanya bisa mengangguk pelan.


"Kemana itu suami mu Sal, dia lo orangnya selama tinggal dikontrakan ini ga pernah bikin masalah. Baik kok Sal. Apa dia punya teman tongkrongan? "


"Ga ada Bu. " Salwa menghentikan pijitan Bu Midah. Dia bersandar ke dinding. Dan menselonjorkan kakinya agar terasa lega. Sangat lesu sekali tubuh Salwa.


"Loh kenapa nduk? Ayo cerita sama ibu! " Peluk Bu Midah kepada Salwa saat melihat Salwa terisak menangis.


"Mas Imran Bu... Dia menghilang. Tapi setelah ku cari. Ternyata dia banyak berhutang kepada teman-temannya. "


"Waduh... Edan Imran. Kamu ya ga usah bayar, biar urusan Imran itu. "


"Tapi, aku takut Bu jika teman-temannya menagih hutang itu kepada ku. Ke rumah ini. "


"Ga bakal. Ta hadapin. Urusannya itu yo sama Imran. Wes, kamu ga usah panik. Fokus kuliah mu. Kamu sudah bicara sama keluarga Imran gak? "


"Sudah Bu, Kak Amir bilang jika sampai besok Mas Imran gak pulang. Dia akan melaporkan kehilangan orang. "


"Ya wes, kamu ga usah overthinking. Sabar dulu. Kamu belum cerita kan sama orang tua mu di kampung? "


"Belum Bu. "


"Nanti, sing sabar dulu ya. Kamu fokus dirimu dulu. Sehatkan badan mu. Oiya, Pak Rt tadi ngapain sama kamu? "

__ADS_1


"Nyari Mas Imran juga Bu. Katanya ada urusan yang belum selesai. "


"Oke. Tapi kamu harus hati-hati. Pak Rt itu mata keranjang. Aku takut istrinya ngamuk ke kamu. "


"Baik Bu. Insyaallah ga akan. "


"Assalamualaikum." Suara pria mengucapkan salam sembari mengetuk pintu kost Salwa. Bu Midah membuka pintunya. Terlihat Wahyu datang memberikan sepucuk surat.


"Dari siapa? " tanya Bu Midah.


"Dari Mas Imran."


Mendengar nama Imran, Salwa langsung berdiri sekuat tenaganya yang belumlah pulih dan langsung menghampiri Wahyu dengan segera. Meski harus tertatih dan bertumpuan ke dinding untuk menjangkau pintu luar.


"Kamu bertemu Mas Imran, di mana dia sekarang? Ayo bawa aku menemuinya."


Wahyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung menjawab sesuatu yang tidak ingin ia lontarkan di mulutnya. Karena jelas akan konsekuensinya. Namun Salwa mendesaknya dengan tatapan iba nya.


"Sebenarnya tadi Mas Imrannya datang sebentar saja. Ngambil uang stok di toko. Nitip surat itu buat Mba Salwa. "


"Kenapa kamu ga cegat? Terus dia kemana? "


"Ga tahu Mba. Mas Imrannya ga bilang apa-apa. "


Dengan segera Salwa membuka sepucuk surat itu. Dan ia membacanya dengan syok.


"Mbaaa! " Wahyu berteriak.


"Salwaaa! " Bu Midah terkejut dan langsung menyambut tubuh Salwa yang lemah dan jatuh pingsan.


"Wahyu... Tolong bantu aku. " Bu Midah minta pertolongan Wahyu untuk mengangkat Salwa dan membaringkannya ke kasur.


Bu Midah penasaran dengan isi surat itu, lalu ia mengambil dan membacanya.


"Astaghfirullah. Imraann! "


Bersambung.


Apa ya isi surat dari Imran?

__ADS_1


Jangan lupa like, kasih bintang 5 dan subcribe biar tidak ketinggalan update episode selanjutnya. 💐


__ADS_2