Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 6 Aku Milik Mu


__ADS_3

"Mau apa dia datang kemari? "


"Aku tidak tahu Kak, Mereka bicara dengan Bapak sama Mas Imran. "


"Hey kamu, apa kau sudah melakukan tugas mu sebagai istri? " colek Salma kepada adiknya nan polos itu.


"Apaan sih Kak maksud kamu, "


"Jangan pura-pura, malam ini kan malam jumat. Sunnah Nabi. "


Karena ada ibu nya, dengan sengaja Salma membisikkan ditelinga agar tidak terdengar. Dan itu membuat merah wajah putih adiknya.


"Astaga, apa kamu belum di unboxing! " Salma terkejut saat mengetahui adiknya masih sepolos kapas tentang perihal yang harusnya dipelajari sepasang pengantin baru.


Dengan cepat pula Salwa menutup mulut Kakaknya yang super kepo nan julid kepada adiknya.


"Ingat dek, kamu itu sekarang milik suami mu. Jangan bilang kamu masih mengharapkan Hilman. Oiya, aku ada kado untuk mu. "


Salma menarik Salwa untuk duduk. Lalu ia menyerahkan kado berpitakan warna pink. Salwa pun membukanya perlahan. Cukup lama Salwa memperhatikan sebuah kain seperti berbentuk jala jala tembus pandang dan 1 botok kecil minyak dan sabun berbentuk daun sirih.


"Ini kain jala apa Kak dan ini semua maksudnya apa? "


Salwa keheranan dengan kado yang diberikan Kakaknya, karena isi kadonya benar benar asing bagi Salwa. Begitulah Salma, ia seolah menjadi edukator pengantin baru.


"Ya ampun, ini namanya lengrie. Nanti kau pakai ini. Sebelum memakai, pakai sabun bentuk sirih ini dulu untuk **** * mu lalu kamu bilas. Setelah itu kau oleskan parfum ini di titik titik tertentu. Khususnya di sana. Malam ini kamu bisa praktekkan. "


"Tapi aku, "


"Tapi apanya, wajib Salwa. Kamu seorang istri. "


“Siapa saja di kalangan istri yang tidak berbakti dalam melayani suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia”. (HR Muslim)


"Kau pasti tahu dan belajar tentang hadist ini bukan. Hati-hati. Allah maha tahu hati mu. Kau mungkin bisa mencari alasan di hadapan manusia. Tapi tidak bagi Allah. "


Sedikit wejangan dari kakaknya Salwa untuk adik polosnya. Bergetar hati Salwa tat kala Kakaknya mengatakan hadist itu. Ya, ia sadar bahwa ia mencari cari alasan agar tidak melayani sepatutnya suami istri. Sedangkan Imran sudah menjadi suami sah nya sekarang.


"Astaghfirullah." Salwa beristighfar menyadari kekeliruannya.

__ADS_1


"Ada apa bisik-bisik? Kado apa itu, buat ibu mana? " Ibu Rosmiati yang dari tadi memperhatikan 2 anak perempuannya.


"Ibu, ini kado pernikahan yang tertunda buat Salwa. Ibu kan udah. Oleh-oleh dari madinah kemaren. "


Ya memang, Salma dan suaminya Zainal baru saja datang umroh. Dan ia khusus menyiapkan kado untuk Salwa dan Hilman. Namun ternyata, takdir berkata lain. Kado itu untuk Salwa dan Imran.


"Ooh begitu. "


Setelah mendengar penjelasan anak pertamanya, Ibu Rosmiati pun kembali ke dapur meninggalkan anak anaknya bercengkrama berdua. Salma menjadi tutor yang baik untuk adiknya yang belum melakukan Malam Pertama nya.


...■□■□■□■□■...


Imran baru pulang dari acara Tahlilan bersama Mertua dan Kaka Iparnya. Dia langsung masuk ke kamar dan tidak juga melihat kehadiran Salwa. Namun setelah ia perhatikan ternyata Salwa sedang berada di kamar mandi.


Selesai mengganti baju nya, Imran setengah rebahan di kasus sambil menggeser layar ponselnya. Sudah 6 hari menikah dengan Salwa dan tinggal di rumah Bapak Somad mertuanya, ia tidak berjualan roti keliling. Dan belum jadi suami seutuhnya.


Sadar bahwa Salwa belum saja keluar dari kamar mandi, Imran memastikan keadaan Salwa.


"Dek Salwa? Kamu kenapa, Kamu baik-baik saja kan! "


"Tentu, aku baik-baik saja. "


"Kau yakin? Kenapa kamu lama di kamar mandi? " Imran bertanya kembali. Ia takut istrinya sedang berada dalam kesulitan yang tidak dapat ia pecahkan sendiri.


Perlahan Salwa keluar. Imran memperhatikan kaki Salwa yang keluar terlebih dahulu. Dan mata Imran langsung terbelalak karena takjub dengan tampilan berbeda dari istrinya.


Melihat mata suami nya yang tidak berkedip dengan wajah yang terkejut. Ia yakin suaminya tidak suka. "Aduh, malunya. Apa ku bilang. Ajaran sesat dari Ka Salwa ini. Pasti aku seperti badut di mata Mas Imran. "


Salwa langsung berbalik dan bergegas menuju kamar mandi. Namun dengan sigap Imran menarik tangan Salwa.


"Kamu mau kemana lagi? "


"Aku mau mengganti baju, Mas pasti anehkan melihatnya. Mas tidak suka kan!"


Imran terpesona dengan kecantikan Salwa, yang biasanya selalu memakai baju gamis dan jilbab. Selama beberapa hari tidur pun selalu memakai gamis. Bagaimana tidak terkejut, lengrie berwarna merah itu sangat membakar libi-do Imran. Tubuhnya sangat indah pas dengan warna baju yang melekat itu, ditambah wangi tubuh Salwa dengan rambut hitam panjang tergerai menambah kecantikannya.


"Masyaallah cantiknya istriku. Aku sudah tidak sabar. " Batin Imran bergejolak. Fikirannya sudah mengarah kesana.

__ADS_1


"Tidak!, siapa yang bilang aneh. Cantik dari ujung kaki sampai ke kepala. Aku suka. "


"Benarkah? " pipi Salwa memerah saat ia dipuji habis-habisan oleh seorang pria. Suasana mulai mencair. Ia belum pernah dipuji sehingga rasa itu melambung bagai naik ke atas awan.


"Jadi, kamu sudah setuju jika aku menunaikan nafkah batin ini? "


"Aku yakin Mas, aku ini milik mu. Kamu suami ku. Kamu berhak Mas. " dengan lirih Salwa mengucapkannya.


Dengan cepat Imran memeluk Salwa, tidak menunggu lama lagi. Ia pun langsung mencium bibir istrinya. Tanpa sadar Salwa pun sudah berada di kasur dalam belenggu Imran. Dan pakaian tembus pandang itu pun sudah menghilang begitu saja. Imran sangat terbuai dengan wangi tubuh Salwa. Minyak yang diberikan oleh Salma sangat top cer.


“Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa”


Lafaz Imran saat memulai menyelam dalam surgawi dunia.


"Pelan-pelan Mas. " lirih Salwa sambil meringis menahan sakit yang tidak dapat ia jelaskan kepada Imran. Bulir air mata menetes diujung mata Salwa.


"Maaf Sal. Mas pelan-pelan. Tahan sebentar ya. "


Salwa mengangguk dan memandang wajah Imran suaminya sambil merasakan sesuatu yang masuk perlahan demi perlahan.


30 menit mereka berjuang bersama, Imran sudah terbaring di sebelah Salwa dengan nafas yang memburu.


"Terimakasih Dek. "


...■□■□■□■□■...


Ayam berkokok tanda fajar sudah menyingsing. Adzan subuh mulai berkumandang. Salwa terbangun. Ia bangunkan Imran, namun masih terlelap.


Ia bangun dan sadar tubuhnya tanpa benang sehelai pun, ia mencari-cari pakaian jaring yang diberikan Salma. Mata nya tertuju ke kursi rias, ternyata Mas Imran meloloskan jaring itu dari tubuhnya dan melemparnya dengan ajian sakti mandra gunanya. Sampai- sampai sangat jauh dari jangkauannya.


Ia perlahan menuju kamar mandi, tapi rupanya gersk geriknya terlihat Imran.


"Kamu kemana Sal? "


"Mas? " Ucapnya dengan malu saat sadar Imran sedang memperhatikannya tanpa sehelai benang pun.


"Mandi Junub Mas! "

__ADS_1


"Ya udah aku ikut. " Imran langsung bergegas bangkit dan menyusul Salwa.


"Hah! Berdua, " Salwa terkejut saat mendengar kata ikut yang di lontarkan Imran dengan santainya.


__ADS_2