
"Hujan sudah reda. Ayo kita pulang. Nanti kita kemalaman. Dari sini sampai rumah kan jauh Mas. " Salwa membujuk Imran yang masih betah memeluk dan memangku Salwa.
"Sun dulu. "
"Aah kan sudah. " Manja Salwa.
"Di rumah nanti disambung ya, " pinta Imran sembari menyerudukkan kepalanya ke paha Salwa.
"Apanya? "
"Anu, pesawat abang mau landing ke lapangan adek. Boleh yaa. Mas udah kebelet. Jika bisa, sekarang hayu. "
"Mas, di tempat umum. Nanti malah digrebek. "
"Kan sudah ada buku nikah. "
"Pulang aja. Di rumah aja. "
"Ya sudah, ayo kita pulang. Tapi minta 5 kali ya mendaratnya." cubit Imran ke perut istrinya.
"Iya, iya.. " Salwa berdiri dan menarik Imran menuju pulang.
Mereka pun berdua pulang dengan ditemani derai rintik hujan. Meski hanya rintik, lama-lama membuat baju mereka basah.
"Di jok tidak ada jas hujan ya Mas?
" Hah... aku tidak mendengar. Apa katamu tadi? " teriaknya.
"Jas hujan Mas! Jas ! "
"Oh... Flueeehh flueeehhh.... Ga ada jas hujan. " Air hujan masuk ke dalam mulut Imran. Ia sampai meludahkannya keluar mulutnya.
"Ya ampun Mas, pasti ini di marahi Bapak Ibu. "
"Tenang, Mas yang akan tanggung jawab. "
Akhirnya mereka pun sampai tepat sebelum maghrib dengan basah kuyup.
"Ya ampun, kalian hujan-hujan. Yuk langsung mandi. Nanti sakit. " Ibunya Salwa langsung memberikan handuk.
Salwa langsung masuk ke dalam kamar mandi, rupanya Imran sudah tidak sabar mulai dari tempat wisata itu. Imran langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas! " pekik Salwa terkejut.
"Ssttt.. Jangan teriak keras-keras. Pesawat Mas mau landing ya. Udah ga tahan kelamaan tadi. " Imran langsung meloloskan baju basahnya dan mendekap Salwa yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pasrah Imran menjamah gunung kembarnya dari belakang sembari memberikan kemesraan dalam rinai butiran shower.
"Mas... " lenguh Salwa. Menandakan Salwa sudah siap untuk menerima pesawat Imran datang. Dengan cepat ia meminta posisi yang nyaman. Mereka pun membuat irama syahdu di dalam kamar mandi bersama. Berbagai macam posisi yang mereka lakukan karena kamar mandi nya tidak besar, membuat mereka sedikit kewalahan saat mengatur posisi landing.
...▼△▼△▼△▼△...
__ADS_1
1 Minggu kemudian.
"Imran Pamit Ibu, Bapak. Insyaallah kami usahakan sering balik ke kampung. "
"Yo pasti Imran, kasihan kami terpisah dengan Salwa. "
"Hati-hati ya kalian disana, selalu beri kabar apapun ya. "
Salwa pun memeluk Ibunya dan Bapaknya. Begitupula Kepada Kakaknya.
"Assalamualaikum, " Ucap Imran dan Salwa serempak. Mereka pun naik Mobil Avanza, mobil sejuta umat yang dijadikan mobil travel. Mereka duduk di tengah berdua.
Hati Salwa sangat berdegup kencang, dimana ia akan merantau jauh ke daerah orang. Hanya Imran seorang yang menjadi satu-satunya tempat ia bertumpu.
"Kamu kenapa Salwa kok diam terus sepanjang jalan. "
"Ga kok Mas, aku baru ini keluar rumah yang ga tahu kapan bisa kembali. "
Imran pun senyum dan langsung menggenggam tangan Salwa. Salwa pun membalas senyum Imran getir. Lalu ia alihkan netranya untuk memandang pemandangan yang ia lewati di kaca mobil.
Setelah lama diperjalan. Mereka sampai disebuah rumah kontrakan beberapa pintu. "Nah ini Salwa, Rumah kontrakan yang akan kita tinggali. Toko rotinya nanti di depan gang itu kontrakan ini. "
Salwa tidak berkata apapun, dia hanya diam memperhatikan rumah kontrakannya. Ada 5 pintu, posisi rumah kontrakan Imran berada di paling ujung kanan.
"Wah ada pengantin baru ya. Ini istri mu Imran? " Sapa seorang ibu yang sekitaran umurnya 35 ke atas. Dia sambil menggendong anaknya dan satu tangannya membawa sendok penuh nasi.
"Oh inggih Ibu Midah, iya ini istri ku. Kenalkan, namanya Salwa Hanifa. "
"Panggil saja Bu Midah ya, di sebelah sana, Bu Srim, Di sebelahnya lagi itu Ibu Helma. Dan paling ujung sudah kosong. "
"Loh, Kang Agung pindah ya Bu? " Tanya Imran terkejut saat membuka gembok kunci pintu kontrakannya.
"La iya pindah Mas Imran, katanya balik kampung. Ga bakal balik lagi kesini. "
"Waah kosong ya berarti. "
"Iya."
"Mari Bu, kami masuk dulu. Permisi. "
"Iya, iya. Pasti kalian capek dari perjalanan jauh, " ucapnya Bu Midah menimpali mereka sambil asyik memberi makan anaknya kembali.
Salwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah kontrakan itu. Ia pun meletakkan tas nya dan masuk menyusurinya. Lumayan nyaman, tapi ya begitulah rumah kontrakan. Sempit, hanya terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar, 1 ruang keluarga dan dapur sekaligus 1 wc.
"Mari sini masukkan baju mu Salwa ke lemari ini. "
Salwa tidak menjawab, namun ia ikuti perintah Suaminya. Ia perhatikan di dalam kamar sudah ada tv yang menggantung di dinding dan kipas angin. Lalu ruang keluarga dijadikan Imran sebagai meja dapur.
"Maaf ya Salwa, kita terpaksa disini dulum belum ada uang untuk menyewa ataupun membeli rumah. Karena uang aku terbagi untuk menyewa ruko didepan. "
__ADS_1
"Inggih Mas, "
"Nanti, kita jaga Toko. Sekaligus kamu belajar ikut Paket C. "
"Makasih Mas. Mas... "
"Iya! "
"Sudah dikabari Ibu sama Bapak? "
"Owalah, Lali aku Salwa. Ayo cepat telpon kamu. Aku mau jemput Amar dulu ya. "
"Iya Mas. "
Imran mengeluarkan sepeda motor bututnya di ruang tamu. Dan dia sudah mengendarainya menghilang di ujung gang kontrakan.
Salwa terpaku di depan pintu. "Apa aku yakin bisa merawat Amar, bukan anak kandung ku. Aku takut jika aku tidak bisa. Atau ia tidak menerima ku. "
Ada seorang pria lewat dan menatap Salwa dengan lekat. "Kamu siapa? " dia langsung bertanya tanpa sungkan sekalipun.
"Aku istri Mas Imran. "
"Oh. Istri Imran, " jawabnya mengulangi perkataan Salwa.
"Gus, sudah pulang? Itu istri Imran Gus. Dia baru datang. "
"Imrannya mana? "
"Mas Imran lagi jemput Ammar. "
"Oh ya sudah. " Dengan singkat dia berlalu begitu saja.
"Gusnandar namanya, dia suaminya Bu sri yang dikontrakan no 4."
"Oh iya Bu. "
"Dia memang pembawaannya gitu. Agak pendiam dan judes. Jangan terlalu di ambil hati ya Salwa. Disini orangnya baik semua kok, " jawabnya dengan senyuman.
Tapi Salwa merasakan tatapan berbeda dari pria yang bernama Gusnandar itu. Terasa membuatnya merinding. Matanya tajam memperhatikan Salwa.
"Apa aku harus menceritakan dengan Mas Imran, aku merasakan tidak nyaman setelah di sapa orang itu, " Batin Salwa masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah.
💙Bersambung💙
💛Terimakasih Sudah membaca novelku
❤Jangan lupa like, komen dan vote
💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya
__ADS_1
💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya
Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗