
BYURRRR
Minuman di dalam gelas yang di pegang Zahrana tumpah mengenai gaun putih. Minuman yang berwarna merah itu sangat kontras di gaun putih nan cantik. Semua mata tertuju kepada Zahrana. Dan mereka langsung bergunjing melihat kejadian itu.
"Apa apaan sih wanita itu! "
"Lihat, jelas sekali. Aku melihatnya, dia terlihat sengaja melakukan itu! "
"Oh My God, wow bakal ada perang dunia Guys, itu kan Nyonya Huges. Dia terkenal galak dan bermasalah dengannya itu bagaikan neraka turun ke bumi. "
Para undangan bergunjing melihat kejadian itu.
"Aaahhhh... Dasar, tidak punya mata ya. Makanya mata itu ditaruh di depan bukan dipantat!!! " teriak seorang Emak-emak yang menggandeng anaknya. Ia histeris melihat gaun putihnya ternoda.
"Maaf Bu, saya tidak sengaja. Saya akan bertanggung jawab laundry nya. " Zahrana panik karena minuman yang ia niatkan untuk Salwa ternyata salah sasaran. Ia mencoba memegang gaun Ibu itu dan mencoba melap nya dengan beberapa tisu.
"Tidak Sengaja, untung kena saya. Coba kalau kena anak saya, saya tuntut kamu. Lihat gaun cantik ku ini, ini gaun yang mahal. Yakin kamu mau laundry?, aaahh lepas kan. Kau semakin merusak gaun ku dengan cara murahan mu itu, " ucapnya ketus dengan menepis tangan Zahrana.
Ibu sosialita itu pun melihat Zahrana dari bawah ke atas. Dia mencibir keadaan Zahrana yang ia rasa bukanlah kalangan high class.
"Memangnya kamu mampu? " delik matanya meremehkan Zahrana. Manik matanya membulat seakan mau keluar saat menatap Zahrana.
"Siapa nama mu? "
"Zahrana Bu, " sahut nya pelan.
"Ada apa Ibu? " Sapa Salwa yang melihat kejadian itu.
"Ini, lihatlah. Wanita ini, aku tidak menyangka Keluarga Hans bisa mengundang wanita seperti dia. " Sinisnya kepada Zahrana.
"Ya Ampun gaun Anda Nyonya, sedih sekali. Ku rasa, ini sedikit sulit untuk membersihkannya," Salwa sengaja melebih-lebihkan. Kapan lagi ia fikir bisa membalas perbuatan Zahrana.
"Hey Salwa, ini semua gara- gara kamu. Dan hey Ibu Ibu Norak, jangan macam-macam ya. Memang saya salah, tapi anda jangan menghina saya ya!, bilang saya tidak mampu, " Ancam Zahrana dengan mengacungkan telunjuk jarinya.
"Uuuhh Dasar tidak punya tata krama. Oke, ayo ganti. Asal kamu tahu harga gaun ku ini 50 juta. Bahkan jasa laundrynya 5 juta, sekarang aku tanya pada mu, mampu gak?"
"Lepas sekarang gaunya. Cepat, biar aku cuci dengan tangan ku sendiri! " Zahrana mengambil air putih di dalam gelas dan mencoba menyiramkannya kembali.
"Aaaahhhhhhh... Dasar wanita aneh! Pergi kau, ! " teriak Ibu Huges tidak sanggup melihat keanehan dan kesadisan Zahrana.
"Stop semuanya! " teriak Satpam datang untuk melerai dan mencoba menghalangi adu mulut mereka yang semakin menjadi. Pesta Fir menjadi gaduh akibat ulah Zahrana.
"Ah sudah-sudah. Ibu, maaf kan Kami. Mari saya antar anda mengganti pakaian yang layak. Untuk pakaian anda Keluarga ku yang akan menggantinya. Tidak baik Bu meladeni orang gila. Mari saya antar, kita yang waras lebih baik mengalah."
"Ah tidak perlu, Kau memang istri Fir yang sungguh cantik jelita, begitu pula sifat mu Nak. Sudahlah, tidak perlu diganti. Aku hanya tidak ingin bertemu wanita gila itu lagi. "
__ADS_1
"Aah ibu, bisa saja. Tidak apa-apa, "
Fir berbisik kepada Satpam untuk mengeluarkan Zahrana dari Pesta mereka. Satpam pun langsung menyeret tangan Zahrana dan membimbingnya keluar dari rumah keluarga besar Hans.
"Uuhhh lepas... Aku ini juga undangan Salwa! " teriaknya keras ke wajah satpam. Namun Satpam tidak mengindahkannya dan tetap membawa Zahrana keluar.
"Maaf Nyonya, tapi anda tidak diperkenan kan lagi untuk masuk. Karena anda sudah membuat keributan. Terimakasih sudah menghadiri pesta, ini bingkisan dari pemilik rumah. " Satpam itu memberikan bingkisan sebagai cindera mata.
"Nyonya, Nyonya!!! Aku belum menikah. Sini bingkisannya. " Rampas Zahrana dengan sinis ke tangan Satpam. Wajahnya dongkol dengan mencibir lalu pergi meninggalkan nya tanpa rasa terimakasih.
"Huuuuhhh... Dasar cewek. Coba kalo cowok sudah ku kasih bugem mentah tu orang. Sifatnya menyebalkan sekali. "
"Sabar, sabar Bos ku. " ujang datang menyabari sembari membawa kopi panas di tangannya.
"Eh Ujang, iya iya. ini juga sabar kok. "
Kembali ke pesta. Salwa sudah kembali menenangkan Ibu Huges. Lalu ia menghampiri Fir yang duduk di bangku pelaminan.
"Loh, Zahrana tadi mana Mas? " Tanya Salwa kepada Fir.
"Perempuan tadi ya? dia pergi. Memangnya kenapa? "
"Oh tidak apa-apa. Aku belum cerita ya, padahal kamu pernah bertemunya 1 kali. Dia adalah mantan sahabat ku. "
"Dia memfitnah ku. Bahkan kemaren dia ulangi lagi. Dia memfitnah ku jika aku pencuri hp nya. "
"HaH, bagaimana bisa? "
"Oiya, kamu kan belum masuk kampus. Dia sekarang menjadi penjaga perpus Fir. Dia juga menyebarkan gosip bahwa aku janda dan mantan maling dipondok. Aku sangat marah. Bahkan karena dia, mantan-mantan mu jadi marah kepada ku karena mereka kira aku pakai pelet ke kamu..., " cerocos Salwa tanpa berhenti bicara hanya untuk mengambil nafas. Dia begitu antusias dalam mengutarakan isi hatinya yang penuh kejengkelan.
"Apa??! Pelet!!! Hahahaha. Ada- ada saja! Terus gimana? "
"Ya Aku marah lah, untung ada Mirna. Jika tidak aku sudah gulang galing di lantai dengan mantan mantan mu itu. Terus ku bilang juga aku memang pakai pelet, mau berguru hah?? Gitu ku bilang. " Dengan gaya berkacak pinggang Salwa memperagakan adegan itu .
" hahaha Baru kali ini aku melihat kamu begitu ternyata ada juga peningkatannya dari Salwa yang lemah lembut menjadi garang ...aku kena pelet darimu Sejak pertama kali aku bertemu denganmu . Sampai sampai dulu aku berdoa semoga kamu menjadi Janda Dan aku akan memilikimu .dan ternyata Tuhan mengabulkannya
Ih jadi ternyata ini doa kamu ya
Emangnya kenapa kamu tidak suka kalau gitu aku ngambek nih
Nggak papa sih cuman
Ayo cuman apa
Kenapa aku tidak bertemu kamu lebih awal
__ADS_1
Salwa Sayang, sini mas peluk
Iya apa-apaan sih Mas Mir ,ini kan masih banyak orang .malu tahu
Fir memeluk pinggang Salwa penuh mesra. Kebahagian mereka bertaburkan bintang. Pesta hari kedua mereka sangat meriah yang dihadiri dari para undangan dari kampus baik itu mahasiswa atau pun dosen.
Diujung, duduk Dosen Hilman sembari meminum es sirup. Dia hanya termenung memandang sepasang pengantin baru yang masih kasmaran. Fikirannya melayang membayangkan seandainya dia lah pria yang digandeng Salwa di pelaminan itu.
Sungguh kesal hatinya, dia meratapi dan menyesali karena sifat pengecutnya sehingga tidak bisa membela Salwa pada waktu dipondok. Jika ia berani dengan Ayahnya, mungkin akan di bawa lari saja Salwa dan menikahinya. Tangan Hilman menggenggam erat, hatinya bagai tertusuk sembilu berkali-kali melihat senyum mempelai pria.
"Mas, Mas... Kamu kenapa melamun? " tanya Istri Hilman karena ia melihat suaminya hanya memandang mempelai tanpa bergeming sedikit pun.
"Ahh tidak apa-apa. Kamu sudah makannya? "
"Sudah Mas. Ayo kita pulang Mas, kita sapa dulu mempelainya. Cantik dan Ganteng ya Mas mempelainya, dia mahasiswi dan mahasiswa kamu kan. Wah, mereka berani juga ya menikah dini. "
"Iya, si wanita itu pernah mondok di Pondok Abi. "
"Hah, yang benar Mas. Berarti dia termasuk anak didik Mas ya dipondok. Wah,,, ternyata dunia ini tak selebar daun kelor. Sempit ya Mas, buktinya Mas bertemu lagi. "
Hilman hanya mengangguk pelan. Dia menunggu istrinya selesai bersiap untuk menghampiri pelaminan. Lalu mereka pun menuju pelaminan tempat Salwa dan Fir duduk bersanding bahagia. Hilman merasakan kekakuannya karena ia merasa tidak sudi memberikan selamat kepada mereka.
"Ayo Mas! " tarik Istri Hilman.
"Selamat ya, Semoga kalian berbahagia. Langgeng sampai kakek nenek dan cepat dapat momongan ya, " ucap istri Hilman kepada Salwa.
"Terimakasih. Jadi Mbak ini istri Pak Hilman? "
"Betul, perkenalkan nama saya Maryam. "
"Makasih ya Mbak Maryam, Aku Salwa. Senang berkenalan dengan Mbak. " Salwa senyum dengan tulus kepasa Maryam yang menjadi istri Hilman, parasnya ayu dan lembut. Jilbabnya panjang menjuntai, sangat anggun sekali. Terbersit di hati Salwa. Kok bisa-bisanya Hilman ingin mempoligami Mbak Maryam. Sebegitunya kah hanya karena belum diberi momongan.
Salwa menatap wajah Fir, ia berdoa semoga Fir tidak sama seperti Hilman.
"Mbak Salwa ini ternyata alumni Pondok yang dipimpin Kiyai Ahmad ya ternyata, tadi diceritakan Mas Hilman. "
"Oh Iya betul Mbak. "
Hilman ingin bersalaman dengan Salwa, ia menyodorkan tangannya. Dan di sambut oleh Salwa. Mata mereka terpaut dalam beberapa detik.
"Salwa, " ucap Hilman getir. Tangan mereka masih terpaut.
"Mas... " Panggil Maryam dan memegang tangan Hilman karena ia merasa jabatan tangan Salwa dan Hilman terasa lama.
BERSAMBUNG
__ADS_1