
Suasana kampus terasa sepi karena tidak ada orang idamannya. Firman duduk terpaku di atas motornya dengan tatapan selalu mengarah ke jalan anak jurusan tarbiyah.
"Bro... Gimana? " Temannya menggandeng bahu Firman dan mengingatkan janji taruhan mereka.
"Gimana apa nya sih? " Firman acuh dengan temannya. Sebenarnya jelas ia ingat sekali dengan janji taruhannya.
"Taruhan. Kau kan jelas kalah. Mana ada kau bawa dia sebagai pacar mu kehadapan kami. Hari ini sangat istimewa. Firman sang Playboy telah gagal! "
"Gimana mau sukses, dia kan... Aahh sudahlah. Sini no rek mu. Nanti aku TF dah. "
Firman malas untuk melanjutkannya karena tidak ingin ia kalah lantaran Salwa sudah bersuami. Dan ia malas juga membuka tentang kebenaran tentang Salwa.
"Apanya... Alasan saja. Ku tunggu TF mu. Oke... Hey teman-teman. Kita party time malam ini ya. " teman nya menepuk-nepuk pundak Firman karena terlalu senang akan mendapatkan dana untuk party.
"Nah itu Mirna. Mir... Mirna! " teriak Firman memanggil Mirna. Dia berlari menghampiri Mirna yang lagi berjalan sehabis selesai pelajaran mata kuliahnya.
"Kenapa Kak Firman? " Mirna tersipu saat namanya di panggil. Karena semua anak kampus memperhatikan mereka.
"Anu, gimana kabar Salwa? Ku lihat dia tidak masuk. Besok kan sudah libur mau hari raya idul adha. Dia pulkam ya? " Tanya Firman penasaran.
"Loh. Kok kakak nanya ke aku. Kan bisa Sms sendiri. Zaman sekarang kok ribet amat sih. "
"Bukannya gitu, sebenarnya. Aku belum punya nomor ponselnya. Lagian nanti dikira aku godain istri orang. "
"Kakak juga tahu, dia istri orang. Kok masih nanya tentang dia. Jangan jadi pebinor ya. "
"Yaah. Kan laki nya kabur. siapa tahu kaya katamu dia bakal cerai. "
"Huss... Kak, ga boleh mendoakan orang cerai. "
Firman mengimbangi langkah Mirna. Dia sengaja berjalan santai bersama Mirna.
"Kamu sms. Lalu kita jenguk. Gimana? Takutnya dia masih sakit. "
Mirna senyum-senyum sendiri. Dia sangat faham dengan alasan Firman.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu. Ga suka usul ku? "
"Enggak. Enggak... Iya iya. Aku duduk di kang bakso dah. Disitu aku sms dia. "
"Ya sudah. Ayo. Sekalian aku traktir. "
__ADS_1
Mirna sangat senang karena ditraktir sebagai upah menanyakan kabar Salwa. Meski topik pembahasan nya adalah Salwa. Mirna suka-suka saja lebih sering dekat dengan Firman. Karena Mirna memang suka pria tampan. Siapa sih yang tidak suka wajah kaya oppa korea.
...■□■□■□■□■...
Salwa menangis di kamar setelah mendapat perlakuan Ibu mertuanya. Dia bingung ingin berbuat apa. Dia benar-benar terlalu lelah dengan apa yang menimpa kehidupannya.
Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ternyata itu dari kedua orang tuanya di kampung. Mereka menanyakan keadaan Salwa dan Imran. Apalagi yang harus ia jawab. Tentu saja dengan kebohongan dan kebohongan lain demi menutupi permasalahan tentang Imran.
Menetes air mata Salwa saat membalas tiap kata, bait demi bait dengan penuh kebohongan kepasa orang tuanya. Tidak pernah sekalipun ia diajari untuk berbohong. Namun kali ini, dia teramat pandai dalam berbohong.
"Assalamualaikum." suara wanita masuk. Ternyata itu suara Fatma. Wajahnya terlihat murung.
Fatma meletakkan barang bawaannya di meja bufet samping kasur Salwa. Dia menghela nafas panjang.
"Kau bilang ya sama Ibu dan Ayah. Kan sudah aku larang. Kenapa kau masih saja bandel sih. Aku sangat mengenal Ibu mertua. Makanya aku melarang kamu. "
Fatma duduk di hadapan Salwa yang setengah duduk di ranjang dan tertunduk merasa bersalah.
"Maaf."
"Yo wes, nasi sudah jadi bubur. Kamu ga usah memikirkan apa saja yang dikatakan Ibu mertua kita. Mulut nya memang terbuat dari cabe rawit. Makanya pedas. "
"Iya Kak. "
"Assalamualaikum."
"Kami temannya Salwa kak. "
"Oh masuk, masuk... "
Mirna dan Firman masuk ke ruang kamar perawatan Salwa. Salwa tersenyum saat mereka telah datang. Setidaknya ada mereka yang memberikan perhatiannya. Salwa tidak merasa sendirian lagi.
"Ya sudah. Kalian ngobrol-ngobrol saja ya. Kaka mau nebus obat dulu. "
"Iya kak, " Ucap Mirna seraya mendekati Salwa.
"Kamu kenapa lagi Sal, kamu pingsan lagi ya? "
Salwa hanya mengangguk pelan. Dia menengok ke belakang Mirna. Ada Firman yang duduk diam membisu. Tatapannya tajam namun ada kesedihan di dalam matanya memandang keadaan Salwa.
"Kamu belum beri dia nomor ponsel mu Sal? Dia lo nguber-nguber aku tadi di kampus biar ngajak dia ke tempat kamu. Kamu juga kok ga kasih kabar sih, " bisik Mirna kepada Salwa.
__ADS_1
"Ga sempat Mir. "
Salwa melirik ke arah Firman. Firman memberanikan diri mendekati ranjang Salwa.
"Cepat sehat ya Sal, " Ucap Firman dengan menatap Salwa. Sedangkan Salwa hanya tertunduk karena ia tidak ingin bertatapan langsung.
"Jika kau membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan menghubungi ku. Ini nomer ku. Ku tunggu sms mu. " Firman menyerahkan catatan nomer ponselnya.
"Terimakasih, " Ucap Salwa getir. Bukan karena sedih, tapi dia terharu akan perhatian Firman dan Mirna. Kadang, orang asing seperti keluarga. Dan keluarga seperti orang asing. Itulah kehidupan yang kadang tidak bisa di duga sama sekali.
...■□■□■□■□■...
"Pak.. Kok Salwa tidak ada Video Call kita ya. Sms pun dibalas singkat saja. Apa dia tak rindu kita. "
"Mana mungkin. Bisa saja dia masih sibuk di dalam. Kelas, " Bela Pak Somad kepada anak terakhirnya.
"Aku kok terasa ga enak hati ya Pak. Aku boleh jenguk dia ga Pak. Sama Salma ya jenguknya. Aku tahu Bapak kan sibuk. "
"Ya sudah. Besok saja kamu pergi nya. Tapi jangan nginap. Kamu ga mau kan mengganggu anak mu. Apalagi dia kan dikontrakan yang sempit."
"Iya Pak. Sekedar melepas rindu saja. Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Agar melegakan hatiku yang tak nyaman ini. "
Besok Hari.
Meski hujan lebat, Zainal, Salma dan Ibu nya pergi juga untuk mengunjungi Salwa. Tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Karena ingin memberi kejutan kepada Salwa.
Setelah sampai di kontrakan Salwa. Rumah nya sangat sepi. Tidak ada Salwa di kontrakan. Mereka akhirnya bertemu dengan Bu Midah.
"Oh Ibu ini Ibu nya Salwa. Salwa belum kasih kabar ya, dia masih di rumah sakit bu. "
"Lo siapa yang sakit? "
"Wah jadi ibu belum tahu. Salwa sakit bu kemaren dan jatuh pingsan. Dia sekarang di rumah sakit kamar dahlia no 34 Bu. "
"Ya ampun Salwa. Tuh kan Salma. Ayo cepat ke rumah sakit. Anak itu kenapa tidak kasih kabar. Tidak seperti biasanya. Pasti ada apa-apa. Pantas hati ku rasanya ga enak beberapa hari. Ya Allah... Astaghfirullah. Kenapa Imran juga tidak menghubungi kita jika Salwa Sakit. " Ibu nya Salwa berang, dia menahan amarahnya.
Mereka bergegas pergi menuju rumah sakit, Ibu Salwa merasa sakit hati anaknya sakit, menantunya malah tidak memberi kabar. Apalagi ditambah keluarga besannya yang tidak memberi kabar sama sekali.
"Cepat Zainal. Aku sudah tidak sabar. Kasihan anak ku Salwa. Besan macam apa tidak memberi kabar seperti ini. Imran juga. Awas saja. Aku tidak terima. "
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya buat novel aku, karena kalau sampe novel ini gak lolos. Terpaksa aku bawa pindah, dukungan kalian berharga banget buat aku 😘😘
kalau mau novel ini stay di sini, kasih dukungan dengan like, komentar dan juga gift serta vote. Terimakasih💐