
"Dek, Kamu tidak ada masalah kan jika kamu aku boyong ke rumah di kota? "
Pertanyaan itu meminta kepastian Salwa untuk kesediaannya mengikuti suaminya. Ya, meskipun selama ini memang sudah biasa terpisah dengan orang tua karena di pondok.
Tapi, ini berbeda. Karena ini bukan di pondok yang makanan di siapkan. Tapi jika ia sudah di kota hanya berdua saja dengan suaminya. Ia belum bisa memasak seenak Ibu nya.
"Salwa bersedia, apalagi memang sekarang aku istrimu Mas. "
"Alhamdulillah jika kamu bersedia. " Lega sekali Imran mendengar persetujuan langsung dari bibir Salwa.
"Tapi... "
Dengan bingung, Imran menatap wajah Salwa yang menjeda kalimatnya. Tak sabar rasanya menunggu penyelesaian kalimat Salwa.
"Tapi kenapa? "
Salwa tampak ragu-ragu memberi tahu kegundahan hatinya.
"Anu Mas, aku hanya bisa masak 3 menu saja. Baru di ajarin sama Ibu. "
Imran langsung menghela nafas panjang, dia tampak lega. Karena apa yang disampaikan Salwa bukanlah hal besar bagi Imran.
Tangan Imran mengelus kepala Istrinya mesra. "Tenang saja, Jika kamu tidak bisa memasak menu yang aku suka. Aku bisa masak sendiri, atau melihat dari youtube, atauuu kita gofood. Sekarang sudah banyak solusinya Sal. "
"Memang kamu bisa masak menu apa aja? " sambung Imran lagi karena ia penasaran apa saja sih menu andalan istrinya.
"Emm... Jangan diketawain ya. Nasi goreng, Tumis kangkung sama goreng ikan. Mas suka tidak?"
Salwa dengan bangga memamerkan 3 menu andalannya. Ia berharap suaminya menyukai. Maklum, pada saat di pondok. Santriwati dikhususkan hanya belajar, tidak untuk memasak.
"Oh syukurlah. Suka semuanya kok. Untung kamu tidak bilang hanya bisa merebus air. "
"Iihh jahat. "
"Hanya bisa merebus air, gosong lagi. "
"Ya engga lah. " bibir Salwa langung maju beberapa senti saat Imran meledek nya.
"Buktikan ya nanti, masak khusus untuk ku. Ini sudah jam 10 malam, kamu tidak pakai baju dinas? "
Pancing Imran kepada Salwa yang bingung mendengar baju dinas layaknya orang bekerja di pemerintahan.
"Maksud mas apa sih? "
" Mas pengen Sal, " Imran melirik ke bawah dirinya. Memberikan kode dengan Salwa.
"Iih Mas, keluarga mu nginap lo disini. Masa sih. " Imran menarik tangan Salwa mengisyaratkan dia sudah benar nafsu.
__ADS_1
"Mas pelan-pelan kok, pasti sekarang ga sakit lagi. Yaa.. " Rayu Imran, dia sudah candu dengan wangi istrinya. Dia cium bahu istrinya.
"Iya, baju dinas yang mas maksud yang jaring ini kan? " Salwa menenteng baju pemberian Salma.
Imran langsung mengangguk riang. "Mas tunggu ya. "
Bagai kerbau di cucuk hidungnya, dengan manut Imran mengiyakan untuk menunggu istrinya mengganti dengan baju dinas malamnya. Sedangkan Salwa dengan polosnya mengiyakan permintaan suaminya untuk memakai baju dinas malam nya.
...^^^■□■□■□■□■^^^...
Pagi Hari.
"Enaknya pengantin baru. Malam-malam masih terjaga, " ledek Amir kakak nya Imran.
"Apaan sih Mir. "
"Hari ini kami pulang ke kota. Tidak sekalian ikut kami? " tawar Amir.
"Itu kayanya pemanis buatan aja deh Mir, mana mua mobil mu. "
"Muat kok. Asal jangan bawa barang, barang-barang dikirim aja. Lumayan kan ongkos bensin. "
"Nanti lah, aku sudah janji minggu depan. Lagian kasihan juga Salwa bakal berpisah dengan mertua ku Mir, biar dia puas puasin dulu sama orang tuanya. "
"Cieee so sweettt... Bisa juga lu perhatian Ran. "
Amir sengaja meledek pengantin baru, memang asyik menggoda para pengantin baru. Lagi hangat hangatnya kemesraan.
"Ya bagus perhatian, beda sama kamu Bang. Awal kawin mah mesra. Sekarang mana ada mesra, yang ada galak kaya singa, " Ucap Fatma menimpali.
"Eeee... Bagus itu singa. Raja hutan, berarti suami mu ini gagah dong! "
"Iihhh. Tu kan Imran, kakak mu tu ga mau kalah deh. " Fatma ngambek dan langsung masuk ke dalam rumah kembali untuk menyiapkan barang-barangnya.
"Tuh... Ngambek ka Fatmanya, hayoo. "
Dengan segera Amir pun langsung pergi menyusul istrinya demi mengembalikan senyum di bibir nya lagi.
"Kenapa Mas? " Tanya Salwa sembari membawakan teh dan cemilan.
"Ga papa, mereka tadi hanya bercanda. Mereka ngajak kita ikut mereka, ya katanya hitung-hitung irir ongkos transpord Sal. "
"Emmm. Boleh nanti aja kan! "
"Iya deh. Nanti aku tolak. Ini keripik apaan Sal? Kok panjang-panjang. " Imran mengambil satu helai keripik yang panjang.
"Mas mau tahu namanya? Itu kue bawang kuku firaun! Waauuuu," ledek Salwa ke Imran sambil merenggangkan jemarinya layak nya kuku harimau.
__ADS_1
"Waduh, ngerinya aku makan kuku firaun Sal! "
Seketika mendapatkan reaksi dari Imran, Salwa pun tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangannya. Dia tertawa sekali sambil masuk ke dapur.
Ada-ada saja Salwa, ternyata dia bisa juga melucu. Ya ampun, doa yang mana Kau kabulkan dari hamba yang hina ini. Kau memberikan Istri yang teramat indah.
"Hayoo, ngapain kamu melamun di pagi hari! " Amir datang kembali.
"Hehe, ayo Mir, cobain ini keripiknya buatan Salwa. Katanya Keripik bawang kuku firaun. "
"Busyet,... Kuku firaun di cabut dan di ****. Kanibal! "
Mendengar itu, Imran dan Amir pun tertawa terbahak-bahak dengan lelucon yang agak gesrek.
"Gimana? Sudah tanya Salwa? "
"Sudah, dia belum bisa pisah sama orang tua. Jadi kayanya ga ikut kami Kak. "
"Oiya, ga papa lah. "
Mereka berdua pun mencicipi cemilan dengan teh hangat. Pas sekali di embun pagi hari.
"Imran, apa kau sudah memberi tahu Salwa? "
"Memberi tahu apa? "
"Tentang dirimu dan anakmu! "
"Belum Kak, aku bingung ingin memulai dari mana. " Imran tertunduk dan kembali menatap langit. Ia bimbang memberi tahu kebenarannya. Saking dia terbuai dengan kecantikan salwa, dia lupa memberi tahu hal yang sangat penting tentang kehidupannya di kota.
Dimana dia tinggal, bersama siapa, apa pekerjaannya.
"Kau ini, ingat. Kau membawa anak orang. Jangan kau sia-siakan. Susah tahu dapat seperti itu. Rumah tangga itu Komunikasi yang diutamakan. Jika komunikasinya saja kau tiadakan. Apalagi yang dipertahankan. "
"Iya Kak. "
Tanpa disadari mereka, Salwa sudah menguping pembicaraan mereka. Jreeengg Seperti pukulan menghantam jantung Salwa saat mendengar kata anak disebutkan oleh Iparnya. Ia merasa dibohongi, apa ia menikah dengan seorang duda.
Tidak ada yang memberitahunya, bahkan Ayah dan Ibunya sendiri. Atau itu dirahasiakan, Fikiran Salwa sangat kecewa. Hatinya berkecamuk, ia merasa kebohongan sekecil apapun itu tetaplah kebobongan. Ia dengan segera berbalik, dia ingin menangis di kamar.
Tidak dapat dipungkiri, Salwa masih muda. Dia tidak bisa mendustai hatinya untuk bersikap tegar sebelum kebenaran itu terungkap dari mulut Imran. Dia sudah saja menyimpulkan tanpa mendengarkan.
BRAAAKKK
PRAANKKKKK...
Vas bunga jatuh, terguling dan pecah. Dan itu membuat Imran dan Amir terkejut dan langsung menengok ke dalam rumah. Imran melihat langkah Salwa berlari kecil.
__ADS_1
"Gawat Mir, sepertinya Salwa mendengar pembicaraan kita. "