
Imran datang dari Mesjid habis menunaikan sholat subuh berjamaah. Ia tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan mertuanya. Ia sudah merasakan rindu wajah istrinya. Dengan segera ia masuk ke kamar. Dan mendapati istri masih dalam posisi di atas sajadah.
"Sudah pulang Mas. " Ucapan basa basi Salwa hanya sekedar memecah kesunyian saja.
"Iya, kamu baru selesai? "
"Iya Mas. " Sedikit meringis Salwa saat mencoba merubah posisi duduknya. Imran pun langsung duduk di samping istrinya dan memastikan langsung.
"Masih sakit? " tanya Imran penuh ke khawatiran.
"Iya, " jawab Salwa singkat.
"Kau yakin bisa beraktifitas hari ini, jika tidak. Aku bisa bilang kepada Ibu dan Bapak bahwa kamu tidak enak badan. "
"Ahh tidak usah, sakitnya tidak seperih malam tadi. "
"Maaf ya Salwa, aku ingin bertanya kepada mu. Jadi yang kemaren datang itu Hilman. "
Salwa tertunduk, ia sebenarnya tidak mau menjelaskan. Tapi karena suaminya bertanya, ia haruslah menjelaskan. Sebagai suami, dia berhak tahu.
"Sebenarnya, dia adalah calon suami aku yang pertama Mas. Namun gagal. Karena Ayahnya memutuskan sepihak. "
"Apa alasannya jika aku boleh mengetahuinya Salwa? " tatap Imran ke bola mata indah istrinya.
"Salwa di tuduh mencuri di pondok Mas. Demi Allah Mas, aku difitnah oleh sahabat ku sendiri. Aku langsung dikeluarkan dari pondok. Dan mereka seolah tidak mendengar kan lagi penjelasan ku. " menetes air mata Salwa menjelaskan kejadian yang datang kepadanya.
Melihat itu, tangan Imran langsung memeluk istrinya yang masih memakai mukena. Ia dekap istrinya dan ia usap air matanya.
"Aku percaya kamu tidak seperti itu Salwa. "
"Terimakasih Mas. "
"Apa kau masih mengharapkan Hilman? "
Salwa menggelengkan kepalanya. Ia ingat bagaimana pada saat ia membutuhkan dukungan Hilman malah tidak mempercayainya. Bahkan matanya seakan jijik dan tidak ada kepercayaan kepada nya.
"Tenang saja tentang pendidikan mu Salwa. Kamu bisa sekolah paket C. Pendidikan mu tidak akan terhambat. Aku tidak akan menghalangi mu. "
"Benarkah Mas? " manik mata Salwa langsung membulat saat mendengar ada secercah harapan tentanh pendidikannya. Ia tidak pernah terfikirkan tentang sekolah paket C.
Siapa sebenarnya Mas Imran ini, setelah mengenalnya lebih lama. Dia bukan hanya sekedar penjual roti keliling.
Salwa keluar kamar, dia berjalan dengan perlahan menuju dapur. Ia tidak mempunyai alasan kuat untuk tidak membantu ibu dan kakak nya memasak. Sadar ada yang berbeda dari jalan adiknya. Salma pun mendekatinya perlahan.
"Bagaimana? Review jujurnya dek? "
"Iihh kakak! " Bisik Salwa malu malu kucing.
"Imran suka gak? "
__ADS_1
Salwa mengangguk pelan sambil mengiris sayuran. Memandang wajah adiknya yang malu malu pun dia tertawa terbahak bahak.
"Hahaha, berapa kali? "
"Apanya? "
"Ihh kamu dek. Malu malu aja. Jadi nanti tiap malam begitu ya. Siang relegius, malam nakal. " salma menyikut siku adiknya sambil mengedipkan matanya.
"Harum kan minyak thaharahnya, kalo review nya bagus aku akan menjual nya di kampung ini. Siapa tahu bakal berhasil laku dan para pasutri di kampung ini semakin romantis. Hitung-hitung sekalian mengurangi angka perceraian. Hehe " bayang-bayang Salma akan cuan berlimpah dari menjual minyak itu. Dia sampai senyum senyum sendiri.
Begitulah Salma, ada aja fikirannya untuk berbisnis. Ada celah sedikit langsung gas mempromosikannya lewat status whatsappnya.
Imran dan Pak Somad sedang duduk di teras. Mereka terlibat pembicaraan serius.
"Pak, 1 minggu lagi boleh kah Imran membawa Salwa ke rumah Imran di kota. Di sana nanti, sebenarnya saya sudah buka usaha toko roti di kota, jadi biar lebih mantep. Saya mau membawa Salwa ke sana. "
"Tentu boleh Imran, dia kan istri mu. Satu pesan aku Nak Imran. Jaga Salwa baik-baik. "
"Inggih Pak. Saya juga sudah mendengar bahwa Salwa dikeluarkan pihak sekolah. Jadi saya berkeinginan untuk memasukkan Salwa ke sekolah Paket C. Jika dia selesai, dia bisa lanjut kuliah Pak. "
"Masyaallah Nak Imran, terimakasih niat baik mu untuk Salwa. "
Pak Somad langsung menepuk-nepuk bahu Imran.
"Tapi jika pindah, sering-sering mampir ya Imran ke rumah. Ibu Bapak pasti kesepian tanpa kalian. "
"Inggih Pak. "
"Wah pas ini nduk, maknyos. "
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti lalu jalan memasuk pekarangan rumah Pak Somad.
"Siapa itu Pak? "
"Tidak tahu. "
Pata penumpang mobil hitam itu keluar satu persatu.
"Kakak! " teriak seorang wanita sekitar umur 15 tahunan.
Salwa pun hanya memandang takjub. Ternyata mereka adalah keluarga dari Imran yang belum sempat datang pada saat acara pernikahan mereka.
"Assalamualaikum Bapak, kenalkan saya Amir, Kakak pertama dari Imran dan ini istri saya Fatma. "
"Imran, apa ini istri mu? "
"Betul Kak. " Jawab Imran mantap.
"Masyaallah, cantiknya istri mu. "
__ADS_1
Fatma langsung memuji kecantikan Salwa, dia tidak menyangka adik iparnya yang penjual roti bisa seberuntung ini mendaparkan bidadari tak bersayap.
"Kakak Salwa ya namanya, kakak cantik. Kok bisa kakak mau sama Kak imran. Dia bujang lapuk. " Adik paling kecil Si Nahza setengah berbisik ke telinga Salwa. Namun bisikannga masih terdengar Imran.
"Nahzaa... Apa maksud mu. "
"Tidak, tidak apa-apa kan Kak Salwa. "
Salwa hanya tertawa melihat tingkah para saudara Imran yang datang membawa keceriaan.
"Mama... Mamam. " Rengek seorang anak laki-laki yang bertubuh gemuk seperti aktor boboho.
"Iya Zan,, Fauzan. Nanti dulu. Salim dulu sama Kakek. Ayo. "
Fauzan pun salim kepada Pak Somad. Pak Somad sangat suka dengan anak kecil. Apalagi melihat anak yang persisi boboho. Matanya sipit dengan kulit yang putih.
"Pantas saja kamu betah Imran, ternyata istri mu cantik. Ternyata penungguan mu tidak sia sia. " Mendengar itu Imran hanya terkekeh saja.
Ya sebenarnya Imran bisa disebut bujang lapuk, umurnya sudah kepala 3. Berapa kali juga Imran penjajakan dengan beberapa gadis. Namun selalu saja berakhir tidak sesuai harapan. Sampai pernah ia ingin menikahi janda. Namun keluarga besar Imran tidak setuju.
Sampai akhirnya pasrah, dia fokus dalam berjualan roti. Dan ternyata Tuhan mengirimkan gadis tercantik, muda lagi cerdas untuk si Imran yang hampir bujang lapuk dan terlebih dia faham akan agama.
"Jadi ini kakak iparnya Salwa. Salam kenal, saya kakaknya Salwa, perkenalkan Salma. "
"Saya Fatma, "
Dengan cepat mereka pun akrab. Dan tidak salah lagi, masih sempat saja Salma menawar kan minyak thaharah beserta sabun daun sirih. Berkat rayuan maut dari Salma, Fatma pun memborong.
"Buat oleh-oleh sekalian, wah syukur sekali aku bisa bertemu kamu Salma. "
"Nanti kasih review kamu dengan jujur ya. Jika kamu sudah mendapatkan khasiatnya. Kamu bisa berjualan juga. Jadi reseller minyak thaharah. "
"Wah ide bagus itu. "
Suasana pun semakin akrab, tidak ada yang jaim. Semuanya mengalir begitu saja. Keluarga Imran sangat baik semuanya.
"Imran, kamu jangan menunda ya. Langsung saja gas pol ya. Biar Fauzan ada temannya. "
"Hahaha iya Kak. "
Ini juga baru tembus, tenang. Nanti rapelannya bakal menyusul di rumah baru. Batin Imran sudah mempersiapkannya.
💙Bersambung💙
💛Terimakasih Sudah membaca novelku
❤Jangan lupa like, komen dan vote
💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya
__ADS_1
💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya
Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗