Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 33 Permintaan Fir


__ADS_3

"Dimana dia? Waduh, anak orang ini hilang. " Fir celingak celingukan mencari Salwa. Dia mulai gelisah.


"Paman, ada cctv ga sih disini? "


"Mana ada disini Mas, masih belum ketemu temannya? "


"Iya, kemana ya... Aduh. Oiya, telpon, telpon. "


Fir seperti orang linglung. Dengan segera ia mengambil handphonenya dan mengklik nomor Salwa.


Tut titat tituw


Tut titat tituw


Tut titat tituw


Nada dering terdengar, dengan cepat Fir menengok ke sumber suaranya.


"Salwaaaa... " Fir terdengar lemas saat melihat Salwa sedang duduk menikmati teh es dinginnya di bawah pohon di depan kolam.


"Kenapa? " tanya Salwa heran. Ia tidak tahu jika Fir mencari nya seperti induk ayam kehilangan berpuluh anak. Sangat panik.


"Aku minum disini Fir, di bangku sana panas. Enak duduk disini. Adeemm heee. " cegirnya tanpa bersalah.


"Huffffttt... Kau hampir membuat jantung ku copot." Fir terduduk lesu.


"Minum? "


Tanpa berkata-kata, Fir langsung mengambil gelas di tangan Salwa. Ia menyeruput habis teh es Salwa.


"Aah... Itu.. Kan... Minuman ku, " ucap Salwa terbata-bata melihat Fir yang sangat kehausan.


...■□■□■□■□■...


Kediaman Rumah Hans Digantara.


Firman pulang dengan perasaan senang sehabis mengantar Salwa dengan selamat ke kost nya. Sekarang pekerjaannya yang ia ingat selalu adalah 'Menjemput, Mengawasi dan Memperhatikan Salwa' . Sedangkan kuliah ia fikirkan belakangan.


Fir melihat ayahnya duduk dengan santai di sofa ruang keluarga. Ia teringat perkataan Salwa,


"Jika kamu mencintai ku, persunting aku jadi milikmu! "


Tentu saja, itu juga yang ia inginkan. Perlahan ia mendekati Ayahnya.


"Ayah! "


"Hemm, apa?"


"Aku ingin menikah! " Pinta Fir dengan lugas.


"Uhukk.., " Hans tersedak saat menyeruput teh hangat nya.


"Tunggu, kau serius? " Ia tatap wajah anaknya yang sangat serius. Ia pun tersenyum dan kembali bersikap santai menonton televisi.


"Mau kau kasih makan apa istri mu nanti? Cinta? Lagian, calon nya ada ga? "


"Maka dari itu aku meminta kepada Ayah, aku sudah mendapatkan calon ku. Aku akan melakukan apapun perintah Ayah tapi dengan satu syarat. Nikahkan aku dengan Salwa. "


"Tunggu, Salwa yang pingsan dulu itu. Yang kau bawa ke rumah. "

__ADS_1


"Iya Yah. Ayah tidak perlu tahu latar belakangnya, aku menjamin itu. Ayah tidak berhak mendikte calon ku. Aku akan patuh perintah Ayah. "


"Tidak bisa begitu, aku harus tahu. Jika tidak, kau tidak akan menikahkan mu. "


"Jadi Ayah mau aku menikah? "


"Ya, tapi dengan beberapa syarat. Kau harus taat perintah ku. Yang pertama, besok kau sudah bekerja di perusahaan Ayah sebagai Manajer umum. Dan yang ke dua, kau harus tetap menyelesaikan kuliah mu. Cukup jangan di DO saja. Lalu, berikan aku cucu secepatnya. Dan yang wajib, Kalian harus tinggal disini. "


"Apa!!! Sebanyak itu? "


"Ya! Tapi yang terutama itu kamu. Harus belajar menjadi Imam, bekerja dan menyelesaikan kuliah. "


"Imam? "


"Memang kau menikah hanya sekedar menikah. Apa kau setuju? "


"Baiklah! " ucap tegas Firman.


Ia hanya memikirkan agar untuk segera bisa memiliki Salwa seutuhnya.


"Rapikan penampilan mu! Tidak ada lagi pakaian seperti itu, " ucap Hans menunjuk pakaian jeans robek dan anting-anting serta rambut panjang Fir.


Fir melenguh lemas. Ya... Mau tidak mau dia harus menanggalkan atribut gang motornya.


...■□■□■□■□■...


Pagi hari.


Salwa dan Jessy tengah ngobrol. Sedangkan Dinda masih berbaring, dia sakit karena jiwa nya tertekan.


"Kak Jes, Apa Dinda sudah periksa ke dokter? "


"Trus, gimana cowoknya? Orang tua Dinda juga? Serapat apapun kita atau dia menyimpan. Tetap dia tidak bisa menyembunyikannya. "


"Ya memang lambat laun akan terbuka. Sebaiknya aku bicara dengan Dinda. "


"Baik Kak. Aku siap-siap mau kuliah dulu, nanti kabari ya kak. "


Setelah selesai Salwa bersiap diri, sebuah pesan masuk.


"Aku menunggu mu di depan pagar. "


Salwa tersenyum saat membaca pesan itu, memang tidak ada status di antara mereka. Tapi tidak dipungkiri. Sudah ada rasa yang terjalin diantara mereka.


Bergegas Salwa keluar membuka pagar, namun tidak ada motor Fir seperti biasa.


"Loh, katanya di depan pagar. Ini malah kosong. Dia nge prank aku ya, " ucap Salwa sedikit kesal. Lalu ia kembali berniat masuk ke dalam pagar.


Tin... Tin...


Bunyi klakson mengagetkan Salwa. Spontan Salwa memandang bunyi itu. Sebuah mobil hitam terparkir. Pintu mobil itu terbuka dan keluar seorang pria yang berbeda.


"Fir! " Salwa kaget dan dia tampak girang melihat penampilan Fir yang terbaru.


"Bagaimana? " tanya Fir dengan berpose bak model dan berputar memperlihatkan tampilan barunya.


"Mmmm... Lumayan. "


"Hah, lumayan kata mu. Hanya kata itu. Salwa! Kau pasti berbohong. "

__ADS_1


"Hahaha, iya iya. Keren lah. "


"Nah gitu dong. Ayo tuan putri silahkan masuk. " Fir membukakan pintu mobilnya untuk Salwa.


"Terimakasih."


"Okeh, kita siap berangkat tuan putri ku. " Fir menancapkan gasnya dan langsung pergi.


Salwa terpesona, sepanjang jalan ia kadang melirik Fir yang serius menyetir. Dan tingkahnya itu disadari oleh Fir.


"Kamu kenapa lihat-lihat? Ada yang aneh?" Tanya nya dengan tetap fokus menyetir.


"Emm ternyata kamu bisa juga ya menanggalkan atribut ganh motor mu, cuman tinggal rambut saja lagi." tunjuk Salwa ke rambut panjang Fir yang terurai hitam kelam. Meski rambut lelaki, tapi rambutnya sangat terawat bak model iklan shampoo panten*.


"Rambut?! Hehe, belum Sal. Aku akan memotong nya jika kamu mau menerima lamaran ku, " ucapnya dengan lugas tanpa malu lagi. Ia sangat yakin melontarkan pertanyaan itu.


Lebih baik diutarakan dari pada sama sekali tidak. Takut penyesalan. Salwa hanya senyum malu-malu. Fir melirik ke wajah Salwa yang bersemu merah. Ada tanda hijau sudah menyala. Yang artinya Salwa menyetujuinya meski dia hanya diam.


"Sal, tepat masa iddah mu selesai. Aku dan ayah ku akan datang melamar mu. "


"Hah! "


"Kenapa kau kaget? "


"Sangat cepat, bagaimana kuliah ku dan kuliah mu? "


"Hahaha, tenang saja. Kuliah kita kan membebaskan kita mau menikah atau tidak. Jadi, kamu setuju? " tanya Fir kembali dengan menatap wajah Salwa.


"Iihhhh... Perhatikan jalan. " Salwa mendorong wajah Fir agar melihat kedepan lurus.


Tindakan Salwa yang menyentuh pipi Fir sangat membuat hati Fir bahagia. Sentuhan lembut itu membuatnya terasa melayang ke awan.


"YESSSS! " Teriaknya riang.


"Apaan sih Fir. Hahaha, " Salwa tertawa melihat tingkah Fir yang sangat kegirangan.


"Udah ah. Perhatikan jalan saja. "


"Iya, iya. Nih sebentar lagi kita sampai. "


Sesampainya di kampus. Fir langsung membukakan pintu untuk Salwa. Seperti putri yang turun dari kereta kencana bersama sang pangeran.


"Terimakasih Fir. "


"Sama-sama."


Bertepatan sebuah mobil yang datang untuk memarkir mobil di sebelah Fir. Dan seorang pria keluar. Dan dia sangat memperhatikan Salwa.


"Salwa! " panggilnya dengan jelas.


Salwa yang merasa dipanggil oleh seseorang langsung terhenti dan menatap sosok pria itu.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like, vote dan tinggalkan jejak kalian di koment.


Aku kasih bonus ilustrasi foto Fir. 🥰


__ADS_1


__ADS_2