
Di Kampus.
Salwa masih diantar Pak Dwi karena Firman masih belum sembuh total. Salwa berjalan memasuki jalan ke arah kelas nya. Sepanjang jalan, banyak para mahasiswa atau mahasiswi yang bisik-bisik saat Salwa melewati mereka. Sorotan mata mereka seakan julid maha dahsyatnya. Tentu saja, secara gestur badan dan gerak gerik mereka jelas membicarakan Salwa.
Salwa masuk ke kelas dan duduk di samping Mirna. "Mir, apa aku yang ke GR an atau mereka benar memandangi aku seperti itu? "
Mirna berbalik dan memandangi wajah Salwa. Ia menopang dagunya dengan jarinya dan melirik dengan bola mata tajamnya.
"Apa? " tanya Salwa penasaran.
"Hemmm... Ga ada yang salah sih. Tu hidung masih ditempatnya, bibir ga ada berubah. Mata masih dua, lubanh hidung masih arah bawah, " ucap Mirna tanpa ekspresi.
"Edan kamu, kamu kira aku aku apaan! Kalo Lubang hidung ke atas, kalo hujan apa ga kelelep tu. "
"Hahahaha, penuh ya lubang hidungnya. Dasar, ada aja jawaban kamu Sal. " Mirna memukul pelan ke bahu Salwa. Sedangkan Salwa hanya terkekeh setelah berhasil menggoda Mirna.
Mirna memandang ke sekeliling kelas.
"Kayanya iya sih. Kamu jadi pusat perhatian. "
Dengan sigap Mirna berdiri dan...
BRAKKKK... Kedua tangan Mirna memukul meja.
"Hey kalian! Kalian itu mending bicara dihadapan. Jangan dibelakang, kepo apa kalian? Sini kita jawab rasa haus penasaran kalian. "
Setelah mendengar ultimatum Mirna mereka yang bisik-bisik pun terdiam. Namun ada seorang Mahasiswi yang datang kehadapan mereka.
"Apa benar kamu mantan maling Sal, terus kamu juga janda kan? kenapa kamu menutupinya dari kami? "
"Siapa yang memberi tahu kalian? Asal kalian tahu, aku itu di fitnah. Dan tentang status ku, mau aku janda, perawan atau bersuami. Apa urusan kalian? Kalian merugi? "
"Yaaaa tidak ada ruginya sih. Cuman jangan ganjen dong, mentang-mentang sudah berpengalaman. "
"Hey , jaga mulut mu. Kau jangan menghina status orang. Aku hanya mendoakan semoga kamu tidak mengalami hal serupa dengan ku. Lagi pula kampus tidak ada permasalahan dengan status ku. " Salwa berdiri dan menunjuk teman kelasnya itu. Hati Salwa terlalu geram mendengar ocehan aneh mereka.
"Iya, kampus sih tidak masalah. Tapi kami bermasalah dengan mu, karena janda kan pasti gatel. Pantes Kak Fir kaya gitu ke kamu, jangan-jangan kamu pelet ya. Pelet janda! Hahahaha, " Ejek Mahasiswi itu sembari bergaya menggaruk-garuk untuk mengejek Salwa.
"Sudah-sudah. Mending kita pergi. Ngapaian kita layani orang gila. " Mirna menarik tangan Salwa.
"Iya aku pelet dia. Kenapa? Kau kalah saing hah. Bilang saja kalo kalian mau berguru kan dengan ku. Ayo sini, aku kasih gratis sampai berhasil. " Balas Salwa kembali dan menjulurkan lidahnya. Mirna pun menarik Salwa dengan sekuat tenaga.
"Dasar perempuan sinting! " Ucap Siswi itu sembari menghentakkan kakinya ke lantai karena geram.
__ADS_1
"Sirik tanda tak mampu, Bbleeeeeeeee! " lidah Salwa menjulur menggoda dan mengejek Siswi itu.
"Dasar kutu kumpret, anjing gila. " Teriaknya marah.
Mirna dengan sekuat tenaga menarik Salwa pergi. Meski masih terdengar umpatan siswi itu, Mirna dengan sekuat tenaga membawa Salwa agar menjauh dari kelas.
"Iihh coba kamu jangan halangi aku. Itu cewek bisa hancur itu. Kaki di kepala, kepala di kaki. "
"Hahaha, sudah-sudah... Hari ini mending kita bolos dah. Kita ke kantin aja lah, aku traktir. " ajak Mirna kepada Salwa sambil mendorong tubuh Salwa ke depan.
"Janji ya! "
"Iya janji. Kau kira aku berbohong. "
"Yeee cuman memastikan saja kan. "
Akhirnya dari wajah yang jengkel kembali ke suasana riang. Mereka pergi ke kantin untuk merayakan kebolosannya. Di kantin mereka asyik bercengkrama berdua.
"Boleh aku duduk dengan kalian? " suara pria di belakang Salwa.
"Boleh Dong! " sahut Mirna dengan cepat kilat. Salwa menoleh untuk memperhatikan suara pria itu. Ternyata adalah Bian, dia teman satu geng oleh Firman.
Bian mengambil bangku kosong di samping Salwa dan memindahkannya ke samping Mirna
"Kak Bian belum sarapan ya? " tanya Mirna memecah kekakuan mereka.
"Loh kok bisa? emang ga masak ibu nya? " tanya Mirna kembali penasaran.
"Masak, tapi ga selera, " sahut Bian jujur tentang pagi hari yang ia lalui.
Mereka lanjut memakan hidangannya. Pada saat mau membayar, Bian mencegah mereka karena makanan sudah ia bayar.
"Wah makasih ya Kak Bian. Alhamdulillah sudah ditraktir. Jadi enak ini. Hehe. "
"Iya sama-sama Mirna. "
"Aduh Salwa. Tunggu disini, aku mau ke toilet dulu, " bisiknya ke telinga Salwa.
"Bian, titip Salwa sebentar ya. Panggilan alam ini. " Mirna menangkupkan kedua tangannya memohon. Bian tersenyum dan mengangguk senang.
"Tapi Mir... " baru saja mau mencegah. Mirna sudah pergi seperti splash yang sudah mengeluarkan kekuatan super heronya.
"Hehe... Panggilan kilat rupanya, " ucap Salwa pelan dan diam kembali.
__ADS_1
"Sal... Aku hanya mengingatkan mu. Berhati-hati lah dengan ibu pustawakan baru itu. Sepertinya dia sangat membenci mu. Kok dia begitu sih, bukannya kalian 1 alumni pondok?"
" Entahlah. Hati orang siapa tahu. Dan aku tidak mau tahu juga." Salwa terkesan cuek dan ia menyeruput teh es nya yang mulai mengering.
"Sal... Tolongin aku dong. "
"Apaan? "
"Comblangin aku dong sama Mirna! " Pintanya dengan lugas.
"Jadi kamu kesini gara-gara pengen deketin Mirna. Yang ku tahu Mirna sudah punya pacar Bian, sorry you telat. "
"Kan masih pacaran. Sebelum janur kuning melambai. Pantang menyerah. "
"Hahaha, ga usah comblangin juga mah kamu juga bisa Ian. Ga perlu bantuan aku kamu itu. Tancap gas aja. "
"Serius? "
"Tuh Mirna datang. Ku berikan kesempatan untuk kalian berdua. " Salwa berdiri dan mau pamit.
"Hah. Sekarang? Aku belum siap, kamu ga mau menemani gitu? "
"Cemen banget kamu Ian. Anak geng motor kok gitu, ogah ah jadi obat nyamuk. Bye-bye... Mir aku duluan ya. Daahhh! " teriak Salwa langsung berlari pergi.
Tapi belum sempat pergi, Zahrana datang bersama satpam. Dia menunjuk-nunjuk Salwa. Satpam itu langsung meraih tangan Salwa.
"Tunggu, kamu harus ikut kami. "
"Loh apaan sih Pak! "
"Ibu Zahra kehilangan handphone, " terang Satpam itu.
" Kenapa Bapak menghentikan teman ku. Itu kan urusan Bu Zahra kehilangan handphone. Kenapa ke Teman ku? Bapak jangan macam-macam ya. " Mirna datang dengan sewot dan melepaskan tangan Satpam dari tangan Salwa.
"Tapi kata Bu Zahra, Dia melihat Salwa mengambil handphonenya. Jika itu tidak benar, buktikan dengan pemeriksaan tas. " Pak Satpam meminta Salwa membongkar tas nya.
"Enak saja. Ibu menuduh teman ku. Jangan asal tuduh ya kalo tidak ada bukti, itu sama saja pencemaran nama baik. " Mirna berang dan menghalangi Satpam untuk meraih tangan Salwa kembali.
"Aku tidak asal tuduh. Aku jelas melihatnya! " Sahut Zahrana begis.
"Oke. Aku akan membongkar tasnya. " Mirna menarik tas Salwa dan membukanya. Ia bongkar di hadapan semuanya. Satu persatu barang Salwa dikeluarkan.
Salwa hanya bisa diam, jantungnya gugup. Ia sangat trauma dengan kejadian dahulu. Zahrana orang yang licik, bahkan ia bisa meraih simpati orang banyak saat dipondok dan mendukungnya untuk memfitnahnya. Apalagi di kantin masih banyak orang, mereka disaksikan oleh seluruh pengunjung kantin di kampus.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa Like, dan Vote.