
Mirna mengeluarkan barang satu demi satu dari tas Salwa. Sampai tas itu menjadi kosong.
"Nah lihat kan. Mana hp ibu? Ga ada kan?!. Makanya jangan suka nuduh orang! " teriak Mirna.
ketika para kantin pada berbisik-bisik penunjuk kepada Zahrana. Zahrana terlihat malu namun ia tidak gentar.
"Benar kok Pak Satpam. Aku lihat sendiri dia memasukkan ke dalam tas dia. Kamu ya, dimana kamu simpan hp ku. Ayo Salwa jawab? Dasar maling. "
"Maaf Bu, jika begini jadinya, barang bukti tidak ditemukan. Saya tidak ada dasar mengamankan dia. Bisa saja Ibu salah lihat. " Satpam itu mundur perlahan.
"Benar Pak. Masa Bapak tidak percaya saya. "
"Bukan tidak percaya, tapi saya perlu barang bukti Bu. " Tegas Pak Satpam.
"Nah begini saja, ibu hafal nomor telpon ibu. Biar saya telpon. " Ide Mirna ditawarkan.
"Nah betul-betul. " Orang-orang yang berkumpul mendukung Mirna.
Mirna langsung mengeluarkan handphonenya dan menunggu Zahrana menyebutkan nomornya.
"Tapi hp ku getar. Silent. "
"Nomornya Bu? " tanya Mirna lagi acuh dengan gumaman Zahrana. Tidak bisa mengelak lagi, Zahrana hanya bisa memberikan nomor telponnya.
Mirna langsung menelponnya, bunyi tuutttt tanda handphone itu sudah tersambung dan masih aktif.
Drrrrrttttttt
Dddrrrttttttttttt
Getaran itu terdengar lemah, namun cukup terdengar.
Mirna langsung meraih tas Zahrana dan menariknya. Sempat tertahan karena Zahrana dan Mirna saling tarik menarik. Namun Pak Satpam langsung memutus daya tarik menarik itu dan mengambil tas itu.
"Apa ini handphone ibu? " tanya Satpam seraya mengacungkan sebuah smartphone yang masih bergetar karena nomor tidak dikenal ditelpon. Satpam langsung menerima panggilan yang masuk itu.
"Ini bu, ternyata benar ini handphone ibu! Lain kali, jangan asal tuduh, " ucap Satpam itu menyerahkan tas dan handphonenya.
"Huuuuuhhh....! " teriak orang-orang.
"Ayo minta maaf sama teman ku! Kalo tidak biar kita bawa ke meja hijau. Salwa bagaimana menurut mu? " tanya Mirna.
"Ya , aku ingin dia minta maaf karena telah menuduh ku. "
__ADS_1
Zahrana terlihat sangat malu. Ia ambil handphone yang masih ditangan satpam dengan cepat dan memasukkannya ke dalam tas.
"Iya, maafkan aku jika salah tuduh, " jawabnya secara enggan dengan wajah berpaling. Tanda permintaan maafnya tidak lah tulus.
"Yang tulus dong. " Mirna sewot melihat itu.
Pak satpam langsung meraih tangan Zahrana dan Salwa untuk saling bersalaman .
" maaf kan aku Salwa , aku salah telah menuduhmu ." setelah mengatakan itu Zahrana langsung melepas tangannya dan berlalu pergi dengan menahan wajahnya yang sangat Merah Menahan malu .
" Huuuuuu....! " teriak para penonton.
"Bubar-bubar. Tontonan sudah selesai, " teriak Mirna dengan wajah ceria.
"Nih tas kamu. Lain kali jangan diletakkan begitu saja, kalo ada orang berniat jahat kaya tadi gimana? " Mirna menyerahkan tas Salwa ke hadapan Salwa.
"Maksud mu ? " Salwa kebingungan. Sedangkan Mirna tertawa begitu saja.
Ternyata Mirna melihat ketika di perpustakaan Zahrana memasukkan handphone nya ke dalam tas Salwa. Ia mengintipnya dan sangat mencurigai gerak-gerik Zahrana. Untungnya, terlintas ide yang sangat brilian dari otak Mirna untuk mengambil handphone itu kembali dan meletakkannya ke tas Zahrana tanpa sepengetahuan nya. Dan benar saja, kecurigaan Mirna benar terjadi. Zahrana ingin memfitnah Salwa.
"Ada deh pokoknya. Nanti aku ceritakan. Siapa sih Zahrana itu? Kamu kenal? Ayo jawab jujur? "
" iya , Dia adalah orang yang aku kenal . Iya sahabatku dulu waktu di pondok . Namun , Entah mengapa dia memfitnahku sehingga aku dikeluarkan dari Pondok ."
" Ternyata ada ya orang seperti itu ,macam hantu kuntilanak saja ." tambah Mirna kembali .
" Ya ampun , sssttttt... Ga usah dibahas lagi. Makasih Ya Mir kamu menolong aku. Kamu memang yang terbaik. " Peluk Salwa dengan erat.
"Udah-udah ah. Seret leher ku kamu peluk. Ga bisa nafas nih. Sana gih, tuh sopir mu sudah datang. Nanti ada yang ngambek kamu telat. " Tunjuk Mirna ke Pak Dwi yang menunggu Salwa.
Salwa pun melambaikan tangannya untuk berpisah dengan Mirna dan Bian.
"Mir... Sahabat mu itu kayanya punya hati apa sih. "
"Hah. Memangnya kenapa? " Mirna langsung menatap Bian. Dia terkejut sampai Bian mengatakan itu.
"Kasihan aku sama Salwa. Salah apa dia sama bu Zahrana. Dari gosip sampai dituduh seperti tadi. "
"Iya... "
Salwa membuka kaca mobil dan melambai kepada mereka.
"Non, ini kita langsung pulang gitu? "
__ADS_1
"Iya Pak. Tapi, mampir dulu ke KFC . Tadi Mas Fir pesan itu. "
"Baik Non. Tapi kenapa wajah Non rasanya sedih, sembab gitu matanya. Ada masalah sama temannya Non? " Pak Dwi rupanya sangat peka.
"Aah enggak Pak. "
"Bukan gitu Non, Den Fir kan titip pesan sama Bapak. Jagain Non, jadi kalo kenapa-kenapa saat di kampus. Calling bapak saja. "
"Iya Pak. Ga papa kok. Cuman kelilipan saja. "
"Oke Non. "
...■□■□■□■□■...
Sesampainya di rumah Salwa masuk ke kamar untuk menemui Fir. Tapi Fir tidak ada di kamar.
"Bi Minah. Kemana Mas Fir? "
"Masa sih Non tidak ada, tadi ada aja di kamar! " ucap Bi Minah dengan yakin.
"Betul Bi, ga ada. " Wajah Salwa mulai panik. Dia berkeliling mencari Fir. Begitupula Bi Minah.
"Den Fir ga ada menghubungi Non ya? "
"Ga ada Bi. Tadi Wa hanya mau dibawakan ayam saja. Katanya mau makan ayam. "
"Ga mungkin deh Den Fir pergi. Mobil di garasi masih ada, motor nya juga ada Non. "
"Cepat Bi, cari kemana aja. Aku takut Mas Fir pingsan. " Salwa berlari ke seluruh ruangan, dia tegopoh-gopoh mencari di setiap sela ruangan bahkan ke kamar mandi dan dapur.
Namun yang ia dapati hanyalah ruangan kosong, tidak ada Fir suaminya. Bahkan ia telpon handphone nya Fir. Tidak aktif.
"Mas Fir... Kamu kemana? " Mata Salwa mulai berair. Wajahnya mulai panik tidak karuan. Ia tidak ingin menerka yang tidak baik. Ia takut kehilangan orang yang ia sayangi lagi.
"Noonn... Den Fir di taman belakang Non, " teriak Bi Minah.
Salwa langsung berlari dengan cepat menyusul Bi Minah. Dia berlari dengan cepat bahkan melupakan alas kakinya. Kaki Salwa nyeker di atas rumput. Jilbab nya berkibar saat ia berlari. Terik panas tidak membuatnya padam. Ia lebih takut orang kesayangannya dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Mana Bi? " ucap Salwa dengan nafas tersengal sengal.
"Astaghfirullah.... Mas Fir! " Salwa berteriak. Dia menangis dan terduduk di atas rumput yang hijau. Dia tidak bisa lagi menahan dan membendung air matanya. Air matanya membanjiri pipi nya.
"Mas Fir... " Salwa langsung memeluk Fir.
__ADS_1
BERSAMBUNG