Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 16 Kehilangan


__ADS_3

"Kenapa? "


"Mas Imran tidak bisa menjemput. "


"Ya sudah, aku akan mengantar mu. Tenang saja. Begini begini aku pria sejati. Pantang tidak mengantar seorang perempuan ke rumahnya. " Firman dengan sengaja membanggakan dirinya sendiri.


Salwa hanya diam, Apa yang difikirkan Salwa bukan diantar atau tidaknya. Dia hanya takut gosip akan tersebar. Apalagi jika ia diantar seorang pria. Pasti akan ada beberapa gosip yang akan keluar.


Salwa memeluk buku nya dengan erat. Hujan semakin deras. Firman sadar saat melihat tubuh Salwa yang sudah separuh basah itu pasti kedinginan.


Rasanya ingin Firman peluk tubuh Salwa untuk memberikan kehangatan, Ingin ia kecup bibir biru kedinginannya. Gatal sekali rasanya ingin memberikan seteguk kehangatan untuk Salwa. Jika dia bukan wanita yang berpakaian muslim, sudah jelas pasti ia peluk dan ia ***** habis. Pasti akan ia tarik.


Firman adalah anak yang terkenal badung, playboy bahkan dicap penjahat kelamin. Karena sering bergonta ganti pacar. Meski yang ia lakukan tidak sampai berhubungan se*s bebas. Paling Firman hanya melakukan "Pas Fhoto" itulah sebutan anak kampus untuk hal tabu itu. Kemesraan antara dua insan hanya sampai seperti di Pas Fhoto saja.


Firman tidak sadar lagi, tangannya sudah menarik Salwa ke pojok belakang gerobak Bakso. Ia cium paksa Salwa, Salwa meronta untuk melepaskan kungkungan Firman yang sangat kuat. Si merah sudah di ***** Firman dengan lahap, Salwa pun pasrah dan mengikuti permainan Firman. Perlahan Firman melepaskan kerudung Salwa. Mereka larut ke dalam buaian cinta ditemani suara deras hujan, semakin dingin. Mereka semakin erat dalam buaian cinta.


"Firman... " Suara Salwa terdengar sayup.


"Firman! " teriak Salwa.


"Hah Apa? " Firman terbangun dari lamunannya. Rupanya kemesraan yang tercipta tadi hanyalah khayalan Firman saja.


"Kamu kenapa? Hujannya tidak ada berhentinya. Gimana ini? Jas hujan ada gak? " tanya Salwa.


"Maaf Sal, aku tidak punya jas hujan. Sebentar lagi ya kita berteduh. Jika masih 10 menit masih saja hujan. Kita bakal terobos kok. "


Salwa hanya mengangguk kan kepalanya tanda setuju. Entah kenapa, Firman merasa tenang saat memandang wajah Salwa yang teduh. Wajah nya membawa ketenangan, tidak ada bulu mata palsu, tidak ada lipstik merah merona. Apalagi maskara dan perona pipi. Namun kecantikan Salwa tidak dapat dipungkiri. Dalam bulir air hujan yang menerpa jalan aspal. Mata nya tertuju hanya kepada wajah Salwa.


"Ya ampun, kok aku melamunkan hal mesum kepada nya. Sebaik dia, seanggun dia bahkan setertutup itu sudah pakaiannya otak ku masih saja mesum. " Batin Firman mengutuk lamunan mesumnya tadi.


Firman akui ia telah jatuh hati kepada Salwa.


"Sal. kayanya kita terobos saja ya. Ini pakai jaket ku. " Firman memberikan jaket kulitnya.

__ADS_1


"Tidak usah. "


"Pakai saja. Aku tahan kok. Setidaknya kamu tidak terlalu basah. "


Salwa pun mengambil jaket kulit Firman dan memakainya. Lumayan pas meski sedikit kebesaran.


"Ayo. Sudah siapkan? "


Salwa mengangguk pasti.


Sore yang seakan memberi restu kepada Firman, menjelang maghrib. Firman membonceng Salwa. Ada perasaan syahdu yang dirasakan Firman. Meski wajahnya sedikit perih akibat terpaan butiran hujan. Apalagi memakai Moge, otomatis tubuh Salwa mau tidak mau tertempel ke punggung Firman. Seberusaha apapun Salwa untuk memberi jarak, tetap saja ketika Firman menginjak Rem. Dada Salwa tersentuh ke punggung Firman. Dan jelas itu memberikan sensasi kepada Firman.


Sesampainya di depan kost Salwa. Bu Midah sudah berdiri dan mengawasi.


"Looh... Ga di jemput Imran Sal? "


"Enggak Bu. Katanya ada rapat akreditasi gitu. "


"Ini siapa? "


"Oh iya. Ammar... Ammar. " Mendengar namanya dipanggil, Ammar keluar dengan riang. Dia mengira Imran dan Salwa datang.


Ketika melihat Salwa diantar lelaki yang tidak ia kenali, seketika itu pula wajah Ammar berubah. Dan langsung meraih tangan Salwa.


"Ibu, mana Ayah? " Ammar dengan sengaja memegang tangan Salwa dan menariknya menjauh dari Firman. Ada kecemburuan Ammar jelas terlihat.


Sontak saja, Firman terkejut mendengar Salwa di panggil Ibu oleh anak TK . Wajahnya kebingungan dan langsung memandang Salwa dengan seribu pertanyaan.


"Ammar, Ayah Imran lagi rapat. Jadi Ibu diantar sama Om Firman. Ayo bilang terimakasih. "


Ammar tidak mau, dia ngambek dan berlari masuk ke dalam kost.


"Maafkan Ammar ya. Dia kadang suka seperti itu. Ini jaketnya. Terimakasih sudah mengantar ku. "

__ADS_1


"Baik Sal. Aku Pamit. Mari Bu. Assalamualaikum. "


Ada perasaan kecewa. Campur aduk, tapi belum bisa ia pastikan. Ingin bertanya langsung, tapi terasa aneh apalagi dihadapan tetangga kost. Ia pandang sekali lagi ke arah Salwa dan anak itu.


" Tidak ada kemiripan sekalipun antara wajah anak itu dan wajah Salwa," Batin Firman menguatkan hatinya yang mulai terasa sakit. Firman pun pulang dengan perasaan kacau. Ia tekad kan akan menanyakan langsung kepada Salwa. Ia tidak ingin Salwa dimiliki oleh orang lain.


Bu Midah tidak banyak bertanya, karena hari sudah keburu maghrib. Salwa pun langsung masuk ke dalam rumah bersama Ammar. Salwa sedikit bingung, yang biasanya Ammar selalu memanggilnya dengan sebutan Kakak. Namun saat dihadapan Firman, dia dengan lantang menyebut nya dengan panggilan Ibu. Apa yang dia rasakan sampai dengan mudahnya memanggil Ibu.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Imran belum saja pulang, saat Salwa menelpon. Ponsel Imran tidak dapat dihubungi. Berkali-kali ia telpon. Tetao tidak dapat tersambung. Hati Salwa mulai merasa berdetak tak karuan. Ia merasakan ada kejanggalan yang tidak biasa. Ini harus ia segera tidaki dengan mencari tahu keberadaan Mas Imran.


"Kenapa ya Mas Imran ini. Masa rapat sampai jam segini. Guru kok kaya gini ya. "


Salwa melirik jam dinding. Dia tidak dapat tidur. Sedangkan Ammar sudah tidur disampingnya dengan sangat nyenyak. Sesekali Salwa mengipasi tubuh Ammar.


Tidak terasa, saat melirik kembali ke jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan ke jam angka 11. Belum ada tanda-tanda Imran pulang. Salwa telpon kembali, namun tetap tidak tersambung. Salwa mengirim sms jika ponselnya dibuka. Maka sms itu pasti dibacanya. Salwa pun merebahkan dirinya disamping Ammar dan mencoba tidur.


Terdengar suara lantunan ayat dari kejauhan. Tanda waktu subuh sudah menjelang. Salwa langsung berdiri dan menengok keluar dan menyingkap tirai kaca ruang tamu. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Imran.


"Kok aneh begini ya. Biasanya Mas Imran ga seperti ini. Apa jangan- jangan. Uuhh ga usah mikir yang enggak Salwa. "


Dengan cepat Salwa mengirim Sms ke Wahyu dan Kakak Iparnya Amir. Dia berharap mereka berdua cepat membalas Sms nya. Ia takut terjadi sesuatu kepada suaminya.


💙Bersambung💙


💛Terimakasih Sudah membaca novelku


❤Jangan lupa like, komen dan vote


💜Semoga kalian semua terhibur membaca nya


💖Dan jangan lupa tetap ikuti kelanjutan kisahnya


Dukungan kalian sangat bermakna untuk menambah semangat ku untuk menulis dan melanjutkan kisah novel ini. Terimakasih💗

__ADS_1



__ADS_2