
Di Market pusat perbelanjaan. Salwa dan Fir singgah sebentar ke sana untuk membeli barang keperluan Salwa dikostnya.
Salwa ayik memilih-milih barang, sedangkan Fir mendorong trolly belanja. Ia dengan senyum-senyum sendiri melihat Salwa yang terkadang tampak kebingungan dalam memilih barang-barang keperluannya. Dua barang dia pegang dan dia padangi silih berganti, mata nya jeli seperti elang dalam memilih harga yang mempunyai diskon besar.
"Begini nih kalo aku sudah menikah dengannya, saat belanja bulanan. Dia yang milih aku yang dorong trolly. Apalagi jika sudah punya anak, anak kita akan di dudukkan di trolly ini. Aduuh mesranya, tidak sabar lagi aku mempersunting mu bidadari ku. "
Angan Fir sangat jauh melanglang buana, dia membayangkan kehidupan berumah tangga dengan salwa. Kadang dia tersenyum-senyum sendiri. Bayang nya dengan indah.
Salwa yang datang untuk meletakkan barang belanjaannya ditrolly melihat Fir yang melamun dan terkadang senyum sendiri.
"Fir... Fir... Ngapain sih senyum-senyum sendiri. Macam orang aneh begitu. "
"Aah. Kenapa-kenapa? " tanya Fir ter kaget-kaget.
"Tu kan, ayo jalankan trolly nya. Kamu ini melamun saja, apa sih yang kamu lamunkan? "
"Hehe, aku melamunkan kehidupan rumah tangga kita nanti bakal begini. "
"Hahaha, idih, Ngarep kamu!" Salwa tertawa karena jawaban riang Fir.
Namun tawa mereka buyar karena kehadiran sosok seorang wanita tua.
"Ooh jadi begini kelakuan kamu ya Salwa! Baru juga jadi janda. Sudah jalan dengan lelaki model begini lagi. Ternyata, kau perempuan nakal. Alasan kamu saja ingin cerai dari anak aku kan. "
"Apa maksud ibu menghina Salwa. " Fir meradang.
"Sudah Fir, jangan begitu. Biarkan saja. Maaf ya Ibu. Ibu salah memahami tentang aku. "
"Alaaaah... Salah faham bagaimana. Biji mata ku melihat kalian bermesraan begitu ditempat umum. Ingat masa iddah mu. Syukurlah anak ku sudah pisah dengan mu. Eeh jangan lupa kamu bayar hutang mu ya. "
"Sudah aku bayar bu. Sudah aku transfer sama ka Fatma! "
"Bohong kamu. Kamu sengaja ya blokir nomor ku hah. Bisa-bisa nya mulut berbisa mu menuduh Menantu ku. Dasar wanita tidak tahu di untung kamu yaa! " teriaknya sambil mau menampar wajah Salwa.
Namun belum sampai tangan itu mendarat di pipi Salwa. Fir sudah menahan nya.
"Maaf Ibu. Jika Ibu sampai mengenai wajah Salwa. Aku akan memperkarakan ini ke meja hijau. Ibu akan kena pasal penganiyayaan. "
"Huuhh. Lagak mu pakai hukum segala. " Hayati melepas tangkapan tangan Fir.
"Lihat ibu ke atas sana, cctv merekam perlakuan Ibu. Jelas ini bisa dipidanakan. "
"Ibuuu... Ngapain disini? " teriak Fatma saat menghampiri Ibu mertuanya. Dan ia juga bertatapan dengan Salwa. Fir langsung berdiri dihadapan Salwa untuk melindunginya agar menjadi benteng jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Ibu kemana aja. Kenapa disini? "
"Itu Salwa, dasar perempuan tidak tahu diri. "
"Ibu, buat apa sih ribut di tengah umum. Itu lihat banyak orang melihat kita. Ayo pergi saja dari sini. "
"Ka Fatma tunggu. Uang yang aku transfer untuk ibu, Kakak belum kasih sama ibu ya? " tanya Salwa tepat di hadapan Hayati(Mantan Mertuanya).
Sikap Fatma sedikit tidak nyaman, "Maaf Salwa belum aku berikan. Uangnya aku pakai buat keperluan sekolah anak ku. Nanti ya Bu, aku ganti. "
"Ka Fatmaaa. Tega sekali kamu. Ibu sampai menuduh ku macam-macam. " Wajah Salwa memerah, dia menahan amarahnya kepada Fatma.
__ADS_1
"Ayo Bu cepat pergi. " Fatma menarik Ibu Mertuanya. Sedangkan Ibu Hayati tidak berkutik lagi setelah mendengar bahwa uang nya telah dipakai menantu nya Fatma.
"Huh. Dasar kurang kerjaan. Kamu tidak apa-apa kan Sal? " tanya Fir kepada Salwa.
Salwa langsung terduduk di lantai. Badannya lemes begitu saja. Fir pun berjongkok di hadapan Salwa dan memegang bahunya, ia takut jika Salwa roboh begitu saja.
"Tidak apa-apa Fir. Aku hanya syok saja. Keluarga Mantan suami ku seakan menghantui ku. "
"Ayo sebaiknya kita pulang saja. " Fir membantu Salwa untuk bangkit.
...■□■□■□■□■...
Baru saja pulang, Salwa sudah disambut oleh wajah panik Jessy.
"Kenapa Kak Jes. "
"Untung kamu datang, ayo cepat panggil teman mu itu. Dinda keguguran. "
"Baik Kak. "
Dengan segera Salwa berlari secepat kilat ke depan pagar. Dia memanggil manggil Fir yang sudah berada di seberang jalan dan bersiap untuk pergi. Mobilnya sudah mulai berjalan.
Ciiiiittttt... Suara rem yang mendadak. Fir menginjak rem dengan cepat, kekuatan kakinya sangat teruji.
"SALWA! " Teriaknya terkejut saat melihat sosok perempuan yang telah menghalangi laju jalan mobilnya.
Dengan cepat, ia keluar dan meraih bahu Salwa yang syok. "Kamu tidak apa-apa sayang? "
Cieee Sayang...
"Ga papa Fir. Tolong bawa teman kost aku ke rumah sakit. Dia berdarah. "
"Okeh. Demi kamu ayo kita tolong. "
Fir segera berlari. Ia masuk ke dalam kost dan melihat darah di lantai.
"Kamu gendong dia! " tunjuk Jessy kepada Fir.
"Oke. Ini kunci mobil. Buka pintunya. " dia melempar kunci kepada Jessy. Lalu langsung menggendong Dinda.
Salwa langsung membukakan pintu mobil. Jessy menyambut kepala Dinda dikursi belakang.
"Salwa, kamu duduk di depan. " Titah Fir.
Lalu Fir langsung masuk ke dalam mobil dan menstarter mobilnya. Mereka pun berangkat.
"Dinda ku mohon bertahanlah. Apa ini sudah lama ka Jes? Dia sangat pucat, badannya menguning. Apa dia mengalami pendarahan yang hebat? "
"Entahlah Sal, aku juga baru tahu dia pingsan. Makanya aku panik. Dinda, sadarlah. "
"Apa perlu kita hubungi orang tuanya? " tanya Salwa ragu.
"Kenapa kalian ragu? Jelas harus dihubungi. Dia seperti akan mati begitu. " Fir kebingungan dengan pembicaraan mereka yang tidak ingin melibatkan orang tua.
"Kau tidak sadar? Dia ini keguguran. Hamil Fir, orang tuanya tidak mengetahui itu. Dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab. "
__ADS_1
"Dasar lelaki setan, mana bisa begitu. Berani celup celup itu harus berani tanggung jawab. Beri tahu namanya biar gang motor ku memberi pelajaran. "
"Kau bisa Fir? " tanya Jessy antusias.
"Sudah... Sudah! Kita fokus Dinda. " Salwa memotong pembicaraan mereka.
"Oiya. Sal, tangannya sangat dingin sekali. "
"Fir, apa ga bisa dipercepat mobilnya? " Pinta Salwa.
"Macet Sal. Tu lihat, sebentar lagi. " Fir bedecak tidak sabar. Tangannya memukul mukul stir seakan menghitung ritme jalur kendaraan yang macet itu.
"Aahh ini tidak bisa dibiarkan, " ucap Fir sembari membuka jendela. Dia melihat polisi yang berdiri depan Pos.
"Pak! Bisa minta tolong. Kawal kami Pak, ini kami membawa pasien darurat. "
Polisi itu menengok memastikan pernyataan Fir benar adanya.
"Siap Pak! Mari saya kawal. "
Dengan sigap polisi itu datang dengan motor polisinya dan menyalakan sirinenya untuk menghalau kendaraan dan membuka jalan untuk mobil Fir.
Mereka sampai di rumah sakit.
Dinda dilarikan langsung ke UGD karena memang keadaan sangat kritis. Dia banyak kehilangan darah.
"Mana walinya? " Tanya seorang perawat.
"Wali, kami walinya, " Ucap Salwa spontan.
"Cukup 1 orang, silahkan anda ke meja administrasi untuk melengkapi data. Dan 1 orang untuk menemani pasien. "
Akhirnya Salwa dan Fir memutuskan ke administrasi. Dan Jessy mendampingi pasien untuk dilakukan tindakan medis lebih lanjut.
"Kasihan ya teman mu, " Ucap Fir saat menunggu antrean administrasi dipanggil.
"Iya Fir, " Sahut Salwa pelan.
"Firman! " Suara perempuan memanggil Firman dan langsung memeluk Firman dengan lekat.
Tentu saja sikapnya itu membuat buruk hati Salwa. Ada api cemburu yang telah menyala di hatinya saat tubuh perempuan itu menempel sangat lengket dengan tubuh Fir.
"Fir, ngapain kamu di rumah sakit. Aku kangen lo, lama banget ga ketemu kamu. Tunggu, dia siapa? " perempuan yang rambut nya terurai panjang, dengan wangi vanilla itu menunjuk Salwa yang berdiri mematung menyaksikan bak obat nyamuk yang terbakar membara.
Fir yang terbiasa dengan pergaulan dahulu, ia memeluknya tanpa rasa bersalah. Dan itu membuat semakim jengkel Salwa.
"Dia, oh kenalkan dia Salwa. "
"Hey. Kenalkan aku Elena. "
"Ya, salam kenal. Ya sudah ya, aku duluan. Kalian ngobrol saja, " sahut Salwa judes dan berlalu pergi begitu saja dengan membawa kertas adminstrasi yang sudah di sahkan.
"Dasar lelaki semuanya sama saja. Ada ikan asin di hadapan pasti nyosor juga. Lagaknya saja pura-pura tidak tahu. Ternyata mau. Iiiiih aku benci Fir. Lagian ngapain juga aku mikiran mereka tadi. Huuhh Astaghfirullah... "
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote dan subcribe.