Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 24 Ketukan Jam 1 malam


__ADS_3

"Dari siapa Sal? " tanya Ibu nya yang duduk di sebelah. Dengan sedikit melirik ke arah handpone Salwa. Rasa ingin tahu yang berlebih sehingga ia tanpa sadar mencuri pandangan ke dalam layar handpone anaknya.


"Bukan siapa-siapa bu. Hanya notifikasi dari kartunya. Habis kouta, " jawab Salwa berbohong dan langsung mematikan layar handphonenya. Dia tidak ingin memberi tahu ada no asing yang mencurigakan. Lebih tepatnya ia curiga ke arah suaminya, Imran.


"Sudah lah Salwa, ga usah main hape terus. Kamu kok ya ga pusing dalam mobil lihat hape terus. Oiya, Nak Zai... Kita langsung ke rumah sakit. Nanti biar Bapak yang nyusul. Ibu sudah sms Bapak biar ketemuan di RS saja. "


Deg...


Jantung Salwa terdengar berdetak lebih keras saat mendengar kata Bapak bahkan ia bisa mendengarnya sendiri detaknya, tentu saja ia akan bertemu Ayahnya dan akan menceritakan semua kisahnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi. Entah marah, makian atau amukan dari Ayahnya. Dia sedikit ciut saat mendengar itu.


Sesampai di rumah sakit. Mereka dilayani dengan sigap, karena berbekal surat rujukan langsung dari dokter spesialis. Salwa tidak terlalu lama di observasi di ruang UGD.


...■□■□■□■□■...


"Jawab jujur Salwa, Apa yang terjadi antara kamu dan Imran? Bapak ingin tahu langsung dari mulut mu sendiri, " ucap Bapak Somad lirih.


Pertanyaan Ayah Salwa terdengar pelan dan tidak ada intonasi ke arah emosi yang marah, justru wajah beliau sendu. Jauh sekali dari bayangan Salwa. Malah ada gambaran kesedihan dan kekecewaan kepada dirinya atau menantunya. Pertanyaan itu semakin membuat hati Salwa bagai terhiris sembilu.


Jelas terpampang jelas di wajah Abduk Somad ia sangat kecewa karena suami Salwa adalah pilihan jodohnya. Ia sangat berharap jika sahabatnya Pak Mahmud mempunyai Anak yang seperti Sahabatnya yang ia kenal baik. Namun sayang, akhlak dan keimanan tidak lah di warisi dari seorang ayah kepada anaknya.


Kadang pepatah buah jatuh tidak jauh pada pohonnya tidak berlaku di dunia ini. Itulah yang di dalam fikiran Somad. Dia juga tidak bisa menyalahkan keadaan sekarang. Mungkin sudah suratan anaknya. Namun dia merasa sangat iba apa yang menimpa dengan Salwa.


"Anu Pak, Mas Imran menghilang. Setelah Salwa cari, ternyata dia banyak meminjam uang kepada teman-temannya. Entah buat apa. Mungkin sudah mendekati 2 minggu. "


"Astaghfirullah. Terus bagaimana Mahmud? "


"Bapak mertua tidak membela Mas Imran, beliau juga marah Pak. Beliau juga sudah membayari separuh hutang Mas Imran. "


"Oh itu jelas. Harus! Aku akan telpon dia. Ya sudah, kamu istirahat saja. Dan maafkan Bapak ya Nak. " Kecup Pak Somad ke ubun-ubun Anak terakhirnya ini. Dia usap-usap kepalanya tanda tulus sayang seorang Ayah kepada seorang anak. Ada bulir air mata yang keluar dari ujung mata Ayahnya Salwa.


Pak Somad keluar dari kamar dan disusul oleh Bu Rosmiati. Jelas ia ingin mengadu tentang apa yang berlaku pada Salwa. Apalagi mendengar ocehan Bu Hayati. Ada rasa sakit hati di hati Bu Rosmiati.

__ADS_1


"Pak, asal Bapak tahu. Hayati menuduh anak kita yang menyebabkan Imran berhutang. Katanya karena anak kita kuliah pakai duit Imran. Lara hati ku Pak melihat hidup anak kita, " keluh Rosmiati kepada Somad.


"Yang sabar ya Ros. Anak kita dalam keadaan hamil, jaga perasaan hatinya. Biar ini jadi urusan ku dan Mahmud. "


Setelah mendengar itu, Rosmiati kembali ke kamar. Ia menyerahkan semuanya kepada suaminya. Ia yakin suaminya pasti akan memperjuangkan nasib Salwa. Terlebih dengan tanggung jawab Imran.


Di kamar perawatan.


Rosmiati masuk ke kamar perawatan, Namun dia terkejut karena sudah ada dokter spesialis dan beberapa dokter muda beserta para perawat yang sedang memeriksa Salwa.


"Ibu Salwa. Sekarang kita akan melakukan USG ulang ya. Karena kita hanya ingin memastikan. Perawat siapkan Ibu Salwa ya ke ruang USG sekarang. "


"Baik Dokter. "


"Permisi Dokter, saya ibu nya. Kenapa ya anak saya Dokter. Apa ada masalah dengan janinnya? " tanya Rosmiati khawatir.


"Saya belum bisa memastikan. Oleh karena itu kita cek berdasarkan hasil USG dulu ya. Ibu bisa mendampingi anak ibu. " Dokter perempuan itu senyum. Senyum itu setidaknya membuat Rosmiati sedikit tenang.


Ia pun mengikuti kursi roda Salwa yang di dorong oleh bidan menuju ruang USG. Setelah sekitar 8-10 menit pemeriksaan. Salwa turun dari bangsal pemeriksaan dibantu oleh Bidan.


"Silahkan duduk Ibu. Begini, Bu Salwa. Jangan stress ya. Ibu darah nya tinggi sekali. Kecepatan jantungnya juga cepat. Itu tidak baik untuk Ibu Salwa. Begini, saya jelaskan ya hasil USG. "


"Baik Dok. "


"Nah, ini pada layar yang sudah di rekam. Ini adalah kantong kehamilan Ibu. Tapi setelah saya amati ternyata itu kosong. Mohon maaf Ibu, artinya tidak ada janin di dalam kantong kehamilan itu. Dalam hal medis, itu disebut black ovum. "


"Tapi Dok, anak saya mengalami seperti hal orang hamil pada umumnya. Mual, pusing dan sebagaimana orang hamil. Lalu bagimana ini? Kosong bagaimana? Ghaib kah ini dok, " Ibu Rosmiati memajukan duduknya lebih menghadap meja konsultasi dokter. Ia benar-benar tidak tahu kalo selakarang ada namanya hamil kosong.


"Ini bisa terjadi Ibu. Biasanya, blighted ovum terjadi karena adanya kelainan kromosom karena pembelahan sel yang terjadi secara tidak sempurna atau kualitas dari ****** maupun ovum yang tidak baik. Saat kehamilan kosong terjadi, sebenarnya sel ****** dan ovum tetap bertemu atau melakukan pembuahan. Dan itu disebut kehamilan juga, seperti orang hamil karena di dalam tubuh Ibu Salwa hormon nya berkembang meskipun tidak ada janin. Makanya Ibu Salwa merasakan mual juga. "


"Lalu Dok? " tanya Salwa getir.

__ADS_1


"Sebenarnya jika dibiarkan pada bulan ke 3 pasti Ibu akan mengalami keguguran. Karena untuk lebih cepat bisa diberi obat atau kuret. Tapi karena melihat kondisi ibu yang sangat lemah. Maka saya saran kan besok pagi Ibu Salwa lebih baik Kuret saja. Namun tidak bius total. Kami akan melakukan bius lokal atau bius setengah badan. Kenapa? Karena tekanan darah ibu tinggi. Melebih batas ambang normal, sangat berbahaya untuk bius keseluruhan . Apa kah ibu bersedia? "


Salwa memandang Ibu nya seakan meminta persetujuan. Rosmiati langsung menggenggam tangan anaknya kuat. Ia ingin memberikan kekuatannya kepada Anaknya yang tengah diberikan ujian bertubi-tubi. Setelah itu Rosmiati mengangguk. Salwa pun yakin dengan mantap hati.


"Baik dokter. Saya setuju dikuret sesuai anjuran dokter. "


"Baik, Bu Bidan. Siapkan besok pagi jam 9 untuk Ibu Salwa. Kita akan melakukan kuret. "


"Terimakasih dokter! "


"Sama-sama bu. Tetap semangat Ibu Salwa. "


"Baik Ibu, sekarang Ibu Salwa boleh kembali ke ruang perawatan. Besok ibu harus mempersiapkan diri ya Bu. Pertama siapkan diri ibu, mandi dengan bersih. Jangan lupa mencukur bulu ke*aluan sampai habis, lalu ibu hanya boleh menggunakan 1 lembar sarung saja. Dan jangan lupa mempersiapkan popok dewasa dengan perekat. Lalu ibu harus berpuasa dimulai jam 8 malam ya, " panjang lebar Ibu Bidan menjelaskan keharusan yang persiapkan sebelum tindakan besok.


"Baik Bu Bidan. "


"Sekarang, Mari Bu saya antar ke ruangan Ibu. "


Tentu saja. Keputusan ini mungkin bag sebagian orang biasa saja. Tapi bagi keluarga Somad. Ini hal luar biasa, karena di keluarga mereka belum pernah ada yang masuk rumah sakit.


Di Kontrakan Kota S. jam 01.00 malam.


"Sal... Salwa... Buka pintunya. Sal... Ini aku! " Dengan berbisik suara pria itu sambil mengetuk pintu. Bahkan berkeliling ke jendela belakang.


"Sal... Sal! "


"Hey... siapa kamu? " Suami Bu Midah menengok ke belakang kontrakan Salwa. Disusul Bu Midah di belakang suaminya dengan gagang sapu yang sudah terbalik. Bersiap untuk melayangkan pukulan bagi pengganggu atau maling di tengah malam.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa dukungannya ya buat novel aku, dukungan kalian berharga banget buat aku 😘😘

__ADS_1


kalau mau novel ini stay di sini, kasih dukungan dengan like, komentar dan juga gift serta vote.


Serta ikuti selalu ceritanya. Terimakasih💐


__ADS_2