Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 21 Kedatangan Mertua


__ADS_3

"Sal... Bagaimana keadaan mu? Sudah baikan? "


"Lumayan sudah gak lemas Kak. Ada kabar dari Mas Imran Kak? "


"Belum Sal. Masih di usahakan oleh Mas Amir. "


"Kamu fokus diri mu saja ya... Oiya. Kamu belum kasih kabar kan sama orang tua mu. " Fatma mendekatinya dan duduk di samping kasur Salwa.


"Belum Kak."


"Bagus lah, kalau bisa. Jangan sampai kau memberi tahu tentang Imran ini kepada orang tuamu. Mungkin suatu saat nanti kau sudah memaafkan Imran. Tapi, beda hal dengan orang tua mu nanti. Mereka tidak akan mudah memaafkan nya. Jika Imran sudah kembali dan menyelesaikan masalahnya, tapi bagi orang tua mu itu belum selesai. "


".... "


Salwa hanya terdiam. Tidak mengatakan iya atau tidak. Dia hanya merenungi dan meresapi apa yang dibicarakan oleh Fatma.


"Tapi, terkait kehamilan mu. Sebaiknya kamu kabari. Sekaligus meminta restu semoga dede bayi selalu sehat. "


Salwa tersenyum seraya mengelus. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sebenarnya Fatma sangat miris melihat keadaan yang telah menimpa Salwa. Tapi mau bagaimana lagi. Imran benar-benar menghilang.


Salwa lebih banyak diam, disitu Fatma merasa sedikit aneh. Tapi dia bersyukur. Setidaknya Salwa sudah tidak berfikiran yang tidak-tidak. Contohnya seperti ingin menggugurkan kandungannya.


"Assalamualaikum." Suara wanita dan pria masuk ke dalam ruang perawatan Salwa.


"Ibu, Ayah. Ayo masuk Bu. " Fatma menyambut mereka. Ternyata mereka adalah mertua Salwa dan Fatma. Orang tua Amir dan Imran.


Mereka terkejut mendengar Salwa yang jatuh pingsan. Dan sebenarnya pun mereka juga belum mengetahui kebenaran tentang menghilangnya Imran.


"Bagaimana sekarang Salwa? Kasian dia Pah. Pucat sekali. " elus Ibu mertua ke tangan Salwa.


"Ibu. Aku pamit ya pulang sama Mas Amir sebentar. Mau merawat anak di rumah sama Ammar. "


"Oh iya-iya Nak. Hati-hati di jalan Fatma. "


Fatma dan Amir salim kepada orang tuanya. Dan saat mau pulang Fatma mendekati Salwa dan berbisik.


"Ingat Sal, jangan beri tahu. "

__ADS_1


Fatma senyum-senyum setelah membisikkan itu karena mata Ibu mertua sangat tajam memperhatikan mereka, Fatma berlalu pergi meninggalkan mereka. Salwa bingung, kepada siapa ia mengadukan ini semua. Apalagi orang yang harus berada disini untuk mensupport nya adalah suaminya. Ini malah menghilang. Ya kepada siapa lagi ia harus mengadu selain ke orang tua Imran.


"Kata Fatma kamu hamil ya, Nak. Alhamdulillah. "


"Inggih Bu. "


"Akhirnya setelah 1 tahun kamu wes meteng. Aku kira kamu mandul lo. "


Jleebb kata-kata mandul itu menusuk hati Salwa. Meski sekarang dia tengah hamil, jadi selama 1 tahun kemaren. Ibu mertuanya ini telah mengira dia mandul. Terasa semakin perih rasanya.


Ibu mertuanya menyisir dengan lirikan matanya. Tepat tertuju pada bekas piring sarapan yang belum habis.


"Hemm. Kamu itu Sal. Harus dipaksa makan. Jangan diturutin ga mau nya itu. Dipaksa, dipaksa. Pantes kamu sakit begini. "


"Mual Bu. Sudah Salwa coba. Tetap tidak bisa. "


"Yo semua orang hamil ya mual. Apa gak kasihan kamu sama calon cucu ku. Ini cucu pertama lo dari Imran. Kamu harus hati-hati. Oiya, mana ini Imran? Kok ga kelihatan. Apa rapat? "


"Yo masa, istri masuk rumah sakit dia ga libur. " Ayah mertua sedikit kesal, ia mencoba mengetik tombol handphone nya untuk menelpon Imran. Namun hasilnya sama. Tidak tersambung.


"Ya udah lah Pah. Salwa juga gak papa kan ya Nak. Dia cuman pingsan kok, paling rapat itu anak mu. " Ibu mertua meyakinkan Ayah mertua.


Salwa meneteskan air matanya. Dan itu dilihat oleh Ibu mertua dan Ayah mertua.


"Loh. Kamu kenapa nangis. Apa kamu marah sama ibu karena maksa kamu makan. Waduuh... Ini juga demi kebaikan kamu. Aku ini sudah berpengalaman, jadi jangan mewek dikasih nasehat."


"Bukan Bu, Bukan. Maaf Ibu Ayah sebelumnya. Mungkin ini akan mengejutkan kalian. Mas Imran sebenarnya menghilang. "


"Apa maksud mu? " tanya Ayah mertua yang langsung berdiri dari duduk lesehannya di lantai agar mendengar dengan jelas apa yang barusan Salwa sebut 'menghilang".


"Mas Imran menghilang, dia menitipkan sepucuk surat dan juga meninggalkan hutang di mana-mana. Dan itu, teman-teman sekantor nya pada kena. Dan mereka menagih semua hutang-hutang itu. "


"Apa kamu bilang, kamu mengarang ya? Mana ada Imran begitu. Dia itu anak penurut, jangan-jangan itu hutang kamu ya Sal. Pasti ini karena tuntutan mu itu. Makanya ingin mu tu kebesaran. Pakai segala minta kuliah. Wes ga bener ini Pah. "


Bukannya mendengarkan dan mencari solusi, Ibu mertuanya malah menyalahkan semuanya kepada nya. Tentu saja Salwa tidak terima.


"Tidak Bu. Mas Imran sendiri yang ingin aku kuliah."

__ADS_1


"Iya, tapi kamu tidak sadar diri. Harusnya kamu nolak. Rumah saja masih kontrak. Lagak mu merayu Imran untuk kuliah. Imran itu terlalu penurut dengan mu. Ya begini ini hasilnya. " Wajah Ibu mertua merah padam menahan amarahnya.


"Huss kamu diam. Jadi benar Imran tidak ada kabar. Dia menghilang begitu saja? "


Salwa mengangguk dengan derai air mata. Ibu mertua menjaga jarak dengan Salwa. Ia duduk di lantai dengan wajah cemberut dan sesekali mengomel.


"Mana mungkin Imran seperti itu. Ini pasti ulah mu sendiri. Aku sangat mengenal anak ku itu, " Omelnya pelan namun tetap terdengar ditelinga Salwa.


"Dimana Imran ku itu Pah. Aduhh kasihan dia Pah. " masih dengan omelannya.


"Salwa, perkiraan berapa hutang Imran? Apa kamu tahu? "


"Sekitar 22 juta an Pah. Itu yang Salwa tahu saat ke sekolah Mas Imran. "


"Jual saja emas mu itu, cincin pernikahan mu itu. Lalu kalung mu itu dan anting mu. Lumayan buat bayar hutang Imran. Toh dia suami mu juga, " timpal Ibu mertua.


"Jangan Bu, kalung dan anting ini pemberian orang tua ku. Aku tidak akan menjualnya. "


"Lihat Pah, kacau ini anak. Suami berhutang sana sini itu jelas pasti karena kamu. Sekarang, kamu tidak mau ikut membayar. Jika emas mu itu dijual pasti bisa membayar hutang Imran. "


"Sudah, Sudah Bu. Kamu ini kenapa sih ngomel terus. Kasian Salwa. Dia lagi sakit begini. Kamu keluar saja, tunggu aku. Kita pulang. "


"Huuhhh. Dasar mantu tidak tahu diuntung. " Ibu mertua langsung keluar kamar perawatan dengan langkah kaki disengaja dihentakkan ke lantai tanda ia sangat jengkel.


"Jangan dengarkan Ibu mu ya Salwa. Nanti Ayah transfer ke rekening kamu. Cuman tabungan Ayah cukup 10 juta. Kamu bayarkan hutang Imran ya. Nanti sisanya Ayah fikirkan. "


"Terimakasih Yah. Maafkan aku Yah. "


"Salwa ga ada salah. Imran anak Ayah yang salah. Semoga nanti ketika ia sudah datang Ayah hajar dia. "


Perkataan Ayah mertua membuat senyum tipis di wajah sendu Salwa. Kata 'hajar' sedikit menghibur Salwa. Ya, Salwa pun ingin menghajar Imran.


"Maafin anak ayah ya Nak. " Ayah mertua mengelus kepala Salwa.


Salwa mengangguk pelan.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya buat novel aku, karena kalau sampe novel ini gak lolos. Terpaksa aku bawa pindah, dukungan kalian berharga banget buat aku ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜kalau mau novel ini stay di sini, kasih dukungan dengan like, komentar dan juga gift serta vote.


__ADS_2