Jodoh Kilat Pengganti

Jodoh Kilat Pengganti
Bab. 20 Diantara kebimbangan


__ADS_3

Surat dari Imran dibaca oleh Bu Midah. Betapa terkejutnya Bu Midah dengan isi surat itu, pantas saja mental Salwa langsung down saat membacanya.


"Salwa. Aku pergi dan jangan mencari ku! "


Itulah isi suratnya, singkat, padat dan jelas. Namun menjadi pukulan yang berat kepada Salwa. Karena rumah tangganya yang baru seumur jagung harus menghadapi masalah yang tidak jelas. Bahkan Imran tidak menjelaskan perihal apa yang ia hindari sampai harus menghilang. Setidak percaya itukah Imran kepada Salwa.


"Bu, ga bisa begini bu. Wajah Mba Salwa terlalu pucat. Mending aku panggil Pak mantri ya. " tawar Wahyu kepada Bu Midah.


"Ya sudah. Ayo ayo... Aku juga mau nelpon iparnya Salwa. "


...■□■□■□■□■...


Setelah Pak Mantri memeriksa Salwa. Dia menyuntikkan sesuatu dan memakaikan infus di tangan Salwa.


"Seperti Ibu nya harus dirujuk ke rumah sakit terdekat, aku tidak berani memberikan obat yang lebih lanjut tanpa diagnosa dari dokter serta tanpa ada hasil bukti lab. "


"Kalo begitu ikuti saran Pak Mantri saja. Kami manut Pak, " Ucap Fatma ipar Salwa yang sudah datang bersama Amir.


Amir dengan segera mempersiapkan mobilnya. Selagi Amir sibuk dengan Wahyu. Bu Midah menarik Fatma dan menyerahkan surat dari Imran.


"Ini surat dari Imran, gara-gara ini pula Salwa jadi drop seperti ini. "


"Jadi Imran datang Bu? " Tanya Fatma.


"Iya Mba Fatma. Tapi hanya sebentar bertemu sama Wahyu. "


Amir kembali ke dalam kamar dan ingin membopong Salwa ke dalam mobil berdama Wahyu.


"Bu Midah, Aku titip Ammar dulu ya. Setelah semua urusan selesai di rumah sakit. Nanti aku jemput balik. "


"Tenang saja Mba Fatma. Dia anak yang pintar kok. "


Setelah semua dipersiapkan mereka bertiga berangkat menuju rumah sakit. Lumayan lama prosesnya saat berada di UGD karena harus diobservasi dulu untuk mengetahui jenis penyakit Salwa.


...■□■□■□■□■...


Di kamar perawatan.


Salwa mencoba membuka kelopak matanya. Yang ia lihat hanya putih dan putih.

__ADS_1


"Emmm...." Salwa mencoba mengatakan sesuatu untuk memanggil siapapun yang berada di sana.


"Iya. Ini Ka Fatma Salwa. Kenapa Salwa? " Fatma langsung menghampirinya dan memegang tangan Salwa.


"Ka Fatma, aku pingsan ya. Ini di rumah sakit? "


"Iya ini di rumah sakit. Kamu pingsan Sal sore tadi. Ini sudah malam. "


"Anu kak, mas Imran. " Salwa langsung terisak mengingat surat yang telah ia dapatkan.


"Iya Sal. Aku sudah membacanya. Begitupula Amir. Tenang saja, Amir sudah mencoba mencari Imran melalui kontak teman-temannya dan teman Imran. "


Salwa mengangguk. Ia benar-benar begitu lelah.


"Kamu istirahat saja dulu ya. Kata dokter kamu jangan terlalu stress. Kamu juga kekurangan nutrisi karena tidak makan. "


"Iya kak. Padahal aku sudah makan seperti biasa saja. Tapi kenapa ya kak rasanya pusing sekali, sangat lelah. "


"Sebenarnya dokter tadi bilang, kamu. "


"Kenapa kak? Aku punya penyakit ganas? Kanker? Atau umur ku sudah tidak panjang lagi. " Tebak Salwa, dia tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan Dokter yang akan disampaikan Salwa.


"Bukan Sal , Bukan. "


"Tapi aku harap kau tidak membencinya lantaran Imran saat ini seperti ini. "


"Jawab dulu kak. " Salwa semakin penasaran.


"Kamu hamil Salwa. Sudah masuk jalan 2 bulan. "


"Hamil?! Ga mungkin kak, kan aku pakai pil kb terus. Ini pasti salah. mengada ngada saja pemeriksaan dokter kak. " Salwa tidak terima, karena jelas ia selalu meminum obat pil kb secara teratur.


"Coba kamu ingat, mungkin saja kamu lupa. "


"Kayanya ga mungkin kak. "


Fatma langsung beranjak dari posisinya dan menuju tote bag nya. Ia mengambil amplop dan mengeluarkan isi lembaran hasil USG.


"Ini hasil USG kamu kemaren. Jika kamu tidak yakin, besok kita ajukan lagi untuk pemeriksaan USGnya lagi. "

__ADS_1


Fatma meraih lembar hasil USG. ia pandangi hasil USG itu. Fatma menunjuk sebuah titik sebesar biji yang sangat kecil terlihat.


"Ini dedek bayi nya Salwa. Dia masih kecil, mungkin seperti ukuran kacang tanah. Tapi dia ada diperut mu Sal. Ada kehidupan yang Allah titipkan di perut mu Sal. "


Mendengar dan melihat hasil USG yang di sampaikan oleh Fatma, membuat perasaan Salwa menjadi bercampur aduk. Antara bahagia dan sedih. Air matanya bercucuran. Ia tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi kedepan. Apalagi Imran belum saja pulang.


Salwa langsung memeluk Fatma, ia menangis meraung di pelukannya. Fatma sadar, Salwa sangat terpukul. Salwa berada di ambang ketidak seimbangan perasaannya, apakah ia harus sedih atau bahagia.


Dengan lirih ia mengucapkannya.


"Aku tidak mau hamil. Aku benci hamil. Imran meninggalkan ku. Aku tidak mau hamil anaknya kak. "


Sontak kata-kata itu mengejutkan Fatma. Dia langsung menutup mulut Salwa. Ia takut ucapan Salwa terdengar Amir di luar sana.


"Kau sadar Salwa! Astaghfriullah Salwa. Tidak boleh seperti itu. Istighfar. Ini amanah dari Allah. "


"Imran saja meninggalkan ku. Bagaimana aku bisa merawat nya. Aku tidak memilikinya. Akan aku gugurkan saja. "


PLAKK...


Sebuah tamparan dipipi Salwa. Fatma tidak sadar menamparnya saat mendengar kata paling menakutkan itu terlontar di mulut seorang wanita yang pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren.


"Apa kau gila Salwa. Itu sama saja membunuh! Haram hukum nya. Aku dan Amir yang akan membantu mu. Imran pasti kembali. Jangan pusing kan masa depan, jalani yang sekarang. Kami ada bersamamu. Kau tidak sendirian Salwa. "


Mendapat tamparan dipipinya baru lah ia tersadar mengucapkan hal mengerikan dimulutnya. Dia semakin menangis tertahan. Fatma langsung memeluknya kembali.


"Maafkan aku ya Salwa. Aku tidak ingin menyakiti mu. Jangan pernah ulangi kata-kata mengerikan itu dimulutmu lagi. "


".... "


Salwa tidak menjawabnya. ia hanya menangis mengeluarkan rasa yang aneh di dalam dadanya. Ia benar-benar menangis sejadi jadinya dipelukan Fatma. Meski ipar, ia sudah menganggap seperti kakak kandungnya sendiri.


Malam itu derai air mata Salwa membasahi keheningan malam di rumah sakit. Ia tidak tahu bagaimana dan apa yang akan ia hadapi setelahnya. Tentu saja, seorang calon ibu sangat memerlukan dukungan suami yang siaga. Itu suatu keharusan demi menjaga mental dan perasaan seorang ibu hamil. Sehingga tidak mengalami stress yang dapat mengganggu janin dalam kandungan.


Sedangkan Salwa, ia harus menghadapi permasalahan suami nya yang hilang dan keadaan dirinya yang tengah hamil. Tentu saja membuatnya berada diantara kebimbangan.


Salwa merenungi nasibnya dan memohon ampun kepada Allah karena pernah terucap untuk menghilangkan amanah ini. Dia mengelus perutnya yang disana ada kehidupan baru yang harus ia jaga sepenuh hati dan tenaga.


"Baiklah, mama akan kuat Nak. Maafkan mama Nak, Mama khilaf mengucapkan tadi. Meski nanti, Ayah mu tidak mau pulang atau tidak ditemukan. Kamu akan tetap aku jaga sekuat mama. Tetap baik-baik saja ya Nak diperut mama. " Salwa mengelus-elus nya sembari meneteskan air mata.

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2